Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Mencuri Ciuman


__ADS_3

Kiana terus merasa panas dan saat ia bangun, Agha mendengus kesal, "Kau mau apa? Kenapa bangun?"


Kiana kembali merebahkan diri dan berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak bisa tidur. Apa saya boleh pindah ke kamar saya?"


"Tidak boleh. Kau tidak sayang sama adik kamu, ya? Adik kamu, kan, minta tidur sama kita malam ini"


Kiana langsung menyahut, "Tentu saja saya Sayang banget sama Kendra"


Cuma saya kegerahan tidur bersama Anda di satu ranjang. Ya, walupun ada Kendra di tengah-tengah kita, tapi tetap saja saya merasa canggung dan terus saja kegerahan. Batin Kiana.


"Apa kamu mau mengobrol dulu? Kamu belum bisa tidur, kan?" Tanya Agha kemudian.


Mengobrol? Mengobrol apa dengan manusia aneh sedingin es kayak kamu itu. Batin Kiana.


"Kenapa diam? Apa kamu pengen keluar melihat salju? aku akan temani kamu" Agha kembali bersuara dengan nada datar.


Kiana langsung menyahut, "Emm, mengobrol saja, Yang Mulia. Kita mengobrol saja"


Ya, lebih baik mengobrol daripada melihat salju berdua dengan dia, bisa jadi es balok aku nanti berdiri diam mematung di depan salju, hehehehe.


Krik, krik,krik,krik, hanya terdengar suara jangkrik.


Katanya mau mengobrol, kok, diam saja. Dia, kan, yang ngajak ngobrol harusnya dia yang mengawali obrolan, kan? Kenapa malah diam saja. Dasar aneh, huh! Batin Kiana kesal.


Agha kembali membuka suara, "Kenapa diam?"


Lho, harusnya pertanyaan itu aku yang lempar, kan? Batin Kiana semakin kesal.


"Kiana?" Agha memanggil nama Kiana dengan tetap menatap lurus ke langit-langit kamar.


"Iya, Yang Mulia"


"Katakan sesuatu!" Sahut Agha.


Katakan sesuatu? Gila,ya, nih, orang. Katakan apa coba? Kalau salah ucap, aku, kan, bisa kena hukuman lagi. Kiana merengut.


"Kiana?" Agha kembali memanggil nama Kiana tanpa menoleh ke Kiana.


Kiana menoleh ke Agha dengan sorot mata kesal, lalu ia mengeluarkan suara, "Saya berterima kasih Anda sudah mau berteman dengan Kendra"


"Hmm"

__ADS_1


Hanya itu? Katanya pengen ngobrol, kok, hanya menyahut Hmm? Lalu, aku mesti ngomong apa lagi? Kiana semakin kesal.


"Kenapa diam?" Agha membuka suara kembali.


Kiana mendengus kesal dengan pelan, lalu berkata, "Kenapa Anda mau berteman dengan Kendra? Kata Agni, Anda tidak menyukai anak kecil"


"Kendra itu adik kamu"


Semua tahu kalau Kendra adalah adikku. Kenapa jawabannya singkat dan aneh kayak gitu, huh! Lalu, aku mesti nanya apalagi setelah ini coba?


"Apa cuma itu?"


"Apanya, Yang Mulia?"


"Cuma itu daftar pertanyaan kamu untukku?"


"Oh, emm, iya, Yang Mulia. Saya rasa cukup. Selamat malam. Saya........"


"Tanyakan yang lainnya! Dan ini perintah"


Tanyakan apa aku sudah peduli sama kamu atau apa aku menganggap kamu cantik. Ya, tanyakan hal yang semacam itu, Kiana! Harap Agha di dalam hatinya.


Apa! Perintah macam apa itu? Kiana menoleh kaget ke Agha.


Aaaaaaa!!!!! Kenapa aku harus bangun tadi? Mau tanya apalagi coba? Jadi, runyam,kan, kalau begini ini. Kiana mendengus kesal di dalam hati.


"Kiana?" Agha mulai menggeram.


Kiana bergegas bertanya, "Apa cuaca hari ini dingin, Yang Mulia?"


"Kau bodoh, ya?! Tentu saja dingin. Turun salju di luar" Agha menggeram kesal.


"Maafkan saya, Yang Mulia"


"Tanyakan yang lain, cepat!"


Tanya apa? Aku bingung mau nanya apalagi? Kita, kan, bukan teman dekat dan kamu itu aneh. Aku takut salah bertanya. Kiana mulai mewek.


"Kiana?"


