Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Wanita Cantik


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang akhirnya Agha, Bora dan pasukan berjumlah ribuan sampai ujung Padang pasir.


"Kita dirikan kemah di sini dulu!" Teriak Agha.


"Baik Yang Mulia" Sahut Bora disusul teriakan para pasukan kerajaan dan pasukan besutannya Agha.


Dua jam kemudian, Agha berkata ke Bora dan beberapa anak buahnya Jenderal Chuck yang memahami medan Padang pasir dan strategi tempur.


"Jelaskan kondisi di sini. Apa yang kau tahu sejauh ini?" Agha berucap sambil menunjuk ke salah satu pemuda yang ikut mengelilingi meja yang dipakai khusus untuk mengatur strategi.


"Perbatasan masih jauh. Pasukan raja Nadim berada di sana. Kita akan melewati jalan yang diapit dua bukit. Jalan tersebut sangat berbahaya. Jenderal Chuck dan ratusan teman saya meninggal di sana"


"Kalau begitu, kita akan atur strategi setelah kita taklukkan jalan itu"


"Saya setuju dengan Anda, Yang Mulia. Lalu, bagaimana cara kita menaklukannya?"


"Apakah ada jalan lain selain jalan itu?" Tanya Agha.


"Tidak ada, Yang Mulia"


"Kamu punya peta jalan rahasia dari Padang pasir menuju ke kerajaan kecilnya Nasdim ?"


"Tidak Yang Mulia"


"Oke. Aku akan terbang ke sana malam ini untuk mensterilkan jalan tersebut dari bahaya" Sahut Agha.


Bora menahan lengan Agha, "Yang Mulia, Anda sekarang ini adalah seorang Raja dan Anda sudah memiliki seseorang yang menunggu Anda pulang dengan selamat. Anda tidak bisa lagi bertindak sendirian seperti dulu"


Agha menghela napas panjang lalu menepuk pundak Bora, "Aku tahu dan untuk itulah aku akan lebih berhati-hati kali ini" Agha langsung melesat keluar dari tenda dan saat dirasanya tidak ada yang mengikuti atau mengawasinya, ia terbang ke angkasa dalam wujud naga hitam.


Keberadaan Agha dalam wujud naga hitam tidak diketahui oleh prajuritnya raja Nadim yang berjaga di kedua tebing itu.


"Si Nadim itu ternyata cerdas dan kuat juga. Dia punya prajurit yang cukup banyak berarti kalau dia menempatkan banyak prajurit di kedua bukit ini"


Agha kemudian turun di tempat yang aman dan berjalan mengendap-endap. Berkat mata dan pendengarannya yang tajam, Agha berhasil melumpuhkan puluhan prajurit di kedua tebing itu tanpa melakukan keributan dan tanpa melakukan banyak perlawanan.


Setelah sukses membebaskan jalan di antara kedua tebing itu dari bahaya, Agha kembali tenang dalam wujud naga hitam untuk kembali ke perkemahan.


Agha masuk ke kemahnya dan langsung berkata, "Jalannya sudah aman. Kalau tidak ada yang tahu jalan rahasia menuju ke kerajaan kecil, maka kita akan serang langsung perbatasan. Kita berangkat pagi-pagi buta"

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia"


Semuanya kemudian keluar dari kemah raja mereka, raja Agha.


Setelah semuanya pergi, Agha duduk di depan meja kerjanya lalu mengambil kertas untuk menulis surat.


"Kiana, aku sudah sampai di padang pasir dengan selamat dan aku sangat merindukanmu, Sayang. Aku bakalan tidur sendirian malam ini, tapi pastinya aku akan bermimpi memeluk kamu. Aku sangat mencintaimu. Tunggu aku pulang dan aku akan bahas soal anak lebih serius padamu" Agha lalu menggulung kecil surat cintanya untuk Kiana. Lalu, Agha berjalan ke kandang merpati yang ada di dekat pintu masuk tenda, memasang surat cintanya di kaki merpati, kemudian menerbangkan merpati itu.


Agha tidak bisa tidur nyenyak malam itu karena ia sangat merindukan Kiana. Dan di pagi buta, Agha sudah berdiri di panggung dan berteriak, "Siapkan semuanya! Kita berangkat sebentar lagi!"


Sepuluh menit kemudian, Agha dan pasukannya sudah berada di tengah padang pasir hampir dekat dengan perbatasan.


