Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Maafkan Aku


__ADS_3

Dalam langkah kecilnya menuju ke dapur untuk mengambil Bapao isi daging ayam, ibundanya Agha melihat Agha menarik tangan Kiana dengan tampang garang dan langkah lebar. Agha bahkan menutup pintu kamar dengan keras.


Ibundanya Agha langsung menoleh ke pelayan pribadinya yang bernama Bibi Sum. "Sum, ada apa? Kenapa Agha pulang siang ini dan kenapa Agha menarik Kiana dengan tampang garang begitu?"


Bibi Sum langsung menyahut, "Yang Mulia Agha sepertinya ingin makan siang di rumah untuk itulah Yang Mulia Agha pulang. Lalu, Yang Mulia Agha marah saat beliau menemukan Nyonya muda ditarik tangannya oleh Yang Mulia Putra Mahkota"


"Wah, aku nggak nyangka Agha akan pulang siang ini dan marah secepat ini. Aku kira aku akan melihat kemarahan Agha sore nanti pas Kiana pulang dari jalan-jalan dengan Putra Mahkota. Baguslah! Biarkan mereka sering bertengkar dan aku yakin tidak lama lagi Kiana akan diceraikan oleh Agha dan setelah Kiana diceraikan, aku akan langsung menikahkan Agha dengan Rani" Ucap Ibundanya Agha sambil melanjutkan langkahnya menuju ke dapur.


Sesampainya di paviliun Arjuna, Agni sontak menoleh ke Bora dengan sorot mata mematikan.


Bora langsung mundur selangkah sambil bertanya, "Ada apa? Kenapa Nona menatapku seperti itu?"


"Ini rumah pelesiran yang sering dikunjungi para pria hidung belang. Kenapa kau tadi tidak bilang kalau paviliun Arjuna adalah rumah pelesiran? Kau sengaja menyembunyikannya dariku, ya? Jangan-jangan kau sering datang kemari, ya?" Agni langsung bersedekap dan menyipitkan mata dengan wajah garang.


Bora mundur lagi selangkah dan menghela napas panjang, lalu berkata dengan tampang lelah, "Saya tidak sempat memberitahukan tempat apa ini karena Anda terus saja nyerocos soal cinta pada pandangan pertama, lalu soal pacaran, dan pernikahan. Saya............."


"Selamat siang Tuan muda. Ada yang bisa saya bantu? Anda ingin kamar VVIP, VIP, atau kamar biasa?"


Bora dan Agni terpaksa menelan perdebatan mereka dan menoleh secara bersamaan ke asal suara yang menyapa mereka.

__ADS_1


Agni langsung berkata, "Kalau kamar VVIP apa kami bisa ditemani oleh Kenanga? Katanya Kenanga adalah primadona di sini"


"Wah, Kenanga hebat juga ternyata. Kecantikan dan kelembutan Kenanga bisa sampai ke telinga Anda berdua. Anda datang berdua, emm, mau pisah kamar atau mau satu kamar saja?"


Agni yang masih terbakar cemburu langsung menggebrak meja penerimaan tamu sambil berkata, "Tentu saja satu kamar! Aku dan Kakak laki-laki ku ini suka berbagi wanita. Iya, kan, Kak?" Agni menoleh tajam ke Bora dan Bora hanya bisa mengangguk pasrah.


"Eh, copot jantung saya. Nggak usah pakai mengebrak meja, bisa, kan Tuan?" Karyawan paviliun Arjuna yang berjaga di balik meja penerimaan tamu siang itu langsung mengelus-elus dadanya.


Agni yang siang itu menyamar menjadi seorang pria dan terlihat sangat tampan langsung meringis ke karyawan paviliun Arjuna yang ada di depannya lalu berkata, "Maafkan aku. Aku terlalu bersemangat ingin segera bertemu dengan Kenanga. Aku penasaran secantik apa dia? Apa mungkin dia lebih cantik daripada adik kesayangannya Jenderal Agha Caraka atau lebih cantik dari Istrinya Jenderal Agha Caraka? Aku rada primadona di sini masih kalah cantik kalau dibandingkan dengan adik perempuan dan Istrinya Jenderal Agha Caraka, cih!"


