
Bora masuk ke dalam kamarnya Agha dan langsung menautkan kedua alisnya, "Yang Mulia? Anda belum mandi?"
Agha yang masih polos dan duduk tegak di tengah ranjang dengan lilitan selimut di bagian pinggang tersentak kaget dan langsung bertanya, "Ada apa kau kemari? Ada masalah penting?"
"Emm, ini memang hari libur dan kita tidak perlu pergi ke kantor penyidik. Tapi, kita harus pergi ke bagian forensik untuk memeriksa jasad baru yang ditemukan di depan gerbang kota"
"Sial! Kenapa harus ada jasad baru di saat aku ingin berkencan dengan Istri kecilku hari ini. Oke, aku akan mandi dan sampaikan ke Kiana kalau aku tidak bisa menyusul dia di kamarnya Ibunda"
"Biar aku yang ke sana" Sahut Agni sambil melangkah santai mendekati Bora yang masih berdiri di depan ranjangnya Agha.
Bora tersentak kaget dan langsung mendorong Agni keluar dari dalam kamarnya Agha sambil berkata, "Kenapa kau masuk ke kamar pria begitu saja"
Agha melangkah turun dari atas ranjang dan menatap kelakuan Bora sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya.
"Emangnya kenapa?" Agni menoleh ke belakang dan terpaksa terus melangkah ke depan karena Bora terus mendorongnya.
"Yang Mulia Agha belum pakai baju dan........"Bora menghentikan ucapannya sejenak untuk menutup pintu kamarnya Agha Caraka lalu saat ia ingin kembali mengeluarkan suara, Agni menepuk keras bahunya, "Kau gila atau kesurupan, hah?! Marah-marah dan main larang-larang nggak jelas"
"Nggak jelas apa?! Tentu saja aku akan larang pacarku masuk ke kamar pria lain dan melihat pria lain bertelanjang dada"
Agni melotot kesal, "Kau memang gila! Pria di kamar itu kakak laki-lakiku. Nggak papa, kan, kalau aku masuk ke kamar kakak laki-lakiku dan melihatnya bertelanjang dada"
Bora sontak mematung dan bergumam lirih, "Iya, sih. Kamu benar. Tapi aku tetap nggak rela kalau kamu menatap dada pria lain meskipun itu kakak laki-laki kamu"
Cup! Agni langsung berjinjit dan mengecup bibir Bora.
Bora tersentak kaget dan langsung menutup bibirnya dengan tangan kanan sambil bertanya, "Kenapa kau cium aku? Kalau ada yang lihat gimana?"
"Itu hadiah buat kamu karena kamu manis banget saat ini" Agni lalu berbalik badan dan dengan rona malu di wajah serta senyum bahagia penuh cinta ia kemudian berlari kecil menuju ke kamar ibundanya. Sedangkan Bora berdiri mematung, mengusap bibir, lalu senyum-senyum sendiri.
Bibi Sum masuk ke kamar junjungannya dengan senyum lebar.
Ibundanya Agha yang tengah menyisir rambut langsung menoleh ke pintu masuk dan bertanya, "Bi, kenapa senyum-senyum seperti itu? Apa Agha dan Kiana sudah bangun?"
Bibi Sum membantu junjungannya memasang tusuk konde sambil berkata, "Yang Mulia dan Nyonya muda masih asyik bermain-main di dalam, Nyonya"
"Maksudnya?" Ibundanya Agha menatap bibi Sum dari cermin yang ada di depannya.
"Anda sebentar lagi pasti akan menimang seroang cucu" Sahut Bibi Sum dengan senyum lebar.
"Ah, benarkah? Aku ingin punya cucu perempuan yang cantik seperti aku" Sahut ibundanya Agha dengan senyum bahagia dan bibi Sum langsung menyahut, "Iya, Nyonya. Doa Anda pasti terkabul karena Nyonya adalah orang baik"
"Ah, benarkah. Aku tidak sabar ingin segera menimang cucuku dan........."
Tok, tok,tok, Kiana mengetuk pintu kamar pribadi mertuanya dan membawa satu nampan berisi satu piring bakpao kesukaan mertuanya.
__ADS_1
"Masuk!" Sahut Ibundanya Kiana sambil bangkit berdiri lalu melangkah ke ruang tengah sementara Bibi Sum melangkah lebar ke pintu untuk membukakan pintu.
"Ah, Nyonya muda. Mari masuk"
"Apa Nyonya besar sudah bangun, Bi?* Tanya Kiana sebelum melangkah masuk.
"Sudah, Kiana. Masuklah!" Sahut Ibundanya Agha.
Bibi Sum langsung membuka lebar pintu kamar pibadinya Ibundanya Agha dan mempersilakan Kiana masuk.
Kiana melangkah masuk dengan langkah pelan dan tersenyum tulus ke ibu mertuanya. Ibundanya Agha membalas senyumannya Kiana dengan tulus.
Kiana menekuk lututnya dan Ibundanya Agha langsung berkata, "Duduklah dan jangan memanggil Nyonya besar lagi. Siapa yang menyuruhmu memanggilku Nyonya besar, hah?! Panggil Ibunda! Aku ini mertua kamu"
Kiana duduk lalu meletakkan nampan berisi satu piring bakpao di atas meja. Kemudian berkata dengan senyum bahagia, "Baik, Ibunda. Silakan cicipi masakan Kiana"
"Wah, bakpao. Terima kasih banyak, Kiana" Ibundanya Agha tersenyum tulus menatap Kiana.
