Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Hati Terasa Panas


__ADS_3

Ibundanya Kiana menemui putrinya. Saat Kiana memeluk erat tubuh rampingnya, ibundanya Kiana langsung berkata sambil mengelus lembut rambut panjang indah putrinya, "Bhadra sudah menjemput Ibunda. Tetapi raja Abimantya masih mengijinkan Ibunda tinggal di sini beberapa waktu sampai Suami kamu pulang dari Padang pasir. Raja Abimantya juga menyuruh Kakak sepupu kamu, Bhadra membawa pasukannya untuk membantu melindungi kamu di sini"


Kiana melepaskan diri dari pelukan ibundanya lalu melangkah mendekati kakak sepupunya untuk berkata, "Kak, perasaan Kiana nggak tenang saat ini. Apakah Kiana boleh minta tolong sama Kakak?"


Bhadra mengusap pucuk kepala Kiana dan berkata, "Boleh. Katakan saja!"


"Apakah Kakak bersedia pergi ke Padang pasir untuk membantu Suami Kiana di sana?"


Bhadra yang masih mengusap lembut pucuk kepalanya Kiana langsung berkata, "Oke, aku akan ke Padang pasir sekarang juga. Tetapi aku akan tinggalkan tangan kanan dan pasukanku di sini untuk melindungi kamu"


"Tapi, kalau Kak Bhadra pergi ke Padang pasir tanpa pasukan apakah tidak berbahaya?"


"Aku punya baju zirah itu sudah cukup. Aku akan pergi sekarang" Kiana langsung memeluk kakak sepupunya dan berkata, "Terima kasih, Kak"


Setelah mencium pucuk kepalanya Kiana dan mencium punggung tangan bibinya, Bhadra melesat pergi ke Padang pasir. Bhadra meninggalkan asisten dan pasukannya di istananya Agha untuk melindungi Kiana.


Kayla menemani Kiana tidur malam itu dan bertanya, "Kamu memeluk apa?"


"Surat dari Mas Agha"


"Kamu sudah balas surat dari Suami kamu?"


Kiana menggeleng dan berkata, "Belum, Ibu. Kiana tidak suka menulis surat. Kiana lebih suka mengobrol secara langsung"


"Tapi, Kiana, Raja Agha akan bertanya-tanya kalau kamu tidak membalas suratnya"


"Biar dia cepat pulang lalu mengobrol dengan Kiana, Ibu. Kalau Kiana balas suratnya dia malah lama di sana nanti, Ibu"


"Baiklah, terserah kamu saja" Sahut Kayla sambil mengelus rambut panjang indah putrinya.


Sementara itu di Padang pasir, setelah berkuda cukup cepat selama empat puluh delapan menit, Bora dan pasukan yang ia pimpin berhasil sampai di perbatasan, maka pertempuran yang cukup sengit pun terjadi. Dan Agha berserta pasukannya dengan ditemani ratu Aisyah, sudah sampai di kerajaan kecil dan langsung berhenti di tempat yang aman untuk mengatur strategi.


"Saya akan masuk dari timur dan Anda bisa langsung masuk dari gerbang depan setelah saya melepaskan asap" Ucap ratu Aisyah.


"Oke" Sahut Agha.


Sambil menunggu tanda asap dari Aisyah, Agha menggunakan waktunya untuk menulis surat, "Kiana, apa kabar Sayangku? Aku saat ini sedang berada di gerbang depan istana Kerajaan kecil. Istananya sangat indah dan pemandangannya pun sangat indah. Banyak hewan lucu di sini. Kalau perang udah usai, aku akan ajak kamu ke sini. Aku dan Bora punya teman baru namanya Aisyah. Dia ratu di kerajaan kecil ini. Aku akan kenalkan kamu sama dia nanti. Kamu pasti menyukai Aisyah karena dia suka bercerita, ramah dan baik" Lalu, Agha mengambil merpati yang dia bawa dan setelah ia tempelkan suratnya di kaki merpati itu, ia menerbangkannya sambil bergumam, "Aku menunggu balasan dari kamu, Kiana"


Tepat di saat merpati itu terbang membumbung ke angkasa, Agha melihat tanda asap dan Agha langsung memimpin pasukannya masuk ke kerajaan kecil lewat gerbang depan.


Raja Nadim yang tidak siap menerima serbuan, langsung melesat ke depan untuk menghadapi Agha.


"Kau Jenderal Agha yang terkenal itu. Aku senang akhirnya bisa berhadapan langsung denganmu" Sahut raja Nadim.


Agha cuma menyeringai lalu menggeram, "Kau yakin bisa menang melawan aku?"


