
Begitu sampai di depan gerbang besar kediamannya, jenderal tampan dan gagah itu langsung melompat turun dari kuda kesayangannya dan langsung berlari ke kamar pribadinya. Bora menyusul laju larinya Agha tanpa berpikir panjang
Kedua pria tampan dan gagah itu berlari kencang dengan wajah panik.
Brak! Agha bahkan membuka pintu kamar pribadinya dengan kaki dan saat pintu terbuka lebar ia langsung berlari ke rak buku yang ada di dekat ranjangnya.
"Benar. Gulungan kertas itu sudah hilang" Agha menutup kembali kotak tempat ia menyimpan gulungan kertas yang ada stempel dari permaisuri.
"Orang-orang kita yang mengejar pencuri itu mengirimkan pesan ke saya kalau pencuri itu adalah wanita dan perawakannya mirip dengan nyonya muda. Ada seorang pria berilmu tinggi yang mendampinginya, jadi orang-orang kita kalah dan tidak berhasil menangkap mereka. Mereka kabur lewat hutan yang ada di sisi barat"
Agha diam membisu dan mematung, namun tangannya mencengkram erat sebuah buku dan dia merapatkan bibirnya.
Agha kemudian berlari ke kamar pengantinnya. Tanpa permisi Agha langsung membuka begitu saat ia sudah sampai di depan pintu kamar pengantinnya.
Seorang pelayan yang berjaga di depan pintu mengikuti Agha masuk untuk membungkukkan badan dan berkata, "Nyonya muda bersama adiknya dan pelayan pribadinya belum pulang dari tadi pagi, Yang Mulia"
Agha berbalik badan dengan cepat dan sambil mengepalkan kedua tinjunya ia melangkah lebar menuju ke gerbang utama. Agha melangkah keluar dengan wajah geram dan kedua tangannya masih mengepal ketika pengawal yang berjaga di gerbang utama membukakan pintu gerbang untuknya.
Agha kemudian berdiri di depan gerbang utama sambil bersedekap sambi sesekali melihat ke atas. Langit sudah menggelap. Apa dia tersesat di hutan? Atau dia tertangkap oleh pengawalnya permaisuri dan sekarang........
"Tidak!" Agha berteriak panik dengan sendirinya dan saat ia melangkah ke depan menuju ke kandang kuda, ia melihat Kiana turun dari sebuah kereta kuda dengan wajah semringah. Kiana turun lalu gadis itu menarik Kendra masuk ke dalam gendongannya.
Agha sontak mengerutkan keningnya dan bergumam, "Kereta kuda siapa yang ia tumpangi?"
Agha sontak melangkah mundur ke belakang dengan mulut ternganga saat ia melihat kakak sepupunya, pangeran Adyaksa menyibak tirai kereta kuda dan melangkah turun.
"Kak Adyaksa? Kenapa Kiana bisa ada di kereta kudanya Kak Adyaksa?" Gumam Agha masih dengan wajah syok.
Kiana berlari mendekati Agha sambil menggendong Kendra dengan wajah ceria dan Adyaksa terus tersenyum sambil melangkah pelan mengikuti laju larinya Kiana.
Kiana berdiri di depan Agha dan dengan masih menggendong Kendra, Kiana bertanya dengan wajah semringah, "Apa Anda menunggu saya, Yang Mulia?" Kiana senang suaminya peduli padanya dan menunggu dirinya di depan gerbang utama kediamannya Caraka.
Adyaksa menghentikan langkahnya di samping kirinya Kiana dan tersenyum ke Aga.
__ADS_1
Agha berdeham dan dengan masih memasang wajah geram tanpa mengurai kepalan tangannya Agha bertanya, "Dari pagi sampai petang begini baru pulang?"
Kendra yang takut sama Agha langsung menyembunyikan wajahnya ke dada kakaknya .
