
"Ayo turun! Kau mau mati kedinginan di sini?!"
"Tapi, Yang Mulia dan Nyonya muda bagaimana?"
"Iya, nggak bagaimana-bagaimana. Kak Agha sangat pandai bela diri dan tenaga dalamnya di atas rata-rata dan Kakak ipar wanita yang cerdas. Lagipula mereka ada di dalam ruangan yang hangat. Ayo kita pergi! Aku akan ajak kamu ke suatu tempat dan kamu pasti akan suka" Agni menarik paksa tangan Bora dan ia mengajak Bora berlari kencang ke arah Utara setelah kaki keduanya menapak tanah.
Sementara itu di dalam ruangan perpustakaan yang sangat luas dan hangat, Kiana menatap kedua bola mata suaminya dan berkata, "Ja.....jadi, Anda sebenarnya adalah........." Saking kagetnya Kiana tidak sanggup meneruskan pertanyaannya.
"Iya. Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita. Maka aku ceritakan semuanya ke kamu. Apa sekarang kamu takut padaku? Aku akan merebut tahta dan ada sosok jaga hitam di dalam tubuhku. Sewaktu-waktu aku bisa menjadi naga hitam dan kalau aku jadi naga hitam aku tidak akan mengenali siapa pun dan aku bisa membunuh siapa pun"
Kiana menciumi wajah Agha lalu berkata, "Saya tidak takut. Saya justru berterima kasih pada Anda karena Anda mau memercayai saya. Saya akan mencari obat untuk membersihkan racun naga hitam di tubuh Anda, Yang Mulia. Tapi, berjanjilah satu hal pada saya"
"Aku mau berjanji apapun, Kiana! Katakan!" Agha mengusap pipi Kiana dengan ibu jari.
"Jangan biarkan Maharani mendonorkan darahnya lagi ke tubuh Anda. Saya akan segera mencari penawar racun naga hitam itu. Saya yang akan membuat penawarnya sebelum waktunya Maharani mendonorkan darahnya lagi dan ........ hmpppttthhh" Agha membungkam bibir Kiana dengan bibirnya dan mengajak Kiana berciuman sebentar. Lalu, pria tampan itu melepaskan ciumannya dan berkata dengan senyum senang, "Apa kau cemburu?"
Kiana menunduk malu dan mengangguk sambil berkata lirih, "Iya, saya cemburu, Yang Mulia"
Agha menopangkan telapak tangan di atas poni Kiana dan berkata dengan senyum senang, "Aku tidak akan pernah menyentuh wanita lain selain kamu, Istriku"
Kiana mengangkat wajahnya dan berkata, "Saya percaya pada Anda. Tapi, saya tidak percaya pada semua wanita di luar sana dan saya tidak percaya pada keadaan"
Agha tertawa pelan, lalu ia menarik tengkuk Kiana dan mengajak Kiana berciuman kembali.
Kiana mendorong dada Agha untuk berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Anda belum berjanji pada saya kalau Anda tidak akan mengijinkan Maharani mendonorkan darahnya lagi"
Agha mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum senang, lalu pria tampan itu berkata, "Iya, aku berjanji, aku bersumpah!" Agha menaikkan kedua jarinya ke atas dan kembali berkata, "Aku tidak akan biarkan Maharani mendonorkan darahnya lagi untukku dan aku bersumpah tidak akan menyentuh wanita lain selain Kiana Istriku yang cantik"
Kiana langsung tersenyum lebar dan menatap suami tampannya dengan tatapan penuh cinta.
Kiana bergegas bangkit berdiri sebelum Agha berhasil menyentuh tengkuknya.
__ADS_1
Agha yang masih duduk menatap wajah Kiana untuk bertanya, "Kenapa kau berdiri?"
"Saya ingin berterima kasih untuk baju yang Anda berikan ini, Yang Mulia. Dan untuk tusuk konde emas berbentuk bunga ini" Kiana menyentuh tusuk kode yang ada di atas kepalanya.
"Kau suka?" Agha bertanya sambil bangkit berdiri.
"Iya, saya sangat menyukainya"
Agha menarik pinggang Kiana sambil berkata, "Aku juga menyukainya. Kau sangat cantik memakai semua ini. Tapi, bolehkah aku meminta sesuatu dari kamu Istriku?"
"Iya, Yang Mulia? Katakan saja!"
