
Bora lalu bergegas berputar badan dan berlari untuk menemui Agni karena entah kenapa instingnya berkata kalau Maharani tidak bisa dipercaya. Meskipun Bora tahu kemampuan bela diri dan tenaga dalamnya Agni sudah di atas rata-rata, namun Bora tetap mengkhawatirkan Agni.
Agni yang tengah berdiri di samping Maharani langsung melambaikan tangannya dengan wajah ceria saat ia melihat Bora berlari kencang ke arahnya.
Agni tersentak kaget saat Bora tiba-tiba memeluk pinggangnya dan melemparkan pertanyaan dengan wajah panik, "Kau baik-baik saja, kan? Tidak terluka, kan?" Bora menunduk untuk memeriksa wajah dan tangan Agni.
Melihat Bora memeluk Agni, Maharani langsung berkata, "Ayo pulang! Kalau mau pacaran di rumah aja dan jangan di depanku, cih! Kita cari Tante besok pagi. Ini sudah gelap"
Bora sontak melepaskan pelukannya dan langsung menggandeng tangan Agni lalu mengajak Agni berjalan mengekor Maharani.
Agni terus menatap wajah Bora dari arah samping sambil bergumam di dalam hatinya, apa yang Bora temukan? Kenapa dia tampak panik dan terus menatap punggung Rani seperti itu?
Masih di tengah hutan perbatasan antara dunia langit dan dan dunia manusia, Agha lalu menurunkan Kiana di tepi sungai dan langsung berkata, "Bocah itu sembunyi di balik pohon,kan? Dia mengintip kamu, kan?"
"Aku nggak bilang kalau Alaric sembunyi di balik pohon dan mengintip aku, Mas" Kiana langsung memijit keningnya dan menghela napas panjang.
"Pokoknya aku mau reka ulang kejadian itu dan peran utamanya adalah aku bukan Alaric" Agha berkata dengan wajah sangat serius.
"Tapi, Alaric adalah kamu, Mas. Bocah itu adalah kamu. Lalu, kenapa harus direka ulang segala? Lagian aku bilang kalau sepertinya aku melihat ada seseorang di balik pohon dan saat aku melarikan diri dari naga putih, aku lihat Alaric muncul dari balik pohon dan aku menabraknya. Aku tekankan lagi kalau aku nggak bilang Alaric mengintip aku"
"Oh" Agha langsung melongo kaget.
"Sudah paham sekarang?" Tanya Kiana dengan senyum dan helaan napas lega.
"Jadi, dia tidak macam-macam sama kamu di sungai?"
Kiana menggelengkan kepalanya dengan sungguh-sungguh.
"Oh" Agha kembali melongo kaget.
__ADS_1
Kiana langsung menghela napas panjang lalu berkata, "Oh, oh, terus sekarang. Semalam pas aku cerita, Mas, ke mana aja? Hufftttt!"
Agha kemudian menyeringai jahil dan kembali membopong Kiana.
Kiana tersentak kaget dan sontak berteriak, "Kyaaaaaa! Mas! Kenapa membopongku lagi dan kenapa Mas berjalan masuk ke dalam air?"
"Karena kejadian yang kamu alami di dunia cermin kurang seru, maka aku akan bikin lebih seru di dunia nyata"
"Lebih seru gimana?" Kiana menatap wajah suaminya dengan bingung.
"Aku akan bermain denganmu di sungai. Sama seperti waktu kita melakukan meditasi"
Agha menyeringai jahil dan di saat Kiana ingin menyemburkan protes, Agha langsung memagut bibir Kiana dan mengajak Kiana berciuman.
Ahhhhh! Kenapa aku selalu saja menyerah kalau setiap kali Mas Agha menciumku. Batin Kiana kesal.
Kiana tersentak kaget, "Mas!"
Agha tertawa dan kembali mencipratkan air ke Kiana.
Kiana langsung tertawa lepas dan membalas Agha dengan mencipratkan air beberapa kali ke wajah Agha tanpa jeda.
Agha langsung menarik pinggang Kiana dan memeluk Kiana sambil tersenyum jahil lalu berkata, "Berani benar kau cipratkan air ke wajahku tanpa jeda?"
"Itu karena, Mas, yang mengajari aku" Sahut Kiana dengan senyum lebar dan wajah polos tanpa dosa.
