Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Cermin


__ADS_3

Agha menatap pintu dengan tawa ringan dan Alvin menatap Agha dan bertanya, "Ada apa dengan kalian? Apa yang kalian lakukan di kamar ganti tadi? Kenapa Kiana berlari seperti itu" Alvin menunjuk pintu


Agha menoleh ke Alvin dan berkata, "Tentu saja urusan antara suami dan istri dan tidak akan aku bahas denganmu. Ayo buruan periksa aku karena aku harus segera pergi ke aula besar"


"Oke. Aku juga harus segera pergi bersama Kiana untuk memeriksa Paman Luis" Sahut Alvin sambil mempersilakan Agha untuk duduk di depannya.


Agha duduk dan pria tampan itu terus mengulum bibir menahan geli saat ia teringat keusilan yang ia lakukan pada Kiana di kamar ganti. Dia berhasil membujuk Kiana untuk bermesraan kembali dan itu membuat Agha merasa sangat bahagia. Untuk itulah wajah pria tampan itu terus melukis senyum bahagia.


Alvin yang menatapnya hanya bisa menghela napas panjang lalu bergumam lirih, "Baru kali ini aku melihat kamu tersenyum seperti ini"


Agha menyahut, "Senyum ini ada karena Kiana dan untuk Kiana"


"Kalau untuk Kiana kenapa kau masih tersenyum di depanku?" Tanya Alvin sambil memeriksa nadi di pergelangan tangan kanannya Agha.


"Ya, emm, ini sisanya, hehehehehe. Maaf kalau kamu cuma dapat sisa hehehehe" Agha meringis di depan Alvin dan Alvin langsung menghela napas panjang dan menggelengkan-gelengkan kepalanya.


Sementara itu di luar, di depan pintu kamar pribadinya Agha, tanpa Kiana sadari dari arah belakang ada seorang pria membekap Kiana dari arah belakang dengan sapu tangan yang sudah diolesi obat bius cair. Kiana langsung pingsan dan pria itu membawa Kiana ke kamarnya putri Sofie.


Putri Sofie yang berdiri di samping pria itu tersenyum senang saat ia melihat punggung Bruno, tabib kepercayaannya berlari sambil membopong Kiana menuju ke paviliunnya.


Setelah punggung Bruno lenyap dari pandangannya, putri Sofie bergegas masuk ke dalam kamar pribadinya raja Alaric tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Brak!


Mendengar suara pintu dibuka kasar dan timbul suara cukup keras, Agha dan Alvin menoleh kaget.


Saat kedua pria tampan itu melihat Sofie berlari ke arah mereka dengan wajah panik, Agha dan Alvin sontak bangkit berdiri secara bersamaan.


"Ada apa?" Tanya Alvin dan Agha secara bersamaan saat mereka melihat Sofie berhenti berlari di depan mereka dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi.


Putri Sofie memang sangat jago berakting. Dia memiliki seribu ekspresi wajah dan akan ia gunakan di saat ya g tepat dengan. entengnya.


Putri Sofie mengelus-elus dadanya sambil berkata dengan napas yang masih terengah-engah, "Kiana tadi pingsan di depan pintu dan Bruno tabib kepercayaan saya membawa Kiana ke kamar saya untuk ia obati.

__ADS_1


Agah langsung menggebrak meja dan sambil mendelik penuh amarah ia berkata, "Kenapa tidak kau bawa masuk ke sini? Ada Alvin dan aku di sini"


Alvin menyahut dengan wajah tak kalah marahnya, "Iya, itu benar"


Putri Sofie menatap Agha dengan wajah sedih, "Itu karena........."


"Sial!" Agha langsung melesat pergi dan saat Alvin hendak menyusul Agha, Sofie langsung menaburkan bubuk bius di wajah Alvin. Tanpa menunggu detik berlalu, Alvin jatuh pingsan dan tergeletak tidak berdaya di atas lantai.


Sofie menyeringai senang dan wanita berhati kelam itu langsung berbalik badan dan terbang menyusul Agha. Sofie memiliki kemampuan terbang karena dia berasal dari klan burung.


Sofie masuk ke kamar pribadinya tepat di saat Agha berdiri celingukan sambil berteriak, "Kiana! Kamu di mana?"


Sofie langsung mendorong punggung Agha dengan keras dan Agha masuk ke dalam cermin besar yang berdiri tegak tidak jauh dari hadapannya Agha.


Saat putri Sofie tertawa senang karena rencananya berhasil, Kiana membuka kedua matanya. Karena obat bius jenis apapun, tidak ada yang bisa membuat Kiana pingsan berlama-lama.


Kiana langsung bangun dan melesat ke arah suara tawanya Sofie.


Kiana mengabaikan pertanyaannya Sofie dan sambil celingukan dia bertanya, "Di mana Mas, emm, maksudku raja Alaric? Aku mendengar suara beliau memanggil namaku tadi"


Sofie kembali tertawa dan lebih keras dari tertawanya di detik yang sudah berlalu.


