Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Malam Pertama


__ADS_3

Tanpa ragu Agha terus bergerak dengan bibirnya dengan ciuman-ciuman yang panas, penuh hasrat, dan liar. Tiap jengkal yang ia sentuh membuat jantung Agha berdentum keras. Agha terus mengajak Kiana berciuman sementara sebelah tangan Agha menyelinap masuk.


Ciuman yang lama, dalam, dan melibatkan lidah membuat Agha dan Kiana terengah.


Agha melihat mata Kiana berkilat seperti mata seorang anak kecil yang penasaran akan sesuatu. "Kau menggemaskan saat kau tersipu seperti ini" Agha mengusap lembut pipi Kiana.


Apa aku tersipu? Kenapa aku tersipu? Batin Kiana.


Dan Agha tidak terlihat tersipu sama sekali. Sangat datar, sebenarnya.


"Apa aku sangat tampan sampai kau terus memandangi wajahku seperti itu?" senyum tipis semakin lebar dan kedua ibu jari Agha mengusap pipi Kiana, lalu sudut-sudut mulut Kiana.


"Iya, Yang Mulia. Anda sangat tampan" Kiana tersipu malu.


Saat Agha menunduk untuk mencium bibir Kiana, gadis cantik itu mendorong pelan dada Agha.


Agha menatap Kiana dengan heran, "Kenapa?"


"Sa.....saya ingin bertanya terlebih dahulu apakah boleh, Yang Mulia?"


Agha menempelkan kedua telapak tangan di sisi kanan dan kiri kepala Kiana lalu menatap lekat kedua bola mata indah istri kecilnya sambil berkata dengan suara dalam yang seksi, "Boleh"


"Apakah Anda pernah mandi di danau yang ada di tengah hutan Berkabut pas Anda masih remaja kalau nggak salah dan telapak kaki Anda dibalut dengan memakai kain dan ada sulaman huruf K di kain itu?"


Agha langung duduk bersila di samping Kiana dengan wajah kaget dan Kiana langsung bangun lalu duduk bersila berhadapan dengan Agha.


Agha menatap Kiana dan menganggukkan kepala pelan-pelan.


"Lalu, apakah Anda juga pernah menolong seorang gadis bercadar di tengah hutan Tengkorak, lalu apakah Anda menyimpan gelang giok milik gadis itu?"


Agha langsung menarik Kiana ke dalam pelukannya lalu berkata, "Syukurlah itu kau, Kiana. Aku mencari kamu selama ini. Aku bahkan mengucapkan janji pada diriku sendiri kalau aku bertemu lagi dengan gadis yang membalut luka di telapak kakiku waktu itu, aku akan menikahinya. Syukurlah takdir mendengar janjiku dan aku bisa menikahi gadis itu tanpa aku sadari" Agha kemudian melepaskan pelukannya, mendorong pelan kedua bahu Kiana untuk bertanya, "Tapi, kenapa kau baru tanyakan soal itu sekarang?"


"Karena sejak pertemuan kita di danau itu, saya kehilangan semua ingatan saya di masa lalu. Dan sejak saya tinggal di sini dan tidak minum teh bikinan Ayah saya, saya memperoleh kembali ingatan saya"


"Teh?"


"Iya. Ayah saya sepertinya membohongi saya soal teh itu. Kata Ayah teh itu untuk menghilangkan bisul di wajah saya, tapi saya rasa teh itu adalah teh penghilang ingatan"


"Jahat sekali Ayah kamu" Agha menggeram kesal dan Kiana langsung meletakkan tangannya di atas dada Agha sambil berkata, "Lalu, gelang gioknya? Apakah Anda mengambil gelang giok gadis bercadar itu?"


"Iya. Aku akan ambilkan gelang giok itu dan........."


Kiana menahan dada Agha dan berkata, "Nanti saja, Yang Mulia. Saya ingin mengatakan kepada Anda terlebih dahulu kalau saya sudah mencintai Anda saat itu. Sayangnya saya kehilangan ingatan tentang pahlawan tampan yang telah menyelamatkan saya"


Agha tersenyum lebar lalu berkata, "Dan aku sudah mencintai kamu sejak di danau itu. Gadis manis yang baik hati. Malaikat penyelamatku. Berkat dia, telapak kakiku tidak mengalami infeksi"


Kiana tersenyum lebar dengan tersipu malu.


