
"Tapi, wanita tadi memang sangat cantik selain baik hati dan lembut. Semua pria pasti mengaguminya secara otomotis tanpa diminta dan disuruh" Sahut Awan.
Agha langsung mencekik leher Awan dan menggeram, "Kau mau mati, ya?!"
Awan menarik tangan Agha dari lehernya dan setelah berhasil melakukannya ia bergegas berkata, "Dengarkan aku dulu! Aku belum selesai bicara. Anda, Pangeran ketujuh Jenderal Agha Caraka sangat beruntung memiliki Istri seperti wanita tadi. Anda sangat beruntung, Yang Mulia" Awan tersenyum lebar di depan Agha dan Agha langsung menyeringai bangga lalu berkata, "Iya, aku sangat beruntung"
Sementara itu di dalam anak bangunan istana yang sangat luas dan mewah, Adyaksa tampan melangkah pelan kembali ke kamarnya saat Bayu berbisik kalau Kiana sudah dijemput Agha dan Kiana baik-baik saja. Bayu juga menginformasikan kalau Permaisuri tidak jadi mencelakai Kiana karena Adnan menghalanginya.
Adyaksa membuka pintu kamarnya dan langsung menutupnya kembali saat ia melihat Debi tengah duduk murung di tepi ranjang.
Adyaksa duduk dengan perlahan di samping Debi lalu berkata, "Hei! Maafkan aku. Emm, ada urusan sangat penting dan aku meninggalkan kamu begitu saja. Tidurlah di sini malam ini dan........."
Debi menoleh kaget ke Adyaksa dan sontak berkata, "Saya tidak bisa tidur di sini. Kita bukan suami dan istri. Kita tidak boleh tidur bersama di satu kamar, Yang Mulia"
"Oke, kamu benar. Tapi dengarkan aku dulu. Aku akan tidur di bangku itu dan kamu di ranjang karena kalau kamu tidur di luar, maka semua orang akan bertanya-tanya. Aku meminta kamu tidur di sini malam ini karena aku ingin kita menikah besok pagi"
Debi melihat senyuman dan sorot mata tulus di wajah Adyaksa. Namun, gadis manis itu justru berkata, "Saya tidak bisa menikah dengan Anda karena hati Anda bukan untuk saya"
"Apa yang kau tahu soal hatiku?" Adyaksa langung menautkan kedua alisnya.
"Karena pas Anda mabuk dan menciumi saya, Anda terus memanggil nama Non Kiana. A.......apakah...... An......Anda, mencintai Non Kiana dalam diam selama ini?"
Adyaksa membeliak kaget lalu ia segera mengerjapkan matanya, bangkit berdiri dan berkata dggan sorot mata menurun, "Ya, itu benar"
Debi ikut bangkit berdiri dan berkata, "Bagaimana mungkin saya menikah dengan pria yang di hatinya selalu ada wanita lain"
Adykasa menaikan sorot matanya dan langsung berkata,"Tapi, aku ingin bertanggung jawab dan aku harus bertanggung jawab atas kesalahan besar yang telah aku lakukan pada kamu, Debi" Adyaksa memegang kedua bahu Debi.
"Tapi, saya.........."
"Pikirkan baik-baik dan matang-matang, Kiana tidak mungkin aku miliki karena dia dan Agha saling mencintai. Untuk itulah aku akan belajar membuka hati dan mempersilakan kamu memasuki hatiku, Debi. Kau boleh gantikan Kiana di hatiku. Aku akan belajar mencintaimu. Kita harus dan akan menikah besok untuk menjaga kehormatan dan martabat kamu, Debi. Aku mohon"
"Seharusnya saya yang memohon, Yang Mulia" Sahut Debi dengan genangan air mata di kedua pelupuk matanya. Debi tersentuh akan ketulusan hati pria tampan di depannya.
"Lalu apa keputusan kamu?"