"Oh, lalu kalau aku mengajari kamu ini" Agha mencium bibir Kiana lalu menarik bibirnya untuk berkata, "Kau akan membalasku juga?"
Kiana terkejut geli lalu ia berkata, "Tentu saja" Dan ia ciumlah bibir suami tampannya.
__ADS_1
Agha membeliak senang dan kembali berkata, "Kalau aku mengajari kamu ini" Agha mencium leher Kiana lalu menarik wajahnya untuk bertanya, "Kau juga akan membalasku?"
Kiana menggelengkan-gelengkan kepalanya dan setelah mengulum bibir menahan geli, perempuan cantik itu berkata, "Tentu saja" Lalu, Kiana berjinjit dan mencium leher Agha.
Lalu, Agha melakukan hal yang lebih gila lagi dan kembali bertanya, "Apa kamu akan membalasku?" Dan begitu seterusnya sampai ia berhasil menyatukan raganya dengan Kiana di atas baru besar yang ada di tengah sungai. Kiana hanya bisa menyerah pasrah mengikuti permainan suaminya.
Ibundanya Agha Caraka adalah seorang wanita yang kuat dan cerdas, maka saat wanita cantik itu tersadar dari pingsannya dan menemukan dirinya terikat di sebuah bangku, wanita cantik itu langsung mengambil pisau kecil yang dia selipkan di bagian belakang ikat pinggang kain yang melilit bajunya di bagian pinggang. Lalu, ibundanya Agha Caraka memakai pisau kecil itu untuk memotong tali yang mengikat tangannya. Setelah ikutan di tangannya putus, Ibundanya Agha membungkuk untuk memotong tali yang mengikat kakinya.
Lalu, ibundanya Agha Caraka bangkit berdiri dan sambil mengelus pergelangan tangannya, wanita cantik itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pondok kecil sambil bergumam, "Pondok apa ini dan aku ada di mana?"
Lalu, dengan mengendap-endap, ibundanya Agha Caraka menuju ke pintu dan membuka pelan pintu pondok. Dari balik pintu pondok ibundanya Agha melihat ada sepuluh orang pria berpakaian serba hitam tengah duduk mengelilingi api unggun.
"Apa mereka yang menculik aku? Tapi, siapa yang menyuruh mereka menculik aku dan untuk apa?" Gumam ibundanya Agha Caraka.
Sementara itu, Agha sudah kembali terbang membawa Kiana yang masih merona malu. Agha terbang di angkasa luas dalam wujud naga hitam dan tak ada lelahnya Agha selalu berteriak, "Sayang! Istri cantikku yang paling aku sayangi! Jangan lupa pegangan yang erat!"
"Iya, Mas!" Kiana tersenyum. Meskipun terkadang ia merasa Agha terlalu berlebihan mencemaskannya, namun kecemasan Agha yang berlebihan itu tidak membuat Kiana kesal, Kiana justru merasa sangat dicintai dan dimanja sama suaminya.
Setelah terbang selama dua jam lebih tiga puluh lima menit dan tidak pernah lelah berteriak untuk mengingatkan Kiana agar terus berpegangan, akhirnya Agha mendarat sukses di belakang halaman perpustakaan yang ada di dalam kediaman Caraka dan sebelum ada orang yang melihat ada seekor naga hitam, Agha langsung berubah menjadi manusia setelah Kiana melompat turun dari atas punggungnya. Lalu, ia mengandeng tangan istri kecilnya dan mengajak Kiana berjalan menuju ke bangunan utama kediaman Caraka. Mereka berdua berjalan dengan langkah lebar karena mereka berdua sudah sangat merindukan Bora, Agni, dan semua orang yang ada di kediaman Caraka.
Kiana juga sudah sangat merindukan Debi dan Bibi Sum. Dia juga merindukan mertuanya meskipun mertuanya tidak pernah menyukainya.
"Aku merindukan masakan Bibi Sum, Mas" Ujar Kiana sambil menoleh ke Agha.
Agha menoleh ke Kiana dan dengan senyum penuh cinta Agha berkata, "Aku merindukan kamar kita"
Kiana langsung menepuk pelan bahu suaminya dan berkata, "Kamar aja yang kamu pikirkan, Mas. Dasar mesum"
"Mesum sama istri sendiri nggak papa, dong" Agha terkekeh geli lalu ia mencium tangan Kiana yang ada di dalam genggamannya.
__ADS_1