Melihat ada laki-laki lain menyusupkan wajah di dada istrinya, Agha yang masih terbakar cemburu langsung menoleh ke pelayan pribadinya Kiana dan berteriak dengan melotot, "Kenapa kau diam saja, hah?! Kau bodoh atau apa?! Bawa Kendra masuk ke dalam! Cepat!!!!!"
Semua yang tengah berdiri di depan Agha terlonjak kaget dengan teriakan kencangnya Agha.
Kendra semakin gemetaran saat Debi menggendongnya dan Debi langsung masuk ke dalam dan dengan langkah lebar ia mendekap erat tubuh gemuknya Kendra yang masih gemetaran.
Kiana langsung menundukkan wajahnya.
Agha menatap belahan di kepalanya Kiana dengan geram.
Adyaksa menoleh ke Kiana lalu menoleh ke Agha dan setelah menghela napas panjang, ia berkata, "Kiana tadi aku jemput untuk bermain-main di kebunku. Dari pagi sampai petang ini Kiana, Kendra, dan Debi di kebunku"
Agha menoleh ke Bora dan kedua pria itu bersitatap dengan wajah kaget.
Kenapa Nyonya muda bisa berada di kebunnya Pangeran Adyaksa? Lalu, siapa wanita yang mencuri gulungan kertas itu? Batin Bora.
Agha kemudian menoleh ke Adyaksa dan melirik Kiana yang masih menundukkan wajah.
"Kau tidak percaya? Kau boleh suruh anak buah kamu untuk menyusuri jalanan yang aku lewati tadi pagi. Kendra meminta berhenti sebanyak empat kali karena ingin membeli mainan, permen, camilan, dan minuman manis yang banyak dijajakan di pinggir jalan, lalu Kendra juga minta pipis tadi. Kau tahu sendiri perjalanan dari sini ke kebunku lumayan jauh dan memakan waktu lebih dari tiga jam. Kau bisa bertanya ke semua pedagang di sana. Lalu, kau juga bisa bertanya sama Kendra. Anak kecil tidak pernah berbohong" Ucap pangeran Adyaksa dengan nada lembut dan wajah santai.
Agha kemudian berkata, "Terima kasih sudah mengantarkan Kiana dan Kendra pulang dengan selamat. Kami permisi. Selamat malam, Kak" Agha lalu menarik tangan Kiana dan mengajak Kiana masuk ke dalam.
Adyaksa berbalik badan dan tersenyum saat ia melihat Bora menginterogasi kusir kudanya.
Bora berbalik badan, memberi hormat ke pangeran Adyaksa, kemudian asisten andalannya Agha itu melangkah masuk ke dalam.
Sebelum Adyaksa melompat naik ke kereta kudanya, pria tampan itu menoleh ke Bayu untuk berbisik, "Semuanya aman, kan?"
Bayu hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Pangeran Adyaksa naik ke kereta kudanya dengan senyum puas dan bangga kepada dirinya sendiri karena rencana yang ia susun berjalan dengan lancar dan sukses.
Bayu mengiringi laju kereta kuda junjungannya dengan menunggang kuda dan di atas kudanya Bayu kembali teringat dengan aksinya di pagi hari tadi. Dia berhasil menyelamatkan wanita yang ia suruh untuk mengambil gulungan kertas di kediamannya Agha dan berhasil membawa wanita itu ke tempat yang sangat aman.
Sementara itu di kediamannya Agha, Agha melepaskan tangan Kiana dan menutup pintu kamar pribadinya. Pria tampan itu menyipitkan matanya dan bertanya dengan suara dalam, "Kenapa kau bisa akrab dengan Kak Adyaksa? Kenapa kau bisa pergi ke kebunnya? Kenapa kau mau diajak pergi sama Kak Adyaksa? Kenapa?!" Agha mulai menggertakkan gerahamnya.