"Saya mau menikah dengan Anda, Yang Mulia. Kita akan belajar saling mengenal, saling membuka hati, dan saling mencintai"
Adyaksa langung menyeringai lebar saking senangnya lalu berkata, "Bolehkah aku memeluk kamu, Debi?"
Debi tersenyum dan menganggukkan kepala lalu Adykasa memeluk Debi dan sambil mengusap lembut rambut Debi ia berkata, "Aku berjanji akan menjadi suami yang bisa membuat kamu bahagia, Debi"
Sementara itu Kiana kembali ke kamar Maharani karena Maharani masih perlu untuk ia periksa sekali lagi. Agni yang masih duduk di tepi ranjangnya Maharani langsung menoleh ke pintu masuk dan tersenyum sambil berkata, "Untunglah Kak Kiana segera ke sini"
"Ada apa?" Tanya Kiana sambil duduk di sebelahnya Agni.
"Dia terus memanggil Kak Kiana dan nekat bangun ingin menyusul Kak Kiana. Aku terpaksa memasukkan obat tidur ke mulutnya. Dia, kan, belum boleh bangun"
Kiana tersenyum lalu berkata, "Terima kasih Agni" Kiana memeriksa nadi dan perban di dada Maharani, "Syukurlah dia sudah aman"
"Iya. Meskipun dia jahat dan menyebalkan, dia tetap harus ditolong" Sahut Agni.
Kiana tersenyum dan sambil menggenggam tangan Agni, Kiana menganggukkan kepala dengan mantap tanda setuju.
__ADS_1
"Eng!" Terdengar erangan lirihnya Maharani.
Agni dan Kiana langsung menoleh ke Maharani secara bersamaan.
Kiana dan Agni langsung bertanya secara bersamaan, "Apa yang kau rasakan?" Saat Maharani membuka mata dan menatap dua cewek cantik itu.
Maharani langsung menggenggam tangan Kiana dan langsung berkata, "Terima kasih, Kiana" Lalu, ia menoleh ke Agni, "Terima kasih, Agni. Kalian berdua sudah menyelamatkan nyawaku"
"Jangan hanya berterima kasih, kau juga harus berubah setelah ini" Sahut Agni dengan wajah kesal. Kiana menoleh ke Agni dan tersenyum.
"Iya, kamu benar Agni. Aku akan berubah setelah ini" Sahut Maharani.
Kiana lalu menoleh ke Maharani dan berkata, "Jangan banyak bicara. Tidurlah! Aku dan Agni juga butuh tidur saat ini"
"Iya, Kak Kiana benar. Semalaman aku dan Kak Kiana, mengobati kamu, merawat, dan menjaga kamu dengan was-was" Sahut Agni.
"Maafkan aku sudah merepotkan kalian dan sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Sebelum kalian pergi tidur, aku mau nanya dulu ke Kiana"
"Ada apa?" Tanya Kiana.
"Apa kamu sudah bertemu dengan Kakakku?"
"Sudah"
"Lalu, bagaimana keadaannya? Apa aku masih punya kesempatan untuk bertemu dengannya?"
"Iya, kamu bisa bertemu dengan Kakak kamu tapi nanti tidak sekarang. Sekarang fokus pada kesembuhan kamu dulu. Aku dan Agni akan tidur dulu. Kamu juga butuh istirahat yang banyak" Kiana lalu mengajak Agni bangkit berdiri.
"Kita bahas itu nanti setelah kamu sembuh" Sahut Agni sambil mengajak Kiana berbalik badan lalu pergi meninggalkan Maharani.
Setelah saling memeluk dengan rasa sayang, Agni kembali ke kamarnya dan Kiana pun kembali ke kamarnya.
