Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Penampilan


__ADS_3

Bibi Sum memijat kedua pelipis junjungannya sambil berkata, "Maafkan saya, Nyonya besar. Nyonya muda adalah kado pernikahan dari Permaisuri dan Kaisar. Kalau sampai ketahuan Permaisuri dan Kaisar kadi berharga mereka diperlakukan buruk di kediaman ini, maka Yang Mulia akan terkena masalah besar. Benar, kan, Nyonya besar?"


Ibundanya Agha langsung bangkit berdiri dan berkata, "Astaga! Kenapa aku lupa soal itu? Sekarang kau temui gadis liar itu dan bawa dia ke kamar dan bilang padanya untuk tidak memasak obat lagi di dapur"


Bibi Sum tersenyum lega dan langsung berkata, "Baik, Nyonya besar. Saya akan segera menemui Nyonya muda. Saya permisi"


"Hmm. Cepat pergi!" Ibundanya Agha mengibaskan tangannya tanpa menoleh ke bibi Sum dan bibi Sum langsung berlari kecil meninggalkan junjungannya.


Sesampainya di ruang keluarga, bibi Sum langsung memegang kedua bahu Kiana sambil berkata, "Nyonya besar sudah reda amarahnya. Beliau menyuruh saya membawa Anda ke kamar"


Kiana bangkit berdiri dan saat ia hampir ambruk ke depan karena kedua kakinya kesemutan, bibi Sum langsung memeluknya erat.


Kiana memeluk bibi Sum dan berkata, "Tolong jangan katakan soal ini ke Yang Mulia Agha, ya, Bi. Aku tidak ingin Yang Mulia Agha dan Ibundanya berselisih paham karena aku"


"Baik, Nyonya muda"


Bibi Sum kemudian memapah Kiana ke kamarnya Agha sambil berkata di dalam hatinya, semoga Nyonya besar segera dibukakan mata dan hatinya agar beliau bisa melihat kebaikan dan ketulusan Nyonya muda. Dan semoga kebusukan hati Maharani segera terbuka di depan banyak orang.


Sesampainya di kamar Agha, Kiana dibantu duduk di tepi ranjang oleh bibi Sum dan Kiana langsung berkata, "Terima kasih banyak, Bi"


"Sama-sama, Nyonya muda"


"Emm, apakah Bibi tahu di mana letak perpustakaan? Karena selama aku di sini, aku belum pernah melihat ada perpustakaan" Ucap Kiana sambil memijit-mijit kedua pahanya yang masih kesemutan.


"Perpustakaan ada di bangunan yang terpisah. Anda lihat, kan, antara ruang penerimaan tamu dan ruang keluarga ada jalan ke selatan?"


"Iya, Bi. Aku lihat jalan itu. Terus perpustakaannya di sebelah mana?"


"Anda berjalan aja terus ke selatan dan perpustakaannya ada di ujung jalan itu. Jalannya agak panjang karena mendiang Jenderal Bima Caraka, Ayahandanya Yang Mulia Agha Caraka, menyukai keheningan. Jadi, beliau membangun perpustakaan terpisah agak jauh dari bangunan lain di kediaman ini"


"Oh, pantas saja aku tidak menemukan ada perpustakaan di sekitar sini"


Bibi Sum tersenyum dan berkata, "Kalau Nyonya mau ke sana, saya bisa antarkan"


"Iya, Bi. Terima kasih. Emm, mendiang ayahandanya Yang Mulia Agha suka membaca buku,ya, Bi?"

__ADS_1


"Iya. Beliau suka menghabiskan waktunya di perpustakaan bersama Yang Mulia Agha waktu Yang Mulia Agha masih kecil. Yang Mulia Agha belajar membaca dan menulis di perpustakaan itu juga"


"Baiklah, Bi. Sekali lagi terima kasih banyak"


"Sama-sama. Selamat beristirahat Nyonya muda dan lain kali jangan memasak obat di dapur. Saya akan cari tempat yang bagus agar Nyonya muda bisa memasak obat nanti"


"Terima kasih banyak, Bi"


"Sama-sama" Bibi Sum kemudian pamit dan melangkah keluar dari kamarnya Agha Caraka.


Sementara itu, Agha yang masih berada di kantor penyidik, menatap dirinya di depan cermin dan bertanya ke Bora, "Bagaimana penampilanku?"


"Anda gagah dan tampan seperti biasanya, Yang Mulia"


"Apakah aku wangi?"


"Iya. Anda, kan, memang selalu wangi"


"Lalu, rambutku? Apakah ada yang aneh dengan rambutku?"


Bora menelengkan kepalanya ke kanan dan sambil menautkan alisnya dia balik bertanya, "Apanya yang aneh? Rambut Anda,kan,cepak seperti biasanya. Nggak ada yang berubah"


"Ayam?" Bora sontak menegakkan kepalanya dan semakin menautkan alisnya.