Kiana mendengus kesal dan langsung berkata, "Anda boleh berteman dengan wanita manapun. Bahkan di hari pernikahan kita, kata Ibu, Anda berada di rumah kekasih Anda. Lalu, kemarin pas di Istana, Kaisar berkata kalau permaisuri akan menikahkan Anda dengan Putri Kesya. Anda boleh seperti itu. Anda boleh pergi ke rumah wanita manapun. Tapi, kenapa saya tidak boleh berteman dengan pangeran Adyaksa? Kenapa saya tidak boleh pergi bermain ke kebunnya Pangeran Adyaksa? Padahal saya dan pangeran Adyaksa hanya berteman. Saya dan beliau tidak ada hubungan apapun seperti Anda dengan pangeran Kesya dan kekasih Anda. Kami benar-benar hanya berteman. Lebih baik Anda segera menikah dengan putri Kesya dan kekasih Anda itu lalu biarkan saya hidup tenang"Mata Kiana terasa panas dan ada genangan air mata di kedua pelupuk gadis cantik berkulit putih bening itu.
Melihat Kiana nyerocos terus tanpa henti, Agha melangkah lebar mendekati Kiana dan berdiri cukup dekat di depannya Kiana masih dengan wajah garangnya.
Kiana tersentak kaget dan langsung menundukkan wajahnya.
"Sudah nggak ada lagi yang ingin kamu katakan?" Tanya Agha dengan suara dalam sambil terus menatap belahan di puncak kepalanya Kiana.
Kiana mengangkat wajahnya untuk berkata, "Masih ada" Kiana menatap Agha dengan sorot mata tajam, lalu gadis itu segera berkata, "Kalau Anda menikah lagi dengan kekasih Anda dan Putri Kesya, biarkan saya hidup tenang. Biarkan saya pergi dari sini karena saya tidak ingin dimadu. Jadikan salah satu dari kedua wanita itu sebagai istri sah Anda dan ceraikan saya, maka saya akan sangat berterima kasih dan membalas budi baik Anda nanti"
"Kau berani berkata seperti itu, hah?!" Agha mendelik kaget.
"Kenapa tidak berani, hah?! Saya memang tidak suka dimadu dan jika Anda menikah lagi saya akan pergi dari sini!" Tanpa Kiana sadari ia melotot tajam ke Agha dan berteriak kencang.
Karena cemburu dan kesal melihat Kiana berani melotot kepadanya dan melawannya dengan kata-kata, bahkan gadis itu berniat meninggalkannya, Agha melangkah maju, menarik tengkuk Kiana dan tanpa meminta ijin, ia menempelkan bibirnya ke bibir Kiana.
Kiana membeliak kaget, mengerjapkan matanya, dan seketika mematung.
Melihat Kiana mematung, Agha melanjutkan aksinya. Jenderal tampan itu memagut bibir ranum yang terasa begitu manis itu sambil menghisap bibir bawah Kiana.
Lalu, Agha melihat mata Kiana yang menutup perlahan dan tubuh Kiana lunglai melemas. Agha segera mendekap tubuh ramping istri kecilnya tanpa melepaskan pagutan di bibir istrinya. Agha kemudian menggigit bibir Kiana dan melihat reaksi Kiana.
Ketika Agha merasakan Kiana memeluk erat tubuhnya, pria tampan itu melanjutkan aksinya memberikan ciuman secara perlahan dan lembut.
Agha memperlambat ritme ciumannya semula saat ia merasakan Kiana memeluk punggungnya lebih erat, maka Agha nekat mencoba menyelipkan lidah di antara bibir Kiana dan menunggu bagaimana Kiana merespons.
Ketika Kiana membuka mulut, maka Agha tanpa berpikir panjang lagi langsung memasukkan lidah ke dalam dengan lembut dan perlahan sambil membelai pipi dengan tangan kanan dan tangan kiri menarik pakaian Kiana dengan lembut agar tubuh ramping istri kecilnya semakin mendekat dan menempel semakin erat.
__ADS_1
Agha mengajak lidah Kiana berdansa sembari memeluk seraya mengelus punggungnya.