Nona, kenapa Anda malah bertanya soal kecantikan Anda dan Nyonya muda? Hadeehhhh! Bora langsung menepuk keningnya.


"Jangan cerewet lagi! Cepat bawa aku dan kakak laki-laki ku ke kamar VVIP yang kosong"


"Baik, mari ikut saya"


Agni langsung menarik tangan Bora untuk ia ajak mengekor langkahnya karyawan paviliun Arjuna itu.


Agni yang memiliki tinggi badan yang sama dengan Bora, yakni seratus tujuh puluh centimeter itu, langsung menoleh dan berbisik ke Bora sambil terus melangkah, "Kalau sampai Kenanga kenal sama.kamu, aku akan membantingmu langsung di pantai dan kalau sampai kau memandangi terus wajah Kenanga, aku akan membuat wajah kamu bonyok"

__ADS_1


Bora mendengus kesal dan langsung menyahut, lirih karena takut suaranya kedengaran di telinga karyawan paviliun Arjuna yang melangkah di depannya, "Saya yakin kalau Kenanga tidak kenal sama saya karena saya dan Kenanga tidak pernah bertemu sebelumnya. Saya tahu nama Kenanga dari Nyonya muda, jadi saya yakin kalau saya dan Kenanga tidak saling kenal"


Agni kembali berbisik, "Aku harap juga begitu"


Agni yang mulai ada rasa sama Bora sejak Bora datang menengoknya pas dia sakit demam di pondok di atas gunung. Padahal Bora datang karena disuruh oleh Agha. Mendengar adik perempuannya sakit, Agha langsung menyuruh Bora membawa tabib Gunadi untuk memeriksa kondisinya Agni saat itu.


Bora memang masih malas memikirkan soal cinta. Dia masih menutup ruang hatinya rapat-rapat untuk cinta. Dia masih fokus menemani Agha untuk merebut tahta, merebut haknya Agha sepenuhnya. Bora rela melakukan apapun demi Agha karena Agha sudah pernah menyelamatkan dirinya. Bagi hutang budinya pada Agha tidak akan pernah terbayar lunas sebelum ia melihat Agha naik tahta. Setelah Agha berhasil baik tahta barulah ia akan memikirkan kepentingan dan hidupnya sendiri.


Dan di kediamannya Caraka, di dalam kamar pribadi Jenderal besar kesayangannya Kaisar tengah kebingungan melihat istri cantiknya pingsan.


Agha menempelkan jari telunjuk ke lubang hidung Kiana dan langsung menghela napas.lega karena istri kecilnya masih bernapas normal. Lalu, ia menempelkan keningnya ke kening Kiana dan kembali menghela napas lega karena Kiana tidak demam.


Agha kemudian menepuk pelan pipi kiri Kiana sambil bergumam lirih, "Hei, Kiana, bangun! Kau tidak apa-apa, kan?"


Melihat istrinya belum membuka mata setelah ia tepuk beberapa kali di pipi, Agha langsung melompat turun dari atas tubuh kIana. Lalu, pria tampan dan gagah itu berlari ke pintu. Agha langsung membuka pintu kamarnya dan dengan wajah panik ia berkata ke pelayan yang berjaga di depan pintu, "Cepat pergi ke rumah Tabib Gunadi dan suruh tabib Gunadi membawa perawat wanita! Cepat!"


"Baik, Yang Mulia"


Agha kembali menutup pintu lalu berlari ke ranjangnya. Agha duduk di tepi ranjang dan langsung menggenggam tangan Kiana. Ia menatap wajah cantik Kiana sambil bergumam, "Semoga kamu nggak kenapa-kenapa. Maafkan aku kalau aku marah sama kamu. Itu salah kamu karena kamu punya banyak teman pria. Lain kali jangan buat aku marah lagi boleh nggak? Aku mencintaimu, ya, aku rasa aku mencintaimu, Kiana"

__ADS_1


__ADS_2