
Kiana tersentak kaget saat ia menemukan hutan. "Kenapa langsung berada di hutan?" Gumam Kiana sambil terus melangkah maju.
"Karena dunia cermin adalah dunia yang disesuaikan dengan kesukaan orang yang memasukinya"
Kiana tersentak kaget dan langsung berteriak, "Kakek bisa berkomunikasi dengan saya selama saya berada di dunia cermin ini?"
"Iya, Kiana. Kalau ada pertanyaan kamu bisa langsung menanyakannya dan akan aku jawab secepatnya. Dan hanya kamu yang bisa mendengar suaraku, Kiana. Jadi jangan banyak tanya saat ada orang lain di dekat kamu. Kamu bisa dianggap gila karena bicara sendiri" Sahut si kakek jelmaan asli dari cermin ajaib milik putri Sofie.
Kiana terkekeh geli lalu menyahut, "Baik, Kek" Kiana kemudian meneruskan langkahnya untuk mencari keberadaan suaminya.
Kiana terus berjalan pelan tanpa berani berteriak memanggil nama suaminya karena ia masih belum mengenal hutan yang ia lalui saat ini.
Kiana mengerem langkahnya saat ia melihat seekor naga hitam seukuran kucing rumahan tengah berhadapan dengan seekor beruang yang ukurannya sangat besar. Kalau beruang itu berdiri tingginya bisa dipastikan dua kali tinggi pria dewasa.
Kiana langsung berlari ke samping untuk bersembunyi di balik pohon besar lalu melongokkan kepalanya untuk mengintip sambil bergumam lirih, "Apa dia Mas Agha?"
"Iya, benar. Naga hitam kecil itu adalah pria tampan yang dimasukkan oleh Sofie ke dalam cermin" Suara wibawa seorang kakek kembali terdengar.
Kiana langsung menutup mulutnya yang ternganga sambil membatin, kenapa naga hitam jadi sekecil itu? Kenapa ukurannya sama persis seperti kucing rumahan dan naga hitam itu nekat menghadang seekor beruang yang sangat besar? Mas Agha sedang main-main atau berubah bodoh saat ini?
Kiana melihat naga hitam berukuran sama dengan kucing rumahan itu kemudian terbang dan menyemburkan api ke kedua mata beruang itu. Beruang itu mengerang kesakitan lalu berbalik badan dan lari tunggang langgang meninggalkan naga hitam kecil yang masih terbang dengan imutnya.
Kiana ternganga kaget lalu dengan senyum semringah ia bergumam lirih, "Wah, aku sama sekali nggak menyangka kalau Mas Agha bisa mengalahkan beruang besar itu dengan sangat mudah. Suamiku memang hebat"
Lalu, naga hitam itu mendarat kembali di atas rumput dan berubah menjadi sosok pria yang tampak masih sangat muda.
"Siapa pemuda itu? Kata Kakek dia adalah Suamiku tapi, kok, masih sangat muda?" Gumam Kiana dengan wajah penuh tanda tanya.
"Itu imajinasinya Sofie. Segala hal yang terjadi di dunia cermin disesuaikan dengan kesukaan dan imajinasi si pemilik cermin" Ucap si kakek dengan nada santai.
Kiana mendengus kesal dan langsung bergumam, "Sofie emang sakit jiwa, cih! Bisa-bisanya ia membayangkan Mas Agha saat Mas Agha masih berumur........."
__ADS_1
Lima belas tahun" Sahut si Kakek.
Kiana tersentak kaget, "Hah?! Li.......lima belas tahun?.Yang benar saja, Kek! Mana boleh aku mengajari anak berumur lima belas tahun untuk menciumku dan a.......apakah dia mau mencium perempuan yang umurnya terpaut lima tahun darinya? Hiks, hiks, hiks" Kiana langsung mewek dengan wajah frustasi.
"Kau jangan putus asa! Ingat waktu kamu hanya satu Minggu dan kamu harus sudah dapatkan dua ciuman dari bocah itu sebelum habis waktunya" Ucap si kakek masih dengan nada santai.
"Kalau tidak berhasil?" Tanya Kiana dengan nada was-was dan wajah pesimis.
"Kau dan bocah itu akan terkurung di dunia cermin selamanya" Sahut si kakek.
"Aaaaaa, kok, gitu" Kiana langsung merosot dan duduk selonjor di atas tanah lalu bersandar ke pohon besar itu dengan wajah pesimis.
"Ayo! Jangan menyerah sebelum berusaha! Buruan temui bocah itu sebelum dia berlari menghilang. Namanya Alaric di sini. Buruan susul dan panggil dia!" Perintah di kakek.
