
Kiana lalu bangkit berdiri saat ia melihat mangkuk mie telah kosong dan Agha langsung bertanya dengan wajah ditekuk, "Mau ke mana?"
"Mau bawa mangkuk ini ke dapur sekalian mau mencoba memasak resep obat yang aku tulis ini"
"Ah! Tunggu!" Agha langsung memegang pergelangan tangan istri kecilnya lalu ia bangkit berdiri.
"Ada apa, Mas?"
"Letakkan mangkuknya biar diambil sama pelayan nanti. Aku akan ajak kamu ke suatu tempat" Agha menarik pergelangan tangan Kiana dengan ridak sabar, namun masih penuh kelembutan.
Kiana meletakkan mangkuk di ata meja begitu saja saat Agha menarik pergelangan tangannya.
Kiana berlari kecil sambil bertanya, "Mas mau ajak aku ke mana?"
"Kau lihat saja nanti" Sahut Agha sambil menghentikan langkahnya untuk membopong Kiana.
"Kyaaa!!!!!! Kenapa dibopong?" Kiana memekik kaget.
"Karena kalau jalan kelamaan" Sahut Agha sambil melesat terbang.
Beberapa menit kemudian, Agha mendaratkan kedua kakinya di depan sebuah bangunan minimalis yang berada di belakang tembok perpustakaan.
Agha menurunkan Kiana dengan hati-hati dan Kiana langsung bertanya, "Ini rumah siapa, Mas?"
"Ini klinik kamu, Sayang. Pas kita pergi ke istana langit, Bora menyelesaikan misi yang aku berikan dengan sangat baik. Klinik yang aku desain khusus untuk kamu udah dibangun dengan apik di sini" Agha tersenyum penuh cinta ke istri kecilnya yang sangat cantik.
Melihat Kiana mematung di depan bangunan minimalis yang Agha bangun dengan penuh cinta, Agha kembali berkata, "Kau bisa membuat obat di sini, bereksperimen di sini, dan kau juga boleh menerima pasien di sini. Ini klinik kamu. Kamu bebas melakukan apa saja di sini tanpa.pelru takut asapnya menganggu orang di kediaman Caraka atau orang lain di sekitar sini karena bangunan ini terpisah cukup jauh dari penduduk sekitar. Jadi, jangan khawatir akan tetangga yang datang ke sini melabrak kamu perihal asap"
Kiana langsung menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan kedua telapak tangannya lalu menoleh ke kanan untuk menatap wajah tampan suaminya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Agha mengusap pelan kedua kelopak mata Kiana sambil bertanya, "Kau suka?"
Kiana langsung melompat dan menggelungkan lengannya di leher kokoh suaminya sambil berteriak, "Aku sangat suka, Mas! Terima kasih banyak! Terima kasih banyak, Mas sudah mencintaiku sebesar ini!"
Agha langung mengangkat tubuh kecil istrinya tercinta lalu memutar tubuh itu dengan tawa bahagia. Kiana ikutan tertawa lepas dengan wajah penuh kebahagiaan. Pasangan suami istri itu kemudian berkahir dengan berciuman. Mereka saling mencium dengan lembut dan penuh dengan perasaan cinta yang hangat.
Agha langung menarik wajahnya dari wajah Kiana sebelum gairahnya tersulut. Lalu, pria tampan dan gagah perkasa itu berkata, "Ayo kita masuk ke dalam!"
"Baiklah" Kiana tersenyum lebar.
Agha langsung menggandeng tangan Kiana lalu mengajak Kiana masuk ke dalam bangunan minimalis yang sangat indah di mata Kiana. Rasa bahagia Kiana membuncah di dalam hatinya karena ia belum pernah punya klinik pribadi dan sekarang ia memilikinya. Dia memilikinya karena cinta suaminya yang sangat besar untuknya dan dia sangat bersyukur untuk itu.
Kiana takjub saat ia melihat ada bangku dan kursi untuk memeriksa pasien, lalu ada satu ranjang bersih, ada dua tungku untuk memasak obat dan alat medis yang sangat lengkap.
Agha terus tersenyum lebar melihat ajah istrinya tampak takjub dan penuh kebahagiaan. Kerja kerasnya terbayar sudah melihat wajah Kiana tersenyum bahagia saat ini dan Agha merasa sangat bersyukur.
"Wah, ada rak buku juga, Mas!" Kiana memekik senang melihat ada dua rak berisi penuh buku-buku.
"Terima kasih, Mas" Kiana mengecup bibir suaminya dan Agha langsung tersenyum lebar.
"Lalu, peti ini isinya apa?"
"Bukalah!"
