Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Malam Pengantin


__ADS_3

Akhirnya acara pernikahan Bora dan Agni selesai. Acara pesta meriah sukses besar dan tepat di jam sebelas malam, semuanya masuk ke kamar mereka masing-masing.


Bora melihat wajah cantiknya Agni setelah ia melepas.tudung di atas kepala Agni. Karena sudah memendam.gairah cukup lama,.Bora. langsung membungkam bibir Agni dengan bibirnya. Lalu pelan pelan, Bora membaringkan tubuh Agni di atas ranjang mewahnya, ranjang berwarna merah menyala itu, seolah mengerti kalau saat ini, semangat Bora untuk memulai membuka kado pernikahan terindahnya pun juga tengah merah membara dan menyala-nyala.


Bora secara intens dan dalam mencium bibir Agni. Mulai menelusupkan lidah ke dalam bibirnya istri cantiknya. Bora memang bukan ahlinya kalau dalam teknik berciuman. Namun, fakta kalau Agni juga tidak ahli dalam berciuman membuat pengantin baru itu semakin bergairah untuk saling belajar dan saling mengeksplore.


Agni seakan meleleh dan kewalahan mengikuti permainannya Bora, yang ia anggap sangat luar biasa. Permainan baru sampai pada tahap berciuman, namun Agni sudah terengah-engah kalah.


Bora melepas ciumannya untuk menatap istri cantiknya yang masih memejamkan mata dengan dada naik turun. Bora tersenyum senang menatap istri cantiknya. Pria tampan dan gagah itu kemudian mengusap-usap bibir Agni yang nampak basah dan sedikit bengkak akibat dari ciumannya yang dahsyat dan memabukkan.


Bora terus menatap lekat wajah cantik istrinya sambil membuka satu per satu kancing di baju pengantinnya. Lalu pelan-pelan membuka satu persatu kancing baju pengantin istri kecilnya sambil menciumi leher Agni. Bora meninggalkan beberapa tanda cinta dan gairahnya di sana.


Agni tanpa sadar merintih lirih dan memanggil-manggil nama Bora.


Bora tersenyum bangga saat melihat istrinya begitu menikmati permainan yang ia tawarkan.


Bora menurunkan ciumannya di atas dada Agni, tangannya pun ikutan bermain-main liar di sana. Agni semakin kelimpungan, semakin bergerak liar seperti cacing kepanasan, dan terus memanggil manggil nama Bora.


Bora sudah tidak bisa menahan lagi kesabarannya dan berbisik atau di telinga Agni, "Aku mulai masuk ya, Sayang?" Bora.lalu mengecup kening Agni.


Agni sontak membuka mata dan menatap Bora.dengwn sorot mata ragu-ragu lalu gadis cantik itu menggelengkan kepalanya.


"Lho kok kamu gelengkan kepala kamu, kenapa?" Tanya Bora dengan heran.


"Agni baca di novel-novel sama Kak Kiana dan dengar dari cerita Ibunda, waktu malam pertama dulu Ibunda kesakitan. Kata Ibunda rasanya sakit banget. Kata Kak Kiana juga. Agni takut" Jawab Agni dengan mengerucutkan bibir.


Bora.aontak menunduk melihat pusakanya dan bergumam lirih, "Lalu, ini gimana?" Bora lalu mendongak dan melihat ekspresi polosnya Agni yang nampak beneran takut.


Bora kemudian menghela napas panjang dan membelai pelan kening istrinya lalu mengecupnya "Aku janji, aku akan melakukannya dengan pelan-pelan dan hati hati, Sayang. Kalau nantinya ada rasa sakit, kamu gigit aja aku, jambak rambut aku, atau pukul aku, ya" kata Bora mencoba membujuk


Agni dengan penuh kesabaran.

__ADS_1


"Baiklah, kata Ibunda dan Kak Kiana, Kalau sakit juga harus ditahan walaupun sakit banget juga harus kuat menahannya. Karena menolak keinginan suami itu dosa" kata Agni sambil menganggukkan kepalanya, tapi masih nampak gurat ketakutan di wajah Agni.


Bora kemudian menjadi tidak tega dan berkata "kalau kamu takut, benar-benar merasa takut, kita lakukan nanti aja, ya. Kita coba pelan-pelan besok dan besoknya lagi. Kita punya waktu yang sangat banyak, Sayang"


Agni merasa kasihan melihat Bora yang sudah nampak sangat bergairah.


Kalau tidak terlampiaskan, kasihan Bora. Batin Agni.


Akhirnya Agni berkata "Nggak, Sayang, aku nggak takut lagi. Kau lupa, ya, kalau aku ini cewek pemberani. Lakukan sekarang aja, Aku akan tahan sakitnya, tapi pelan pelan ya" Ucap Agni dengan sorot mata menyala-nyala penuh semangat.