Raja Nadim kemudian berkata, "Wah, rumor itu benar ternyata. Kau sombong. Aku akan jajal kemampuan kamu sekarang juga, brengsek!" Raja Nadim langsung mengarahkan pedangnya ke Agha dan dengan lihai Agha menangkis semua serangan pedang raja Nadim sampai raja Nadim terengah-engah kelelahan.


Raja Nadim mulai panik saat ia melihat semua pasukannya sudah dikalahkan oleh pasukannya Agha.


Sial! Dia hebat banget ternyata dan aku tidak siap dengan serangannya. Semua pasukanku aku tanam di perbatasan dan di perbukitan. Hanya sedikit yang ada di sini dan semuanya udah tumbang. Batin raja Nadim sambil terus menyerang Agha dengan jurus pedang andalannya.


Agha kembali menyeringai lalu melesat dan berhasil mendaratkan tapak tangannya di kening raja Nadim. Raja Nadim terjengkang mundur beberapa meter lalu ia berbalik badan dan terbang melarikan diri.


Aisyah langsung berteriak, "Saya pinjam busur Anda, Jenderal!" Setelah mendapatkan busur Agha, Aisyah terbang mengejar kakak laki-lakinya.


Agha kemudian melesat terbang menyusul Aisyah sambil berteriak ke pasukannya, "Tunggu Bora di sini!"


"Baik, Jenderal" Sahut semua pasukannya Agha.

__ADS_1


Agha menemukan Aisyah sudah berhasil melumpuhkan raja Nadim.


"Wah, kau hebat juga memanah, ya" Sahut Agha.


"Tentu saja! Memanah adalah mainan saya sejak kecil" Dan saat Aisyah ingin menepuk bahu Agha dengan sigap Agha melesat terbang sambil berkata, "Aku akan bawa si brengsek itu ke istana kamu untuk diadili"


Aisyah tersenyum melihat Agha yang benar-benar tidak mau disentuh bahunya.


Setelah sampai di istana kecil, Aisyah langsung disambut para rakyat yang sudah Bora selamatkan dari sekapan raja Nadim. Semuanya bersorak menyambut ratu mereka.


Lalu, Aisyah menggelar pesta syukuran setelah menjebloskan kakak laki-lakinya ke penjara bawah tanah yang sangat ketat. Di sana kakak laki-lakinya Aisyah mendapatkan pengadilan yang bisa membuat semua orang ngilu mendengar ratap tangisannya Nadim. Siksaan kerajaan kecil di Padang pasir untuk para pemberontak lebih kejam daripada siksaan yang biasa Agha lakukan.


Agha kembali menulis surat untuk Kiana, "Aku sudah berhasil membantu ratu Aisyah mendapatkan kembali tahtanya. Pemberontakan kerajaan kecil bisa aku batalkan berkat doa kamu, Sayangku. Tetapi aku masih belum bisa pulang karena masih ada bandit kecil di Padang pasir yang ingin menyerang kerajaan kita. Aku akan pulang setelah menghabisi kelompok bandit kecil Padang pasir ini. Jangan khawatir! Aisyah akan membantuku. Aisyah sangat pandai memanah dan juga bela diri. Aku akan baik-baik saja dan cepat pulang karena aku sudah sangat merindukan kamu"


Ternyata kata segera pulang tidak kunjung bisa Agha penuhi karena ternyata, pasukan bandit di Padang pasir sangat sulit untuk ditaklukkan. Mereka licik dan sangat pintar mengelabui musuh. Agha, Bora, dan Aisyah cukup kewalahan menghadap kelompok bandit Padang pasir itu.


Tanpa terasa dua Minggu sudah berlalu. Agha duduk beristirahat sebentar di pinggir danau kecil buatan dan Aisyah duduk menemani Agha sementara Bora mengamati keadaan sekitar bersama dengan pasukannya.


Agha minum dan Aisyah merebut tempat minumnya Agha sambil berkata, "Aku juga haus. Bagi minuman Anda, Jenderal"


Agha hendak protes karena Aisyah minum di tempat minum yang sama dengannya, tapi karena Aisyah pernah menyelamatkannya sebanyak dua kali, Agha membiarkan Aisyah minum di tempat minum yang sama dengannya.


Aisyah menyerahkan kembali tempat minum ke Agha dan Agha langsung berkata, "Habiskan saja!"


Aisyah tersenyum dan langsung menenggak habis semua minuman yang ada di tempat minumnya Agha.


"Kenapa Anda murung, Jenderal?"


