
Tabib kejam yang bernama Alzam mengibaskan kedua tangannya lalu mengarahkan kedua tangannya sambil berteriak, "Jurus cakar Elang"
Seketika itu juga sekujur tubuh Agha menegang dan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya karena dulu Agha pernah dicekik dengan jurus itu. Namun, di saat Tabib kejam yang bernama Alzam itu melesat maju dan ingin mencekik Kiana, Agha sontak menarik Kiana ke belakang lalu dia menangkis jurus cakar elang milik Tabib Alzam.
Kiana sontak berteriak, "Hentikan! Jangan berkelahi! Hentikan!"
Namun, Alzam terus meluncurkan jurus cakar elangnya dengan membabi buta dan Agha terus menangkisnya. Agha terus menekan traumanya dan mengabaikan perintah otaknya yang menyuruh Agha menjauhi Alzam. Agha terus menangkis serangan Azam dan menahan serangan itu di tengah perlawanan dirinya melawan trauma yang masih bergejolak hebat di semua indra yang ada di dirinya, demi untuk melindungi istri kecil tercintanya.
Ibundanya Kiana mendaratkan kakinya di tanah dan langsung berteriak, "Hentikan Ayah! Jangan menyerang cucu menantu kamu! Ayah!"
Namun, Alzam mengabaikan teriakan putrinya. Alzam terus menyerang Agha tanpa.jeda dan tanpa belas kasihan. Alzam mengerahkan semua kemampuannya.
Agha awalnya hanya menangkis karena ia tidak ingin menyakiti kakeknya Kiana. Namun, di Saat Agha mulai terdesak dan hampir kena cekik maut tabib kejam itu, Agha terpaksa menapakkan telapak tangannya ke depan. Saat Agha berhasil mendaratkan jurus tapak saljunya ke dada tabib Alzam dan tabib Alzam terjungkal ke belakang beberapa meter jauhnya, ibundanya Kiana langsung berlari ke ayahnya dan Kiana langsung berlari untuk memeluk suaminya sambil bertanya, "Kamu tidak apa-apa, kan, Mas?"
"Maafkan aku. Aku tidak ingin menyakiti Kakek kamu tapi Kakek kamu membuatku terdesak dan aku tidak ada pilihan lain......."
Kiana langsung mengecup bibir Agha lalu berkata, "Aku lihat, Mas. Aku lihat kalau Mas terus menangkis serangan Kakek karena Mas tidak ingin menyakiti Kakek"
Agha mengecup kening Kiana dengan penuh cinta.
"Aku lihat kondisi Kakek dulu dan........"
Agha langsung mendekap Kiana dan melindungi Kiana dengan punggungnya saat Agha melihat tabib Alzam masih nekat melesat untuk menyerang Kiana.
Agha meringis menahan sakit saat punggung Agha terluka terkena cakar mautnya Alzam.
Ibundnya Kiana terpaksa memukul tengkuk ayhnya dan seketika itu juga ayahnya jatuh pingsan.
Ibundnya Kiana langsung berteriak ke Jenggot Api dan Tongkat Emas, "Tolong angkat Ayahku ke dalam"
"Baik, Bunda" Sahut Jenggot api dan Tongkat Emas.
Lalu, Ibundanya Kiana menoleh ke Kiana yang tengah memapah Agha ke bangku.
Ibundnya Kiana langsung berdiri di depan Agha dan berkata, "Maafkan Ayahku. Entah apa aku masih pantas memohon maaf untuk Ayahku dan........"
"Saya memaafkan beliau karena beliau adalah Kakeknya Kiana dan Ayah Anda, Ibu" Sahut Agha dengan cepat.
Ibundnya Kiana langsung menyerahkan kotak berwarna putih ke Kiana dan berkata, "Olesi luka Suami kamu dengan salep ini. Salep ini sangat manjur. Ibu akan menengok Kakek kamu dulu"
"Terima kasih, Ibu" Sahut Kiana dan Agha secara bersamaan.
