
"Kak Agha berhenti! Demi pertemanan kita di masa kecil, berhenti lah, ku mohon!" Pekik Kesya dengan suara terengah-engah.
Agha menghentikan langkahnya lalu berputar pelan untuk menghadap Kesya.
Melihat Agha berdiri tegap, mematung, dan menatapnya dengan wajah datar, Kesya menghentikan lari kecilnya dan setelah ia bisa mengatur napasnya kembali, Kesya berkata, "Kenapa Kakak menolak perjodohan kita demi gadis kurus, kecil, dan pendek itu, hah?! Kakak bahkan belum mengenalnya, kan? Sedangkan Kakak sudah mengenalku selama bertahun-tahun dan kita tumbuh bersama"
Agha berkata dengan wajah datar dan dingin, "Mengenal seseorang selama bertahun-tahun bukanlah jaminan kita benar-benar mengenal orang itu. Nyatanya kamu pergi tanpa pamit di saat kita akan menikah. Aku rasa aku tidak lagi mengenalimu" Agha lalu berbalik badan dengan cepat dan melangkah lebar meninggalkan Kesya.
"Tunggu, Kak!" Kesya berteriak panik.
Agha menghentikan langkahnya dan berkata tanpa menoleh ke belakang, "Satu lagi, Kes, jangan hina Istriku! Kiana adalah hadiah dari Kaisar dan Permaisuri. Dia berharga bagiku" Lalu, Agha kembali melangkah lebar meninggalkan Kesya.
Kesya merengut dan menghentakkan kedua kakinya di lantai dengan wajah kesal lalu ia bergumam, "Aku akan tetap berusaha dan mencari segala cara agar bisa menikah denganmu, Kak Agha"
Pangeran Adyaksa melepaskan kedua bahu Kiana dan berkata dengan wajah penuh senyum, "Kita teman. Nggak usah pakai bahasa formal"
"Apakah benar-benar boleh? Nanti saya kena hardik pengawal pribadi Anda. Dia galak dan wajahnya mengerikan" Bisik Kiana.
Adyaksa tertawa lepas, lalu berkata, "Dia hanya menuruti perintahku. Kalau aku bilang boleh, maka boleh"
Kiana kembali berbisik, "Apa saya juga boleh memanggil Pipi Gembul?"
Adyaksa kembali tertawa lepas dan berkat, "Tentu saja boleh"
Kiana langsung memekik girang lalu berkata, "Senang bertemu dengan kamu lagi, Pipi Gembul"
"Aku juga senang bertemu denganmu lagi kelinci liar" Pangeran Adyaksa menepuk bahu Kiana dan Kiana balas menepuk bahu pangeran Adyaksa dengan tawa riang.
Kedua teman lama yang baru saja dipertemukan kembali oleh takdir itu kemudian tertawa lepas secara bersamaan.
Pangeran Adyaksa langsung berkata, "Aku punya kebun luas yang penuh dengan tanaman herbal dan bunga yang bermanfaat untuk obat-obatan juga kecantikan"
"Benarkah?!" Kiana membeliak senang. "Apakah aku boleh ke sana?"
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Kamu harus sering-sering main ke kebunku. Kamu nggak usah lagi pergi ke hutan untuk mencari tanaman herbal"
"Wah! Aku mau, aku mau ke sana!" Kiana memekik kegirangan.
"Besok pagi jam delapan tunggu aku di depan rumah suami kamu. Aku akan jemput kamu dan ajak kamu mengunjungi kebunku. Kamu boleh memberiku saran apa yang kurang maka aku akan suruh anak buahku untuk mencari bibit dan menanamnya"
"Wah! Baiklah! Aku sudah tidak sabar menunggu esok hari"
Adyaksa tertawa lepas dan menatap wajah riangnya Kiana dengan hati berdesir hangat.
Kau sangat cantik, kelinci putih. Batin Adyaksa.
Bora bergegas menemui Agha dan berbsisik sambil mengiringi langkah lebarnya Agha, "Nyonya muda menjadi mata-matanya Permaisuri. Permaisuri memberikan misi pertama ke Nyonya muda untuk mengambil gulungan kertas yang membuktikan Permaisuri menyuruh pembunuh untuk membunuh Anda, Yang Mulia"
Agha sontak menghentikan langkahnya dan mematung sepersekian detik.
Bora menegakkan badannya dan berdiri tegap di samping Agha. Dia menunggu perintah Agha.
Agha kemudian melangkah kembali dan Bora pun sontak mengiringi langkah junjungannya. Agha berkata sambil berjalan, "Biarkan dia bekerja untuk permaisuri. Aku akan lihat sejauh mana Istri kecilku berani mengkhianati aku. Awasi kamarku nanti secara diam-diam dan biarkan Istriku beraksi mengambil gulungan kertas itu"
"Apa Istriku masih ada di taman bunga matahari?"
