Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Kaget


__ADS_3

Sementara itu di kebun milik pangeran Adyaksa, tepat di jam makan siang pangeran tampan dan berwajah lembut itu mengajak tamunya makan siang dengan jamuan makan siang yang cukup mewah. Kiana, Kendra, dan pangeran Adyaksa menikmati makan siang di dalam paviliun yang ada di tengah kebun dengan penuh canda ria. Sedangkan Bayu dan Debi makan siang di gazebo kecil yang ada di depan halaman paviliun tersebut.


Bayu adalah pria yang kaku dan jarang tersenyum mendadak canggung, sering tersenyum malu, dan kadang melengos untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Bayu jatuh cinta pada pertama sejak ia bersitatap dengan Debi. Bagi Bayu, Deni adalah wanita paling cantik dari sekian banyak wanita yang pernah ia temui.


Namun, Debi biasa saja karena Debi, jatuh cinta pada pandangan pertama sejak ia bertemu dengan Bora yang murah senyum dan Bora sempat menolongnya saat ia hampir jatuh dari atas kereta kuda. Debi jatuh ke dalam pelukannya Bora dan sejak itu Debi merasa kalau ia jatuh cinta untuk yang pertama kalinya dan pria yang beruntung itu adalah Bora. Kenapa beruntung? Karena Debi adalah wanita yang jujur, baik hati, pekerja keras, dan memiliki wajah lembut yang manis.


Bayu iseng bertanya ke Debi dengan wajah tertunduk, "Apa kamu sudah memiliki kekasih?"


"Belum" Sahut Debi dengan santainya.


Tapi, aku udah naksir seseroang Batin Debi.


Tangan Bayu mengepal dan di dalam hatinya pria itu meneriakkan kata, yes! Sekencang-kencangnya.


Aku akan berusaha mendapatkan kamu, Debi. Kamu cinta pertamaku. Batin Bayu kemudian.


Di dalam paviliun luas yang di dalamnya terdapat empat buah bilik kamar berukuran sedang, dua kamar mandi di luar, ruang makan, dapur kotor dan bersih, kemudian yang terakhir adalah ruang untuk mengobrol, Tampak Kiana bangkit berdiri setelah menikmati jamuan makan siang mewah dari pangeran Adyaksa. Kiana mengucapkan terima kasih dan berkata, "Saya harus bayar berapa untuk tanaman obat yang saya petik tadi, Yang Mulia?"


"Bayar? Nggak usah bayar. Kita ini, kan, teman lama" Sahut Adyaksa sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya.

__ADS_1


"Jangan seperti itu. Saya justru nggak enak Saya juga sungkan kalau harus main ke sini lagi nanti. Saya merasa kalau saya harus membalas budi baik Anda ini, Yang Mulia. Terimalah niat baik saya biar kita tetap bisa berteman" Kiana berkata dengan wajah serius.


Adyaksa menghela napas panjang dan setelah tersenyum manis, ia berkata, "Baiklah. Bayarlah semuanya, tapi tidak pakai uang"


"Lalu, pakai apa?" Kiana sontak menautkan kedua alisnya.


"Bantu aku mendapatkan pakaian dalamnya Agha Caraka"


"Hah?!" Kiana sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar.


Apa dia menyimpang? Apa dia dan Agha Caraka sepasang kekasih? Batin Kiana.


"La......lalu, ke.....kenapa Anda meminta saya mengambil pakaian dalamnya Jenderal Agha Caraka?"


"Itu supaya kamu bisa melihat apakah di pantat Agha ada tanda lahirnya atau tidak" Sahut Adyaksa dengan cepat tanpa berpikir panjang.


"Hah?!" Mulut Kiana kembali terangnya lebar.


"Hah?!" Adyaksa ikutan kaget dan segera berkata, "Sial! Oke, aku terpaksa menjelaskannya ke kamu supaya kamu tidak salah paham"

__ADS_1


Kiana hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala dan menunggu ucapan Adyaksa selanjutnya.


"Aku butuh memastikan kalau di pantat Agha Caraka ada tanda lahir yang mirip burung merpati kecil atau tidak. Itu karena aku merasa kalau Agha adalah adik kandungku" Adyaksa terpaksa berbohong karena ia tidak ingin Kiana ikut terseret ke dalam masalah politik dan bahaya yang mengerikan.


"Oh. Bilang, dong dari tadi. Oke! Saya akan melihat apakah di pantat suami saya ada tanda lahir yang seperti itu atau tidak. Secepatnya saya akan memberikan laporan kepada Anda" Sahut Kiana sambil menepuk bahu Adyaksa dengan tawa riang. Dia lega ternyata temannya adalah pria yang normal. Dia juga lega ternyata Adyaksa dan suaminya bukan sepasang kekasih.


"Jangan kasih tahu siapa pun bahkan Debi sekali pun soal ini. Kalau kau temukan tanda lahir itu laporkan ke aku dan kau hanya boleh mengatakannya ke aku"


"Baiklah. Saya akan melaporkannya kepada Anda dan hanya kepada Anda secepatnya. Saya tidak perlu mencuri pakaian dalamnya, kan, kalau begitu?"


Adyaksa terkekeh geli lalu berkata, "Tidak perlu karena kau sudah tahu alasan semuanya"


"Siap" Sahut Kiana dengan penuh semangat.


Di kantor penyidik, setelah makan siang bersama Agha dan Bora, tabib Gunadi pamit pulang.


Sepeninggalnya tabib Gunadi, Bora berbisik di telinga Agha, "Anak buah kita mengejar wanita yang mengambil gulungan kertas. Kalau dari perawakannya sepertinya wanita tersebut adalah Nyonya muda, Yang Mulia"


Agha sontak berdiri kaget lalu bergegas berlari sambil berteriak, "Kita pulang sekarang"

__ADS_1


Bora langsung berlari mengikuti junjungannya.


__ADS_2