
Sementara itu di sisi timur tembok kediaman tabib Danur, tampak Adyaksa dan Bayu mendonggakkan wajah mereka untuk mengamati tembok itu.
Sementara itu, Komala yang sedang sibuk menyiapkan masakan dan minuman untuk Kiana dengan sangat terpaksa itu terus memasang wajah jutek dan memasak dengan sangat kesal.
Komala kemudian bergumam di dalam hatinya, aku ini hanya anak seorang selir. Aku hanya beda dua tahun dari Kiana dan aku selalu iri dengan Kiana yang tumbuh sangat cantik, lincah, dan cerdas. Sedangkan aku sakit-sakitan saat masih kecil dulu. Ayah sangat mencintai dan menyayangi mendiang ibundanya Kiana dan lebih menyayangi Kiana daripada aku yang bodoh ini Aku senang saat tahu Ibundanya hilang dan dikabarkan mati jatuh ke jurang Aku juga senang wajah cantiknya akhirnya menjadi sangat jelek karena timbul bisul. Aku senang aku menjadi jauh lebih cantik darinya dan aku kira aku bakalan menang terus dari Kiana. Namun, kenapa nasib baik masih berpihak padanya? Bisul di wajahnya bisa hilang dan dia kembali cantik seperti semula. Lalu, ia bisa menikah dengan Jenderal Agha Caraka. Dan sekarang dia membuatku memasak di dapur demi dirinya. Cih! Aku harus membalasnya untuk semua itu. Aku harus membalasnya.
Komala langsung melemparkan centong sayur ke tembok dengan penuh dengki dan amarah sampai centong sayur yang terbuat dari gerabah itu patah jadi dua.
Di teras belakang rumah kediaman tabib Danur, Kiana akhirnya memaksa dirinya sendiri untuk bangkit berdiri dan kembali tegar meskipun semua orang di dunia ini tidak menyukainya karena dia liar, bahkan ayahandanya sendiri pun tidak menyukainya, dia harus tetap berdiri tegar. Kiana kemudian melangkah tegap ke wastafel yang ada di dekat bangku dan setelah membasuh wajah lalu mengeringkannya dengan sapu tangan yang selalu ia bawa, Kiana memutar badan dan melangkah lebar menuju ke depan.
Seorang pelayan menghampirinya untuk berkata, "Makanan sudah siap, Nyonya Caraka. Tuan besar mengurus saya mencari Anda untuk menyampaikan bahwa semua sudah menunggu Anda di meja makan, Nyonya Caraka"
"Baik. Kamu duluan saja ke sana. Aku akan menyusul" Sahut Kiana dengan wajah serak karena ia terlalu banyak menangis tadi.
Pelayan tersebut langsung pamit dan pergi meninggalkan Kiana.
__ADS_1
Di dalam langkah pendeknya menuju ke ruang makan, Kiana dikejutkan dengan kemunculan Bayu. Bayu menarik tangan Kiana dan mengajak Kiana terbang melintasi tembok kediaman tabib Danur dengan ilmu meringankan tubuh.
Di luar tembok kediaman ayahandanya, Kiana menapakkan telapak sepatunya di atas tanah dan langsung berhadapan dengan teman masa kecilnya, pangeran Adyaksa.
"Anda? Kenapa Anda bisa ada di sini?" Kiana menautkan kedua alisnya dengan wajah heran.
"Aku hanya ingin bertanya soal kemarin. Apa kamu sudah melihat tanda itu?"
"Sudah" Sahut Kiana.
"Bagus" Adyaksa lalu menarik Kiana dan mengajak Kiana melompati tembok kediaman tabib Danur dan setelah sampai di dalam, Adyaksa melepaskan tangan Kiana sambil berkata, "Aku harus pergi. Kita bertemu lagi lain waktu" Lalu, Adyaksa berputar badan dengan cepat dan kembali melompati tembok kediaman tabib Danur dengan ilmu meringankan tubuh yang jauh lebih hebat dari ilmu meringankan tubuhnya Bayu.
Sementara itu, semua yang sudah duduk di meja makan milik tabib Danur, mulai tampak tidak sabar menunggu kedatangannya Kiana.
Kiana melangkah pelan masuk ke ruang makan keluarganya dengan wajah lelah.
__ADS_1
Agha sontak bertanya di dalam hatinya, kenapa ia tampak lelah dan sepertinya dia habis menangis? Apa yang sudah terjadi?
Meskipun ada banyak tanya di hati Agha, Agha tersenyum senang melihat wajah cantik istri kecilnya muncul di depannya kembali. Agha langsung berkata, "Duduk sini! Duduk di sebelahku!"
Tabib Danur melihat wajah Agha saat Agha tersenyum menatap Kiana.
Lalu, Tabib Danur menoleh ke Kiana dan bola matanya terus bergerak mengikuti langkahnya Kiana.
Saat Kiana duduk di sebelahnya Agha, tabib Danur menatap kedua pasangan itu sambil bergumam di dalam hatinya, semoga kalian selalu bahagia dan langgeng sampai maut memisahkan kalian. Ayah senang melihat Suami kamu memperlakukan kamu dan memandangmu dengan penuh cinta, Kiana.
Komala yang masih sibuk wira-wiri dari dapur ke meja makan untuk menata semua masakan dan minuman hasil jerih payahnya yang ia lakukan dengan sangat terpaksa, menyembunyikan sebilah pisau buah yang kecil di balik ikat pinggang bajunya. Komala ingin menusuk mati Kiana dan setelah itu ia akan bunuh diri. Iri hatinya adalah sebuah akar kepahitan yang terus Komala pupuk di dalam. hatinya sehingga akar kepahitan itu mencengkeram erat hatinya dengan kebencian dan menyebabkan Komala lama kelamaan kehilangan akal sehatnya.
Setelah semua hidangan hasil kreasinya Komala sudah tertata rapi di atas meja makan, tabib Danur berkata, "Apakah Komala Putri saya boleh duduk di meja ini bersama kita, Yang Mulia Agha?"
Agha menoleh ke Kiana sambil berkata, "Biar Kiana yang menjawabnya"
__ADS_1
Kiana menoleh ke Komala yang masih berdiri di sebelahnya. Lalu Kiana mendongak untuk memandang wajah Komala dan berkata, "Duduklah! Kita makan bareng layaknya keluarga"
Komala duduk di samping Kiana dengan wajah dan tubuh menegang. Butiran keringat mulai muncul di pelipis, tengkuk, dan ketika Komala saking tegangnya. Hati bersih dan pikiran kotor Komala tengah berperang di antara persimpangan tanya, haruskah ia menusuk mati Kiana atau tidak?