Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Hukuman Berat


__ADS_3

Melihat Agha dan Bora menatapnya dengan sorot mata kecewa, Aisyah nekat bangkit berdiri dan berlari ke arah Kiana sambil berteriak, "Aku membencimu, Kiana!!!!!"


Kiana yang kaget justru mematung di tempatnya berdiri.


Agni langsung ditarik Bora dan Agha langsung terbang dan memeluk Kiana.


Alhasil tapak mautnya Aisyah ridak mendarat cantik di dada Kiana melainkan mendarat dadakan di punggung Agha.


Agha berteriak, "Aarrgghhh!" Lalu, kepala Agha terkulai lemas di pundak Kiana.


Kiana sontak memeluk erat kepala suaminya sambil berteriak panik, "Mas! Kamu kenapa?!"


Aisyah sontak mematung dan menatap nanar tapak tangannya sambil bergumam, "Tidak, tidak! Kenapa jadi begini"


Saha tersentak kaget dan langsung memeluk Aisyah.


Abinawa dan Kayla sontak bangkit berdiri dan berlari ke Agha dan Kiana. Sedangkan Bora langsung menggendong Agha dan membawa lari Agha ke kamar. Kayla, Abinawa, Kayla, dan Agni sontak berlari mengekor Bora.


Sementara Abimantya berdiri tegak di singgasananya dengan sorot mata mematikan.


Aisyah terus mematung dan menatap tapak tangannya sambil bergumam, "Tidak, tidak, kenapa jadi begini?"


Saha yang masih memeluk Aisyah langsung menundukkan kepalanya dan memohon, "Ampuni ratu saya, Yang Mulia. Dia tidak menyadari apa yang ia lakukan"


"Aku sedari tadi menahan diri untuk tidak memberikan sanksi yang berat atas kesalahan besar yang ratumu lakukan karena ini adalah hari bahagiaku dan aku tidak ingin calon Istriku yang sangat aku cintai ketakutan. Tapi, ratumu semakin keterlaluan. Berani benar ia hendak mencelakai Putriku Kiana dan justru melukai keponakanku Agha! Peengawaaaallll!!!!!"


Beberapa pengawal berderap masuk dan bertanya secara serempak, "Siap, Yang Mulia Raja"


Saha mulai panik dan mempererat pelukannya sambil berteriak, "Ampuni kami, Yang Mulia Raja!"


Namun, raja Abimantya terlanjur mendidih amarahnya dan raja tampan kembarannya Abinawa itu langsung berteriak, "Jebloskan wanita iblis itu ke penjara dan beri dia hukuman cambuk sebanyak seratus kali!"


"Tidaakkkk! Jangaaannn! Kasihanilah ratu saya, Yang Mulia!!!!" Saha bersimpuh di atas lantai lalu membenturkan keningnya di lantai saat ia melihat para pengawal menyeret Aisyah.


Aisyah yang masih syok karena ia telah mencelakai Agha, pria yang sangat ia cintai, masih terus menatap tapak tangannya dan bergumam, "Kenapa aku melukainya. Tidak, jangan Raja Agha, tidak, tidak, tidak"


Raja Abimantya langsung turun dari singgasana dan melangkah pergi meninggalkan Saha yang masih menempelkan kening di lantai dan berteriak, "Ampuni ratu saya, Yang Mulia Raja Abimantya! Kasihanilah ratu saya, Yang Mulia Raja Abimantya"


Raja Abimantya menghentikan langkahnya sejenak untuk menoleh ke belakang dan berkata ke Saha, "Sebenarnya hukuman mati yang pantas aku berikan untuk ratumu yang gila dan bodoh itu. Tapi, aku tidak ingin menodai hari pernikahanku dengan darah"


Saha sontak menegakkan kepalanya dan mematung. Saha tidak berani lagi memohon karena ia takut raja Abimantya benar-benar menjalankan niatnya memberikan hukuman mati pada Asiyah.

__ADS_1


Raja Abimantya kemudian melesat pergi meninggalkan Saha karena ia ingin segera mengetahui keadaannya Agha.


Sementara itu, di dalam kamarnya, Kiana masih tampak fokus mengobati punggung suaminya. Dengan penuh konsentrasi Kiana melakukan pengobatan sambil terus berdoa di dalam hatinya semoga suaminya selamat dan sadar sebentar lagi.


Kayla berkata, "Untung saja ilmu yang Agha miliki dan tenaga dalamnya sangat tinggi. Kalau tidak, Agha sudah tak bernyawa saat ini"


Abinawa mengepalkan tinjunya dan menggeram, "Aku menyesal menganggap Aisyah seperti Putriku sendiri"


"Aku sudah menjebloskannya ke penjara dan memberikan hukuman seratus cambuk ada ratu gila itu" Sahut Abimantya.


"Mas" Kayla menoleh ke Abimantya dan Abimantya langung merangkul bahu Kayla. Lalu, Abimantya bertanya, "Gimana Agha?"


"Agha masih pingsan dan Kiana masih mengobati lukanya" Sahut Abinawa.


"Kalau sampai Agha kenapa-kenapa, maka aku akan ........."


