
"Aku lihat Kiana sudah mengobati kamu dan luka kamu sudah diperban. Emm, kalau begitu, aku akan transfer tenaga dalamku ke kamu biar kamu cepat fit dan luka kamu cepat sembuh. Besok, kan, kamu harus jadi salah satu saksi inti di pernikahan raja Abimantya dan bIbi Kayla" Ucap Bhadra.
"Terima kasih, Kak. Nah, kalau begini, Kiana! Bikinin teh untuk Kak Bhadra" Teriak Agha dan Kiana sontak berteriak sambil terkekeh geli, "Iya, Mas!"
Bhadra sontak memukul kepala belakangnya Agha sambil berkata, "Uh! Kalau ada maunya aja baik"
Agha tersentak kaget "Aduh! Kiana! Kak Bhadra kamu memu......."
"Nggak jadi ku transfer tenaga dalam, nih"
"Iya, iyaaaaaa!!!!!" Teriak Agha dengan kesal dan Bhadra sontak mengulum bibir menahan geli.
"Apa, Mas?!" Teriak Kiana yang masih menyeduh teh di atas meja khusus untuk meramu dan membuat teh.
Agha langsung berteriak, "Nggak papa, Sayang! Lanjutkan saja bikin tehnya!"
Bhadra kembali mengulum bibir menahan geli lalu ia berkata, "Bersiap, ya, aku akan mulai mentransfer tenaga dalamku. Tapi, sebelumnya aku ingin keluarkan dulu uneg-uneg aku"
"Hadeeeh, uneg-uneg apalagi?" Agha yang sudah duduk bersila di depan Bhadra sontak menoleh ke belakang dengan lirikan kesal.
"Aku sudah bilang kalau jangan biarkan wanita dengan baju aneh itu ikut kamu pulang. Jadinya kayak gini, kan? Siapa namanya? Kok, aku lupa" Ucap Bhadra.
"Aku juga lupa siapa namanya" Sahut Agha.
"Aku sudah merasakan gelagat nggak baik dari wanita yang mirip kayak ular itu. Dia mencintai kamu dan......."
Agha sontak membungkam mulut Bhadra dan berkata, "Jangan berkata sembarangan! Mana mungkin dia mencintai aku dan kalau sampai Kiana dengar gimana?"
__ADS_1
Bhadra menarik tangan Agha dari mulutnya lalu berkata dengan wajah kesal, "Kau bodoh atau apa, hah?! Dia mencintai kamu. Untuk itulah dia ingin mencelakai Kiana agar dia bisa menjadi selir kamu. Dia licik, Agha. Kamu harus berhati-hati!"
"Sial! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang. Kakak benar" Sahut Agha.
"Iya, aku memang selalu benar dan kamu selalu ngeyel" Sahut Bhadra.
"Iya, aku mengaku salah kali ini. Aku sangat menyesal membawa ular beludak pulang dan tanpa aku sadari tindakanku itu hampir mencelakai Kiana dan Agni"
"Kalau sudah sadar besok-besok lagi jangan pernah membawa pulang wanita lain dan......."
"Mana ada besok-besok, cih! Aku nggak bakalan bawa wanita lain pulang, cih"
"Ya sudah kalau kamu sudah sadar. Aku akan transfer tenaga dalamku sekarang juga " Saut Bhadra dengan helaan napas lega.
"Hmm" Sahut Agha.
Setelah menjalani hukuman cambukan sebanyak seratus kali, Aisyah ditandu dalam keadaan telungkup ke kereta kuda. Malam itu juga Aisyah dan Saha dipulangkan ke kerajaan kecil dengan pengawalan ketat pasukan terbaiknya Kerajaan Timur.
Saha dengan telaten mengoleskan salep ke punggung Aisyah sembari bergumam, "Untung saja kamu memiliki ilmu yang cukup tinggi, Aisyah. Kalau ini wanita biasa dan bukan kamu, pasti sudah koma"
Aisyah hanya bisa mengaduh dan belum bisa mengatakan kata lain selain kata, "Aduh, sakit!"
Namun, setelah Saja selesai mengoleskan salep, Aisyah langsung berkata, "Aku akan membalas Kiana"
Saha tersentak kaget dan langsung berkata, "Jangan macam-macam lagi! Hentikan!"
"Jangan ikut campur! Ini urusanku!" Aisyah memekik kencang lalu jatuh pingsan.
__ADS_1
Saha hanya bisa menghela napas panjang dan berharap semoga setelah sadar dari pingsannya, Aisyah juga sadar dari amarah dan kebodohannya.
Sementara itu, setelah mendapatkan transfer tenaga dalam dari Bhadra, Agha jatuh tertidur dan Bhadra membantu Agha merebahkan diri dalam posisi telungkup di atas ranjang. Lalu, Bhadra bangkit berdiri dan berjalan ke depan.
Kiana langsung bangkit berdiri dan berkata, "Ini tehnya, Kak. Aku mau mengoleskan salep ke luka Mas Agha dulu. Salepnya harus dioleskan setiap dua jam sekali"
"Agha kelelahan dan ketiduran setelah aku transfer tenaga dalamku" Ucap Bhadra.
"Terima kasih banyak, Kak" Sahut Kiana.
"Sama-sama. Aku minum tehnya, ya" Sahut Bhadra.
"Silakan, Kak. Aku mengoleskan salep dulu"
"Kiana"
Kiana menghentikan langkahnya, "Ada apa, Kak"
"Wanita itu bukan tipe pemaaf dan dia tidak akan menyerah sampai dia melihat kamu celaka. Dia pandai mengendalikan segala bentuk hewan. Kamu harus berhati-hati"
"Aku tahu itu, Kak. Dia bukan tipe pemaaf dan dia gila. Aku akan berhati-hati. Terima kasih untuk masukannya, Kak"
"Hmm. Kalau butuh bantuan langsung cari Kakak!"
"Siap, Kak. Terima kasih" Kiana tersenyum penuh kasih sayang dan Bhadra membalas senyumannya Kiana dengan penuh kasih sayang juga.
Kiana kemudian melangkah masuk ke dalam lalu duduk di tepi ranjang. Lalu, dengan perlahan dan penuh dengan kelembutan, Kiana membuka perban lalu mengoleskan salep di luka yang ada di punggung Agha sambil sesekali meniup luka itu. Setelah selesai mengoleskan salep, Kiana menutup luka itu dengan perban yang baru.
__ADS_1
Saat Kiana hendak bangkit berdiri untuk membereskan alat-alat medisnya, Kiana mendengar suaminya bergumam sambil tidur, "Kiana, aku mencintaimu. Maafkan aku sudah membawa ular beludak masuk ke rumah kita. Maafkan aku hampir mencelakaimu, hiks, hiks, maafkan aku, Sayang, hiks, hiks, hiks"
Kiana lalu berjongkok di depan wajah suaminya dan setelah mengecup bibir suaminya dan mengusap lembut airmata yang ada di ujung kelopak mata suami tampannya, Kiana mengulum bibir menahan senyum lalu bergumam lirih, "Kamu berhati lembut, Mas. Nggak usah menangis! Istri kecil kamu ini kuat dan tidak bisa ditindas! Mas, tenang saja! Kiana nggak akan kenapa-kenapa"