Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Tergelak Geli


__ADS_3

Di dalam perjalanan menuju kamp, Agha meraih tangan istri kecilnya dan memainkannya sambil berkata ke Kiana yang duduk di sebelahnya, "Kamu itu kalau sudah punya keinginan susah sekali untuk ditolak Kalau aku tetap melarang kamu ikut, apa kamu akan diam-diam menyusul aku ke kamp?"


"Iya, tentu saja. Aku akan menyusul Mas ke kamp. Emm, maafkan saya, Yang Mulia. Saya memakai bahasa santai sama Anda"


Agha terkekeh geli dan langsung menarik kepala Kiana untuk bersandar di bahunya.


Kiana ikutan terkekeh geli dan berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya ini memang punya watak buruk, keras kepala dan suka berdebat"


Agha mengusap lembut pipi Kiana dan berkata, "Kalau kamu pengen bicara aku dan kamu terus ke aku, nggak papa, kok. Aku ijinkan. Kita, kan, sudah berbagi jiwa dan raga"


Kiana langsung menyusupkan wajahnya di bahu suaminya dan berkata, "Jangan bilang berbagi jiwa dan raga, Mas"


Agha menarik Kiana ke atas pangkuannya dan berkata, "Kenapa nggak boleh bilang begitu?"


"A......aku malu, Mas"


Agha terkekeh geli lalu ia mencubit dagu Kiana lalu menarik dagu istrinya dengan pelan karena ia ingin mencium bibir istrinya dengan ke lembut. Namun, seketika Kiana bangkit berdiri dari pangkuan Agha saat Agni masuk ke dalam kereta kuda dan berkata, "Kita sudah sampai"


Kiana lalu berjalan cepat dan mengajak Agni turun dari kereta kuda karena malu. Agni menoleh ke Kiana, "Kenapa wajah Kakak ipar merah? Kakak lagi ngapain tadi sama Kak Agha? Hayo? Ngapain hayo?"


Pletak! Agha langsung menyentil kening Agni sambil berkata, "Jangan goda kakak ipar kamu! Dasar jahil" Agha lalu menarik tangan Kiana untuk gandeng.


Agni langsung mendelik ke Agha, "Dasar pelit!"


Agha langsung menyahut, "Biarin"


Dan Kiana terkekeh geli melihat tingkah konyol Agni dan Agha.


Sesampainya di dalam kamp, Agha langsung memerintahkan Bora mengumpulkan semua pasukan Kerajaan yang ia pimpin untuk menghadang jalan para bajak laut yang hendak menyelundupkan obat dan senjata terlarang ke negeri tercintanya. Lalu, Agha mengajak Agni dan Kiana naik ke panggung. Panggung yang terbuat dari bambu itu biasa digunakan oleh Agha untuk memberikan pengarahan dan semangat untuk semua prajurit yang ia pimpin.

__ADS_1


Bora segera melaksanakan perintah junjungannya.


Beberapa menit kemudian, Agha berteriak lantang, "Ini Kiana Istriku. Aku membawanya ke sini karena kebetulan Kiana pandai dalam ilmu pengobatan dan ahli dalam menawarkan racun. Selama ini Agni yang memberikan pertolongan pertama dan Kiana akan membantu Agni dalam hal ini. Tapi, jangan menatap Kiana saat Kiana mengobati kalian nanti. Mengerti!"


"Kalau menatap Non Agni, boleh, kan?" Tanya seorang prajurit.


Bora langsung berteriak, "Nggak boleh! Non Agni sudah ada yang punya. Sekarang bubar!"


Agni tersenyum senang melihat Bora berkata seperti itu dan Agni langung memeluk Kiana dan berkata, "Dia sudah mengakui aku, Kak. Dia mengakui kalau aku adalah miliknya"


Kiana memeluk erat Agni dan berkata dengan tawa riang, "Wah, selamat, ya, Kakak ikut bahagia untuk kamu"


Smenrtara itu di kediaman Caraka, ibundanya Agha tengah melamun di kamarnya. Dia teringat kejadian tadi malam saat ia melihat Kiana memasak Bakpao tanpa isi untuknya. Kiana meninggalkan secarik kertas di atas kukusan yang membuat ibundanya tersentuh hatinya. Ibundanya Agha kembali membaca pelan tulisan di secarik kertas itu, "Nyonya besar, selamat makan dan semoga Anda menyukai Bapao bikinan saya ini. Saya minta maaf telah membuat Nyonya besar marah besar. Saya janji tidak akan membuat Nyonya besar marah lagi karena saya tidak ingin penyakit darah tinggi Nyonya besar kambuh Jaga kesehatan dan jangan sampai sakit"