Kiana langsung menoleh ke belakang dan sontak bangkit berdiri lalu bergegas berlari menyusul bocah laki-laki sambil berteriak, "Alaric! Alaric, tunggu!"
Bocah laki-laki yang tengah berlari tidak jauh di depannya Kiana, langsung menghentikan laju larinya kemudian bocah remaja itu berbalik badan dengan pelan.
Ya, ampun Mas Agha! Kamu tampan banget waktu masih remaja.Tidak seperti aku pas masih remaja, hiks! Aku buruk rupa pas masih remaja. Batin Kiana.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa tahu nama aku?" Bocah berwajah sangat tampan itu menautkan kedua alisnya dan menatap Kiana dengan sorot mata penuh dengan kecurigaan.
Sial! Sofie bahkan menghapus ingatan Mas Agha tentang aku. Lalu, bagaimana caranya aku minta Maaf Agha menciumku? Minta satu ciuman aja bakalan susah, nih, apalagi harus minta dua ciuman. Hiks, hiks, hiks, kenapa jadi seperti ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa seperti perempuan tidak bermoral. Iya, benar banget, dong, kalau aku minta seorang bocah kecil menciumku berarti aku ini perempuan tidak bermoral. Batin Kiana mengerang frustasi.
"Hei! Kakak cantik! Aku tanya ke kamu bukannya menjawab pertanyaanku kau malah melamun, cih!"
Apa?! Dia memanggilku Kakak cantik? Kenapa Mas Agha segenit ini waktu masih remaja. Apa dia seorang playboy waktu masih remaja? Kiana masih menatap bocah berwajah sangat tampan di depannya dalam diam.
"Hei! Kau memiliki wajah yang sangat cantik tapi kenapa bodoh? Kau tidak mengerti bahasa manusia? Kenapa pertanyaanku belum kau jawab juga, cih!" Bocah berwajah tampan itu mulai mendengus kesal.
Kiana tesentak kaget dan langsung buyarlah lamunannya. Lalu, dengan cepat Kiana menjawab, "Aku adalah Dewi yang turun dari langit itulah kenapa aku bisa tahu nama kamu"
__ADS_1
Dewi turun dari langit? Hah?! Darimana aku dapat ide gila ini? Batin Kiana dengan wajah heran. Heran pada otaknya sendiri.
"Dewi? Turun dari langit? Yang benar saja! Buktikan!" Teriak bocah itu.
"Buktikan?" Kiana tersentak kaget.
"Iya, buktikan!"
Buktikan dengan apa? Aduh! Kenapa mulutku dan otakku bodoh banget saat ini. Kenapa aku bilang kalau aku ini dewi yang turun dari langit? Dewa! Tolong aku!. Batin Kiana sambil mewek.
Si kakek cermin langsung membantu Kiana dengan menurunkan petir.
Kiana tersentak kaget dan si kakek langsung berteriak, "Aku menolongmu untuk membuktikan ucapan kamu bahwa kamu adalah Dewi yang turun dari langit"
"Terima kasih, Kek" Teriak Kiana secara spontan sambil tersenyum lebar.
Bocah itu langsung menutup kedua telinganya dan berteriak, "Hentikan petirnya! Aku takut sama petir!"
Si kakek cermin langsung menghentikan petir itu.
Bocah itu lalu berjalan ke dekati Kiana dan berhenti ridak jauh dari Kiana untuk berkata, "Aku percaya padamu kalau kamu adalah Dewi yang turun dari langit. Lalu, kau tadi berteriak, terima kasih, kek! Siapa Kakek yang kamu maksud?"
"Oh, dia dewa petir. Dewa petir adalah kakekku, hehehe" Kiana meringis di depan bocah itu.
Dan di saat bocah itu hendak mengeluarkan suara, Kiana menarik lengan bocah itu dan menarik bocah itu ke belakang punggungnya sambil berteriak, "Tetap di belakangku!"
Seekor singa berukuran sangat besar berjalan pelan mendekati Kiana dan dengan cepat Kiana merogoh tas selempangnya lalu melemparkan bubuk obat bius ke wajah singa itu. Singa berukuran sangat besar itu pun langsung jatuh tersungkur di depan Kiana.
Bocah tampan itu langsung berlari di depan Kiana dan dengan tatapan takjub ia berkata, "Kau sangat hebat, Kak! Sekali kibas kau buat seekor singa besar tersungkur tak berdaya di depan kamu"
Kiana tersenyum senang lalu berkata dengan sangat terpaksa dan mengabaikan akl sehat juga hari nuraninya, "Apa saat ini kau mau mencium Kakak sebagai hadiah karena Kakak sudah menyelamatkan kamu dari singa besar itu?"
__ADS_1
Bocah laki-laki berwajah tampan itu tersentak kaget dan menatap Kiana dengan tatapan aneh.