Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

"Bangunlah!" Ibundanya Kiana memegang kedua bahu Agha dan membantu Agha berdiri.


Ibundanya Agha melepaskan kedua bahunya Agha dan berkata, "Kamu pasti heran kenapa aku masih hidup padahal waktu itu perutku kena tusukan pedang dan jatuh ke jurang"


Agha mengusap pipinya yang penuh airmata sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Itu karena aku keturunan setengah dewa. Aku tidak bisa mati. Sama seperti Mentari Kuning yang tadi kamu lawan, lalu Jenggot api" Ibundanya Kiana menunjuk Jenggot Api.


Kiana bergumam lirih, "Ibu? Syukurlah Ibu masih hidup" Kiana kemudian melangkah mendekati ibundanya dengan perlahan sambil terisak menangis.


Ibundanya Kiana langsung menarik tangan Kiana dengan pelan lalu ia peluk putri cantiknya yang sangat ia rindukan sambil berkata, "Sayangku, Putri cantikku, Ibunda masih hidup dan Ibunda sangat merindukan kamu, Sayang. Maafkan Ibunda harus bersembunyi terus di sini. Ibunda bersyukur akhirnya bisa bertemu denganmu. Syukurlah kamu tumbuh dengan sangat baik dan kamu sangat cantik, Sayang. Terima kasih kamu hidup dengan sangat baik selama ini meskipun tanpa Ibunda di sisi kamu" Ibundanya Kiana mengelus rambut indahnya Kiana dengan penuh kerinduan.


Maka makin kencang lah tangisan Kiana di dalam pelukan hangat Ibundanya yang selama ini sangat ia rindukan.


Agha mengusap lembut punggung istrinya dengan wajah penuh haru. Dia ingin menenangkan Kiana dengan sentuhan hangat tangannya.


Agni dan Bora menitikkan air mata haru. Begitu pula dengan Jenggot Api.


Ibundanya Kiana melirik tangan Agha yang mengusap punggung putrinya dan wanita cantik itu langsung menepis tangan Agha dari punggung putrinya sambil berkata, "Kenapa kau menyentuh punggung putriku?"


"Kiana Istri saya, Ibu" Sahut Agha kembali mengusap lembut punggung Kiana. Ibundanya Kiana menatap Kiana dengan wajah tidak percaya dan Kiana langsung menyahut sambil menoleh ke belakang, "Iya, Ibu. Mas Agha Suami Kiana. Kamu saling mencintai dan........"


"Apa?!" Ibundanya Kiana langsung menjauhkan putrinya dari Agha.


Agha, Agni, dan Bora tersentak kaget secara bersamaan saat ibundanya Kiana tiba-tiba membawa Kiana terbang ke angkasa.


Kiana berteriak kaget dan menoleh ke belakang, "Mas Agha!" Lalu ia menatap wajah Ibundanya dari arah samping dan bertanya, "Ibu? Kenapa Ibu membawa Kiana terbang meninggalkan Mas Agha?"

__ADS_1


"Kau akan tahu nanti" Sahut Ibundanya Kiana singkat.


"Kiana!" Agha langung terbang menyusul Kiana.


Kiana kembali menoleh ke belakang dan berteriak, "Mas Agha!"


Agni dan Bora langsung melesat berlari dengan ilmu meringankan tubuh mereka. Namun, Jenggot api langsung menghadang langkah Agni dan Bora.


"Minggir!" Pekik Agni kesal.


"Aku sarankan kalian tidak ikut campur urusan mereka. Wanita cantik dan bisa terbang tadi adalah keturunan setengah dewa, makanya dia tidak bisa mati"


"Hah?!" Agni dan Bora ternganga bersamaan.


"Duduklah! Aku akan ceritakan semuanya. Sekalian menunggu urusan mereka"


Jenggot Api mulai bercerita, "Dia Putri Dewi Naga yang terluka turun ke dunia manusia. Lalu Dewi naga itu jatuh cinta pada tabib kejam yang justru tega mengekstrak darah Dewi Naga demi untuk memuaskan ambisi tabib kejam itu. Hingga pada akhirnya Dewi naga mati kehabisan darah. Dewi naga itu mati karena ambisi suaminya yang ingin menjadi jenderal besar, punya tentara naga, dan memiliki banyak uang, untuk itu lah dia nekat menculik anak-anak untuk ia suntik darah istrinya yang dia campuri racun. Anak-anak yang tabib kejam cilik itu akan ia jadikan tentara naga yang tak terkalahkan"


"Tabib itu bukan hanya kejam tapi juga gila" Sahut Bora.


"Hah?! Jadi, yang menculik Kak Agha dan menyekap Kak Agha di penjara bawah tanah yang pengap dan setiap hari, hampir setiap hari menyuntikkan racun naga hitam ke tubuh kurusnya Kak Agha kala itu adalah Kakeknya Kakak ipar?" Agni membeliak kaget dan dadanya mulai naik turun panik.


Bora menggenggam tangan Agni dan berkata, "Tenanglah! Kalau kamu panik aku takut kamu terserang sakit kepala dan sesak napas lagi"


"Iya, aku akan tenang" Sahut Agni sambil membalas genggaman tangan Bora.


