
Di paviliunnya Pangeran Adyaksa, Debi tengah merona malu setelah ia menyelesaikan ritual pernikahan dengan pangeran Adyaksa.
Pangeran berhati lembut dan tidak menyukai politik itu membuka cadarnya Debi dan berkata, "Aku akan berjanji akan selalu membahagiakan kamu"
"Lalu, Nona Kiana bagaimana?"
"Lho,kok, malah nanya Kiana? Tentu saja Agha yang akan membahagiakan Kiana" Sahut Adyaksa dengan sorot mata geli. Dia tahu istri yang baru ia nikahi beberapa jam yang lalu tengah cemburu saat ini.
"Anda akan melupakan Nona Kiana setelah ini?"
"Iya. Aku akan melupakan Kiana dan hanya akan menatap Kamu, Debi. Agar aku bisa belajar mencintai kamu, maka aku hanya akan menatap Kamu" Sahut Adyaksa dengan senyum tampannya.
Debi langsung menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona merah di wajah manisnya.
Pria tinggi besar dengan jenggot api langsung mengibaskan jenggotnya dan Agha berhasil menangkis percikan-percikan api sambil berteriak, "Kalian bertiga lari sembunyi lah!"
Agni, Bora, dan Kiana sontak berlari sembunyi lalu Agha berlari menyusul.
"Sial! Dia hebat juga" Ucap Agha dengan terengah-engah.
__ADS_1
"Biar saya yang melawannya, Yang Mulia. Saya punya ilmu badai salju" Sahut Bora.
Agha sontak menoleh ke Bora, "Kau sudah pulih benar?"
"Sudah" Sahut Bora.
"Aku akan membantu Bora. Aku punya ilmu hujan es" Sahut Agni.
"Tidak! Kau nanti saja" Bora langsung memundurkan Agni lalu berlari keluar dan menghadap pria tinggi besar dengan jenggot api itu dan sambil memasang kuda-kuda di depan pria tinggi besar dengan jenggot api itu, Bora berteriak, "Lawanmu adalah aku!"
Tiba-tiba terdengar suara melengking seorang wanita, "Stop!!!!!! Jangan berkelahi!!!!!"
"Minggir lah Bunda! Dia manusia hina yang selalu menindas keturunan dewa seperti kita ini" Pria tinggi besar dengan jenggot api itu langsung berteriak dengan wajah kesal.
"Aku sepertinya melihat anak perempuanku. Dia bersembunyi di balik pohon besar itu"
Bora dan pria tinggi besar dengan jenggot api sontak bergumam bingung, "Anak Perempuan?"
"Hei! Tiga manusia di balik pohon besar! Keluarlah! Aku tidak akan, emm, tidak! Maksudku aku dan Jenggot Api tidak akan mencelakai kalian!" Teriak wanita berparas sangat cantik dengan baju putih bersih yang tiba-tiba terbang melintasi Bora dan wanita berparas sangat cantik itu dengan tiba-tiba menghentikan duelnya Bora dan Jenggot Api.
__ADS_1
Bora sontak menoleh ke belakang dan ia melihat junjungannya, Nyonya mudanya, dan kekasihnya, berjalan keluar dengan pelan secara beriringan.
"Itu benar Putriku!" Wanita berparas sangat cantik berlari ke arah Kiana dan Agha sontak memeluk Kiana lalu berteriak, "Stop! Anda siapa? Berani benar Anda mengakui Istri saya sebagai Putri Anda?"
Wanita berparas sangat cantik itu menghentikan laju larinya persis di depannya Kiana dan Agha, "Ka......kamu Kiana! Kamu Kiana, kan?! Ibu nggak mungkin lupa sama wajah kamu. Kamu ada di kandungan Ibu selama sembilan bulan dan Ibu besarkan sampai umur lima tahun. Ibu hapal wajah dan aroma tubuh kamu. Kamu Putrinya Tabib Danur, kan?"
Agha dan Kiana saling pandang dengan wajah kaget. Agni dan Bora juga kaget.
Agha dan Kiana sontak menghadap ke depan kembali dan memandangi wajah cantik wanita di depan mereka.
Agha sontak menitikkan airmata haru saat ia mengingat kembali wajah malaikat cantik yang pernah menolongnya dulu. Seketika itu juga Agha melepaskan Kiana lalu duduk bersimpuh di depan wanita berparas sangat cantik itu, lalu menundukkan wajahnya yang sudah basah oleh airmata dan berkata, "Agha sangat bersyukur Anda masih hidup, hiks, hiks, hiks. Agha bersyukur masih diberi kesempatan oleh Dewa untuk berterima kasih kepada Anda karena Anda telah menyelamatkan saya dari tabib kejam yang lewat eksperimen anehnya, tabib kejam itu mengubah saya menjadi seekor naga hitam, hiks,hiks,hiks, syukurlah Anda masih hidup"
Wanita berparas sangat cantik itu langsung duduk bersimpuh di depan Agha dan berkata, "Kau anak kecil tampan itu? Kau a......adalah anak kecil tampan yang berhasil aku selamatkan dari penjara rahasianya Permaisuri sampai ke bibir jurang di atas sana?"
Agha yang masih menundukkan kepalanya semakin mengeraskan isak tangisnya dan hanya sanggup menganggukkan kepala.
Sementara itu Kiana berdiri mematung dengan genangan airmata di kedua pelupuk matanya.
Sedangkan Bora langsung melesat dan berdiri di sebelahnya Agni dengan wajah sendu. Begitu pula Agni. Agni juga memasang wajah sendu.
__ADS_1