Kiana duduk bersila di depan meja dan mulai menulis beberapa tanaman obat yang bisa ia racik dan campur untuk mengobati racun di tubuh Kaisar Abinawa. "Yang Mulia Raja terkena racun yang sangat langka. Racun itu tidak berbau dan tidak berwarna dan bisa membunuh Yang Mulia Raja secara perlahan. Ayah dan semua tabib hebat di istana belum bisa menemukan penawarnya. Apa aku bisa menemukan penawarnya?"
dua jam lebih empat puluh lima menit, setelah mencambuk pria yang bernama Awan sampai puas, Agha mencuci tangannya lalu ia berjalan keluar dari penjara bawah tanah menuju ke kamar pribadinya. Agha berlari kecil karena ia ingin mengobrol dengan Kiana sebentar sebelum ia tidur. Jam sudah menunjukan pukul empat pagi. Rasa lelah Agha lenyap saat pria itu membayangkan dirinya memeluk Kiana di atas ranjang dan mengobrol sebentar dengan istri kecilnya itu.
Agha langsung tersenyum penuh cinta saat ia menemukan Kiana tertidur di atas meja. Meskipun bayangannya mengobrol dengan Kiana tidak bisa menjadi kenyataan, tapi pria itu senang melihat istri kecilnya tertidur lelap. Agha lalu membopong Kiana dengan pelan, merebahkan Kiana di atas tempat tidur dengan perlahan, setelah itu ia memeluk erat tubuh ramping istri kecilnya dengan senyuman penuh cinta.
Sang Surya menghunus tatapan tajam ke dunia manusia pertanda kalau hari sudah hampir siang dan semua penghuni di semua kamar mewah dan besar yang ada di dalam kediaman Caraka, belum melangkahkan kaki keluar untuk menantang tatapan tajam sang Surya.
Agha membuka mata dan langsung tersenyum penuh cinta menatap wajah cantik istri kecilnya. Agha merapikan rambut Kiana, mengusap rambut Kiana, lalu ia menciumi wajah putih bersih itu karena ia tidak sabar menunggu Kiana membuka mata.
Kiana tanpa sadar mendorong wajah suaminya dan Agha sontak menautkan kedua alisnya lalu bergumam, "Wah, dia sekarang sudah berani mendorong wajahku"
Agha kembali menciumi wajah Kiana dengan gemas.
Kiana mengerang, "Eng!" Lalu mendorong wajah Agha kembali dan langsung memunggungi Agha.
Agha merapatkan bibirnya lalu bergumam kesal, "Wah, malah memunggungi aku sekarang? Tzk! Lihat saja apa hukuman yang akan kau dapatkan karena kau sudah berani mendorong wajahku dan memunggungiku seperti ini"
Agha lalu menyusupkan wajahnya ke leher putih Kiana dan mengusapkan bibirnya di sana dengan gemas.
Saat Kiana melenguh, Agha langsung mencium, menyesap, menggigit pelan leher Kiana, lalu Agha menarik wajahnya sebentar untuk melihat tanda kepemilikan yang berhasil ia lukis di leher Kiana.
__ADS_1
"Tzk! Masih belum bangun juga?" Agha kembali menyusupkan wajahnya di leher Kiana dan menyusupkan tangannya ke dalam baju tidurnya Kiana dan memainkan tangannya dengan asyik di titik kenyal favoritnya.
Kiana menepis kasar tangan Agha sambil bergumam, "Aku masih ngantuk! Jangan ganggu aku!"
Agha terkekeh geli lalu berkata, "Aku akan bangunkan kamu karena kamu sudah membangunkan adik kecilku"
Kiana sontak membeliak kaget mendengar suara suaminya dan saat Kiana menoleh ke belakang, Agha langsung memagut bibir Kiana dan tangannya bergerak turun dengan perlahan untuk mengusap perut rata istri kecilnya secara lembut dan perlahan lalu tangan itu meneruskan langkahnya sampai ke lembah kenikmatan.
Agha kemudian naik ke atas tubuh kIana dan melanjutkan aktivitas panasnya sesuai hatinya, namun dengan penuh kelembutan.
Kiana memejamkan mata dan menyerah kalah mengikuti kemauan suaminya.