Agha kemudian mengusap telapak tangan di dada sambil berkata, "Emm, sebentar!"


Kiana langsung menautkan kedua alisnya melihat tingkah Agha.


Agha Kemudian mengulurkan tangannya dan berkata, "Dulu waktu di danau aku berkata kalau bertemu lagi denganmu, maka aku akan mengatakan namaku dengan benar"


Kiana menyambut uluran tangan Agha dan tersenyum lebar.


"Namaku Agha Caraka. Senang bisa bertemu kembali denganmu Nona manis"


"Senang bertemu kembali dengan Anda, Yang Mulia Agha Caraka. Saya tidak menyangka kalau Anda bisa lucu seperti ini" Kiana terkekeh geli.


Agha terkekeh geli dan berkata, "Senang bisa melihat tawa kamu Nona cantik" Kemudian Agha melepaskan tangan Kiana dan memandangi wajah Kiana dengan takjub, "Kau sungguh luar biasa Nyonya Agha Caraka. Kau bukan hanya cantik......kau juga .... hmpppttthhh" Agha membeliak kaget saat Kiana membungkam mulutnya dengan bibir.

__ADS_1


Agha langsung menarik tengkuk Kiana untuk memperdalam ciuman itu.


Lalu, dengan perlahan Agha meletakkan kepala Kiana di atas bantal dan menyusupkan wajahnya di leher Kiana.


Beberapa menit kemudian keduanya bergulat di atas ranjang tanpa sehelai kain.


Agha kemudian bergerak turun berkelana di sebuah lembah. Lembah yang belum pernah ia temui dan ia jamah sebelumnya Kiana sontak membeliak kaget lalu memejamkan rapat kedua matanya sambi menggigit bibirnya.


Setelah puas berkelana di lembah itu, Agha merangkak naik untuk mengajak Kiana berciuman kembali.


Di saat Agha hendak menyatukan raga, pria tampan itu berkata, "Akan terasa sedikit sakit. Aku akan melakukannya dengan perlahan. Ini malam pertama kita dan ini yang pertama kalinya buat aku"


"I......ini juga yang pertama kalinya buat saya, Yang Mulia"


"Baiklah. Aku akan lakukan dengan perlahan. Kamu tahan sebentar kalau terasa sakit, ya?!"


Kiana mengigit bibirnya dan menganggukan kepala.


Saat Agha menghentak Kiana sontak berteriak kencang dan Agha langsung membungkam mulut Kiana dengan bibir sambil terus bergerak secara perlahan.


Namun, manisnya rasa yang ia sesap untuk pertama kalinya membuat Agha lupa diri dan lupa untuk bergerak perlahan, ia justru bergerak semakin cepat dan liar.


Saat keduanya akhirnya memekik secara bersamaan, Agha mencium bulir air mata di kedua sudut mata Kiana sambil berkata dengan masih terengah, "Maafkan aku. Kau sungguh luar biasa dan membuatku lupa diri, Kiana. Maafkan aku kalau aku membuatmu kesakitan dan........ hmpppttthh!" Agha tersentak kaget lalu tersenyum senang saat Kiana memagut bibirnya dan mengajaknya berciuman.


Agha meladeni kemauan Kiana sambil memainkan tangannya di titik kenyal yang merupakan mainan baru baginya dan mainan baru itu sudah menjadi mainan yang paling ia sukai sejak beberapa menit yang lalu. Agha kemudian memainkan bibir di mainan barunya itu hingga membuat Kiana melengkungkan punggung dan melenguh.


Agha kemudian bergerak kembali dan beberapa menit kemudian terdengar kembali pekik keduanya yang lebih kencang dari yang sebelumnya.


Keduanya saling berpelukan dengan terengah-engah.