"Aku sangat merindukan Kiana"


"Anda sangat mencintai Istri Anda, ya, Jenderal"


"Saya ingin mengenal Istri Anda Jenderal"


"Aku katakan di suratku kalau aku akan ajak Kiana ke sini setelah perang ini usai. Hufftttt! Aku jadi ingat kalau aku sudah mengiriminya beberapa surat tapi tidak satu pun ia balas"


"Itu tandanya Istri Anda ingin Anda segera pulang"


Dan di saat Agha ingin membuka suara,


tiba-tiba datang dua puluh orang berpakaian serba hitam mengelilingi Agha dan Aisyah. Agha dan Aisyah langsung bangkit berdiri dan melawan kedua puluh orang berpakaian serba hitam itu.


Agha langsung mendorong Aisyah sambil berteriak, "Mereka mengincar kamu, cepat kembali ke istana kamu! Aku yang akan menghadapi mereka"


"Tapi, Anda bakalan sendirian dan ........."


Agha membanting satu orang musuhnya sambil berteriak ke Aisyah, "Aku bisa mengalahkan mereka! Pergilah!"


Aisyah langsung berlari meninggalkan Agha dan Agha berhasil menarik semua orang berpakaian serba hitam yang berusaha mengejar Aisyah.


Setelah bertarung selama setengah jam, Agha baru menyadari kalau lawannya bukan lawan biasa. Agha hampir kewalahan melawan pria berpakaian serba hitam yang mengepungnya. Bora yang juga mendapatkan lawan yang sama berteriak ke Agha, "Jenderal! Bertahanlah! Saya akan segera ke sana!"


"Urus saja urusanmu sendiri, Bora! Lawan kita cukup tangguh ini!" Teriak Agha.


Saat Bora dan Agha hampir menyerah kalah, datang segerombolan elang yang menyerang semua pria berpakaian serba hitam dan semua pria itu berpakaian serba hitam itu berhasil dikalahkan oleh gerombolan elang hutan. Ternyata elang hutan itu adalah elang asuhannya Aisyah. Aisyah kemudian bersiul beberapa kali dan semua elang hutan itu kembali ke tempat mereka.


Agha dan Bora langsung merebahkan diri di atas pasir karena kelelahan. Agha kemudian berkata ke Aisyah yang berjongkok di depannya, "Besok pagi-pagi buta, kita eksekusi rencana kita dan kita tumpas habis para bandit itu"


"Siap, Jenderal!" Sahut Aisyah dengan senyum ceria.

__ADS_1


"Kau hebat juga mengasuh elang hutan. Terima kasih sudah membantuku dan Bora"


"Terima kasih, Ratu" Sahut Bora.


"Sama-sama" Aisyah tersenyum senang mendapat pujian lagi dari Agha.


Saat itulah Aisyah memberanikan diri untuk terus menatap wajah Agha yang tengah memejamkan mata dan Aisyah bergumam di dalam hatinya, andai saja Anda belum menikah, Jenderal, maka saya akan melamar Anda sesuai dengan adat istiadat kerajaan kecil di Padang pasir ini. Sayangnya Anda sudah menikah dan Anda sangat mencintai Istri Anda. Anda juga tidak berniat memiliki selir dan Anda pria yang sangat setia. Sopan dan setia. Beruntung sekali wanita yang bernama Kiana itu. Di mana coba aku bisa menemukan pria yang sopan, gagah, dan setia seperti Anda ini, Jenderal. Saya sepetinya mencintai Anda. Tapi hanya bisa mencintai Anda dalam diam.


Di malam hari, Agha masuk ke kamarnya dan dia langsung mencicipi arak buah yang disajikan di meja kamarnya.


Bora masuk ke kamarnya sendiri dan saking lelahnya Bora langsung jatuh ke alam mimpi. Dia lupa kalau dia ingin mencicipi arak buah bersama dengan Agha.


Agha sangat merindukan Kiana dan saking rindunya tanpa ia sadari ia terus menenggak arak buah khas kerjaan kecil yang sangat enak dan belum pernah ia cicipi sebelumnya. Akhirnya Agha mabuk berat tanpa ia sadari. Agha merebahkan kepalanya yang terasa pening dan sangat berat di atas meja dengan perlahan sambil terus bergumam, "Kiana, kenapa kamu tidak membalas surat dariku? Satu pun tidak kamu balas. Apa kamu masih marah? Aku merindukan kamu, Kiana. Kiana, Kiana, Istri kecilku yang cantik, Kiana"


"Jenderal Agha, saya mau mengembalikan busur panah ini"


Agha berusaha menegakkan kepalanya lalu bertanya saat ia melihat Aisyah berdiri di dekat. Meja, "Kalau kamu menikah apakah kamu juga ingin memiliki anak?"


"Kenapa Anda tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Jawab saja! Jangan nanya balik!" Agha menggoyangkan telunjuk di udara.


