Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Aneh


__ADS_3

"Apakah benar semuanya sudah aman terkendali?" Adykasa bertanya kembali ke Bayu.


"Aman, Yang Mulia. Semuanya sudah beres. Permaisuri juga sudah memercayai kalau yang menyerahkan gulungan kertas tadi adalah Nyonya Kiana" Sahut Bayu.


"Bagus" Adyaksa tersenyum senang.


Semoga Anda bisa menenangkan Yang Mulia dengan cepat, Nyonya muda. Karena saya butuh semalaman untuk bisa menangkan Yang Mulia di saat Yang Mulia mabuk berat seperti ini. Dan semoga Anda bisa lebih memahami Yang Mulia, Nyonya Muda. Yang Mulia memiliki masa lalu yang sangat mengerikan dan tidak banyak orang yang tahu soal itu. Gumam Bora di dalam hatinya sambil berkata di posnya.


Semoga ke depannya Anda bisa mencintai dan menyayangi Yang Mulia, Nyonya muda. Karena sepertinya Yang Mulia sudah mulai menyukai Anda saat ini. Batin Bora kemudian.


Agha mengangkat kedua tangannya di saat ia merasakan bahwa dirinya mulai kehilangan kemampuan koordinasi, gerakan tangan tidak stabil, pandangan kabur, dan mengantuk.


Kiana menatap tingkah laku Agha dengan heran karena dia belum pernah melihat orang mabuk sebelumnya.


"Apa yang dia lakukan? Kenapa dia lucu dan imut banget kalau begini" Kiana bergumam lirih lalu mengulum bibir menahan geli.


Agha kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri dengan cepat di saat ia mulai merasa bingung dengan kondisi yang dialami. Lalu, dengan cepat Agha memejamkan kedua matanya dan mendengkur lirih.


Kiana mendengus kesal, lalu berkacak pinggang dan menatap Agha sambil bergumam, "Bagus lah kalau kamu tidur tenang seperti ini. Aku akan keluar dari kamar ini dan pergi ke kamarku" Kiana berjingkat pelan dan seketika menghentikan langkahnya saat ia mendengar teriakan Agha, "Berhenti!"


Kiana langsung menyahut, "Maafkan saya, Yang Mulia! Saya tidak akan ke mana-mana"


Suasana kembali hening. Kiana merasa heran lalu menoleh pelan ke belakang.


Kiana sontak berlari pelan mendekati ranjang saat ia melihat Agha tidak ada di atas ranjang dan di seluruh sudut kamar pun tidak ada. "Eh?! Ke mana dia? Tubuh besar dan tinggi seperti itu, kok, bisa hilang, ya?"


"Berhenti!" Agha kembali berteriak.


Kiana terlonjak kaget dan langsung berjongkok, menunduk, untuk melihat di bawah ranjang. "Yang Mulia? Kenapa Anda tengkurap di bawah ranjang?"


"Sssttttt! Jangan berisik! Kalau kita tidak sembunyi kita akan disuntik dan dijadikan eksperimen tabib gila itu" Agha berkata dengan wajah ketakutan.


"Dia bisa ketakutan seperti ini ternyata? Aduh! Aku harus bagaimana, nih? Aku nggak kuat menariknya keluar. Dasar Bora tidak bertanggung jawab, huh! Bikin susah aku aja malam-malam begini" Kiana berucap dengan wajah kesal.

__ADS_1


Kiana mencoba menarik tangan Agha agar pria itu keluar dari bawah ranjang, namun dia justru jatuh tengkurap di atas lantai.


"Jangan tarik aku! Kamu harus masuk ke sini kalau nggak kamu akan disuntik dan dijadikan hewan eksperimen tabib gila itu" Agha menarik tangan Kiana.


Kiana sontak menarik tangannya dan berkata, "Nggak! Aku nggak mau masuk ke sana. Di sana gelap"


"Nggak gelap. Terang begini, kok, gelap. Nggak gelap" Agha masih berkata dengan suara setengah berbisik


Kiana mulai berputar otak mencari cara mengeluarkan Agha dari bawah ranjang.


Agha menjatuhkan kepalanya di atas lantai dengan pelan dan saat pria itu hendak memejamkan mata, Kiana sontak berteriak, "Jangan tidur!"


Agha tersentak kaget dan refleks.membeliakkan kedua matanya.


"Bagus! Jangan tidur! kalau kamu tidur aku akan kesulitan mengeluarkan kamu dari sana, Kenapa kamu aneh banget kalau mabuk. Apa kamu selalu merepotkan orang kalau pas mabuk begini? hiks, hik, hiks, Bora! Kenapa kau malah meninggalkan orang aneh ini padaku, hik, hik, hiks" Kiana mulai mewek.


"Berhenti!" Agha kembali berteriak kencang dengan wajah ketakutan.