Setelah saling menatap selama lima menit, Agha kembali mengajak Kiana berciuman dan memainkan kembali jarinya di lembah kenikmatan sambil menyusupkan bibirnya ke leher Kiana. Kiana bertanya dengan suara letih, "Apakah belum selesai Yang Mulia?"


Agha menyeringai geli di atas kulit putih Kiana lalu menyahut, "Ternyata bersama dirimu tidak cukup kalau hanya sekali saja. Kau membuatku kecanduan, Kiana" Kemudian Agha melanjutkan aksinya sampai terdengar pekik ketiga dan Agha langsung menarik Kiana ke dalam pelukannya, menarik selimut sambil menciumi wajah Kiana. Lalu, pria tampan itu tersenyum melihat istrinya telah jatuh tertidur pulas di dalam pelukannya


Agha dan Kiana membuka mata secara bersamaan tepat di jam lima pagi.


Terdengar suara ketukan di pintu beberapa kali dan Agha mengabaikannya.


Kiana tidur di atas lengan Agha dan gadis itu terkejut saat mendapati di pergelangan tangannya sudah melingkar gelang giok peninggalan mendiang ibunya. Kiana lalu menatap suami tampannya dan berkata dengan senyum cantiknya, "Terima kasih, Yang Mulia. Anda sudah menyimpan dan merawat gelang giok ini dengan sangat baik"


Agha langsung menarik lengannya agar dia bisa mencium bibir Kiana.


Kiana tersentak kaget dan langsung menarik bibirnya, menutup mulutnya dan berkata, "Saya belum sikat gigi, Yang Mulia.


Agha terkekeh geli dan berkata, "Aku tidak peduli" Agha menarik tangan Kiana dan ia mencium kembali bibir istri kecilnya dengan penuh gairah.


Sepuluh menit kemudian, Agha menarik bibirnya untuk memandangi wajah cantik istri kecilnya dan berkata, "Bisakah kau bangun tidak secantik ini di pagi hari, istri kecilku?"


"Apa saya cantik, Yang Mulia?"


"Iya. Bahkan di pagi hari ini kamu terlihat sangat cantik. Lain kali bangunlah dengan tidak secantik ini agar aku bisa bernapas di pagi hari"


"Apakah Anda tidak bisa bernapas saat ini, Yang Mulia?"


"Iya. Kecantikan kamu yang sangat luar biasa ini membuatku kesulitan bernapas pagi ini"


Kiana tersenyum dan berkata dengan wajah letih, sangat letih karena semalam Agha menghajarnya habis-habisan, "Ternyata Anda bisa mengatakan rayuan, Yang Mulia. Di mana Anda belajar?"


"Dari buku yang pernah aku baca. Buku novel dewasa yang aku beli dan baca sejak aku menikah denganmu"


"Benarkah? Di mana buku itu sekarang? Saya juga ingin membacanya agar saya juga bisa merayu Anda"

__ADS_1


Agha terkekeh geli dan berkata, "Buku itu ada di ruang perpustakaan. Kau belum pernah masuk ke ruang perpustakaan, kan?"


Kiana menggelengkan kepala.


"Nanti malam aku akan ajak kamu ke sana dan kita baca buku itu bersama di sana "


"Baiklah, Yang Mulia" Kiana tersenyum sangat cantik dan Agha ridak bisa mengendalikan diri lagi untuk tidak memagut bibir istrinya.


Agha langsung menyusupkan lidahnya dan mengajak lidah istrinya berdansa Tango sementara tangannya menari indah di lembah kenikmatan. Jarinya berenang dan menari indah di sana. Kiana mengangkat pinggulnya dan mengerang lirih. Agha langsung menarik jarinya dari lembah kenikmatan dan memperdalam ciumannya sambil menarik tubuh istrinya. Dia akhirnya mengajak istri kecilnya berolahraga di pagi hari.


Kembali terdengar suara ketukan di pintu dan Agha kembali mengabaikannya.


Agha terus bergerak sambil mengusap wajah cantik istri kecilnya dan berkata, "Kau luar biasa Kiana. Ah, ah, ahhhh.........Aku sangat mencintaimu"


Kiana ingin menyahut saya juga mencintai Anda, namun yang terdengar hanyalah erangan dan Kiana semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh suaminya.