"Tentu saja, Jenderal. Semua wanita kalau menikah pasti ingin segera memiliki anak"


"Kalau Suami kamu jarang di rumah dan Suami kamu mempunyai pekerjaan yang sangat berbahaya apakah kamu juga masih ingin memiliki anak?"


"Iya. Seorang Ibu akan menjaga anaknya dengan baik meskipun suaminya jarang di rumah"


"Begitu, ya" Agha memukul-mukul meja dengan telapak tangan.


"Lalu, soal tahta? Kalau ada perebutan tahta, gimana dengan anak kamu?"


"Saya akan melindungi Anak saya dengan segenap jiwa dan raga saya. Kekuatan seorang Ibu jauh lebih besar di saat ia diharuskan melindungi anaknya dari bahaya"


"Begitu, ya?" Agha memijit kepalanya lalu bertanya kembali, "Kamu juga tidak keberatan kalau hamil itu berat dan melahirkan itu sangat sakit?"


"Tidak. Tentu saja tidak. Kalau seorang wanita sudah siap memiliki anak, maka dia juga akan siap untuk hamil dan melahirkan"


"Kiana juga bilang seperti itu. Kiana ingin punya anak. Kiana sangat menginginkan anak. Dia ngambek dan dia tidak membalas suratku" Agha kemudian bangkit berdiri dan tepat di saat Agha hampir ambruk, Aisyah melesat untuk memeluk Agha agar Agha tidak ambruk di lantai.


"Yang Mulia Raja Agha yang terhormat, wah, Anda ternyata bersenang-senang di sini bersama dengan wanita seksi yang sangat cantik. Padahal kau tahu tidak, Kiana mengkhawatirkan kamu, dia tidak bisa tidur siang dan malam bahkan dia mengirimku ke sini untuk membantu kamu, tapi kamu, tzk! Malah bersenang-senang di sini"


Agha yang tengah mabuk dan berada di pelukannya Aisyah, langsung mendorong Aisyah lalu bangkit berdiri dengan sempoyongan untuk mendekati pria yang berani mengolok-olok dirinya, "Siapa kamu?" Agha mendekatkan wajahnya ke wajah Bhadra dan langsung menepuk pipi Bhadra, lalu memeluk erat tubuh Bhadra sambil berteriak, "Ah, Kak Bhadra! Aku senang Kakak datang"


"Yang Mulia Raja Agha? Jadi, beliau adalah raja baru di kerajaan Pusat? Penggantinya Raja Abinawa"


Agha yang menyahut dengan sangat keras, "Iya! Aku raja baru dan ratuku bernama Kiana! Ratuku sangat cantik dan aku sangat mencintainya!!!" Lalu Agha memeluk erat leher kokoh Bhadra dengan kedua lengan saat tubuhnya merosot turun.


Bhadra dengan terpaksa menopang tubuh Agha lalu memeluk Agha sambil menjawab pertanyaan wanita cantik jelita dan seksi yang ada di depannya, "Iya. Pria yang kamu peluk barusan dan sekarang aku peluk ini adalah raja baru di kerajaan Pusat"


"Aku tidak memeluknya. Aku hanya menolongnya saat ia hampir ambruk. Lalu, kamu datang. Hubungan aku dan Jenderal, emm, maksudku, raja Agha, tidak seperti yang kamu duga. Kami hanya bersahabat" Sahut Aisyah sambil melambaikan tangannya.


"Aku akan tanya sendiri ke Agha kalau dia sadar nanti. Ini kemahnya Agha, kan? Kenapa kamu datang ke sini?"


"Aku mau mengembalikan busur panah yang raja Agha pinjamkan ke aku. Kalau begitu aku permisi keluar" Aisyah langsung meletakkan. Busur panah di atas meja lalu ia berlari keluar dari dalam tendanya Agha.


Aisyah menoleh ke belakang dan sambil terus berjalan ia bergumam, "Ternyata beliau adalah raja Agha. Padahal aku dan beliau selalu bercanda tanpa batasan selama beberapa hari ini. Apakah aku sudah keterlaluan? Aku akan minta maaf sama beliau esok hari"


Sementara itu di istana pusat, Kiana tengah merengut. Dia memandangi semua surat dari suaminya sambil bergumam, "Ada wanita cantik di samping Mas Agha saat ini dan Mas Agha sepertinya menyukai wanita itu. Mas Agha juga menganggap wanita itu sahabatnya. Kenapa hatiku terasa panas saat membaca Mas Agha memuji wanita itu. Katanya rindu tapi muji-muji wanita lain terus. Benarkah kamu merindukan aku, Mas?"

__ADS_1


__ADS_2