Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Sarapan


__ADS_3

Putra mahkota Adnan senyum-senyum sendiri ketika ia tengah menikmati sarapannya di kamar. Putra mahkota yang takkan dan memiliki wajah lembut dan ramah itu teringat kembali saat gadis cantik yang bernama Kiana menggenggam tangannya. "Aku rasa aku menyukai Kiana" Gumam Adnan sambil mengusap dadanya, "Jantungku berdegup kencang saat aku memikirkannya. Ya, aku menyukainya. Aku akan mengunjungi kediaman Tabib Danur. Aku ingin melihat lagi wajah cantiknya Kiana dan aku rindu bercengkerama dengannya"


Lalu, putra mahkota yang sangat tampan itu bangkit berdiri dan berkata ke dayang istana yang berdiri mengelilinginya, "Masukkan semua makanan ini ke dalam kota makanan dan suruh pengawal pribadiku untuk menyiapkan kereta kuda"


"Anda mau ke mana, Yang Mulia?" Sahut kepala dayang.


"Ke rumah temanku yang paling spesial" Sahut pangeran Adnan dengan wajah semringah.


Agha masuk ke kamarnya untuk menyimpan gulungan kertas ke tempat yang aman. Kemudian dia pergi ke kamar pengantinnya. Sampai di dalam, Agha terkejut dan segera berlari keluar dari dalam kamar pengantinnya untuk segera bertanya ke pengawal yang berjaga di depan pintu, "Di mana Istriku? Apa dia diculik?"


Pengawal itu langsung menundukkan kepala dan berkata, "Nyonya muda pergi ke dapur. Nyonya muda memasak obat untuk Anda, Yang Mulia"


Agha menghela napas lega. Lalu ia berjalan pelan ke dapur utama. Di sana dia berdiri di depan pintu dan berdiam diri menatap punggung istrinya.


Kiana yang masih asyik meracik ramuan obat untuk suaminya, tidak menyadari kehadiran suaminya.


Setelah persiapan menuju ke istana selesai, Bora yang diberitahu oleh salah satu anak buahnya kalau junjungan mereka ada di dapur, bergegas ke dapur dan menoleh kaget ke junjungannya, "Yang Mulia, kenapa Anda belum mandi dan bersiap-siap? Anda pasti juga belum sarapan. Kenapa Anda malah ke sini?"


"Ssstttt! Apa kau sudah menemui tabib keluarga?"


"Sudah, Yang Mulia. Kemarin malam saya menemani sekaligus mengawasi Nyonya muda membuat obat untuk Anda. Saya meminta Nyonya muda menuliskan ramuannya. Lalu, saya pergi ke rumah Tabib keluarga dan memperlihatkan resep yang Nyonya muda tulis"


"Lalu, apa katanya?"


"Tabib Gunadi berkata kalau resep yang ditulis oleh Nyonya muda sangat bagus. Tabib Gunadi juga memuji Nyonya muda. Beliau mengatakan kalau Nyonya muda sangat cerdas"


Agha menoleh kaget ke Bora, "Kurang ajar sekali dia! Dia berani memuji Istriku"


"Saya akan memberikan pelajaran ke Tabib Gun, nanti" Sahut Bora.


"Bahkan Tabib Gun mengakui kalau obat yang dibuat oleh istriku sangat bagus?" Agha masih menatap Bora.


Bora menganggukkan kepalanya dengan mantap.


Agha kembali menatap punggung istrinya dan berkata, "Kalau begitu biarkan dia membuatkan obat untuk aku dan merawat aku sampai sembuh. Katakan juga ke dia untuk membuatkan aku sarapan"


Bora menoleh kaget ke junjungannya, "Tapi, sarapan Anda sudah disiapkan oleh pelayan di kamar utama Anda, Yang Mulia"


"Bawa kembali ke dapur semua makanan yang ada di kamarku dan suruh Istriku bikin sarapan untukku dan membawanya ke kamar pengantinku dan jangan ada pelayan yang masuk ke.kamar pengantinku. Aku ingin sarapan berdua saja dengan Istriku"


"Baik, Yang Mulia" Sahut Bora sambil menunduk dan menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


Agha melangkah kembali ke kamar pengantinnya dengan senyum riang. Agha kemudian menghapus senyum dari wajah tampannya dan bergumam sendiri, "Aku barusan tersenyum? Nggak! Nggak mungkin aku tersenyum. Untuk apa aku tersenyum, cih!" Agha kemudian meraup kasar wajah tampannya.


Agha memang jarang sekali tersenyum bahkan hampir tidak pernah tersenyum sejak ia mengetahui hati diri dia yang asli dan sejak ia kehilangan ayah angkatnya. Agha bergegas mandi dan setelah mandi, dia duduk di tepi ranjang menunggu istrinya datang membawakan obat dan sarapan untuknya.


Bora mendekati istri junjungannya untuk berkata, "Nyonya muda, Yang Mulia, Jenderal Agha, ingin Anda memasak sarapan untuk beliau"


"Hah?! Aku?" Kiana menoleh kaget Bora.


"Iya, Nyonya muda"


"Tapi, aku tidak tahu makanan kesukaan Yang Mulia. Dia masih sakit harusnya makan bubur. Apa Yang Mulia suka makan bubur?"


"Yang Mulia tidak pilih-pilih makanan. Yang Mulia terbiasa hidup di kamp dan di Medan perang. Jadi, tidak pernah pilih-pilih makanan"


"Baiklah. Aku akan masak bubur dan membuat cakue. Emm, Yang Mulia pasti punya makanan favorit. Apa kamu tahu apa makanan kesukaan Yang Mulia?" Tanya Kiana sambil menyiapkan bahan untuk memasak bubur dan cakue.


