Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Jangan!


__ADS_3

Agha menggeram sambil melesat maju dan meluncurkan kedua tapak andalannya.


Permaisuri langsung melangkah mundur dan anak buah andalannya yang berilmu tinggi langsung melesat maju untuk meladeni Agha.


Hanya dalam hitungan detik, anak buah andalannya permaisuri dijatuhkan oleh Agha dan Agha terus melesat maju.


Sepuluh prajurit andalannya permaisuri langsung menghadang Agha dan dengan sekali hentakan kesepuluh prajurit itu dilalap habis api kemarahannya Agha Caraka.


Permaisuri menyeringai lebar lalu berkata, "Kau bertambah hebat ternyata. Baiklah, aku sendiri yang akan meladeni kamu, Agha Caraka"


Maka terjadilah duel seru antara permaisuri dan Agha Caraka. Agha tidak mengira kalau ternyata permaisuri pandai bela diri dan ilmunya sangat tinggi.


"Kenapa? Kau kaget, Agha? Ya, aku bisa bela diri dan ilmuku lumayan tinggi. Kau akan mati di tanganku malam ini, Agha Caraka. Mati sebagai Putra Mahkota yang asli"


Agha terus menyerang pertahanan Permaisuri dengan tapak api sambil berkata, "Kamu yang akan mati malam ini karena kamu sudah lancang membunuh Ibundaku, mendiang Ratu Jelita"


Permaisuri tersentak kaget, "Ja......jadi kamu.........."


Agha tertawa mengejek, "Bukankah kau sudah tahu. Kenapa masih tergagap kaget? Aku akan membuatmu lumpuh dan mati dengan perlahan. Itu balasan untuk semua kejahatan kamu. Ibundaku akan beristirahat lebih tenang lagi setelah melihatmu lumpuh dan lalu mati secara perlahan.


"Kau yang akan mati, dasar bocah sial!!!!!!" Permaisuri berteriak kencang dengan mata melotot lalu wanita cantik berhati iblis itu melesat ke Agha dengan kepalan tinju badai salju jurus andalannya.


Agha bisa menghindari jurus Permaisuri itu. "Rasakan kemarahanku wanita Iblis!!!!!!!!" Agha melesat sambil berteriak kencang.


Di saat tapak tangan kanan Agha hampir mendarat di kening permaisuri, Adyaksa menarik Agha lalu berdiri di antara Agha dan permaisuri.


"Minggir, Paman!" Agha berteriak kaget ke Adyaksa.


"Adyaksa! Bunuh Agha sekarang juga! Dia Putranya mendiang Ratu Jelita. Aku akan memberikan tahta ke kamu kalau kamu membunuh Agha! Adnan tidak bisa diandalkan, maka tahta akan aku berikan ke kamu!" Permaisuri berteriak penuh semangat.


Adyaksa menoleh kaget ke Permaisuri, "Bibi sudah tahu?"


"Iya! Aku sudah tahu kalau Agha itu Putranya mendiang ratu Jelita! Sekarang bunuh dia!" Pekik Permaisuri.

__ADS_1


Adyaksa melesat ke Agha memeluk Agha dan berbisik, "Selamatkan Kiana! Kiana dibawa kabur Adnan ke arah timur. Cepat susul Adnan dan selamatkan Kiana! Aku akan urus urusan di sini.


Agha membeliak kaget dan langsung berbalik badan lalu terbang ke angkasa meninggalkan penjara istana.


"Kenapa kau biarkan dia pergi, Adyaksa?! Kenapa dia bisa terbang bebas?! Di mana para pemanah jituku?! Kenapa mereka tidak memanah Agha?!" Permaisuri berteriak dengan wajah penuh tanda tanya.


Adykasa langsung menyahut, "Anak buahku sudah melumpuhkan semua pemanah jitunya Bibi"


"Kau........Kau berada di pihak siapa sebenarnya, hah?! Aku bisa memberikanmu tahta!" Pekik Permaisuri dengan wajah merah padam penuh amarah.


"Tentu saja aku ada di pihak Agha. Aku tidak pernah menginginkan tahta"


"Sial!" Permaisuri langsung berbalik badan dan melesat terbang meninggalkan Adyaksa.


Adyaksa memilih berbalik badan untuk menemui Jenderal Arya daripada mengejar permaisuri karena dia tahu permaisuri itu licik dan penuh trik dan Adyaksa ridak bodoh untuk masuk ke dalam jebakan permaisuri.


