
Sepeninggalnya Sofie, Alvin masuk dan dia langsung menutup pintu dan menguncinya.
Alvin langsung duduk di sebelahnya Agha, "Apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang terjadi" Sahut Kiana.
"Apa?! Dia menarik kamu sampai jatuh dan kau bilang tidak ada yang terjadi? Bagikan lutut kamu? Apa kamu terluka?" Agha menyentuh lutut Kiana dan Alvin langsung memalingkan muka. Dia tidak ingin melihat lutut Kiana dan tidak ingin tergoda.
Kiana langsung menepis tangan Agha sambil berkata, "Saya tidak apa-apa, Yang Mulia"
Agha langsung menghela napas lega dan menegakkan badannya kembali untuk bertanya, "Kenapa kamu dan Kiana tidak bilang soal wanita mengerikan itu semalam? Dia istrinya Alaric. Tapi selama aku jadi Alaric, aku tidak pernah menyentuhnya, kan?"
"Tidak pernah" Sahut Alvin dan Kiana secara bersamaan.
"Fiuuhhhh! Syukurlah. Ternyata di saat sadar ataupun tidak sadar seleraku masih oke. Aku tidak mungkin menyentuh wanita yang mengerikan seperti Sofie itu" Sahut Agha.
Alvin dan Kiana langsung tertawa ringan secara bersamaan.
Alvin lalu berkata, "Sofie merencanakan sesuatu dan kamu harus super ketat menjaga Kiana"
"Dengar, tuh! Kamu harus di sampingku terus selama dua puluh empat jam penuh" Sahut Agha sambil menatap Kiana.
"Iya, itu harus, Kiana. Demi keselamatan kamu" Alvin menatap Kiana.
"Tapi, aku sudah terlanjur janji sama seseorang. Aku tidak bisa ingkar janji" Kiana menatap Alvin.
"Janji sama siapa?" Alvin dan Agha bertanya ke Kiana secara bersamaan.
"Ke teman baruku. Tapi apakah boleh kalau aku katakan soal ini ke kalian?"
"Teman baru? Siapa?" Tanya Alvin.
"Dia laki atau perempuan?" Tanya Agha.
"Baiklah. Aku rasa lebih baik aku ceritakan semuanya. Dia adalah Jenderal Luis"
"Hah?! Pamanku masih hidup?"
"Iya"
__ADS_1
"Paman apa? Kenapa kamu menemui pria lain tanpa sepengetahuanku?" Agha mendelik ke Kiana dengan rasa cemburu.
"Saya bertemu dengan Jenderal Luis secara tidak sengaja, Yang Mulia. Saya mencari gelang saya, lalu saya............"
Agha tersenyum senang menatap gelangnya Kiana, "Gelang itu dariku. Aku kasih gelang itu ke kamu waktu kita bertemu di danau. Aku masih remaja saat itu dan ......."
"Biarkan Kiana lanjutkan dulu ceritanya" Alvin mendelik kesal ke Agha dan Agha langsung menyahut, "Iya, maaf"
"Saya menginjak batu dan ada dinding batu yang bergeser lalu muncul sebuah lorong. Saya lalu masuk ke dalam. Saya masuk dan dinding batu kembali menutup rapat. Saya lalu berjalan dengan menggunakan obor dan menemukan taman bunga yang sangat indah. Di sana lah saya bertemu dengan Jenderal Luis. Jenderal Luis menceritakan semuanya ke saya dan dia ingin balas dendam sama putri Sofie"
"Jadi, dugaanku selama ini benar. Sofie memang jahat dan mengerikan" Sahut Alvin.
"Lalu, bagaimana kondisi pamanku?" Tanya Alvin kemudian.
"Ada luka bakar di wajah dan kaki kanannya lumpuh. Tapi, dia masih bisa disembuhkan"
"Ajak aku ke sana. Kita sembuhkan dia bersama-sama" Sahut Alvin.
"Oke" Sahut Kiana.
"Aku ikut" Sahut Agha.
"Saya juga ingin Anda ikut, Yang Mulia. Tapi, Anda, kan, harus menemui para tetua dan melakukan tanggung jawab Anda sebagai raja Alaric"
Alvin menoleh ke Agha dan berkata, "Karena kalau nggak, kamu dan Kiana tidak bisa kembali ke dunia manusia selamanya padahal dari hasil penyelidikanku, saat ini Adykasa tengah pusing menyembunyikan cerita yang sebenarnya tentang hilangnya kamu dan Kiana"
"Sial! Aku lupa soal itu" Sahut Agha.
