Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Penuh Tanda Tanya


__ADS_3

Maharani kemudian berbalik badan meninggalkan bibi Sum dengan langkah dan wajah kesal. Maharani kemudian masuk ke kamarnya dan membuka laci meja. Ia mengambil gulungan kertas dan memutuskan untuk melukis. Dia akan melukis Agha dan akan memikat hati Agha dengan lukisannya.


"Aku akan kasih lukisanku ini nanti malam pas aku dan Kak Agha melakukan terapi bersama tabib Gun. Aku yakin Kak Agha akan tersentuh hatinya dengan lukisanku ini" Gumam Maharani sembari menyapukan kuas di atas kanvas.


Sementara itu, Agha yang memakai mantel bulu besar karena salju mulai deras di pagi itu, menarik Kiana untuk masuk ke dalam mantel bulu yang ia pakai. Lalu, tangan kiri Agha terus merangkul bahu Kiana yang duduk di atas punggung Red Hair dengan posisi miring karena Kiana memakai rok. Sedangkan tangan kanan Agha memegang tali kekang dan menjaga Red Hair untuk tidak berlari kencang. Red Hair seolah mengerti kalau tuannya tengah kasmaran maka ia pun melangkahkan keempat kakinya dengan pelan-pelan.


Hati Kiana berdesir hebat dan gadis itu tidak berani menoleh ke samping kanan. Dia bisa merasakan hangatnya napas Agha di pucuk kepalanya, kalau dia menoleh ke samping kanan maka bibirnya akan bertabrakan dengan bibir Agha.


"Kenapa kau ridak memakai mantel? Kau lupa kalau masih turun salju?"


"Saya pikir kalau ada di dalam kediaman Anda tidak perlu memakai mantel. Lagipula tadi saya dari dapur dan langsung berlari ke ruang kerja Anda. Badan saya masih terasa hangat, Yang Mulia"


Bahkan sekarang pun masih terasa hangat karena tubuh Anda menempel ke tubuh saya sedekat ini. Batin Kiana.


"Dasar bodoh!" Sahut Agha.


Kiana diam membisu, namun menyahut di dalam hati, saya memang bodoh, Yang Mulia. Saya bodoh karena sudah mulai menyukai Anda. Padahal Anda begitu hebat dan dikelilingi banyak wanita cantik. Apalah saya ini. Saya hanyalah gadis liar dan kurus kering, eh, saya malah berani menyukai Anda.


Agha memberhentikan kuda kesayangannya di depan gapura sebelum masuk ke dalam pasar. Setelah menurunkan Kiana dari atas punggung Red Hair, Agha menyuruh anak buahnya yang ia ajak untuk menjaga Red Hair.


Agha kemudian melepas mantelnya lalu ia pakaikan mantel itu ke tubuh kecilnya Kiana.

__ADS_1


Pangeran Adnan yang semalam menyamar dan melakukan perjalanan rahasia melintasi hutan di sekitar itu dan seketika mengerem langkahnya sambil bergumam, "Sejak kapan ada pasar di sini?"


Lalu, ia mengepalkan kedua tangannya dengan wajah penuh kecemburuan saat ia menangkap sosok Agha yang tengah menyampirkan mantel bulu angsa ke tubuh kecilnya Kiana.


"Kebetulan kalian ada di sini. Aku akan menculik Kiana saat ini juga dan menyembunyikan Kiana selama yang aku mau" Gumam pangeran Adnan, sang putra mahkota yang memiliki gelar prestise tetapi memiliki watak jahat yang fantastis itu, kemudian menyeringai senang karena dia memiliki tingkat keyakinan seratus persen lebih kalau rencananya menculik Kiana di hari itu akan berjalan lancar dan sukses.


"Kenapa kau selalu ceroboh seperti ini, hah?! Nggak pernah peduli sama diri kamu sendiri. Bisa-bisanya memakai baju tipis di hari bersalju seperti ini" Ucap Agha sambil mengikat tali yang ada di kedua ujung bagian atas mantel burung angsa itu.


"Maafkan saya, Yang Mulia" Sahut Kiana dengan menundukkan wajah.