"Yang Mulia suka makan makanan manis. Semua makanan manis beliau suka"


"Baiklah. Aku akan buat kue untuk Yang Mulia pas ada waktu nanti" Sahut Kiana


"Baik, Nyonya muda. Makasih atas perhatian Anda pada Yang Mulia. Saya tinggal dulu" Sahut Bora.


"Baiklah" Sahut Kiana sambil menoleh ke Bora dan tersenyum.


"Ada apa?" Tanya Agha


"Tabib keluarga akan memeriksa Anda pagi ini. Saya yakin beliau dalam perjalanan ke sini sekarang ini" Sahut Bora.


"Suruh dia menunggu di ruang terima tamu kalau sudah datang"


"Baik, Yang Mulia"


"Sekarang keluarlah!" Agha mengibaskan tangan kanannya.


"Baik, Yang Mulia" Sahut Bora.


Tanpa Agha sadari, ia tersenyum-senyum sendiri saat ia teringat Kiana menyuapinya obat dengan menggunakan mulutnya Kiana.


Kiana berdiri di depan Agha dengan membawa nampan dan refleks bertanya, "Kenapa anda tersenyum, Yang Mulia?"


Agha langsung menghapus senyumannya dan berkata dengan wajah dingin, "Siapa yang tersenyum? Kau salah lihat" Agha mengalihkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.

__ADS_1


"Tapi, walaupun saya salah lihat, Anda terlihat seribu kali lebih tampan kalau tersenyum" Ucap Kiana sambil meletakkan nampan di atas meja kecil yang ada di samping ranjang.


"Kau mau ke mana?" Agha menoleh kaget ke arah perginya Kiana.


Kiana menghentikan langkahnya dan menoleh ke suaminya, "Mau mandi. Badan saya gerah penuh keringat dan bau ramuan obat. Saya takut bau badan saya menghilangkan selera makan Anda, Yang Mulia"


Agha berdeham kesal. Entah kenapa dia tidak rela istrinya pergi meninggalkannya. Pria gagah dan sangat tampan itu langsung berkata, "Jangan pergi! Suapi aku!"


"Tangan Anda, kan, baik-baik saja. Yang luka perut Anda. Kenapa minta disuapi?"


"Semalam kau juga menyuapi aku, kan? Bahkan menyuapi aku dengan bibir kamu. Dasar jorok. Semoga saja kau tidak punya penyakit aneh dan membuatku ketularan"


Kiana sontak berkacak pinggang dan menyemburkan, "Hei! Aku ini sehat dan bugar. Mana ada penyakit aneh. Yang aneh itu, kamu!"


"Kau! Kau berani berkacak pinggang di depanku, berkata tidak sopan padaku, dan mengatakan aku aneh? kau mau mari, ya?!" Agha mendelik kesal ke Kiana.


Kiana yang ketakutan mendengar kata mati, langsung bersimpuh di depan suaminya dan memeluk kaki suaminya sambil terus nyerocos, "Saya tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan saya. Saya juga akan jujur pada Anda. Kalau saya jujur hukuman saya akan diperingan, kan?"


"Jujur apa?" Agha bertanya dengan rona malu di wajah karena kakinya dipeluk erat oleh wanita yang sangat cantik dan wanita itu adalah istrinya.


"Saya beberapa hari yang alu pergi ke tebing dengan pakaian serba hitam Tapi, saya bukan penjahat seperti yang Anda tuduhkan. Saya hanya ingin memetik jamur untuk mengobati bisul di wajah saya"


"Kenapa kau ingin mengobati bisul di wajah kamu? Kamu,kan, tahu kalau kamu akan menikah dan kenapa perlu mengobati bisul kamu?"


"Karena saya akan menikah dengan Jenderal yang sangat gagah dan tampan, jadi saya harus memiliki paling nggak wajah yang bersih kalau toh saya tidak cantik"


Sial! Aku terpaksa mengatakan kata-kata aneh ini demi nyawaku, hiks,hiks,hiks. Aku masih ingin hidup lama karena aku masih ingin terus belajar soal obat-obatan. Batin Kiana.


Kamu sangat cantik. Apa kamu nggak sadar kalau kamu itu sangat cantik. Batin Agha dengan mengulum bibir menahan geli.


"Syukurlah kalau kau sadar diri bahwa kamu itu jelek. Udah jelek, kurus dan kerempeng, cih! Sama sekali bukan tipeku. Lalu, aku, apa kau tulus mengatakan kalau aku ini sangat gagah dan tampan"


"Tentu saja Anda sangat tampan dan sangat gagah. Saya tulus mengatakannya"


Hoooeeekkkk! Kiana ingin muntah saat ia mendengar kata-katanya sendiri.


Agha mengulum bibir menahan senyum geli. Hampir saja ia kelepasan tertawa. Dan saat ia bisa menguasai diri untuk tidak tertawa, Agha berkata, "Bangunlah!"


Kiana bangkit berdiri dan menundukkan kepala sambil bertanya dengan hati-hati, "Anda tidak akan menghukum mati, saya, kan? Saya benar-benar bukan penjahat"


"Aku tidak akan menghukum mati kamu. Tapi, kalau kau tidak mau menyuapi aku obat ini dan bubur ini, maka aku akan memberikan hukuman yang sangat berat"

__ADS_1


Kiana langsung duduk di samping Agha dan mengambil mangkuk obat, lalu menoleh ke Agha dan berkata, "Aaaaaaa"


Agha berdeham untuk mengusir tawanya yang hendak meledak, lalu ia membuka mulut dengan sikap sempurna dan wajah datar.


__ADS_2