"Aku akan membiarkan kamu sampai ke puncak lebih dulu, Kiana" Agha terus bergerak liar dan beberapa detik kemudian terdengar lengkingan seksi Kiana. Agha tersenyum senang dan terus bergerak sampai istri kecilnya terkulai lemas di dalam dekapan hangatnya setelah pria tampan itu menggemakan kenikmatannya sendiri.


Agha terus mencium bibir Kiana dan mulai melibatkan lidah. Pria tampan itu enggan melepaskan Kiana di pagi hari ini. Dia memeluk erat istri kecilnya dan memperdalam ciumannya.


Di saat gairah Agha kembali tersulut, terdengar teriakan Bora dari luar, "Yang Mulia! Ini sudah jam sepuluh! Kita ditunggu di kantor penyidik!"


Agha menggeram kesal dan meletakkan keningnya di dada Kiana.


Kiana mendorong pelan dada suaminya dan dengan senyum cantik ia berkata, "Pergilah, Yang Mulia"


Alih-alih bangun Agha justru menarik kembali tengkuk Kiana dan mengajak Kiana berciuman.


Kiana mengerang lirih dan Suara ketukan di pintu kembali terdengar.


Agha menggeram kesal dan Kiana tertawa lirih. Dengan sangat terpaksa akhirnya Agha mendaratkan ciuman di kening Kiana dan ia bangun. Ia memakai baju tidurnya dan berkata ke Kiana, "Tidurlah lagi! Kau sudah bekerja sangat keras"


Kiana tersenyum dan kembali memejamkan matanya dengan perlahan.


Agha menyelimuti tubuh polos istri kecilnya, lalu ia membungkuk untuk mengecup bibir Kiana.


Kemudian ia menegakkan badannya saat pintu kembali diketuk dan Bora kembali berteriak, "Yang Mulia! Hari keburu siang!"


Agha kemudian berteriak dengan kesal, "Aku akan mandi, Bora! Jangan ketuk pintu lagi!"


"Baik, Yang Mulia" Sahut Bora dari luar.


Agni muncul di depan Bora dan bertanya, "Kak Agha dan Kak Kiana belum bangun?"


"Kalau Yang Mulia sudah terdengar suaranya kalau Nyonya muda belum terdengar suaranya"


"Wah, Kakak ipar boleh juga. Dia sudah membuat seorang Agha Caraka bangun kesiangan, hihihihi" Agni terkikik geli.


Sementara itu Bibi Sum sengaja berdiri di depan pintu dapur saat ia melihat Maharani masuk ke dapur.


Beberapa menit kemudian Maharani keluar dari dalam dapur dan bibi Sum langsung bertanya, "Sup itu untuk siapa, Nona Rani?"


"Tentu saja untuk Kak Agha. Semalam ia lemas dan pening. Sup rumput laut ini bagus untuk meningkatkan stamina Kak Agha"


Bibi Sum tersenyum lebar lalu berkata, "Saya rasa Yang Mulia Agha tidak memerlukan sup itu karena Yang Mulia Agha sangat berstamina saat ini"


"Apa maksud kamu?" Maharani menatap bibi Sum dengan wajah penuh tanda tanya.


"Semalam Yang Mulia Agha membopong Nyonya muda ke kamarnya dan beliau tidak keluar dari kamar semalaman. Bahkan sampai detik ini beliau juga belum keluar dari dalam kamar. Itu berarti beliau sangat berstamina, kan? Saya yakin sebentar lagi akan t dengar suara tangis bayi di kediaman ini dan saya akan sangat bahagia menyambut penerus keturunan keluarga ini"


Prang! Terdengar suara mangkuk pecah. Saking terkejutnya Maharani melepaskan mangkuk sup sampai mangkuk sup itu jatuh dan pecah. Untung saja pecahannya tidak mengenai kaki Maharani dan kaki bibi Sum.

__ADS_1


Maharani kemudian berbalik badan menuju ke kamarnya dengan wajah penuh amarah dan ia meremas dadanya dengan derai air mata.


__ADS_2