Kiana menghela napas panjang, lalu berkata, "Tabibnya sudah keluar mencari rumput herbal. Ayo cepat keluar dari sana dan kita melarikan diri dari sini"


Kiana tersenyum senang dan berkata di dalam hatinya, sepertinya trik ini akan berhasil mengeluarkan dia dari bawah ranjang. Oke, mari kita menggila bersama, Yang Mulia Agha.


"Tahu. Tentu saja aku tahu. Aku sudah lama bekerja di sini. Ayo cepat keluar dari sana sebelum tabibnya kembali dari hutan. Aku


akan mengeluarkan kamu dari sini"


Agha menganggukkan kepala dan bergegas merangkak keluar dari bawah ranjang.


Kiana segera bangkit berdiri lalu membantu Agha berdiri.


Dengan susah payah Kiana merebahkan Agha di atas ranjang.


Agha kemudian menunjuk wajah Kiana, "Kita sudah aman, kan?"

__ADS_1


Sial! Lama-lama aku bisa jadi ikutan gila kayak dia, nih. Batin Kiana kesal.


Kiana langsung menyahut, "Iya. Sudah aman. Sekarang tidur, ya. Pejamkan mata dan jangan mikir yang aneh-aneh lagi"


Agha lalu menggenggam pergelangan tangan Kiana dan menariknya sampai wajah gadis cantik itu jatuh di atas dada Agha.


Kiana tersentak kaget dan saat ia ingin bangun, Agha mendekap erat tubuhnya sambil berkata, "Jangan tinggalkan aku! Aku mohon, jangan tinggalkan aku! Kamu orang baik, kan?"


Kiana menghela napas panjang lalu berkata, "Iya. Saya tidak akan meninggalkan Anda. Tapi, jangan peluk saya seperti ini. Saya tidak bisa bernapas"


"Aku harus memeluk kamu seperti ini. Kalau tidak kamu akan pergi lagi. Jangan tinggalkan. aku!" Agha merintih ketakutan.


Merasa tidak tega, akhirnya Kiana membiarkan Agha memeluk dirinya sepanjang malam. Butuh waktu berjam-jam bagi Kiana menenangkan Agha yang terus merintih ketakutan dan terus bergumam, "Jangan tinggalkan aku!"


Memangnya apa yang ia alami di masa lalu? Kenapa dia bisa seperti ini pas mabuk. Dari yang aku baca alkohol adalah serum kejujuran. Berarti dia benar-benar mengalami sesuatu hal yang mengerikan di masa lalunya. Bahkan dia yang terkenal garang, dingin, dan kejam, bisa merintih ketakutan seperti ini. Batin Kiana yang masih berada di dalam pelukan eratnya Agha.


Suara ayam jantan yang terdengar gagah dan kencang menusuk kedua telinga Agha. Pria tampan itu sontak membuka kedua matanya dengan kaget.


Agha yang tidur dengan posisi badan miring ke kiri langsung menangkap wajah Kiana saat pria itu membuka kedua kelopak matanya di pagi hari buta.


Tanpa Agha sadari ia melukis senyuman dan sorot mata bahagia di wajah tampannya. Lalu, pria tampan itu berkata di dalam hatinya, kenapa kamu tampak cantik banget pas tidur seperti ini, Kiana? Apa kamu duduk di lantai semalaman dan berjaga di sini demi aku?


Agha mengusap rambut Kiana dengan tangan kanan kemudian ia menunduk dan menemukan tangan kirinya menggenggam erat tangan Kiana. Eh?! Kenapa aku menggenggam erat tangannya? Gumam Agha di dalam hati dengan wajah kaget.


Saat Agha ingin melepaskan tangan Kiana dengan pelan, kepala Kiana bergerak dan entah kenapa Agha memilih untuk memejamkan mata.


Kenapa aku malah memejamkan mata? Kenapa jantungku berdegup kencang? Pria gagah dan tampan itu bertanya di dalam hati.


Kiana membuka kedua matanya dan kaget saat ia menemukan tangannya ada di dalam genggaman tangan Agha.


Kiana menarik pelan tangannya lalu bangkit berdiri dengan perlahan dan meliuk-liukkan badannya untuk mengurangi rasa pegal yang ia rasakan di seluruh badannya. Setelah pegal di badannya sedikit berkurang, Kiana menatap Agha, "Syukurlah ia masih tidur. Aku akan ke kamarku sebentar untuk melihat Kendra, lalu balik lagi ke sini secepatnya aku rasa nggak papa kali, ya"


Namun, di saat Kiana hendak berbalik badan untuk keluar dari dalam kamar pribadinya Agha, tangan Agha menahan tangannya dan terdengar suara dalam yang tegas, "Jangan keluar dari sini! Aku belum menyelesaikan urusanku denganmu kemarin"

__ADS_1


Kiana sontak membeku di tempat ia berdiri.


__ADS_2