
Ibundanya Kiana menemui ibu tirinya Kiana yang tengah bersantai minum teh di tengah taman.
"Bisa-bisanya kau berantai minum teh seperti ini di saat suami kamu berada di penjara dan belum pasti menari nasibnya"
Ibu tirinya Kiana sontak bangkit berdiri dengan wajah mendelik kaget dan langsung berkata dengan terbata-bata, "Ke......ke......ke.......kenapa, ka........kau..... kau .......ma.......masih hidup? A......aku tidak sedang melihat hantu, kan?"
"Iya, aku masih hidup. Aku bukan hantu"
Ibu tirinya Kiana langsung duduk terhenyak di bangku taman.
"Aku tidak akan berlama-lama di sini karena aku masih memiliki urusan yang lebih penting"
"A......apa Mas Danur tahu kalau ka......kamu ma.....masih hidup?"
"Kau tahu, kan, kalau Mas Danur dipenjara saat ini. Tentu saja dia belum tahu kalau aku masih hidup karena aku belum ke penjara istana menemui Mas Danur"
"La......lalu kenapa kau ke sini?" Ibu tirinya Kiana menatap ibundanya Kiana dengan sorot mata panik.
Ibundanya Kiana tersenyum tipis lalu berkata, "Aku hanya ingin memberikan ini"
Plak! Ibundanya Kiana menampar keras pipi kanan ibu tirinya Kiana.
"Kau! Kenapa kau menamparku?" Ibu tirinya Kiana mendelik kaget.
Ibundanya Kiana tersenyum mengejek dan berkata, "Karena kau telah bersikap tidak adil selama ini pada Kiana. Karena kau kejam sama Putriku. Aku akan kembali lagi menemui kamu setelah urusanku selesai. Untuk sementara ini satu tamparan tadi cukup untuk kamu"
Ibu tirinya Kiana menatap nanar ibundanya Kiana dan sebelum dia menyemburkan protes, Ibundanya Kiana berbalik badan dan pergi meninggalkan ibu tirinya Kiana begitu saja.
"Sial! Kenapa dia masih hidup dan bertambah cantik. Kenapa dia tidak menua? Padahal dia lima tahun lebih tua dariku" Ibu tirinya Kiana menatap punggung ibundanya Kiana sambil terus mengusap pipi kanannya yang masih terasa panas.
Sementara itu di dalam pondok rahasianya Pangeran Adyaksa, Agha masih terus merengek minta dilepaskan, "Paman, ayolah! Jangan seperti ini! Aku mengkhawatirkan Kiana. Buka titik nadiku, Paman! Aku akan berikan apapun yang Paman inginkan"
"Apapun?" Adyaksa mendekatkan wajahnya ke Agha.
"Iya, apapun" Agha membeliak lebar.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kamu diam dan jangan berisik lagi!" Adyaksa tersenyum lebar lalu menegakkan badannya.
Agha mendengus kesal karena rayaunnya kembali gagal.
"Aku akan menemani Ayah masuk ke paviliunnya Yang Mulia Kaisar. Ayah jangan takut!" Ibundanya Kiana berteriak sembari mempercepat laju terbangnya.
Tabib Alzam mengangguk dan berteriak tegas, "Aku tidak takut. Aku tidak kenal takut kalau untuk menyelamatkan cucu tercintaku"
"Bagus! Kita harus percepat laju terbang kita agar bisa cepat sampai di pondok rahasianya Pangeran Adyaksa.
"Oke!" Teriak tabib Alzam.
Sementara itu di bawah, Jenderal Arya tengah mengawal ribuan prajurit menuju ke pondok rahasianya Pangeran Adyaksa.
Mereka semua sudah siap melawan Permaisuri dan Ibundanya Kian merasa yakin sembilan puluh lima persen kalau mereka bisa menjatuhkan permaisuri yang jahat dan licik yang bernama Jelita itu.
"Kenapa Anda katakan kita hanya memiliki keyakinan sembilan puluh lima persen? Lalu, yang lima persennya bagaimana?" Tanya Jenderal Arya ke Ibundanya Kiana beberapa jam yang lalu.
Dan jawab Ibundanya Kiana ke Jenderal Arya, "Yang lima persen kita serahkan ke takdir dan keberuntungan kita"
Jenderal Arya kemudian nekat bertanya, "Berapa umur Anda?"
"Aku?" Ibundanya Kiana sontak mengerutkan keningnya.
"Iya, Anda" Sahut Jenderal Arya.
"Umurku empat puluh tahun"
"Sayang sekali. Andai saja saya dilahirkan bersamaan dengan Anda dilahirkan, maka saya akan memberanikan diri menyatakan perasaan saya kepada Anda saat ini. Sayangnya umur kita terpaut sangat banyak dan Anda masih terikat pernikahan dengan tabib Danur" Sahut Jenderal Arya sambil melangkah pelan melintasi ibundanya Kiana.
