Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Mengerjap Kaget


__ADS_3

Kiana kemudian terkekeh dengan canggung dan sambil mengibaskan tangan kanannya wanita cantik yang pandai ilmu pengobatan itu berkata, "Aku cuma bercanda, Ah, Hahahaha" Kiana lalu tertawa dengan kikuk.


"Oh"Sahut bocah laki-laki itu dengan wajah datar.


"Namaku Kiana dan aku sudah tahu nama kamu. Alaric, kan, nama kamu?" Ucap Kiana masih dengan wajah kikuk.


"Hmm" Sahut bocah berumur lima belas tahun itu.


Kiana lalu menggaruk belakang kepalanya dengan senyum canggung dan berkata, "Emm, ayo kita pergi dari sini!"


"Hmm. Sekalian kakak bantu aku mengumpulkan kayu. Aku mau menyelesaikan pondokku" Sahut Alaric sambil mengekor langkah kIana.


"Oke!" Sahut Kiana tanpa menoleh ke belakang.


Kenapa aku bisa meminta dia menciumku tadi? Aduh! Bodoh banget aku ini. Kau memalukan, Kiana. Sangat memalukan! Batin Kiana.


Di tengah jalan Alaric menemukan seekor anak bebek yang sangat lucu. Alaric lalu memungut anak bebek itu, menggendongnya, lalu mengelus kepala anak bebek itu sambil berkata, "Kamu imut banget. Cantik banget"


Kiana yang berjalan di depan Alaric sontak senyum-senyum sendiri mendengar ucapannya Alaric. Lalu, Kiana bergumam lirih, "Dia terus saja memuji diriku tapi kenapa tidak mau menciumku tadi? Kalau mau menciumku, aku dan dia pasti udah keluar dari dunia cermin ini"


Alaric yang masih berjalan sambil mengelus kepala anak bebek itu lalu berkata, "Bulu kamu lembut banget"


Kiana langsung menghentikan langkahnya karena kaget dan langsung bergumam dengan wajah heran, "Hah?! Bulu? Ke....kenapa dia ngomong soal bulu?" Saat Kiana ingin berbalik badan, tiba-tiba ia merasakan Alaric berada di atas punggungnya dan bocah itu berteriak, "Kak! Cepat lariiiiii!!!!"


Kiana sontak lari sekencang-kencangnya dengan membawa Alaric di punggungnya. Alaric menggenggam pundak kanan Kiana dengan tangan kanan dan tangan kirinya masih menggenggam anak bebek yang tadi ia temukan.


"Persimpangan depan belok kanan, Kak! Ayo lari lebih kencang lagi!" Teriak Alaric.


Tanpa menyemburkan protes, Kiana terus berlari dengan masih membawa Alaric di atas punggungnya. Kiana semakin memperkuat kaitan kedua lengannya di paha Alaric.


Alaric tiba-tiba berkata, "Stop!"


Kiana sontak menghentikan laju larinya dan Alaric langsung merosot turun dari punggung Kiana.

__ADS_1


Di saat Kiana berbalik badan dan langsung memegang kedua lututnya sambil terengah-engah di depan Alaric, bocah tampan yang baru saja merosot turun dari atas punggung Kiana berkata dengan nada santai, "Fiuuhhh! Syukurlah rombongan bebek tadi tidak mengejar kita lagi"


Kiana tersentak kaget dan langsung menegakkan badannya untuk menyemburkan, "Jadi, kau tadi naik ke punggungku dan menyuruhku berlari kencang hanya karena dikejar serombongan bebek?"


Alaric mengangguk dengan wajah polos tak berdosa dan sambil mengelus kepala anak bebek yang masih berada di dalam genggaman tangannya.


"Lepaskan anak bebek itu!" Kiana mendelik kesal.


"Nggak mau! Ini akan aku jadikan temanku. Aku menyukainya karena ia cantik, imut, bulunya sangat halus, dan dia ramah"


"Sial! Tahu dari mana kalau dia itu ramah? anak bebek itu ridak bisa tersenyum dan berbicara" Kiana mulai meninggikan nada suaranya dan mendengus kesal karena bocah tampan yang umurnya ada di bawahnya itu tidak mau menuruti perintahnya.


"Iya, karena dia tidak menggigit aku dan dia diam menurut saat ia berada di dalam genggamanku. Itu tandanya kalau dia ini ramah. Iya, kan, emm, aku kasih nama apa, ya, ah, Bora!" Ujar Alaric sambil tersenyum ke anak bebek yang masih ia elus kepalanya.


"Bora! Kenapa kau kasih nama anak bebek ini, Bora? Kenapa Bora lagi?" Kiana mengulum senyum geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Alaric menatap Kiana dan berkata dengan wajah kesal karena Kiana menertawakan nama yang ia pilih, "Suka-suka aku, dong!"


"Nggak mau!" Alaric ikutan mendelik.