Kiana membuka perlahan bajunya Agha lalu mengoleskan salep sambil meniupnya pelan-pelan.
"Sakit, Mas?"
Agha menggeleng dan berkata, "Asal aku genggam tangan kamu seperti ini, aku tidak merasakan sakit"
Kiana tersenyum dan sambil meniup luka cakaran di punggung Agha, Kiana berkata, "Kalau sakit, Mas remas aja tanganku"
Agha mengusap punggung tangan Kiana sambil berkata, "Tangan seindah ini. Tangan berbakat yang sudah menyembuhkan banyak orang ini sayang kalau diremas. Kalau sakit apa aku boleh menciumnya saja?"
Kiana terkekeh geli dan berkata, "Tentu saja boleh. Semua tubuhku adalah milik kamu, Mas. Mas boleh melakukan apa saja"
Agha tersenyum senang lalu menarik Kiana ke depan dan memangku Kiana.
"Mas! Aku belum membalut luka kamu" Saat Kiana ingin bangkit berdiri, Agha langsung menahan pinggang Kiana dengan lembut sambil berkata, "Jangan berdiri! Aku ingin memeluk kamu sebentar saja"
Agha ingin melepaskan traumanya karena kalau dia mau berterus terang, dia mulai kesulitan bernapas dan hanya Kiana yang mampu membuatnya bisa bernapas lega kembali.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi jangan peluk kelamaan! Luka Mas perlu segera diperban"
"Hmm" Sahut Agha sambil memeluk erat pinggang ramping istrinya dan merebahkan kepalanya di pundak Kiana.
Lima menit kemudian Agha membantu Kiana berdiri dan berkata dengan senyum lebar, "Sudah! Terima kasih, Sayang. Aku sudah bisa bernapas lega kembali"
Kiana tersenyum dan setelah mengelus lembut pipi suaminya, ia mulai menutup luka Agha dengan perban yang terbuat dari kain panjang berwarna putih.
Setelah selesai mengobati dan menutup luka di punggung Agha, Kiana berkata, "Aku ke dalam dulu untuk melihat kondisi Kakek"
Agha tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat setelah Kiana masuk ke dalam pondok, ibundnya Kiana keluar dari dalam pondok dengan diikuti Jenggot api dan Tongkat Emas.
Agha bangkit berdiri saat ibundanya Kiana menghentikan langkah di depan Agha.
"Ada apa, Ibu?"
"Karena kondisi Ayahku belum stabil dan aku takut dia menyerang kamu lagi, maka Ibu sarankan kamu ikut Jenggot api ke Utara hutan dan melatih inti sari tenaga dalam kamu. Ada kitab milik Ibu di sana. Baca dan pelajarilah! Kalau kamu berhasil menguasai kitab itu, maka kamu bisa menguasai naga hitam yang ada di diri kamu dan kamu tidak akan bisa dibunuh. Kamu menjadi manusia setengah dewa seperti kami"
"Lalu Kiana bagaimana? Kalau Kakeknya sadar dan mengamuk lagi, siapa yang akan menjaga Kiana?"
"Kiana sudah balik ke dunia manusia dengan bantuan kakek cermin dan kamu harus tetap di sini melatih inti sari tenaga dalam kamu"
"Hah?! Kiana sudah pulang? Kenapa tidak pamit sama saya dulu?"