Ibundanya Kiana sontak berputar badan mengikuti arah perginya Jendral Arya sambil bergumam, "Dia kerasukan atau apa? Kenapa dia berbicara hal yang tidak masuk akal barusan? Hmm! Dasar anak muda sekarang, suka ngomong tanpa berpikir lebih dulu"
Sementara itu di dalam pondoknya, Adyaksa tiba-tiba Agha berjaya ke Adyaksa, "Sepertinya aku mendengar ada bunyi derap langkah kaki kuda mendekat ke sini, Paman"
Adyaksa yang mengetahui ketajaman pendengaran Agha langsung berkata, "Aku akan memeriksa di depan"
__ADS_1
Dan kesempatan itu Agha pergunakan untuk mengeluarkan jurus tapak apinya. Dan hanya dalam hitungan detik Agha berhasil membuka titik nadinya sendiri dan Agha langsung melesat lewat jendela belakang lalu suaminya Kiana itu melesat cepat ke arah penjara istana.
Dan di dalam penjara istana, Adnan tengah berkata, "Ikutlah denganku, Kiana! Kalau kau tidak ikut denganku, maka kau akan mati dibunuh oleh Permaisuri sebentar lagi"
"Saya hanya mau pergi dari sini kalau Suami saya yang menjemput saya. Saya yakin Suami saya sebentar lagi datang menjemput saya"
"Agha sudah mati. Aku yakin Agha sudah mati saat ini. Jadi, lebih baik kau ikut denganku. Demi keselamatan kamu dan........"
"Tidak! Perasaan saya sangat kuat dan saya yakin kalau Mas Agha masih hidup" Kiana berteriak kencang di depan Adnan.
Melihat putrinya berteriak kencang, ayahandanya Kiana langsung menyemburkan, "Tolong jangan ganggu Putri saya, Yang Mulia Putra Mahkota!"
Adnan mengabaikan ucapan tabib Danur dan dia langsung berkata, "Aku akan bebaskan Ayah kamu, Bora dan Agni, kalau kamu mau pergi denganku"
Kiana langsung berdiri mematung di depan Adnan.
"Oh, kau ingin melihat mereka mati di depan kamu? Oke, aku akan temani kamu melihat mereka bertiga mati di depan kamu, lalu aku akan memaksa kamu pergi denganku setelah itu"
Kiana masih berdiri mematung di depan Adnan.
Ayahandanya Kiana sontak berteriak, "Itulah kenapa Ayah menimbulkan ruam di sekujur tubuh kamu agar kamu terlihat jelek dan para pria bangsawan seperti........"
"Aku. Iya seperti aku, kan, Ayah? Ayah benar. Aku mencintai Kiana. Bahkan saat Kiana masih buruk rupa aku sudah jatuh cinta padanya. Jadi, Aku bersyukur Ayah membuat Kiana buruk rupa karena dengan begitu, takdir justru mempertemukan aku dengan Kiana" Sahut Adnan.
"Saya bukan Ayah Anda. Jangan panggil saya dengan sebutan Ayah! Dasar gila!" Tabib Danur mendelik kesal ke putra mahkota sementara itu Kiana masih berdiri mematung di depan Adnan.
"Kau sudah menyebutku gila? Hahahahahaha! Berani benar kau?! Tapi, karena kau Ayahandanya Kiana, maka aku memaafkan kamu, tabib Danur, hahahahahaha! Aku tidak gila, tapi iya, aku tergila-gila pada putri kamu, tabib. Aku sangat mencintai Kiana" Adnan berucap panjang lebar tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantik wanita pujaan hatinya.
Saat Adnan ingin menyentuh rambut Kiana, Ayahandanya Kiana sontak berteriak, "Jangan sentuh Putriku!"
Teriakan ayahandanya membuat Kiana tersadar dari kebekuannya. Kiana berhasil melangkah mundur sebelum Adnan berhasil menyentuh rambutnya.
Adnan menggeram lalu menyeringai lebar kemudian berkata, "Bagaimana? Kau mau ikut denganku atau melihat Bora, Agni, dan Ayah kamu mati di depan kamu?"
Kiana menoleh ke sel di belakangnya dan ia melihat Bora dan Agni masih tergeletak tidak sadarkan di dalam sel penjara itu. Lalu, Kiana menoleh ke depan untuk melihat ayahandanya.
__ADS_1
"Utusan Permaisuri akan segera datang ke sini membawa jasad Agha di depan kamu, lalu ia akan membunuh kalian semua. Namun, sebelum itu terjadi, aku bisa menyelamatkan kalian semua. Waktu kamu tidak banyak Kiana. Cepat berikan keputusan!" Adnan mulai menggeram tidak sabar.