
Sementara itu, Agni dan Bora tengah berbunga-bunga karena besok pagi mereka akan menikah. Kedua mempelai itu tengah merindu berat karena mereka harus dipingit dan tidak boleh bertemu selama satu Minggu. Benar-benar suatu penderitaan bagi Agni yang terbaik hidup bebas dan berkeliaran ke sana kemari.
Kita beralih sebentar ke kerajaan kecil di padang pasir. Setelah melakukan pengejaran selama dua bulan, akhirnya Langit bisa berdiri tegak berhadapan dengan Aisyah.
Aisyah berdiri mematung di depan Langit karena dia sudah terdesak dan tidak bisa melarikan diri lagi.
Langit memandangi wajah cantik Aisyah lalu menurunkan tatapannya secara perlahan hingga sampai ke ujung kaki Aisyah lalu kembali lagi menatap wajah cantiknya Aisyah. Setelah menghela napas panjang, Langit akhirnya membuka mulut, "Apa benar kamu itu Melati-ku? Kenapa kamu sangat jauh berbeda dengan Melati yang dulu dan kenapa kamu terus melarikan diri dariku?"
"Iya, aku ini Melati kecil kamu. Aku punya kalung pertunangan masa kecil kita dan aku punya tanda lahir di dada atas sebelah kiri, nih, lihat lah!" Melati menyibak sedikit kerah bajunya untuk memperlihatkan tanda lahir di dada atas sebelah kiri lalu menutupnya lagi dengan cepat setelah Langit melihat tanda lahir itu.
Langit melangkah mundur karena kaget saat ia melihat tanda lahir itu dan pria tampan berwajah lembut itu langsung bergumam, "Dia memang Melati"
"Aku tidak berbohong. Aku memang Melati" Sahut Aisyah dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi.
"Tapi, kenapa kamu melarikan diri dariku dan kenapa kamu jadi wanita yang sangat jahat? Ke mana Melati yang ceria, lembut, baik hati, dan pemaaf?" Langit menatap wajah cantik Aisyah dengan wajah sedih bercampur kecewa dan sorot matanya tampak sendu.
"Melati yang itu sudah mati sejak keluarganya dibantai habis oleh Ayah kamu dan Ayah kamu lah yang membuangku ke Padang pasir. Untungnya Pamanku menemukan aku dan Pamanku lah yang selama ini membesarkan dan mendidik aku hingga aku bisa menjadi seorang ratu dan hidup mandiri seperti ini"
"Nggak mungkin. Ayahku nggak mungkin......"
"Ayahmu adalah Jenderal yang kejam dan dia sudah menghabisi keluargaku. Dia juga mengirimku ke Padang pasir. Aku tidak diculik tapi dibuang oleh Ayah kamu. Mana mungkin aku mau menikah denganmu. Pikirkan itu! Lagipula aku tidak mencintaimu! Aku mencintai Agha. Kau dengar itu, hah?!"
"Nggak! itu nggak mungkin" Langit terus menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba Aisyah yang sudah terdesak, putus asa, mengalami kekecewaan terus menerus dan dia tidak mau menikah dengan Langit, menggorok lehernya sendiri dengan pedang yang dia pegang.
Langit sontak berlari untuk memeluk Aisyah sambil berteriak kencang, "Tidak!!!!!! Melati!!!!!"
Melihat ratunya bunuh diri, Saha pun ikutan bunuh diri.
Langit hanya bisa memeluk Melati kecilnya sambil menengadahkan kepalanya ke atas dan menangis sesenggukan.
Dan di kerajaan Pusat ..........
Agha menunggu di depan kamar saat tabib Danur masuk untuk memeriksa Kiana.
"Kenapa Ayah tiba-tiba ingin memeriksa Kiana. Apa kandungan Kiana ada masalah, Ayah? Apa wajah atau tubuh Kiana ada perubahan?"
__ADS_1
"Nggak, Kok, kamu tampak sangat sehat dan wajah kamu segar bugar. Ayah cuma melalukan pemeriksaan rutin saja mumpung Ayah longgar"
Padahal, ya, nggak longgar juga. Divisi medis kosong saat ini dan membutuhkan Ayah. Tapi, hobi Suami kamu ridak bisa diredam lagi, Kiana. Batin Tabib Danur sambil mengulum bibir menahan geli.
"Ayah kenapa tersenyum begitu? Ada yang lucu?"
"Ehem!" Tabib Danur langsung berdeham lalu berkata, "Nggak ada yang lucu. Ayah cuma pengen senam mulut saja" Tabib Danur kemudian menggerakkan mulutnya ke Kana ke kiri dan monyong ke depan sambil memeriksa kondisinya Kiana.
Kiana menatap ayahnya dengan wajah penuh tanda tanya, Kenapa Ayah aneh banget?
"Sudah aman. Sudah boleh melakukan itu" Sahut Tabib Danur sambil bangkit berdiri.
"Melakukan itu?" Kiana sontak bertanya dengan mengerutkan alis.