Kiana menoleh ke Sofie dan dengan menautkan kedua alisnya Kiana menggeram, "Kau apakan raja Alaric?"


"Aku memasukannya ke cermin ajaib yang berada tidak jauh di belakang kamu itu. Aku bisa memiliki raja hanya untukku seorang dan aku bisa mengunjungi raja sesuka hatiku"


Kiana tersentak kaget dan refleks menoleh ke belakang lalu dengan cepat Kiana menatap ke depan kembali untuk berkata, "Lancang kau!"


"Hei! Berani sekali kau berkata tidak sopan padaku, hah! Sebentar lagi kau akan mati dan setelah itu aku akan meracuni semua tetua lalu yang terakhir teman masa kecilku, Alvin"


Kiana langsung merogoh tas selempangnya dan melemparkan bubuk obat bius ke wajah Sofie. Putri berwajah cantik tapi berhati busuk itu langsung jatuh terkapar di atas lantai.


Di saat itulah terdengar suara seorang kakek tua, "Kiana, Kiana, kemarilah, Nak!"

__ADS_1


Kiana berbalik badan sambil berteriak, "Siapa Anda? Kenapa Anda bisa tahu nama saya? Tunjukan diri Anda!"


"Aku adalah cermin yang berada beberapa langkah saja dari tempat kamu berdiri itu, Nak?"


Kiana melangkah mendekati sebuah cermin besar yang berdiri tegak di tengah penyangga. "Cermin bisa bicara? Dan Anda bisa tahu nama saya?"


"Karena kamu pernah menolongku di dunia manusia beberapa bulan yang lalu, makanya aku tahu nama kamu, anak cantik berhati baik"


"Saya pernah menolong sebuah cermin? Perasaan tidak pernah" Sahut Kiana.


"Kau ingat kakek tua yang kau temukan kelaparan dan jatuh pingsan di pinggir jalan. Kau menolong kakek itu, mengobati luka di tangan dan kaki kakek itu. Nah, kakek itu adalah aku. Aku siluman cermin yang waktu itu mendapatkan hukuman dari dewa dan dijatuhkan ke dunia manusia dalam wujud kakek tua"


"Oh" Sahut Kiana, "Apakah kakek tahu di mana suami saya, emm, pria tampan yang tadi masuk ke sini dan berteriak memanggil nama saya?"


"Pria tampan itu didorong masuk ke dalam cermin dan hanya pemilik cermin yang bisa keluar dan masuk ke dalam cermin dengan sesuka hati"


"Kalau begitu, bisakah Anda mengeluarkan suami saya dari dalam cermin? Pria tampan itu adalah suami saya"


"Aku tidak bisa mengeluarkan orang yang sudah dimasukkan ke dalam cermin. Tapi Karena kamu pernah menolong aku tanpa pamrih, maka aku akan berikan kamu dua permintaan. Kau mau minta apa? Katakan!"


"Saya ingin mengeluarkan suami saya dari dalam cermin dan saya ingin Jenderal Luis sembuh sehingga semua kejahatan Sofie bisa terungkap dan Sofie diadili atas semua kejahatannya lalu saya dan suami saya bisa kembali lagi ke dunia manusia, Kek. Apakah Kakek bisa mewujudkannya?"


"Bisa. Aku akan kabulkan permintaan kamu tadi satu per satu. Pertama aku akan mengijinkan kamu masuk ke dalam cermin meskipun kamu bukan si pemilik cermin. Kamu bisa mengeluarkan suami kamu dari dalam cermin asalkan dia memberikan dua ciuman ke kamu. Selama dia belum memberikan dua ciuman ke kamu, maka kamu belum bisa keluar dari dalam cermin"


"Lalu, kalau saya masuk ke dalam cermin dan Sofie siuman gimana? Sofie pasti akan menyusul saya dan......."


"Tenanglah aku akan bekukan waktu di dunia ini. Seluruh waktu baik di negeri Awan maupun di negeri manusia aku bekukan sebelum kamu berhasil keluar dari dalam cermin"


"Wah, Anda hebat sekali, Kek. Terima kasih banyak" Sahut Kiana dengan senyum ceria karena dia mendapatkan harapan bisa membawa keluar suaminya dari dalam cermin. Masalah ciuman pasti dengan mudah bisa ia dapatkan dari suaminya karena ia dan suaminya saling mencintai.


Lalu, cermin itu mengeluarkan cahaya berwarna biru terang seperti langit cerah di luar sana dan terdengar suara penuh wibawa seorang kakek tua, "Masuklah ke dalam cermin sekarang juga, Kiana!"


Kiana lalu melangkah masuk ke dalam cermin dengan langkah pasti dan wajah tanpa rasa takut.

__ADS_1


__ADS_2