"Sama-sama Ibunda. Kiana senang melihat Ibunda selamat dan melihat Ibunda dalam keadaan sehat seperti ini. Kiana sangat bersyukur dan .....
Kiana seketika mematung saat ibundanya Agha memeluk dirinya dan terdengar isak tangis.
Kiana kemudian menyentuh pelan punggung mertuanya sambil bertanya dengan hati-hati, Ibunda kenapa menangis? Apa ada yang sakit? Kiana akan memeriksa Ibunda kalau di badan Ibunda ada yang terasa sakit"
"Hik,hiks,hiks,hiks, nggak ada yang sakit. Ibunda memeluk kamu karena bahagia kamu baik-baik saja. Kamu tahu tidak, pas kamu dan Agha dikatakan bermeditasi di suatu tempat Ibunda selalu mencari keberadaan kalian ke sana dan kemari. Jangan kamu ulangi lagi pergi tanpa pamit seperti itu" Ibundanya Agha mengelus lembut punggung Kiana.
"Ibunda sayang sama kamu. Maafkan perlakuan jahat Ibunda di masa lalu, ya? Ibunda tidak akan mengulanginya lagi. Ibunda sangat menyesal karena Ibunda salah mengenali kamu, hiks,hiks,hiks"
Bibi Sum mengusap tetes air mata di pipinya kerena terharu melihat nyonya mudanya akhirnya mendapatkan. kasih sayang dari semua orang.
Kiana langung menyahut, "Kiana sudah memaafkan Ibunda dari dulu"
Ibundanya Agha kemudian menegakkan badan dan duduk kembali sambil mengusap airmatanya.
Kiana tersenyum dan berkata, "Silakan dicicipi bakpaonya, Ibunda"
"Ayo kita makan bersama. Bi Sum, ayo kita makan bersama. Duduklah di sini!"
Bibi Sum langsung duduk di bangku yang ada di antara Kiana dan nyonya besar kediaman Caraka dengan senyum bahagia dan hati penuh rasa syukur.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan Agni melangkah masuk dengan ceria dan berkas, "Boleh aku bergabung?"
"Tentu saja boleh" Sahut Kiana dan ibundnya Agha secara bersamaan diringi tawa bahagia penuh rasa syukur.
"Kak Agha tidak jadi ke sini. Dia dan Bora harus pergi ke badan forensik" Sahut Agni sambil menyomot satu bakpao.
__ADS_1
"Baiklah" Sahut Kiana.
Acara makan bersama di kamar pribadinya ibundanya Agha Caraka dipenuhi canda tawa yang penuh dengan rasa kekeluargaan dan cinta kasih.
Petang pun tiba dan karena suaminya belum pulang, Kiana melanjutkan kembali kesibukannya membuat beberapa resep ramuan herbal untuk mengobati kaisar Abinawa.
Saat Kiana tengah asyik mengutak-atik resep, tiba-tiba perempuan cantik itu mencium wangi masakan. Kiana refelks menoleh ke kanan dan menemukan suaminya tengah tersenyum di depan mangkuk besar berisi mie kuah.
"Mas, sudah pulang?"
"Sudah dari jam empat sore tadi pas kamu mandi. Lalu, aku pergi ke dapur untuk bikin mie ini. Mie ala Agha Caraka yang perdana ia bikin untuk istri tercintanya. Ini nggak gosong dan aman untuk dikonsumsi. Bibi Sum yang mengajari aku masak mie ini. Cicipilah!" Agha tersenyum lebar di depan Kiana.
Kiana ikutan tersenyum lebar lalu berkata, "Kita makan bareng, ya, Mas. Mangkuknya besar banget aku nggak mungkin menghabiskannya sendiri"
"Hmm. Aku juga inginnya begitu. Aku bikin banyak biar bisa makan bareng sama kamu"
"Terima kasih, Mas" Kiana menatap wajah tampan suaminya dengan penuh cinta.
Agha tersenyum semakin lebar dan sambil menatap wajah cantik istri kecilnya dengan penuh cinta ia mulai menyumpit mie bikinannya lalu ia menyuapi Kiana.
Kiana membeliak kaget dan Agha langsung bertanya, "Gimana?"
"Enak, Mas. Enak banget"
"Wah, syukurlah kalau kamu suka" Agha membeliak senang.
"Sekarang aku akan suapi Mas" Sahut Kiana.
"Iya, enak banget. Wah, kalau begini pas aku pensiun nanti aku bisa buka kedai Mie"
Kiana terkekeh geli dan langsung berkata, "Aku akan membantu juru masak baru yang bernama Agha Caraka dengan senang hati"
Agha ikutan terkekeh geli.
Di sela-sela menikmati mie bikinannya Agha, Kiana berkata, "Aku rasa Mas harus segera menemui Kaisar Abinawa"
"Iya, kamu benar. Tadi Jenderal Arya sudah menemuiku secara diam-diam. Jenderal Arya mengatakan padaku kalau Kaisar ingin menemuiku segera"
"Mas akan berangkat kapan?" Tanya Kiana.
"Besok pagi. Boleh, kan?"
"Tentu saja boleh, Mas. Aku akan menyusul ke sana kalau aku sudah menemukan resep yang tepat untuk menawar racun langka yang bersarang di tubuh yang mulia raja" Sahut Kiana.
"Hmm. Tapi, jangan dipaksakan! Kalau capek kamu harus istrirahat" Sahut Agha sambil mengusap lembut pucuk kepalanya Kiana.
__ADS_1
"Baik, Mas" Sahut Kiana dengan senyum penuh cinta.
.