"Uhuk-uhuk!" Terdengar suara batuknya Agha dan Kiana langsung menunduk untuk mengusap pipi suaminya dan bertanya, "Mas, apa yang Mas rasakan saat ini?"


"Aku merindukanmu" Agha nekat mengecup bibir Kiana.


Kiana sontak berbisik, "Mas! Ada banyak orang di sini"


"Aku nggak papa semuanya. Silakan keluar, aku ingin berduaan saja dengan Istriku" Teriak Agha yang masih tidur telungkup.


"Eh, ada Paman Abimantya, ya, maaf Paman aku tidak bisa berdiri menyambut Paman"


"Udah nggak papa. Aku sudah kirim tabib terbaik untuk mendampingi Kian"


"Terima kasih, Paman. Tapi, maaf tidak usah. Cukup Kiana saja yang mengobati aku, Paman"


"Baiklah. Semoga cepat sembuh, Agha. Ayo keluar semuanya" Ucap raja Abimantya.


Bora dan Agni hanya bisa saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah polosnya Agha sambil mengekor langkahnya raja Abimantya keluar dari dalam kamarnya Agha.


Ibundanya Agha sontak bertanya, "Ibu nggak boleh tetap di sini?"


Raja Abinawa juga ikutan bertanya, "Ayah gimana?"


"Kalau banyak orang di sini, nanti Kiana nggak bisa konsentrasi mengobati aku, Yah, Bu" Sahut Agha.


Kiana langsung menepuk pelan bahu suaminya dengan senyum geli.

__ADS_1


"Iya, iya, baiklah. Ibu tinggalkan kalian berdua" Sahut ibundanya Agha dan ayahnya Agha juga ikutan berkata, "Ayah juga pergi kalau begitu. Ayah nitip Agha, ya, Kiana"


Kiana bangkit berdiri lalu mencium punggung tangan ibundnya Agha dan Abinawa. Lalu, mengantarkan keduanya keluar dari dalam kamar.


Saat Kiana ingin menutup pintu kamar, terdengar teriakan sangat kencang, "Tungguuuu!!!! Jangan ditutup! Aku ingin melihat kondisinya Agha!"


Kiana sontak membuka lebar-lebar pintu kamarnya.


Agha sontak menghela napas panjang dan mengerucutkan bibirnya, "Hadeeehhhh! Kenapa Kak Bhadra malah ke sini? Padahal aku ingin berduaan saja dengan Kiana. Dasar Jalangkung, datang tak diundang, tapi pulangnya minta diantar, cih!"


Bhadra langsung masuk ke dalam kamarnya Agha sambil berteriak, "Bro! Kamu baik-baik saja, kan? Aku bawakan obat terbaik untuk mengobati tapak maut kerajaan Padang Pasir"


"Nggak usah! Kiana sudah mengobati aku! Kakak pulang aja sana! Aku baik-baik saja!"Teriak Agha kesal.


"Ah! Mana boleh begitu. Aku harus duduk sebentar di sini untuk melihat adikku yang bandel tapi cukup ngangenin juga" Sahut Bhadra sambil duduk di tep ranjang.


"Eh, nggak boleh cowok merindukan cowok, cih!"


"Boleh saja. Kau, kan, adikku. Aku akan merindukanmu selalu, hahahahahaha. Kiana tolong bikinkan teh untuk Kakak"


"Baik, Kak Bhadra" Sahut Kiana.


"Eh, nggak usah bikin teh, Sayang! Kak Bhadra bakalan lama di sini kalau kamu bikinkan teh, hiks,hiks, hiks"


"Emangnya kenapa kalau aku lama di sini? Kamu harusnya senang ada teman ngobrol saat Kiana mengobati kamu. Iya, kan?"


Agha langsung mewek dan membatin, tapi, aku ingin berduaan saja dengan Istriku, Kak! Dasar pria nggak peka, cih!


"Kenapa kamu mewek?" Bhadra menunduk untuk melihat wajah Agha.


Agha semakin mewek dan mengeluarkan suara, "Hiks, hiks, hiks"


Kiana sontak mengulum bibir menahan senyum geli melihat sikap kekanak-kanakannya Agha dan Bhadra.


Sementara itu di tengah kesakitannya dicambuk, Aisyah berteriak dan bertekad di dalam hatinya, aku akan membalas dendam pada semuanya setelah ini. Terutama pada Kiana. Dia sudah mempermalukan aku seperti ini dan membuatku terkena hukuman seperti ini. Aku akan membuat Kiana menyesali perbuatannya berani melawanku. Tunggu saja pembalasanku, Kiana!!!!!!!!


Dan Bora secara diam-diam pergi ke kamarnya Aisyah. Dia menemui Saha dan berkata, "Aku sudah utus anak buahku untuk mengembalikan tanda persahabatan dari ratu Aisyah. Sekarang kembalikan jubahku dan belatinya raja Agha.


"Tunggu di sini sebentar!" Saha kemudian masuk ke dalam kamar Aisyah, lalu tidak lama kemudian keluar kembali dan menyerahkan lipatan jubah dengan belati di atasnya.


Bora kemudian membawa jubah dan belati itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Saha.

__ADS_1


Saha menatap punggung Bora dengan wajah sedih.


__ADS_2