Saat Kiana memekik puas dengan cukup kencang, Agha langsung menarik diri, memunggungi Kiana lalu melepaskan kepuasannya di luar.
Sementara itu di luar kamar, Bibi Sum yang mendengar erangannya Kiana langung berkata kepada para dayang, "Kembalilah ke kamar kalian dulu! Kita rapikan kamarnya Yang Mulia nanti"
Dan di dalam kamar, Kiana tengah menatap punggung Agha dengan penuh tanda tanya lalau bertanya dengan hati-hati, "Kenapa selalu di luar, Mas"
Agha membalik badan,memeluk Kiana, dan berkata, "Kamu capek, kan? Sini aku pijitin" Agha memeluk Erat Kiana dengan tangan kiri dan tangan kanan memijit titik kenyal favoritnya.
Kiana mendengus kesal dan berkata, "Yang capek itu tangan dan kakiku. Kenapa Mas malah memijat di situ?"
Agha terkekeh geli lalu berkata dengan wajah polos tak berdosa, "Tanganku bergerak sendiri ke sini. Bukan aku yang minta"
Kiana hanya bisa menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Agha mulai menuntut lebih dan Kiana langsung memekik sambil menepis tangan Agha, "Mas! Aku harus bangun! Ini sudah siang. Bibi Sum pasti sudah menunggu sangat lama di depan untuk merapikan kamar ini"
Agha menarik tangan Kiana dan memeluk Kiana kembali sambil berkata, "Bodo amat! Biarkan saja begitu! Kalau capek Bibi Sum akan kembali ke dapur sebentar atau ke kamarnya"
Kiana menepis tangan suaminya lalu mengangkat pelan tangan itu dan dia langsung melompat turun dari atas tempat tidur sambil berkata, "Aku juga ingin menyapa Ibunda, Mas. Aku ingin menemui Ibunda"
Agha akhirnya mengerang kesal dan berkata, "Oke, baiklah! Pergilah! Aku melepaskan kamu saat ini"
Kiana tersenyum penuh cinta ke suaminya lalu ia bergegas berlalu ke kamar mandi karena ia ingin segera menemui ibu mertuanya.
Setelah mandi, Kiana menghampiri suaminya yang masih berada di balik selimut.
Agha menyeringai senang, "Kenapa menemuiku lagi? Mau lanjut ke ronde kedua? Ayo naik ke sini"
Kiana tersenyum geli dan langung berkata, "Nggak, Mas. Aku mau bergegas masak Bakpao kesukaan Ibunda dan menemui Ibunda. Aku ke sini karena ingin mengajak Mas jalan-jalan setelah aku menemui Ibunda. Aku ingin memberitahukan kepada Mas mengenai kesehatan Yang Mulia raja, Kaisar Abinawa.
Agha langsung bangun dan selimut sontak melorot memperlihatkan dada bidang Agha yang seksi dan kekar. Kiana sontak menurunkan pandangannya ke dada itu.
Agha menyeringai senang dan sambil menepuk dadanya ia berkata, "Kau ingin merabanya dulu? Mata kamu hampir jatuh, tuh, melihat dada kekar ini"
"Huuuffttt! Dasar mesum" Kiana langsung mengangkat pandangannya untuk menatap wajah tampan suaminya yang tengah tergelak geli.
"Oke, hahahahaha, aku akan berhenti tertawa dan mengesampingkan soal dada kekar ini. Ada apa dengan Kaisar Abinawa?"
"Ada yang memberikan racun langka ke beliau. Kondisi kesehatan raja tidak baik saat ini dan aku masih berusaha mencari penawar racun itu. Kita akan diskusikan lagi nanti. Aku mau bikin bakpao dan menemui Ibunda dulu"
"Hmm. Pergilah! Aku akan menyusul kamu setelah mandi" Agha tersenyum penuh cinta ke istri kecilnya yang sangat cantik itu.
__ADS_1