Sementara itu di tengah hutan yang belum pernah Kiana jamah, Kiana bergumam di dalam hatinya, tas selempangku tertinggal di kamar permaisuri. Andaikan tidak tertinggal, aku sudah taburkan bubuk obat tidur ke muka Pangeran Adnan. Atau kalau nggak, aku bisa meniup peluit dan masuk ke dunia cermin. Mendingan aku menyelesaikan misi dari kakek cermin daripada ikut Pangeran Adnan.


Kiana menghela napas panjang lalu berkata, "Tolong jangan memandangi wajah saya terus, Yang Mulia"


"Wajah cantik tidak boleh disia-siakan" Sahut Adnan sambil melebarkan senyumannya.


Kiana kembali menghela napas panjang.


Adnan berkata, "Agha akan menyerang permaisuri malam ini. Malam ini akan terjadi perang besar dan aku yakin perang kali ini akan memakan waktu berhari-hari"


"Apa?!" Kiana tersentak kaget.


"Ibundaku ingin menjebak Agha lewat kamu dan lewat aku. Untuk itulah aku menyelamatkan kamu. Aku tidak ingin kamu terluka sedikit pun"


"Saya lebih baik terluka. Asalkan saya bisa berada di samping Mas Agha, saya tidak peduli terluka. Kembalikan saya ke istana! Saya mohon, Yang Mulia" Kiana mengatupkan kedua tangan di depan dada dan memandang Adnan dengan sorot mata memelas.


"Tapi, aku peduli. Permaisuri bukan hanya ingin membuatmu terluka. Permaisuri ingin membunuh kamu. Untuk itulah aku bawa kamu pergi jauh. Aku tidak ingin kamu terluka ataupun mati. Aku ingin kamu selalu baik-baik saja" Adnan berucap sambil menggenggam tangan Kiana.

__ADS_1


Kiana tersentak kaget dan sambil menarik tangannya ia mendelik, "Jangan sentuh saya!"


"Kenapa aku tidak boleh menyentuh kamu?"


"Karena saya sudah menikah. Anda lihat kalung di leher saya, kan, Yang Mulia, saya sudah menikah!" Kiana berkata dengan nada suara dan ekspresi tegas.


Adnan menggeram penuh kecemburuan lalu menarik lepas kalung di leher Kiana lalu melemparkan kalung itu ke jendela.


Plak! Kiana refelks menampar keras pipi kanan Adnan.


Adnan seketika menyentuh pipi kanannya dan mematung.


"Lancang sekali Anda menarik kalung pernikahan saya dan membuangnya. Berhenti!! Hentikan keretanya!" Teriak Kiana kemudian.


Namun, teriakannya Kiana hanya menguap percuma kemudian lenyap ditelan angin malam.


Adnan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan Kiana langsung merinding. Kiana seketika itu juga bersikap waspada. Dia meraba-raba bangku yang ia duduki untuk menemukan sesuatu, apapun itu, akan ia gunakan sebagai alat pertahanan diri. Namun, malangnya Kiana tidak menemukan apapun.


"Aku benar-benar mencintai kamu Kiana. Tamparan kamu barusan aku anggap sebagai tanda cinta kita berdua. Aku bahkan rela kamu tampar terus kalau kamu menyukainya" Adnan menyeringai senang.


Benar kata Ayah, Pangeran Adnan sakit jiwa. Dia aneh. Batin Kiana dengan bergidik ngeri.


"Oke, aku akan menahan diri untuk tidak menyentuh kamu. Tapi, aku tegaskan padamu kalau kita sudah sampai di istana kecil milikku, kemungkinan besar aku tidak akan bisa menahan diriku lagi. Kita akan menikah malam ini dan malam ini juga kamu akan menjadi wanitaku sepenuhnya"


"Saya sudah menikah!" Kiana berteriak kencang dengan geram.


Adnan tersenyum lebar lalu berkata, "Kalung kamu nggak ada. Itu berarti kamu nggak ada yang punya. Kamu bebas untuk aku miliki"


"Tidak! Saya tidak mau menikah dengan Anda! Saya sudah menikah!" Kiana berteriak kembali dengan sangat kencang dan Adnan langung memukul pundak Kiana.


Saat Kiana terkulai pingsan, Adnan langsung menarik Kiana ke dalam pangkuannya.


Adnan merapikan rambut Kiana, lalu mengusap pipi Kiana sambil bergumam dengan sorot mata penuh cinta, "Kau sangat cantik, Kiana dan sebentar lagi kau akan jadi milikku selamanya"

__ADS_1


__ADS_2