"Iya, ayam. Mata kamu rabun senja, kan? Nggak bisa lihat kalau rambutku pakai minyak, cih!"


Ya, mana ada bedanya pakai minyak atau tidak. Cepak, ya, cepak. Kalau disentuh baru ketahuan pakai minyak atau nggak. Batin Bora masih dengan wajah keheranan.


"Menurut kamu, Kiana bakal suka nggak kalau rambutku klimis seperti ini?"


Kan, nggak ada bedanya? Bora masih membatin dengan wajah melongo.


"Bora? Sekarang kenapa kau jadi seperti ikan?" Agha menirukan mulut ikan di depan Bora.


Bora sontak melengos untuk menyembunyikan tawanya.

__ADS_1


Kenapa Anda lucu sekali saat ini, Yang Mulia. Pfftttt! Anda malah menirukan mulut ikan. Pfftttt! Batin Bora.


"Bora? Kenapa tiba-tiba melengos? Aku jelek, ya?"


Bora menghela napas panjang, lalu menghadapkan wajahnya kembali ke depan dan berkata, "Nyonya muda mencintai Anda apa adanya. Saya rasa Nyonya muda akan menyukai penampilan maksimal Anda malam ini, Yang Mulia"


"Tahu dari mana kau kalau Kiana mencintai aku apa adanya?"


Ah, kenapa masih bertanya-tanya nggak jelas begini, hiks, hiks, hiks. Bora mulai mewek.


"Bora?"


"Ah, itu, emm" Bora menggaruk-garuk kepalanya.


Agni langsung menyahut sambil menggelungkan tangannya di lengan Agha, "Karena Kak Kiana nggak pernah mengeluhkan penampilan Kakak selama ini Itu tandanya Kak Kiana mencintai Kakak apa adanya. Jangan tanya soal beginian sama pria nggak peka kayak Bora. Tanya aja sama adik kamu yang cantik ini, Kak"


Bora menatap Agni sambil mengerucutkan bibirnya.


Agha menoleh kaget ke Agni dan saat pria tampan dan gagah itu ingin membuka mulut, Bora langsung berkata,"Ah, syukurlah Anda sudah datang, Non. Emm, Yang Mulia akan berkencan dengan Nyonya muda di perpustakaan yang ada di kediaman. Yang Mulia akan masuk dari atap perpustakaan karena beliau tidak ingin diganggu sama Nyonya besar dan Nona Rani. Jadi, tolong bilang ke Nyonya besar kalau saya dan Yang Mulia lembur malam ini"


"Oke" Agni langsung tersenyum lebar.


"Kalau begitu, ayo kita buruan berangkat. Takutnya Kak Kiana sudah sampai di perpustakaan lebih dulu, kan, nggak lucu. Masak cewek duluan yang datang. Mana ada di kencan pertama, cewek duluan yang datang" Sahut Agni.


Agha langsung menarik lengannya dari tangan Agni dan langsung berlari kencang sambil berteriak, "Bora! Ayo cepat berangkat!"


Bora mendelik ke Agni dan langsung berlari kencang menyusul laju lari junjungannya sambil berteriak panik, "Siap, Yang Mulia!"


Agni tertawa senang melihat tingkah konyol dua pria kaku itu. Lalu, Agni melangkah lebar menyusul Agha dan Bora sambil bergumam, "Asyik juga bisa ngerjain kalian berdua, hihihihi"


Sementara itu, Kiana tengah mematut diri di depan cermin. "Ah, kenapa aku terlihat jelek pakai apapun saat ini? Aku juga tidak tahu caranya berdandan dan aku tidak punya baju baru. Ah, kenapa aku tidak tahu apa-apa soal berdandan, baju, dan berkencan" Kiana mengacak-acak pucuk kepalanya dengan wajah frustasi.


Tiba-tiba bibi Sum masuk ke dalam kamar dan berkata, "Yang Mulia Agha nitip ke saya pas saya pergi keluar untuk membeli kebutuhan pokok kediaman ini. Beliau nitip saya untuk membelikan baju baru untuk Anda, tadi. Semoga Anda cocok dengan pilihan saya ini, Nyonya muda" Bibi Sum menunjukan baju berwarna merah muda di depan Kiana.


"Bagus sekali, Bi. Aku suka. Terima kasih banyak"

__ADS_1


"Saya akan membantu Anda berdandan Nyonya muda"


"Ah, terima kasih banyak Bi. Bibi baik, deh" Kiana langsung memeluk bibi Sum dan bibi Sum membalas pelukan itu sambil berkata, "Anda juga baik, Nyonya muda"


__ADS_2