"Ah! Apa Anda ingin saya bikinkan cokelat panas, Yang Mulia? Saya punya cokelat batang bikinan saya sendiri. Saya bisa memasaknya untuk Anda untuk menghangatkan badan Anda dan......"

__ADS_1


"Lupakan saja! Tidurlah dan jangan berisik lagi! Kalau kamu bangun dan berisik, aku akan menghukum kamu" Agha berucap sembari memunggungi Kiana.


Agha kesal karena pertanyaan yang Kiana ajukan melenceng jauh dari harapannya.


Kiana hanya bisa menatap punggung Agha dengan wajah kesal. Lalu, gadis itu pun memejamkan mata dan akhirnya dia bisa jatuh ke alam mimpi.


Agha pun memilih untuk memejamkan mata dan beberapa menit kemudian, pria gagah dan tampan. itu jatuh ke alam mimpi.


Di pagi hari yang tidak cerah karena salju masih turun, Agha membuka mata bertepatan dengan Kendra. Kedua pria tampan berbeda generasi itu saking pandang.


Kendra berbisik lirih dengan mata polosnya, "Maaf, Kak Agha, apa saya boleh memeluk Anda? Saya kedinginan"


Agha diam membisu. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena ia belum pernah tidur dipeluk oleh seseorang.


Kendra mengerjapkan mata kemudian berbisik Kembali, "Nggak boleh, ya? Kalau gitu, saya akan berputar badan lalu memeluk Kak Kiana saja"


Agha langsung menarik Kendra ke dalam pelukannya sambil berkata, "Jangan ganggu Kakak kamu! Biarkan Kakak kamu tidur lebih lama. Ini masih pagi, ayo kita tidur lagi"


"Baiklah" Sahut Kendra dengan senyum bahagia. Kendra senang dipeluk oleh Agha karena sudah sejak lama ia memimpikan memiliki kakak laki-laki yang menyayangi dirinya.


Beberapa jam kemudian, Kiana membuka mata dan tidak menemukan Kendra di sampingnya.


Apa Kendra sudah bangun dan pindah ke kamarku, ya? Batin Kiana sambil menatap Agha yang tidur terlentang. Pria itu masih tampak lelap.


Kiana kemudian bangun, lalu duduk dan merangkak pelan tanpa mengeluarkan suara menuju ke tepi tempat tidur lalu melompati kaki Agha dengan perlahan untuk turun dari atas ranjang.


Setelah berhasil menapakkan kaki di lantai, hadis itu bergegas memakai sandal karena lantai ubin keramik di kamar Agha terasa sangat dingin menusuk tulang telapak kakinya. Kiana kemudian tersenyum lebar saat ia tergoda untuk mendekati wajah Agha. Kiana ingin melihat wajah Agha dari jarak dekat saat Agha masih tertidur pulas.


Kiana menunduk dan melihat wajah Agha dan tersenyum. Lalu, gadis cantik berkulit putih sebening kristal itu bergumam lirih, "Iya, benar. Dia memang remaja yang mandi di tengah hutan dulu pas aku masih kecil. Cuma dulu dia kurus. Eh, dia ternyata memiliki bulu mata yang lentik, hidungnya juga sangat bagus, dan tulang rahangnya keren banget. Dia memang tampan. Sayangnya dia galak, dingin, selalu jutek, dan aneh"


Kiana sontak menarik kedua alisnya ke atas dan menahan napas saat ia melihat Agha membuka mata tiba-tiba.


Kiana dan Agha bersitatap dalam kebekuan selama sepersekian detik.


Agha kemudian bertanya, "Apa yang kau gumamkan tadi? Dan kenapa kau menunduk sedekat ini ke wajahku? Apa yang ingin kau lakukan?"


Kiana langsung menggelengkan kepala dan saat gadis cantik itu memundurkan wajahnya, Agha dengan sigap mencekal tengkuk Kiana dan berkata, "Apa kau ingin mencuri ciuman saat aku tidur? Kau nakal juga, ternyata" Agha menyeringai senang di depan Kiana.


Apa?! Siapa yang ingin mencuri ciuman? Aku cuma ingin membandingkan wajah kamu dengan remaja yang mandi di tengah hutan dulu. Batin Kiana kesal.


Agha menarik pelan tengkuk Kiana sambil berkata, "Karena aku suami yang baik, aku akan mewujudkan keinginan Istriku yang ingin menciumku di pagi hari"

__ADS_1


Aaaaaa!!!!!!! kenapa jadi begini?! Jerit Kiana di dalam hatinya.


__ADS_2