
Keesokan harinya Agha membuka mata saat ia merasakan tiupan hangat di punggungnya. Agha langsung berkata, "Sayang, Kiana, apa itu kamu, Sayang?"
"Iya, Mas ini aku. Maaf membangunkanmu, Mas. Tapi, lukanya Mas harus aku lihat dan aku medikasi" Sahut Kiana.
Agha langsung menurunkan tangannya ke paha Kiana. Karena dia tidak betah hanya berdiam diri saja, maka ia mulai menaikkan roknya Kiana lalu ia mengusap lembut paha putih dan mulus istri kecilnya.
Kiana yang masih fokus mengobati luka di punggung suami tampannya, langsung berkata, "Mas, jangan usil dulu! Kalau salah oles bisa bahaya, lho"
Agha menghentikan usapan telapak tangannya di paha Kiana sambil berkata, "Lha, aku bosan nggak ngapa-ngapain, Sayang" Dan Agha melanjutkan Kemabli usapan tangannya di paha Kiana.
Saat tangan Agah semakin naik, Agha bangun dan berbalik badan sampai Kiana memekik kaget, "Astaga, Mas! Kenapa bangun dadakan?"
Agha menyeringai usil dan Kiana langsung berkata, "Aku perban dulu luka kamu, Mas" Kiana memeluk Suaminya untuk memasang perban di punggung suaminya.
Agha mencium kulit lehernya Kiana, menyusurkan bibirnya di sana, lalu mengigit cuping telinga kIana.
Kiana berkali-kali menghela napas panjang karena gagal memasangkan perban dan Kiana berkali-kali berkata, "Mas, hentikan dulu! Ah! Mas! Jangan menciumi leherku dan ah! Mas! Jangan di situ ciumnya ....aaaahhhh!" Kiana menghentikan gerakan tangannya.
Agha terkejut geli di atas kuping Kiana lalu ia berkata, "Oke, aku akan berhenti sebentar sampai kamu berhasil memasang perbannya"
Beberapa detik kemudian, Kiana menghela napas panjang dan berkata, "Akhirnya........"
Dan Agha kembali menyusupkan wajahnya di leher kIana sambil berbsisik, "Kau bukan hanya membangunkan aku, Sayang. Tapi, kau juga sudah membangunkan Agha junior"
Kiana melepaskan pelukannya saat ia sudah berhasil memasang perban di punggung Agha dan Kiana langsung menatap suami tampannya untuk bertanya, "Agha Junior? Kita, kan, belum........"
Agha langsung melihat ke bawah lalu menatap Kiana kembali dengan senyuman penuh arti.
Kiana langsung menahan dada suaminya, "Mas, Mas masih luka dan belum sembuh benar. Lebih hentikan. Aku akan lap tubuh Mas lalu mandi dan.....Kyaaaaaa!!!!"
Kiana berteriak kaget saat Agha menariknya sampai dia terduduk di atas pangkuannya Agha.
__ADS_1
Agha mengusap lembut pipi Kiana dan berkata, "Maafkan aku, ya, aku sudah bertindak bodoh membawa ular Beludak ke rumah kita"
"Ular Beludak?" Kiana sontak menautkan kedua alisnya.
"Iya, si, emm, aku lupa namanya" Sahut Agha sambil mengusap lembut bibir istri kecilnya yang ranum bak buah strawberry.
"Aisyah, maksud, Mas?" Tanya Kiana.
"Hmm. Aku ceroboh dan hampir membuatmu dan Agni celaka. Mulai detik ini aku tidak mau lagi bersahabat dengan wanita. No! Bog No" Agha masih memainkan jarinya di bibir ranum istri kecilnya dan pandangannya masih terus mengarah ke bibir ranum itu.
Kiana tersenyum dan berkata, "Aku memaafkan kamu, Mas. Mas, kan, tidak tahu kalau dia ternyata jahat"
Cup, cup! Agha mendaratkan dua kecupan di bibir Kiana.
Kiana tersentak kaget dan berkata, "Mas, tahan dulu, ya, aku akan lap tubuh, Mas lalu memakaikan wangi-wangian dan membantu Mas bersiap, sebentar lagi acara pernikahan raja Abimantya dan Ibunda akan dimulai"
"Ciuman sebentar saja, ya, Sayang"
Cup,cup! Agha kembali mengecup bibir ranum istrinya dan saat istrinya mengangguk pelan, Agha langsung memagut bibir istrinya dengan penuh gairah dan cinta..