"Ada kejadian mendesak di dunia manusia. Agni adik kamu datang kembali ke sini dan mengajak Kiana balik dulu dan Ibu pikir ada baiknya Kiana pulang dengan membawa kakeknya. Kakeknya Kiana sepetinya menggila dan mengamuk karena aura naga hitam yang ada di diri kamu. Dia sebenarnya ingin menyerang kamu bukannya Kiana. Maka ibu pikir kamu harus dipisahkan dengan Kakeknya Kiana terlebih dahulu. Jenggot api akan menyusul Kiana dengan membawa teratai jingga dan Ibu bersama tongkat emas akan tinggal di sini untuk melatih kamu dan memberikan beberapa tes ke kamu.Setelah kamu lulus, maka kita akan segera menyusul Kiana"
"Ada kejadian mendesak apa? Ibu tadi bilang di dunia manusia ada kejadian mendesak"
"Ibunda kamu sesak napas dan mencari Kiana itu kata Agni tadi"
"Kata Agni Ibu kamu baik-baik saja cuma tetap butuh Kiana"
"Oke, baiklah, Ibu, saya akan menuruti perintah Ibu. Saya akan tinggal di sini sampai saya bisa menguasai semua tes yang Ibu berikan kepada saya"
"Bagus!" Sahut ibundanya Kiana.
Dua Minggu Kemudian........
Agha bergegas melesat ke kamarnya setelah hampir satu Minggu ia tidak bertemu dengan istrinya karena ia tinggal di hutan siluman untuk menjalani tes dari ibundanya Kiana selama Dua Minggu. Dan setelah ia lulus barulah ia pulang untuk menemui Kiana dan dia pulang bersama-sama dengan ibundanya Kiana. Namun, Ibundanya Kiana berpisah jalan dengan Agha. Ibundanya Kiana pergi ke arah barat karena dia ingin bertemu dengan seseorang terlebih dahulu dan Pendekar tongkat emas dan Jenggot Api menemani langkah Ibundanya Kiana.
Agha masuk ke kamarnya dengan wajah penuh kerinduan dan terkejut saat ia melihat istri kecilnya duduk di tepi ranjang dengan cemberut.
Kiana hanya menghela napas panjang.
Agha langung berdiri menjulang di depan Kiana lalu membungkukkan badan untuk menangkup wajah cantik istri kecilnya yang tengah cemberut, "Kenapa kamu cemberut?"
"Bagaimana ujiannya, Mas? Mas lulus tidak?" Tanya Kiana dengan wajah harap-harap cemas.
"Tentu saja lulus. Cuma Aku tidak tahu berapa nilaiku, hehehehe" Sahut Agha lalu pria tampan itu meringis di depan Kiana.
"Ah, Syukurlah! Nilai tidak penting, Mas. Yang penting Ibunda sudah merestui kita" Kiana langsung menggenggam tangan Agha dan mengayun kedua tangan itu dengan senyum penuh cinta.
"Iya. Aku lega Ibunda kamu akhirnya merestui kita. Kenapa kamu cemberut?" Agha menunduk dan memandang Kiana penuh selidik.
"Aku akan katakan soal Yang Mulia raja terlebih dahulu. Obat yang aku but sudah tidak mempan untuk Yang Mulia Raja dan Teratai Jingga belum selesai diekstrak dan diteliti oleh Kakekku"
"Kakek Kamu tidur di mana?"
__ADS_1
Berkat tes dan pelatihan yang diberikan oleh ibu mertuanya, Agha tidak memiliki trauma lagi pada Kakeknya Kiana.
"Kakekku tidur di klinik selama dua Minggu ini, Mas. Kakek tidak mau tidur di kediaman ini padahal Ibunda sudah mengijinkan Kakek tidur di sini"
"Aku akan menemui Kakek kamu dan aku akan menemui Ayahanda Raja setelah ini. Sekarang katakan kenapa kamu cemberut?"
Kiana berucap dengan mulut yang masih mengerucut lancip, "Ada utusan dari istana kalau Debi belum bisa balik ke sini. Padahal aku sudah sangat merindukannya"
"Aku akan segera menyuruh anak buahku untuk menjemput Debi sekarang juga kalau begitu"
"Nggak usah, Mas"
"Hah?! Kok bilang nggak usah. Katanya kamu sudah sangat merindukan Debi" Agha duduk di samping Kiana lalu menjumput rambut Kiana sedikit dan menciuminya.
"Karena Debi belum mau pulang"
"Memangnya dia ada di mana sekarang ini?"