"Sepertinya masih, Yang Mulia. Tadi pas saya pergi, Nyonya muda masih berdiri termangu di sana"
Agha kemudian membelokkan langkahnya menuju ke taman bunga matahari.
Agha terkejut dan tertegun sejenak saat ia melihat pangeran Adyaksa. Kakak sepupunya yang tampan, berwajah lembut, yang selalu ramah kepada siapa pun itu, tengah mengobrol asyik dengan istrinya. Meskipun Agha sudah mengetahui bahwa istrinya adalah orangnya permaisuri yang sewaktu-waktu akan mengkhianatinya, hati Agha tetap terasa panas dan perih melihat istrinya mengobrol santai dengan pria lain dan wajah istrinya tampak cerah ceria.
Kenapa dia bisa akrab dengan Kakak sepupuku? Kapan dia bertemu dengan Kak Adyaksa? Kenapa juga ia tersenyum lebar dan memberikan senyum cantiknya itu untuk pria lain? Agha berkata di dalam hatinya sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
Ketika Agha melihat tangan pangeran Adyaksa terangkat lalu meletakkan tangan itu di atas pucuk kepala istrinya, Agha langsung melesat maju dan tanpa berpikir panjang, ia mendorong dada pangeran Adyaksa dengan tangan kiri dan tangan kanannya menarik pinggang istri kecilnya.
Adyaksa dan Kiana tersentak kaget.
__ADS_1
Pengawal pribadinya Adyaksa sontak maju ke depan dan mengarahkan kepalan tinjunya ke Agha. Agha bisa menangkis semua serangan pengawal pribadinya Adyaksa tanpa melepaskan pinggang ramping istri kecilnya. Agha melakukan gerakan berputar, meninju, dan menendang sambil terus memeluk pinggang istri kecilnya.
Saat Agha berhasil menjatuhkan pengawal pribadinya Adyaksa, Adyaksa sontak berteriak, "Berhenti!"
Kiana yang syok kembali tersentak kaget saat Agha tiba-tiba membopongnya dan ternganga sambil menatap lekat wajah suaminya saat suami tampannya itu berkata ke Adyaksa, "Jangan pernah menyentuh Istriku, Kak! Ingat itu!"
Agha kemudian berbalik badan dan dengan membopong istri kecilnya, Agha melangkah lebar meninggalkan pangeran Adyaksa begitu saja.
Pengawal pribadinya Adyaksa menggeram kesal, "Berani benar dia melawan Anda, Yang Mulia"
"Itu wajar. Aku menyentuh rambut indah istrinya" Sahut Adyaksa dengan senyum tipis.
"Anda tidak akan memberikan perintah ke saya untuk memberi pelajaran Jenderal sombong itu Yang Mulia?"
"Nggak usah. Biarkan saja. Kamu lakukan saja perintahku tadi. Cari wanita yang mirip perawakannya dengan Kiana dan suruh wanita itu memakai pakaian serba hitam dan penutup wajah lalu pergi ke kediamannya Caraka untuk mencuri gulungan kertas itu"
"Anda cerdas Yang Mulia. Dengan begitu Permaisuri akan mengira yang mencuri gulungan kertas itu adalah Istri Jenderal sombong itu"
"Iya. Dan Agha tidak akan menyalahkan Kiana karena aku besok akan ajak Kiana seharian ke kebunku. Kiana memiliki alibi kalau Agha mencurigainya. Akan ada banyak saksi yang bersedia bersaksi untuk Kiana" Sahut Adyaksa dengan senyum lebar.
"Anda memang cerdas, Yang Mulia. Tapi, kenapa Anda bersedia membantu Istri Jenderal sombong itu" Tanya pengawal pribadinya Adyaksa yang bernama Bayu.
"Karena Kiana pernah menyelamatkan nyawaku dan karena Kiana adalah teman baikku. Sekarang pergilah dan laksanakan perintahku sekarang juga!"
"Baik, Yang Mulia" Bayu membungkukkan badan lalu pergi meninggalkan junjungannya.
Kiana yang tidak pernah dibopong oleh seorang pria sebelumnya terus menunduk dan berkata, "Turunkan saya, Yang Mulia"
Agha dengan santainya berjongkok dan menjatuhkan Kiana begitu saja ke lantai kereta kuda.
Kiana mendelik sambil mengaduh pelan. Lalu, Kiana berkata di dalam hatinya, gila, ya! Tega benar dia menjatuhkan aku begitu saja. Percuma tadi aku baper waktu ia memeluk pinggangku lalu membopongku tadi, huh!
Agha naik ke bangku kereta kuda dan duduk dengan mengalihkan pandangannya. Pria tampan dan gagah itu masih terbakar cemburu.
__ADS_1
Kiana bangun dan duduk di bangku kereta kuda sambil bergumam di dalam hatinya, ish! Sekarang malah memalingkan muka setelah menjatuhkan istrinya. Dasar manusia es!