Agha menyentuh poni Kiana sambil berkata, "Kau jauh lebih cantik tanpa poni"
Kiana tersenyum malu dan langsung menjawab, "Bibi Sum yang menata rambut saya, Yang Mulia"
Agha berkata, "Kau sangat cantik memakai poni. Cuma sayangnya aku harus menyibak poni kamu seperti ini kalau aku ingin mencium kening kamu" Agha berucap sembari menyibak poni Kiana lalu pria tampan itu mencium kening Kiana cukup lama.
Agha kemudian memeluk tubuh kecilnya Kiana dan berkata, "Aku senang mendengar tawa merdu kamu" Agha mendaratkan ciuman di pelipis Kiana. Lalu, ia mengusap rambut Kiana sambil bertanya, "Kau tidak ingin menemukan buku novel yang aku baca?
"Iya" Sahut Kiana.
Agha melepaskan pelukannya lalu menggandeng tangan Kiana dan mengajak Kiana melangkah ke rak-rak buku yang berjejer di tengah ruangan sambil berkata, "Aku akan ajak kamu ke tempat di mana buku novel itu berada dan kita akan membacanya bersama di sana"
"Baiklah" Sahut Kiana sambil menatap wajah suaminya dari arah samping dengan senyum penuh cinta.
"Ini novelnya" Agha menghentikan langkahnya di depan rak paling tengah.
Kiana mengambil buku novel itu dan membuka halaman depan sambil bertanya, "Perpustakaan ini sangat luas dan bukunya sangat banyak"
Agha berdiri di belakang Kiana sambil berkata, "Iya. Semua buku-buku di sini sebagian besar adalah koleksi mendiang ayah angkatku, Jenderal besar Bima Caraka" lalu Agha menelengkan kepalanya ke kanan dan mengecup pipi kanan Kiana.
__ADS_1
Kiana tersentak kaget dan spontan menoleh ke kanan dan cup! Bibir Kiana menabrak lembut bibir Agha. Kiana langsung menghadapkan wajahnya ke depan dan kembali mantap halaman buku novel dengan rona malu di wajah.
Agha tertawa pelan lalu ia memeluk Kiana dari arah belakang dan berbisik, "Buka halaman tiga puluh tujuh! Aku ingin membaca halaman itu denganmu"
Kiana sontak membuka-buka halaman buku novel itu dengan jari jemarinya hingga sampai di halaman tiga puluh tujuh.
Kiana sontak membeku saat ia membaca di dalam hati adegan panas di halaman novel itu.
Agha tersenyum lalu berbisik, "Aku ingin mempraktekan adegan ini bersama denganmu"
Kenyamanan, keheningan dan dinginnya udara di malam ini, dan bacaan romantis, sungguh sangat bagus dimanfaatkan untuk bercinta. Batin Agha.
Kiana spontan menyahut, "Di....di sini, Yang Mulia? Bagaimana kalau ada yang datang dan........."
"Tidak akan ada yang datang. Bora dan Agni sudah mengatur semuanya" Bisik Agha sembari memberikan kecupan-kecupan kecil di kuping Kiana.
Kiana hanya bisa mematung dan pasrah.
Melihat Kiana diam mematung, Agha mulai memegang tangan kanan Kiana dari arah belakang dengan lembut, penuh kasih sayang. Dia kemudian memutar pelan wajah Kiana dengan tangan yang satunya untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Kiana. Agha mengajak istri kecilnya berciuman dari arah belakang. Pria tampan itu membuka mulut Kiana dengan pelan dan penuh cinta.
Seketika hawa dingin berubah menjadi panas dan debaran jantung keduanya beradu kencang.
Agha menyusupkan wajahnya di leher kIana masih dari arah belakang, lalu ia menurunkan baju Kiana sampai ke bahu dan mencium tulang pertemuan leher dan pundak. Agha memberikan gigitan di sana. Kiana sontak merintih lirih dan tanpa sadar Kiana menjatuhkan buku novel ke lantai.
Agha mengajak Kiana berciuman kembali dan tangannya menyibak rok Kiana secara perlahan dan Kiana refleks menahan roknya dan menarik bibirnya untuk bertanya, "Yang Mulia? A......apakah akan terasa sakit lagi?"
Agha tersenyum, mengecup bibir Kiana, lalu berbisik, "Dari buku yang pernah aku baca, kalau kita sering melakukannya, maka tidak akan terasa sakit lagi. Kali ini aku akan melakukannya dengan perlahan. Aku janji"
"Benar, ya, kemarin Anda berjanji seperti itu, tapi kenyataannya apa?"
Agha terkekeh geli dan langsung berkata, "Iya, aku benar-benar berjanji kali ini"
__ADS_1