Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Kalung


__ADS_3

Setelah berhasil mengantarkan ratunya sampai ke dalam istana dengan selamat tidak kurang suatu apa, Bora langsung melesat ke kerajaan Pusat bersama ratusan anak buah pilihannya yang dididik khusus oleh Agha.


Sedangkan Kiana langsung berlari ke kamarnya Debi.


Adyaksa yang tengah memeluk istrinya langsung bangkit berdiri menyambut Kiana.


"Bagaimana kondisi Debi?" Tanya Kiana sambil duduk di tepi ranjang dan mulai memeriksa denyut nadi di pergelangan bagian dalam.


Adyaksa yang berdiri di depan Kiana langung menjawab, "Debi masih kesulitan bernapas, tidurnya tidak nyenyak. Demamnya juga masih naik turun. Namun, kata tabib janin di perut Debi masih sehat dan denyut nadi bayiku masih normal"


"Sebelumnya Debi ke mana?" Tanya Kiana sambil membuka buku kecil andalannya. Buku itu adalah catatan pribadinya Kiana.


"Debi pergi ke pinggiran kota untuk membeli manisan di sana. Biasa orang ngidam" Sahut Adyaksa.


"Aku akan mulai memeriksa Debi lebih dalam lagi" Sahut Kiana sambil mengeluarkan semua peralatan medis andalannya.


Adyaksa langsung berkata, "Baiklah. Aku akan tinggalkan kalian berdua. Aku akan menemui tabib Danur"


"Hmm" Sahut Kiana.


Agha dan Bhadra akhirnya sampai di perbatasan kerajaan Utara dan ternyata Abinawa berhasil menghentikan peperangan. Abinawa meminta duduk bersama raja kerajaan Utara untuk mengetahui duduk permasalahannya kenapa Kerajaan Utara tiba-tiba melakukan pemberontakan.


Agha, Bhadra, dan Arya sontak mengikuti langkah Abinawa. Mereka duduk berhadapan dengan raja Kerajaan Utara yang bernama Langit.


"Katakan apa yang Anda minta, kami kerajaan Pusat akan berusaha memenuhinya karena kami tidak menyukai peperangan. Kami cinta damai" Ucap Abinawa untuk membuka diskusi mereka.


Langit menyeringai dan menghujamkan tatapan tajamnya ke Agha.


Agha yang tidak terbiasa berbasa-basi sontak menyemburkan, "Kenapa kamu menatapku seperti itu, hah?!"

__ADS_1


Abinawa langsung menepuk pundak Agah dan bergumam, "Jaga sikap kamu! Kita membawa damai di sini"


"Maaf, Ayahanda. Habisnya dia menyeringai dan melotot ke aku. Nggak enak banget dilihat, cih!" Sahut Agha.


Bhadra dan Arya hanya diam membisu tapi sikap mereka berdua penuh kewaspadaan.


Langit kemudian berkata, "Saya mengurus Jenderal saya untuk menyerang Pusat kemarin karena saya, ingin mengambil yang seharusnya menjadi milik saya dan Raja Agha merebutnya dengan tidak hormat"


"Hei! Aku merebut apa, hah?! Yang jelas kalau ngomong!" Agha sontak bangkit berdiri dan menggebrak meja.


Abinawa menarik pelan tangan Agha dan saat Agha kembali duduk, Abinawa berkata, "Ayah mohon kamu yang tenang"


Agha diam seribu bahasa dan mendengus kesal.


"Ada seseorang yang dengan baik hati memberitahu kepada saya kalau kalung dari calon Istri saya ada di kereta kuda Anda dan mata-mata saya benar-benar menemukan kalung calon Istri saya ada di kereta kuda Anda, Raja Agha yang terhormat" Langit kembali menghujamkan tatapan tajam ke Agha.


Agha sontak bangkit berdiri, "Sial! Kau berani menggeledah kereta kudaku tanpa ijin, hah?! Wah!!!! Percuma kita diskusi, ayo kita duel saat ini juga, cih!" Agha mendelik kesal ke Langit.