Bora tersenyum penuh rasa cinta lalu pria tampan dan gagah itu mengecup kening Agni. Setelah menganggukkan kepalanya Bora berkata, "Aku akan lakukan dengan pelan dan hati-hati penuh dengan kelembutan"


Agni sontak memekik kaget saat Bora memulai aksinya. Bora menepati janjinya ia bergerak dengan sangat pelan, tapi hanya di menit awal. Rasa manisnya Agni dan gairah yang sudah sangat memuncak, tanpa Bora sadari membuat dirinya mempercepat gerakannya. Agni sontak memekik kencang dan menjambak rambutnya Bora. Lalu, Agni terisak bahagia dan meneteskan setitik air mata.


Mereka akhirnya mencapai puncaknya secara bersamaan. Bora kemudian memakai baju tidurnya yang terlipat rapi dia tas nakas. Lalu membantu Agni memakai baju tidur.


Setelah mengusap setitik air mata yang nampak di pelupuk mata istri cantiknya, dengan jari jempolnya, Bora mencium bibir Agni dan membaringkan tubuhnya di samping istri cantiknya, menyelimuti tubuh Agni yang masih polos, dengan selimut sambil berkata, "Aku sangat mencintaimu, Sayang"


Bora lalu memeluk Agni dan kembali berkata "Terima kasih banyak ya Sayang, kamu sudah jaga segel kamu dengan sangat baik, kamu sudah kasih aku kesempatan emas untuk menjadi yang pertama dan satu satunya yang membuka segel kamu, dan rasanya sangat manis, Sayang"


"Aku sangat mencintai kamu, Bora"" kata Agni di dalam dekapan suaminya.


"Aku juga sangat mencintaimu, tidurlah!" Kata Bora sambil mengecup kening Agni.


Dan di kamar raja dan ratu kesayangan kita, raja Agha dan ratu Kiana, mulai terdengar rengekan, "Kiana, aku juga pengen"


Kiana yang tengah menyisir rambut panjang indahnya di depan cermin menatap suaminya dari cermin sambil bertanya, "Pengen apa, Mas?"


"Kenapa kamu lepas sanggul, konde, dan menyisir rambut kamu lama banget. Buruan rebahan di sampingku"


"Oh, pengen aku rebahan di samping, Mas. Oke, Mas" Kiana kemudian melangkah lalu merebahkan diri di samping Agha dan tidur miring untuk menatap suami tampannya yang juga sedang tidur miring.

__ADS_1


"Aku pengen, nih, boleh, ya" Agha kembali mengatakan kata itu dan mengerucutkan bibir selancip mungkin.


"Pengen apa? Makan bubur dan cakue?"


Agha menggelengkan kepala dengan masih mengerucutkan bibir.


Kiana tersenyum geli lalu mengusap lembut pipi Agha dan bertanya, "Pengen makan manisan kedondong? Kalau malam jangan makan yang manis-manis, Mas, nanti Mas bisa sakit gigi dan kena diabetes"


"Bukan pengen yang itu" Agha langsung memunggungi Kiana lalu mendengus kesal.


Kiana tersentak kaget dan sambil mengulum bibir menahan geli melihat suaminya ngambek, Kiana memeluk suaminya dari arah belakang an mencium pundak Agah lalu bertanya, "Pengen apa, sih, Mas? Ngomong yang jelas, dong" Kiana lalu mencium pipi Agha.


Agha membalik badan dan langsung memeluk Kiana lalu berkata, "Pengen jadi pengantin baru kayak Agni dan Bora"


"Maksudnya?"


"Aku pengen merasakan malam pengantin kita dulu saat ini, boleh, ya" Agha menatap Kiana dengan wajah memelas seperti seorang anak kecil yang tengah meminta uang untuk jajan.


Karena ridak tega melihat suaminya terus memasang wajah memelas, akhirnya Kiana berkata, "Iya, boleh. Tapi, hati-hati, ya, Mas?"


Agha mengangguk dengan wajah semringah lalu memagut bibir Kiana dengan penuh damba.


Dan malam Kiana lebih panjang dari malamnya Agni.


Enam bulan kemudian............


Terdengar Hema suara bayi, "Oooeeeekkkk, oooooeekkk!!!!"


Agha tersentak kaget dan wajahnya semringah saat ia berlari masuk ke dalam kamarnya.


Agni dengan pertu besarnya langsung memeluk Agha sambil berkata, "Selamat, Kak. Bayi Kakak sangat sehat dan sangat menggemaskan"

__ADS_1


Agha semakin melebarkan senyum bahagianya di wajah tampannya dan berlari ke dalam.


__ADS_2