"Oh, itu, maksud Ayah, kamu boleh melakukan itu, emm, membaca buku agak larut malam atau melakukan olahraga ringan di pagi hari, hehehe. Udah Ayah kembali lagi ke divisi medis" Tabib Danur bergegas meninggalkan Kiana dan tampak berlari kecil menuju ke pintu masuk.
Kiana menatap punggung ayahnya sambil bergumam, "Ayah, kok, aneh banget hari ini?"
Agha yang sedari tadi bersandar di pinggir tembok langsung muncul di depan tabib Danur, "Gimana, Ayah, emm, maksud saya, Tabib? Sudah boleh, kan, melakukan itu?"
Agha langung memeluk ayah mertuanya sambil memekik kegirangan, "Wah! Terima kasih banyak, Ayah"
Pas udah dapat yang ia mau aja, manggil aku Ayah. Batin Tabib Danur dengan senyum geli.
Saat Agha melepaskan pelukannya, tabib Danur langsung memasang wajah serius dan berkata, "Kalau begitu, saya kembali lagi ke divisi medis, Yang Mulia"
"Baik, Ayah. Besok Agha akan utus orang mengirim hadiah ke rumah Ayah"
"Terima kasih, Yang ......" Tabib Danur sontak tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala saat ia melihat Agha sudah masuk ke dalam kamar.
"Hmm. Kok, sama kayak aku dulu pas. Nggak sabaran banget pengen menyatukan raga dengan Kayla, pas Kayla hamil" Tabib Danur kemudian menghela napas panjang dan melangkah kembali ke divisi medis.
Melihat Kiana masih membaca buku dan mencatat sesuatu di lembaran-lembaran kertas kecil, Agha langsung mendekati Kiana dan membopong Kiana.
"Kyaaa!!!! Mas mau bawa aku ke mana?"
"Kau akan lihat nanti" Agha tersenyum lebar penuh arti.
__ADS_1
Agha merebahkan Kiana dengan pelan di atas kasur lalu ia bergegas merangkak naik ke ranjang dan tidur miring dengan menyandarkan kepala di telapak tangan.
Kiana menatap suaminya yang terus melihatnya dengan senyum lebar. "Kenapa, Mas membopongku ke sini?"
"Kamu harus beristirahat" Agha masih mengulas senyum lebar dan memandangi wajah Kiana dengan sorot mata penuh kerinduan.
"Kenapa, Mas, terus tersenyum seperti itu dan menatapku seperti itu?"
"Karena kamu cantik" Agha memperlebar senyumannya.
Kiana menghela napas panjang lalu bangun.
Dengan sigap Agha mencekal kedua bahu Kiana, lalu pria tampan dan gagah itu merebahkan kepala Kiana kembali di atas bantal dengan hati-hati sambil berkata, "Baring dan Istirahatlah! Patuh lah! Kau harus memejamkan mata sekarang juga dan tidur!"
"Kenapa aku harus memejamkan mata sekarang juga, Mas? Dan kenapa aku harus tidur? Ini masih jam delapan malam dan aku belum ingin tidur" Kiana menautkan kedua alisnya dan menatap suaminya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Karena kamu lelah, Sayang. Kamu harus pejamkan mata sekarang juga dan tidur" Agha yang masih tidur miring dengan tangan menyangga kepalanya kembali mengulas senyum lebar di wajah tampannya.
Kiana menghela napas panjang lalu berkata, "Aku sama sekali tidak ingin tidur dan tidak lelah, Mas"
Agha langsung melompat di atas tubuh Kiana dengan kedua lutut berada di samping kanan dan kiri tubuhnya Kiana.
Kiana yang masih tdiru terlentang menatap heran suaminya dan bertanya, "Mas, mau apa?"
Agha melempar baju tidurnya ke sembarang arah sambil berkata dengan seringai jahil, "Karena kamu belum lelah dan belum mengantuk, maka aku akan mengajakmu bermain permainan yang sangat mengasyikan, Istri kecilku yang sangat cantik"
Agha lalu menyibak rok dan meraba paha mulusnya Kiana.
Kiana tersentak kaget dan refleks menahan tangan suaminya yang terus merangkak naik, "Tunggu, Mas! Si Entun gimana?"
Agha menaikkan tangannya ke atas dan menyusupkan wajahnya ke leher Kiana, lalu berbisik di sana, "Kata Ayah Danur sudah boleh. Tapi, aku akan tetap berhati-hati. Jenderal Agha siap memuaskan Ratunya"
Meskipun mendengar kalau ayahnya sudah memperbolehkan Agha menyatukan raga, tetap saja Kiana tegang. Dia mengkhawatirkan kandungannya.
Agha berbisik di telinga kIana, "Rileks, Ratuku. Jenderal Agha akan berhati-hati dan memuaskan Ratu dengan penuh kelembutan"
Akhirnya Kiana menyerah kalah. Maka te dengarlah suara kecupan yang berubah menjadi lenguhan, dan berakhir menjadi pekik panjang. Malam pun akhirnya menjadi malam yang sangat panjang bagi Kiana.
__ADS_1