"Kata utusan dari istana kalau Debi sekarang ini ada di paviliunnya Pangeran Adyaksa"
"Hah?! Kenapa dia bisa ada di sana?" Agha membeliak kaget.
"Entahlah" Sahut Kiana.
"Sudahlah, jangan cemberut lagi. Aku akan ajak kamu jalan-jalan bersama Ibunda, mau?"
Kiana menoleh ke suaminya dengan senyum ceria lalu berkata, "Kamu manis banget hari ini, mas"
Agha tersipu malu dan sambil memainkan jari jemarinya Kiana ia berkata, "Bukankah aku selalu manis setiap hari?"
Kiana terkekeh geli lalu ia bangkit berdiri, "Ayo kita ke kamar Ibunda kalau begitu. Kita jalan-jalan"
Agha menarik Kiana sampai Kiana terjatuh di atas pangkuannya. Agha memeluk pinggang Kiana dan menatap Kiana dengan senyum penuh gairah lalu pria tampan itu berkata, "Aku belum bilang ke Ibunda soal jalan-jalan. Kita bisa melepaskan kerinduan kita dulu baru kita ke kamar Ibunda untuk mengajak Ibunda jalan-jalan" Setelah menyelesaikan kalimatnya yang panjang dan sarat akan kerinduan, Agha menarik tengkuk Kiana dan mengajak istri kecilnya itu untuk berciuman dengan tangan kiri menyingkap roknya Kiana.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu dan ketika itu tanpa jeda. Agha menarik bibirnya dari bibir Kiana sambil mengerang frustasi, "Ayolah! Kenapa harus mengetuk pintu sekarang ini?!"
Kiana terkekeh geli dan sambil mendorong dada suaminya dengan pelan, perempuan cantik itu berkata, "Buka dulu, Mas! Siapa tahu penting"
Agha mendengus kesal dan turun dari tempat tidur dengan berat hati.
Kiana ikutan turun dan setelah merapikan rambut dan roknya, Kiana mengekor langkah suaminya.
Agha membuka pintu dan langsung menyemburkan, "Ada Apa?! Nggak bisa nunggu sampai nanti?"
Bora langsung menundukkan kepala sambil berkata, "Maaf, Yang Mulia kalau saya menganggu waktu Anda bersama Nyonya muda. Tapi, saya membawa kabar yang sangat penting dan harus saya sampaikan dengan segera"
"Apa itu?" Tanya Agha masih dengan ekspresi kesal.
Kiana berdiri di samping Agha dan menunggu kabar penting itu dengan wajah tidak sabar.
Bora menegakkan kembali wajahnya untuk menatap junjungannya dan nyonya mudanya. Lalu dengan wajah prihatin Bora berkata, "Ayahanda Nyonya muda dipenjara dan akan dihukum pancung bulan depan"
"Hah?!" Kiana tersentak kaget dan Agha langsung bertanya, "Kenapa?"
"Ayahanda Nyonya muda dituduh meracuni Yang Mulia Kaisar dan tidak bisa mengobati penyakitnya Putra Mahkota"
"Maksudnya?" Agha bertanya sambil memeluk Kiana yang melemas kakinya.
"Putra Mahkota jatuh pingsan secara tiba-tiba dan ayahandanya Nyonya muda tidak bisa mengobati putra mahkota lalu yang mulia raja juga jatuh pingsan dan ayahanda Nyonya muda yang dituduh meracuni yang mulia raja saat tabib istana kepercayaannya permaisuri menemukan ada kandungan racun langka di tubuh yang mulia raja. Permaisuri mengutus utusannya ke sini. Kalau Nyonya muda juga tidak bisa mengobati putra mahkota dan Yang Mulia Kaisar, maka seluruh kediaman Caraka dan semua orang di kediaman ayahanda Nyonya muda akan dieksekusi"
__ADS_1
"Permaisuri mencariku. Kita pergi ke istana sekarang juga!" Kiana menegakkan tubuhnya dan Agha menatap Kiana dengan wajah kaget begitu pula dengan Bora.