Kiana membuka peti dan tersentak kaget, "Wah, semua tanaman herbal yang sudah dikeringkan ada di sinis semua. Mas, rasa terima kasih saja tidak cukup untuk membayar kerja kerasnya Mas membuat klinik dan isinya ini"
Agha menarik pinggang Kiana lalu memeluk Kiana untuk mendaratkan ciuman di kening Kiana lalu berkata, "Aku hanya butuh cinta dan kesetiaan kamu. Aku tidak butuh ucapan terima kasih. Karena aku rasa di antara suami istri tidak perlu ada ucapan terima kasih, kan, karena kita cuma butuh ucapan cinta dan aku rindu padamu"
Kiana tersenyum lebar lalu berkata, "Aku akan katakan cinta dan katakan aku rindu padamu, Mas, setiap aku bertemu dengan kamu"
__ADS_1
"Juga beri kecupan di bibir sebanyak yang aku mau karena aku lihat kamu mulai lupa memberikan kecupan di bibir di pagi hari sebanyak yang aku mau" Agha mulai mengerucutkan bibirnya dan Kiana langung terkekeh geli. Kemudian Kiana berkata, "Iya, Mas, mulai besok aku tidak akan lupa lagi memberikan kecupan di bibir sebanyak yang Mas mau"
Agha langung memeluk erat tubuh ramping istri kecilnya yang sangat cantik dan sangat ia cintai.
Keesokan harinya, Agha memeluk Kiana dan terpaksa meninggalkan Kiana setelah Kiana memberikan kecupan di bibir sebanyak yang ia mau karena ia harus bergegas pergi ke istana untuk menemui ayah kandungnya.
"Bawa gelang pemberian mendiang ratu, Mas. Kalung bayinya Mas. Mas harus mengatakan siapa Mas yang sebenarnya kepada raja sebelum kondisinya raja semakin parah"
Agha menganggukkan kepala lalu setelah mencium belahan rambut Kiana, dia pergi meninggalkan Kiana.
Kiana mengiringi langkah suaminya dengan berdoa di dalam hati, Tuhan berikan kemudahan bagi suami hamba untuk bisa merasakan pelukan hangat ayah kandungnya dan bantu hambaMu untuk bisa segera menemukan penawar racun langka yang bersarang di tubuh yang mulia raja., amin.
Agha pergi dengan membawa kalung giok bayi pemberian ibundanya, mendiang permaisuri yang sekarang ia pakai menjadi gelang. Dia Kana menunjukkan kalung giok bayinya itu ke kaisar Abinawa dan juga ia akan menunjukkan tanda lahir di pantatnya. Sudah saatnya Agha memberitahukan. semuanya ke ayahandanya sebelum penyakit ayahandanya bertambah parah.
Setalah menempuh perjalanan selama satu jam lebih cepat dari biasanya bersama dengan Red Hair, Agha langsung disambut para pengawal dan dayang untuk dihantarkan menemui yang mulia raja.
Kaisar Abinawa tersenyum senang melihat Agha datang ke istana dan Kaisar Abinawa langsung mengajak Agha ke ruang rahasianya.
Setelah duduk di depan raja, Agha langsung berkata, "Ada apa Raja ingin menemui saya dan mengajak saya ke ruangan rahasia Anda?"
Raja langsung menunduk, menutup wajahnya dengan telapak tangan kanan, lalu menangis.
Agha tersentak kaget dan spontan menepuk pelan bahu raja sambil berkata, Maaf kalau saya menyentuh Anda seperti ini, Yang Mulia Raja. Saya hanya ingin menenangkan Anda"
Raja lalu mengusap wajahnya yang penuh airmata lalu menatap Agha dan berkata, "Aku terus memimpikan mendiang Ratu sejak aku sakit-sakitan. Mendiang ratu berpesan agar aku mencari putra kandung kami sebelum terlambat dan.........."
"Saya juga, Yang Mulia. Beberapa hari ini saya bermimpi bertemu dengan wanita yang sangat cantik dan berwajah sangat lembut. Wanita cantik itu berkata agar saya menyerahkan kalung yang pernah beliau berikan ke saya waktu saya masih bayi. Ini kalungnya. Kalung ini saya pakai menjadi gelang sekarang" Agha lalu melepas gelang giok dari pergelangan tangan kirinya dan menyerahkannya kepada raja.
Dengan tangan gemetaran, Raja menggenggam kalung giok bayi itu sambil terisak menangis dan berkata, "Ibu kamu, hiks,hiks,hiks, ternyata ingin mempertemukan kita kembali. Tepi kenapa baru sekarang ini? Oh, Agha, maafkan Ayahanda yang tidak bisa melindungi kamu saat kamu masih bayi. Maafkan Ayahanda karena Ayahanda juga tidak bisa melindungi Ibu kamu, hiks, hiks, hiks, hiks" Yang Mulia Raja langsung tertunduk dan badannya bergetar hebat karena tangisannya.
__ADS_1
Agha sontak bangkit berdiri dan memeluk yang mulia raja dengan isak tangis yang sama.