"Bukan hanya itu. Kakeknya Kakak ipar kamu, adalah tabib yang menyuntikkan racun ke mendiang ratu Jelita dan Ibundanya Kakak ipar kamu adalah saksi mata peristiwa itu. Namun, Ibundanya Kakak ipar kamu tidak mau tutup mulut dan saat ia berhasil melepaskan diri dari cengkeraman permaisuri, dia bertekad melaporkannya ke Yang Mulia Kaisar. Tapi sayangnya, dia hanya seorang diri. Untuk itulah dia terus bersembunyi dan mencari saat yang tepat untuk bisa melaporkan semuanya ke Yang Mulia Kaisar. Dia punya bukti yang membuat mendiang Ratu wafat dan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat mendiang ratu meregang nyawa. Dia hidup tidak tenang selama bertahun-tahun karena ia terus dikejar oleh permaisuri. Hingga pada akhirnya dia nekat keluar dari persembunyian untuk menyelamatkan putra mahkota saat dia tahu salah satu dari anak-anak yang diculik oleh ayahnya, di tabib gila dan kejam itu adalah putra mahkota. Dia sangat ingin menyelamatkan putra mahkota sebelum orang lain mengetahui identitas putra mahkota. Namun, sayangnya dia ditusuk sebelum dia berhasil menyelamatkan putra mahkota dan dia jatuh ke sini"

__ADS_1


"Jadi, begitu ceritanya. Kasihan Yang Mulia Agha" Sahut Bora dengan sorot mata sedih dan nada lesu.


Agni sontak menggenggam lebih erat tangan Bora dan menoleh ke Bora sambil berkata, "Apa reaksi Kak Agha saat ia mendengar semua cerita ini?"


Bora menatap Agni dan berkata, "Iya! Kamu benar. Yang Mulia Agha pasti sedih, bingung, marah, campur aduk jadi satu. Kasihan Yang Mulia Agha. Semoga Yang Mulia Agha bisa berpikir jernih dan mengambil tindakan yang bijak"


"Kamu benar" Sahut Agni dengan wajah dan nada lesu bercampur sedih.


Sementara itu, Kiana berteriak panik saat Ibundanya membawanya terbang menembus cahaya biru dan Agha tidak bisa menembus masuk cahaya biru itu. "Mas Agha! Kenapa Mas Agha tidak bisa masuk ke sini, Ibu?"Kiana mulai berucap dengan derai air mata.


"Kiana! Kenapa Ibu membawa masuk Kiana ke sana?! Kenapa Agha tidak bisa menembus cahaya biru ini, Ibu?! Ibu! Tolong ijinkan Agha masuk untuk menenangkan Istri Agha, Ibu!" Teriak Agha sambil terus menabrakkan bahunya ke cahaya biru itu dan dia kembali terpental untuk yang ketiga kalinya. Agha kemudian mencoba menendang dan dia kembali terpental. Bahkan ilmu Pemecah Bumi dan Sambaran Petir tidak berhasil memecah cahaya biru di depannya. Agha berteriak frustasi di saat dia hanya bisa melihat Kiana menangis dan terus memanggil namanya. Agha semakin frustasi di saat dia hanya bisa berdiam diri tanpa bisa menyentuh dan mengusap air matanya Kiana.


Kiana menoleh ke ibundanya dan bertanya, "Kenapa Ibunda tidak mengijinkan Mas Agha masuk ke sini?"


"Karena aku akan keluar dari sini dan menjelaskan sesuatu padanya. Aku lindungi kamu dengan cahaya biru ini agar Agha tidak menyakiti kamu kalau dia tahu kebenarannya nanti" Ibundanya Kiana menyentuh pipi Kiana dan mengulas senyum di wajah cantiknya.


"Ibu akan menjelaskan soal apa ke Mas Agha?" Kiana bertanya di sela isak tangisnya sambil sesekali menoleh ke suaminya yang masih berusaha keras menerobos cahaya biru yang memisahkan mereka.


"Kamu tidak perlu tahu. Ibunda tinggal sebentar untuk berbicara empat mata dengan Agha. Kamu tunggu di sini" Ibundanya Kiana lalu terbang ke angkasa dan menukik turun tepat di belakangnya Agha.


Ibundanya Kiana langsung berkata, "Hentikan usaha kamu ingin menerobos cahaya biru itu, Agha! Semua usaha kamu akan sia-sia dan kamu akan kehabisan energi kamu dengan sia-sia"


Agha menghentikan teriakan dan tinjunya lalu ia berputar badan secara perlahan untuk menghadapkan badannya ke ibu mertuanya.


Agha kemudian bertanya dengan wajah penuh tanda tanya, "Anda wanita yang baik hati. Lembut dan suka menolong orang. Kenapa sekarang ini Anda tega memisahkan saya dari Kiana. Kiana menangis Ibu dan saya sangat ingin memeluknya saat ini, Ibu"


"Dengarkan dulu ceritaku" Sahut Ibundanya Kiana.

__ADS_1


__ADS_2