"Makanya, kita jalankan peran Kita masing-masing saat ini agar kamu dan Kiana bisa cepat balik ke dunia manusia" Sahut Alvin.
"Tapi, kamu jangan sembarangan menyentuh Istriku!" Sahut Agha dengan sikap mengancam.
"Iya. Mana mungkin aku merebut Istri temanku sendiri. Lagian aku dan Kiana adalah sahabat dekat. Aku tidak mungkin sembarangan menyentuh Kiana" Sahut Alvin.
"Bagus! Ayo kita jalankan peran Kita masing-masing" Sahut Agha.
"Siap" Sahut Alvin dan Kiana hanya mengulas senyum lebar di wajah cantiknya.
Agha mencium kening Kiana dan berkata, "Jaga diri baik-baik! Jangan sampai terluka!.Kalau ada bahaya lari dan jangan jadi sok pahlawan"
__ADS_1
"Iya, Mas" Sahut Kiana dengan senyum penuh cinta.
"Aku akan jaga Kiana dengan baik" Sahut Alvin.
"Hmm. Makasih, Vin" Sahut Agha sambil
menepuk pundak Alvin.
Agha lalu menuju ke tempat pertemuan dengan para tetua sesuai dengan petunjuk Alvin. Agha melanjutkan tugasnya sebagai raja Alaric.
Sedangkan Alvin dan Kiana menuju ke air terjun secara sembunyi-sembunyi. Mereka berdua membawa bahan tanaman herbal pilihannya Kiana dan tidak lupa membawa alat tusuk jarum mereka.
Putri Sofie duduk di sebelahnya Alaric dan terus melirik Alaric dengan sorot mata penuh cinta . Lalu, Sofie bertanya, "Flu Anda sudah sembuh, raja?"
Agha menyahut tanpa menoleh ke Sofie, "Hmm"
"Berarti nanti setelah pertemuan ini, saya bisa ke kamar Anda untuk mendandani Anda dengan baju pilihan saya?" Sofie menoleh ke Alaric dengan penuh harap dan senyum lebar.
Agha menyahut, "Tidak bisa. Kata Alvin setelah ini aku harus tidur siang karena obat flu yang Alvin berikan bikin ngantuk"
"Oh, begitu" Sofie menghela napas kecewa. Lalu, ia bertanya kembali, "Kalau begitu nanti sore saya akan ke kamar Anda. Saya akan mendandani Anda dengan baju pilihan saya dan saya akan merawat Anda sampai flu Anda benar-benar sembuh"
"Tidak perlu" Agha menyahut dan masih belum mau menoleh ke Sofie.
"Kenapa?" Tanya Sofie mulai kesal.
"Karena sudah ada Kiana dan para.dayang yang lainnya" Sahut Agha dengan acuh tak acuh.
"Kenapa Kiana terus yang Anda sebut dan ........"
"Sssttttt! Para tetua sudah memulai acaranya" Sahut Agha dan Sofie terpaksa diam lalu mengarahkan pandangannya ke depan.
Alvin akhirnya bisa melepas rindu dan bertangis-tangisan dengan pamannya. Lalu, paman dan keponakan itu mengucapkan terima kasih secara bersamaan ke Kiana dan Kiana langsung menyahut, "Takdir yang mempertemukan Alvin dan Anda, bukan saya"
Setelah puas melepaskan rindu, Alvin menyerahkan proses pengobatan pamannya ke Kiana dan Alvin yang kali ini menjadi asistennya Kiana.
Kiana memang cerdas dan cekatan. Batin Alvin.
Setelah selesai melakukan pertemuan dengan para tetua, Agha bergegas menuju ke paviliunnya dan mengabaikan panggilannya Sofie. Dia lalu mengunci kamarnya dan duduk di atas bangku dengan menghela napas panjang. ",Wah, untung aku bisa lolos dari wanita mengerikan itu. Sial! Dia bahkan lebih ceriwis dan lebih agresif jika dibandingkan dengan Kesya dan Rani"
__ADS_1
Sofie menjejakkan kakinya secara bergantian ke lantai dengan wajah cemberut. Lalu, ia menoleh ke pelayan kepercayaannya, "Nanti malam datanglah ke kamar raja dan bilang kalau aku keracunan makanan. Butuh raja untuk menemaniku dan butuh Kiana untuk menyembuhkan aku. Kalau Kiana tidak bisa menyembuhkan aku, maka aku akan jebloskan dia ke penjara dan di dalam penjara aku akan urus orang untuk menghabisi Kiana"
"Baik, Putri" Sahut pelayan kepercayaannya putri Sofie.