Agha menghela napas panjang lalu pria gagah dan sangat tampan itu menggandeng tangan Kiana, "Lain kali jangan ceroboh lagi. Aku tidak ingin melihatmu jatuh sakit. Ayo kita masuk ke dalam pasar!"


"Baik, Yang Mulia" Sahut Kiana.


Agha berdeham dan menganggukkan kepalanya.


Padahal kemarin malam setelah berhasil mengusir Maharani dari ruang kerjanya, Agha mengajak Bora dan beberapa anak buahnya untuk pergi ke pinggir hutan. Dia kemudian menyuruh anak buahnya menyebar ke hutan untuk mencari bahan herbal sesuai dengan gambar yang ada di buku obatnya Kiana yang diberikan oleh Debi ke Bora. Saat Bora dan anak buahnya sibuk mengumpulkan bahan herbal di dal. hutan, Agha membuat gapura dari kayu yang dia bawa dari kediamannya dan memasangnya di tempat yang ia pikir cocok untuk dipasang gapura. Kemudian Agha membuat bangku sederhana untuk ia tata di sepanjang jalan. Biar tampak seperti pasar.


Kiana membeliak senang dan berkata dengan. wajah riang gembira, "Wah, keren banget. Tapi, kenapa yang jualan semuanya laki-laki dan mereka menutupi wajah mereka dengan kain penutup wajah, Yang Mulia?"


Agha kembali berdeham karena dia tahu benar kalau semua penjual bahan herbal di pasar ciptaannya itu semuanya adalah anak buahnya sendiri dan yang menyuruh mereka semua memakai kain penutup wajah juga Agha sendiri. Lalu, Agha menjawab dengan asal-asalan, "Mungkin mereka malu dengan wajah mereka yang hitam dan kotor karena terlalu lama mengumpulkan bahan herbal di hutan" Sahut Agha.

__ADS_1


"Hah?! Kenapa Yang Mulia tahu kalau mereka mengumpulkan bahan herbal terlalu lama di hutan?" Kiana yang terbiasa kritis mulai menunjukkan keceriwisannya.


Agha langsung berkata, "Ssssstttt! Jangan terlalu keras bicaranya dan jangan terlalu ceriwis! Nanti mereka tersinggung"


"Ah, iya, Anda benar, Yang Mulia" Kiana lalu mengalihkan pandangannya ke depan dan mengunci mulutnya rapat-rapat.


Namun, Kiana yang terbiasa ramah dan banyak nanya karena terlahir memiliki bakat kecerdasan di atas rata-rata, mulai bertanya-tanya ini dan itu ke penjual yang ia temui dan Agha langsung memberi kode secara diam-diam ke anak buahnya untuk menjawab pertanyaan istri kecilnya itu.


Anak buahnya Agha yang menyamar menjadi pedagang bahan obat-obatan herbal pagi itu, langsung menjawab pertanyaan Kiana sebisanya.


Kiana mulai menautkan alisnya dan kembali bertanya, "Kenapa kau menjual rumput ini kalau kau tidak tahu nama rumput ini dan kegunaannya?"


Anak buahnya Agha sontak menatap Agha untuk meminta tolong agar Agha menyelamatkan dirinya dari situasi di luar dugaan dan Agha dengan cepat menggelengkan kepalanya karena dia sendiri juga tidak tahu bagaimana menangani situasi di luar dugaannya itu.


Kiana menoleh ke Agha dan bertanya dengan wajah penuh tanda tanya, "Kenapa kau malah menatap Suamiku?"


Agha langsung berjalan menjauhi Kiana dan anak buahnya Agha langsung mewek di balik kain penutup wajahnya. Sementara Kiana kembali menatap pria di depannya untuk kembali bertanya, "Kalau kamu tidak tahu nama rumput ini dan apa kegunaannya, paling nggak kamu tahu siapa yang kasih rumput ini ke kamu"


Anak buahnya Agha refleks berkata, "Kalau Anda tidak mau membelinya jangan banyak nanya Nyonya, saya pusing pengen cepet pulang"


Kiana langung menyahut, "Baiklah. Aku akan beli, aku akan beli"

__ADS_1


Agha yang berdiri tidak jauh dari Kiana dan anak buahnya itu hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan-gelengkan kepalanya melihat kebodohan anak buahnya itu.


__ADS_2