"Oke! Kalau kau mau dikejar serombongan bebek-bebek tadi, genggam terus anak bebek itu dan jangan naik ke punggungku lagi kalau serombongan bebek tadi mengejar kamu lagi, huh!" Kiana berkata dengan nada tinggi laku wanita cantik itu berbalik badan dan berlari kecil meninggalkan Alaric.


Maafkan aku, Mas Agha, aku berbicara tidak sopan pada Anda dan aku mendelik bahkan berteriak-teriak pada Anda saat ini. Batin Kiana.


Alaric yang takut dikejar bebek karena dia pernah disosor bebek waktu ia masih kecil dan sepertinya trauma itu terus membekas di dalam benaknya.


"Kak, Tunggu!" Alaric mulai kebingungan. Dia menoleh ke belakang lalu menatap anak bebek yang masih ia genggam kemudian menatap punggung Kiana yang semakin jauh.


Akhirnya dengan sangat terpaksa Alaric melepaskan anak bebek itu sambil berkata, "Masakan aku, ya, aku melepaskan kamu di sini. Sebentar lagi keluarga kamu pasti akan sampai di sini dan membawamu pulang. Bye, Bora" Alaric kemudian melambaikan tangan ke anak bebek lucu itu sambil berlari untuk mengejar laju lari kecilnya Kiana.


Alaric terus berlari menyusul Kiana sambil berteriak, "Kak, Tunggu! Aku sudah lepaskan anak bebeknya!"


Kiana tersenyum tanpa menoleh ke belakang dan memperlambat laju larinya.

__ADS_1


Di saat bocah tampan itu hampir mendekati punggungnya Kiana, Alaric menghentikan laju larinya secara dadakan karena di depannya tiba-tiba muncul seekor anak serigala berbulu putih yang sangat lucu. Anak serigala yang hendak menyeberang jalan itu kemudian berhenti di tengah jalan dan menoleh ke Alaric.


Alaric kemudian berjongkok dan menjentikkan jari tangan kanannya. Anak serigala berbulu putih yang sangat lucu itu berjalan pelan mendekati Alaric.


Alaric kemudian mengelus kepala anak serigala berbulu putih itu. Lalu, Alaric menggendong anak serigala berbulu putih itu. Setelah mencium wajah lucu anak serigala berbulu putih itu Alaric kembali berlari mengejar Kiana.


Kiana berhenti di sebuah pondok setengah jadi atas petunjuk si kakek cermin.


Alaric yang masih mengendong anak serigala berbulu putih dan masih mengelus kepala hewan lucu dan imut itu, kemudian menghentikan laju larinya di samping kanan Kiana sambil berkata, "Kakak benar-benar sakti. Kakak bisa tahu di mana pondok yang baru aku bangun setengah jadi ini padahal aku belum kasih tahu di mana letak pondok ini"


Si kakek cermin berkata ke Kiana, "Aku sudah siapkan kayu, bambu, dan kapak untuk memotong kayu dan bambu itu. Aku juga sudah sediakan tapi yang kuat dan bahan lainnya untuk membuat sebuah pondok, Kiana"


"Terima kasih, Kek!" Sahut Kiana.


Alaric menoleh kaget ke Kiana, "Sudah tidak ada petir tapi kenapa Kakak masih memanggil kakek. Mana kakeknya?"


Kiana sontak menoleh ke Alaric dan langsung tersentak kaget, "Kenapa bebeknya bisa berubah jadi seekor anak serigala berbulu putih?"


"Iya, aku menemukan anak serigala yang imut dan lucu ini di tengah jalan saat ia ingin menyeberang. Karena aku tidak jadi memelihara anak bebek, maka nama Bora aku kasih ke anak serigala ini saja" Sahut Alaric dengan wajah santai dan masih asyik mengelus kepala anak serigala yang lucu itu.


"Kembalikan anak serigala berbulu putih itu ke tempatnya semula!"


"Nggak mau!" Alaric berteriak dan langsung mendekap erat anak serigala berbulu putih itu sambil mendelik ke Kiana.


"Apa kau tahu kalau induk serigala akan kebingungan dan kalau dia berhasil menemukan keberadaan anaknya di sini, maka kita berdua bisa mati konyol menjadi mangsanya" Sahut Kiana dengan wajah yang mulai emosi.


"Nggak mau! Sekali nggak mau tetap nggak mau! Aku takut sama bebek, maka anak bebek tadi aku lepaskan. Tapi aku tidak takut sama segala" Alaric berkata dengan wajah sangat serius.


Kiana langsung mendelik kesal, merapatkan bibir, menyipitkan mata, dan berkacak pinggang di depan Alaric.


Lalu, Alaric yang sangat menginginkan teman dan menginginkan anak serigala berbulu putih itu untuk ia pelihara, langsung berkata sebelum Kiana berteriak, "Aku akan cium Kakak kalau Kakak ijinkan aku memelihara anak serigala ini"


Kiana langsung mengerjap kaget dan terus mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar Alaric akan menciumnya.

__ADS_1


__ADS_2