"Saat saya masih kecil, saya memiliki teman. Dia seorang gadis yang sangat cantik dan kami dijodohkan sejak kecil. Kami memiliki kalung perjodohan. Lalu, terjadi bencana. Tunangan saya diculik dan dibawa lari. Saya terus mencarinya sampai sekarang dan akhirnya saya menemukan tunangan saya itu berkat seseorang yang memberitahukannya kepada saya" Langit kemudian menunjukan sebuah kalung berpasangan dan berkata, "Ini kalung perjodohan kami dan kalung ini saya temukan ada di kereta kudanya raja Agha"


"Siapa yang kamu maksud tunangan masa kecil kamu, hah?! Kalung apa ini?! Aku tidak pernah melihatnya" Agha berteriak penuh amarah karena dia mulai was-was kalau-kalau tunangan masa kecil yang Langit maksud adalah Kiana.


Langit langsung menjawab, "Anda jangan berpura-pura bodoh. Saya yakin saat ini Anda sudah tahu siapa yang saya maksud. Kiana. Istri Anda, Raja Agha, Istri Anda adalah tunangan masa kecil saya dan saya ingin merebutnya karena sesungguhnya Kiana adalah milik saya. Bahkan Kiana masih menyimpan kalung pertunangan masa kecil kami"


Dhuaarrrrrr!!!!!!!


Bhadra, Agha, Abinawa, dan Arya sontak menarik kedua alis mereka ke atas dan mulut mereka ternganga lebar.


Bhadra langsung berkata, "Maafkan saya, Raja Langit. Kiana adalah adik sepupu saya. Kiana tumbuh besar bersama saya dan Kiana tidak pernah diculik. Saya melihat saat ia lahir dan dia selalu berada di.........."

__ADS_1


"Kau yakin?" Tanya Langit.


Agha sontak bangkit berdiri dan berteriak, "Tentu saja Kak Bhadra yakin. Dia kakak sepupunya Kiana dan ......."


"Diam kau! Aku ingin bicara dengan Bhadra bukan kamu!" Sahut Langit tanpa menatap Agha.


Agha ingin melesat ke Langit dan memukul Langit tapi Abinawa dengan sigap menahan lengan Agha. Agha terpaksa menahan diri untuk tidak memukul Langit demi menghormati ayahandanya.


Bhadra mengerutkan keningnya dan bertanya balik, "Kenapa Anda bertanya seperti itu, Raja Langit?"


"Karena dari penyelidikanku, Kiana pernah hilang. Benar, kan?" Langit menghujamkan tatapan tajam ke Bhadra.


"Sial! Itu benar. Apa Kiana tertukar dan Kiana yang sekarang ini........nggak mungkin.....itu nggak mungkin" Gumam Bhadra.


"Hanya satu cara memastikannya" Sahut Langit.


"Apa itu?!" Teriak Agha.


"Aku tidak akan mengatakannya kepada kalian karena hanya aku dan tunangan masa kecilku yang tahu rahasia kami berdua. Aku ingin menemui Kiana berdua saja dan memastikannya berdua saja dengan Kiana. Tapi karena aku yakin Raja Agha tidak akan mengijinkannya, maka aku nekat menyerang kerajaan Pusat untuk menekan kerajaan Pusat agar menyerahkan Kiana" Langit berkata dengan wajah serius.


Agha sontak meradang dan sambil mengepalkan kedua tinjunya Agha berteriak, "Kamu belum yakin kalau Kiana adalah tunangan masa kecil kamu, kan?"


"Yakin, aku yakin seratus persen lebih kalau Kiana adalah tunangan masa kecilku karena Kiana memiliki kalung ini" Sahut raja Langit.


"Dasar brengsek! Kamu hanya dibutakan oleh kalung itu yang.....sial! Kiana tidak pernah punya kalung seperti itu! Kau dengar itu?! Kiana tidak pernah punya kalung seperti itu! Kenapa kalung itu bisa ada di kereta kudaku, hah?!" Agha berteriak kencang dengan mata memerah. Agha marah besar saat ini dan tidak ada yang berani menahan Agha saat ini.


Langit langsung bangkit berdiri dan berteriak, "Buktinya kalung ini ada di kereta kuda kamu. Kalau bukan milik Istri kamu, lalu ini milik siapa, hah?! Dasar bodoh!"


"Kau!" Agha hendak memukul wajah Langit dan Abinawa dengan sigap menarik kepalan tangan Agha sambil berkata, "Jangan saling teriak! Kita tunggu Kiana ke sini. Aku akan utus seseorang untuk......."

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak akan ijinkan Kiana dibawa ke sini! Tidak akan pernah!" Agha menggeram ke Langit.


Langit pun menggeram, "Maka kita lanjutkan peperangan kita!"


__ADS_2