Ibundanya Agha kemudian bergumam lirih sambil melipat kembali kertas itu, "Dia bisa masak ternyata.Tapi kenapa Rani bilang kalau Kiana tidak bisa masak? Dia juga baik ternyata dia mau meminta maaf dan mau memperhatikan kesehatanku. Bapao tanpa isinya juga enak banget. Lebih enak dari bikinannya Bi Sum. Rani bahkan belum pernah bangun semalam itu bikin Bapao untuk aku"


Malam hari pun tiba. Agha yang biasanya ikut minum arak dan makan daging panggang di depan api unggun besar bersama dengan semua prajurit sampai pagi tiba, memilih minum segelas saja dan beberapa suap daging panggang, kemudian dia melangkah masuk ke tendanya.


Agha tersenyum dan duduk di samping Kiana sambil bertanya, "Kau baca apa?"


"Ba.....baca buku catatan obat-obatan herbal"


"Benarkah? Kenapa kau sembunyikan begitu aku datang? Apa itu buku novel yang kamu beli dan baca selama ini?"


Kiana langsung memeluk Agha dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya sambil berkata lirih, "Iya. Kenapa kamu bisa tahu, Mas"


Agha memeluk erat Kiana dengan tawa terbahak-bahak.


Tawa Agha terdengar sampai di luar tenda dan membuat semua prajurit yang masih mengelilingi api unggun besar saling pandang dan beberapa dari mereka berkata, "Baru kali ini aku mendengar suara tawanya Jenderal Agha"

__ADS_1


"Iya, benar" Sahut prajurit yang lainnya lagi.


Bora langsung mendengus kesal dan berkata, "Jangan bergosip! Ayo minum dan makan lagi!"


Semua prajurit langsung menyahut, "Baik, Letnan Bora!"


Agha kemudian mencubit dagu Kiana dan menaikannya pelan. Setelah ia melihat wajah Kiana yang masih memerah malu, Agha bertanya, "Apakah aku boleh ikut membacanya?"


Kiana menggigit bibir bawahnya dan langsung menggelengkan wajahnya.


Agha langsung mengerutkan keningnya, "Kenapa kau curang? Kau sudah baca buku novelku kenapa aku nggak boleh baca buku novel kamu?"


Kiana tetap menggigit bibir bawahnya dan menggelengkan kepalanya lebih kencang.


Agha terkekeh geli dan dia langsung menarik Kiana ke atas pangkuannya saking gemasnya dan tanpa permisi, Agha langsung memagut bibir Kiana. Jenderal besar itu mengajak Isti kecilnya berciuman dengan lembut.


Lalu, ia merebahkan dengan pelan kepala istrinya di atas bantal dan ia melepaskan ciumannya. Agha melepas baju dinasnya dan menggantungnya di gantungan baju. Kemudian Jenderal besar itu naik ke ranjang, menarik selimut dan memeluk istri kecilnya.


Kiana yang masih terbakar gairahnya setelah membaca buku novel dan berciuman dengan suaminya dengan polosnya menatap wajah suaminya lalu bertanya, "Mas nggak menciumku lagi?"


Agha tersenyum lalu mencium kening Kiana, pipi Kiana, dan mengecup bibir Kiana.


Kiana kembali bertanya dengan polosnya, "Begitu aja?"


Agha menatap istri kecilnya dengan wajah heran bercampur geli. Jenderal besar itu kemudian mengusap pipi istri kecilnya dan berkata lirih, "Telinga para prajurit di luar sana sangat peka. Kalau kita bercinta di sini, mereka bisa dengar erangan kita"


"Biarkan saja mereka mendengar erangan kita, Mas. Kita, kan, sudah menikah sah" Ucap Kiana dengan wajah polos.


"Apa kamu sangat menginginkan aku saat ini?" Tanya Agha sambil terus mengusap pipi dan memandangi wajah cantik istri kecilnya"

__ADS_1


Kiana mengangguk dengan wajah polosnya dan Agha langsung tergelak geli.


__ADS_2