Tiba-tiba ada seorang pria gemuk botak dan bercambang dengan menarik seorang wanita berpenampilan menarik dengan wajah tertutup cadar, berteriak, "Tolong kamu, Tuan! Kami dirampok dan kami butuh makan!"


Agha langsung mengangkat tangannya dan semua pasukannya seketika itu juga menghentikan laju kuda mereka.


Agha berkata ke Bora tanpa menoleh ke Bora, "Berikan apa yang dia minta"


"Baik, Jenderal!" Sahut Bora.


Agha terus menatap wanita yang berada di samping pira gemuk botak dan bercambang, Wanita yang terikat kedua pergelangan dan ditarik oleh pria itu sepertinya wanita bangsawan. Dia memakai baju bagus dan dandanan rambutnya tidak asal-asalan. Batin Agha.


Agha tersentak kaget dan langsung bergumam di dalam hatinya, dia juga terpelajar karena dia tahu kode seperti itu. Siapa wanita itu? Kenapa dia meminta tolong? Jangan-jangan dia.........


Agha langsung berteriak, "Sebelum aku kasih kamu makanan, katakan dulu siapa wanita yang kamu ikat dan kamu tarik itu?" Dan Bora menghentikan langkahnya untuk menyerahkan makanan ke pria gemuk berkepala botak dan bercambang itu lalu Bora menoleh ke junjungannya.


Pria botak gemuk dan bercambang itu berteriak, "Dia budak yang aku beli dari saudagar yang lewat sebelum anda, Tuan"


Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya dan Agha langsung berteriak, "Berapa harga wanita itu?!"


Bora langsung menautkan kedua alisnya mendengar ucapan junjungannya.


"Seribu keping emas karena gadis ini memiliki penampilan yang sangat bagus dan kulitnya sangat putih, Tuan!" Teriak pria gemuk botak dan bercambang itu.


"Bayar dia!" Agha berteriak ke anak buahnya yang bertugas membawa kepingan emas dan perak.


"Jenderal!" Teriak Bora dengan wajah kaget dan penuh tanda tanya.


Agha menoleh ke Bora dan saat ia melemparkan satu buntalan berisi seribu keping emas, Agha berteriak ke Bora, "Berikan makanannya ke dia!"

__ADS_1


"Tapi, itu.........."


"Berikan Bora!" Teriak Agha dengan wajah sangat serius.


Bora langsung meletakkan kotak berisi makanan di depan pria gemuk botak dan bercambang itu.


"Berikan juga jubah anda, Tuan!" Teriak pria botak dan bercambang itu.


Bora mendelik ke pria botak bercambang sambil menggeram, "Hei! Kau jangan kelewatan........."


Brug! Jubah Agha menggelepar cantik di kaki pria gemuk bercambang itu.


Bora hanya bisa menghela napas panjang.


Pria gemuk botak dan bercambang itu kemudian melepaskan tali yang ia genggam sedari tadi ke Bora.


Bora melepaskan tali yang mengikat kedua pergelangan tangan wanita itu sambil bertanya, "Siapa kamu sebenarnya?"


"Kau akan tahu nanti" Wanita itu berucap sembari melepas cadarnya.


"Kalau sampai kau mengkhianati kami, aku akan langsung membunuhmu. Aku akan terus mengawasi kamu" Geram Bora.


"Jangan khawatir! Aku wanita yang tahu bagaimana caranya membalas budi dengan baik. Kamu jangan suka mengancam wanita cantik. Aku sangat cantik, bukan?"


"Jalan!" Geram Bora.


Wanita itu berjalan mendekati kudanya Agha menunduk untuk bertanya, "Kau bisa naik kuda?"


"Bisa, Tuan" Sahut wanita cantik itu.


Lalu Agha berteriak, "Bawakan kuda untuknya!"


Bora menatap junjungannya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Jangan khawatir Bora. Dia akan berkuda di tengah kita dan tidak akan aku biarkan dia melarikan diri karena aku sudah menebusnya dengan sangat mahal" Sahut Agha.


Bora hanya bisa membungkukkan badan dan menyahut, "Baik"


Sementara itu di dalam istana, Kiana yang tengah berdoa di depan altar menerima surat dan ia langsung membaca surat itu. Lalu, Kiana mencium surat dari suaminya, memeluknya, dan bergumam, "Pulanglah dulu dengan selamat, Mas"

__ADS_1


__ADS_2