Setelah selesai mendandani suaminya, Kiana mencium kedua pipi Agha dan berkata, "Suamiku tampan sekali"
Agha tersenyum lebar lalu ia mengecup bibir istrinya. Dia hanya mengecup dan tidak berani memagut karena jika memagut, ia takut tidak bisa menahan diri dan urusannya akan menjadi sangat panjang.
Agha membiarkan Kiana berlari kecil masuk ke kamar mandi.
Pintu diketuk dan terdengar suaranya Bora dan Agni.
Agha berjalan ke pintu dan saat ia membuka pintu ia langsung diberondong pertanyaan yang meluncur lepas dari mulutnya Bora dan Agni yang menanyakan kondisinya.
Agha kemudian melangkah santai ke bangku lalu duduk di bangku dengan meringis, "Sial! Luka ini benar-benar mengerti kebutuhanku, kalau dipakai berciuman dengan Kiana sama sekali tidak terasa sakit tapi kalau dipakai duduk kenapa sakit?"
__ADS_1
Bora sontak menoleh ke Agni sambil mengelus tengkuknya dan Agni langsung berucap, "Kak Agha sudah sembuh berarti. Dia sudah kumat gilanya. Kenapa kamu malah bengong?" Agni menepuk bahu Bora.
Bora kemudian meringis dan berbisik ke Agni, "Aku juga sakit dan butuh ciuman"
Agni langsung menepuk bahu Bora dan Bora langsung terkekeh geli.
"Hei! Jangan bisik-bisik di depanku kalian! Mau apa mencariku selain menanyakan kondisiku?" Teriak Agha dengan wajah kesal.
"Ada masalah di kerajaan Pusat, Kak. Ada wabah penyakit misterius yang menimpa rakyat. Mereka membutuhkan tabib handal padahal Kak Kiana dan tabib Danur ada di sini sedangkan Kakeknya Kak Kiana tidak mau turun gunung dan Bibi Kayla sedang menikah saat ini"
Agha sontak bangkit berdiri dan bertanya, "Sejak kapan wabah itu terjadi?"
"Sejak dini hari tadi. Anak buah saya yang melapor ke sini dan saat ini, wabah tersebut belum sampai di istana. Baru menimpa rakyat yang tinggal di pinggir kota. Tapi, emm........."
"Tapi, apa Bora?" Tanya Kiana yang sudah muncul dengan baju seragam untuk iringan pengantin inti.
Agha masih sempat mengagumi kecantikan istrinya. Agni juga langsung memekik, "Wah! Kak Kiana cantik banget!"
"Terima kasih Agni dan Mas tutup mulut Mas jangan ternganga terus! Dan Bora ada apa?" Ucap Kiana.
Agha langsung menutup mulutnya yang ternganga kemudian mengerucutkan bibirnya selancip mungkin dan Agni sontak terkekeh geli melihat tingkah konyol kakak sepupunya lalu Bora berkata, "Istri Yang Mulia Penasihat Agung, Pangeran Adyaksa, Nyonya Besar Penasihat Agung terkena wabah padahal dia sedang hamil"
"Apa?!" Kiana tersentak kaget dan kembali bertanya dengan wajah panik, "Lalu, kondisinya Debi bagaimana?"
Agha langung memeluk istri kecilnya dan berkata, "Sayang, jangan panik! Setelah acara pernikahan selesai, kita langsung balik ke Kerjaan Pusat"
Bora langsung menyahut, "Nyonya Debi masih terkontrol kondisinya. Namun, Pangeran Adyaksa mengharap Anda segera pulang"
"Kalau begitu, ayo kita segera pergi ke acara pernikahan dan mengatakan semuanya kepada Raja untuk pamit setelah ritual pernikahan selesai dan kita tidak ikut acara resepsi"
"Hmm" Sahut Agha.
__ADS_1
Bora dan Agni langsung menyusul langkah lebarnya Agha dan Kiana.
Sementara itu, Adyaksa tengah kebingungan. Dia sibuk mengurus istri dan calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan istirnya selain itu ia juga sibuk mengurus rakyat. Kalau wabah tidak bisa dihentikan, maka rakyat akan mengira Raja Agha dan Istrinya pembawa sial karena lalu rakyat akan meminta raja Agha dan istrinya turun tahta. Adyaksa sangat stres saat ini.