
Setelah puas saling meluapkan rasa kebahagiaan bercampur haru, Agha dan kaisar Abinawa saling melepaskan pelukan mereka.
Raja kemudian bertanya, "Putraku memiliki tanda lahir di pantat yang bentuknya mirip seperti burung merpati dan bayi yang ditemukan meninggal di dalam hutan langsung dikuburkan oleh mendiang Jenderal Bima, Paman kamu, adik dari mendiang Ratu. Jadi, tidak ada yang melihat apakah bayi itu ada tanda lahir atau tidak di pantatnya. Maaf Agha, bukannya aku meragukan ikatan batin kita saat ini tapi apakah aku boleh melihat pantat kamu dan........."
Agha langsung berbalik badan dan setelah berkata, "Maaf" Agha menurunkan sedikit celana kainnya untuk memperlihatkan tanda lahirnya yang ada di pantat sebelah kiri bagian atas.
Yang Mulia Raja Abinawa sontak tertawa haru dan memekik bahagia dengan suara bergetar, "Ka.....kamu benar-benar putra kami........Jelita kau dengar dan kau melihatnya, kan, aku sudah menemukan Putra kita. Jelita kamu pasti tersenyum bahagia saat ini di Surga sana. Aku sangat merindukan kamu Jelita, sangat, hiks,hiks,hiks, hiks" Raja kembali menangis terisak dan Agha bergegas merapikan kembali celana kainnya lalu berbalik badan untuk menatap ayah kandungnya dengan mata berkaca-kaca.
Raja Abinawa langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan berkata, "Kemarilah, Agha! Peluk Ayah kamu dan panggil aku Ayah!"
Agha langsung berlari menubruk tubuh gagah ayahandanya dan saat ayahandanya memeluknya erat, Agha juga memeluk erat tubuh ayahandanya dengan isak tangis bahagia lalu berkata, "Ayah. Agha senang bisa memeluk Ayah saat ini. Agha bersyukur masih diberikan kesempatan untuk berbakti kepada Ayah" Agha lalu menangis sesenggukkan. Raja pun menangis sesenggukkan.
Sepuluh menit kemudian mereka saling melepaskan pelukan mereka dan kembali duduk berhadapan.
"Intan, Istri Paman kamu, mendiang Jenderal Bima membesarkan kamu dengan sangat baik. Aku harus menemui Intan untuk berterima kasih padanya karena ia sudah melindungi dan membesarkan Putraku dengan sangat baik" Raja terus membelai pipi Agha dengan tangan gemetar saking bahagianya dia menemukan putranya dalam keadaan baik-baik saja dan putranya tumbuh menjadi seorang pria hebat juga berbudi luhur.
"Ibunda tidak pernah membedakan aku dan Agni, Ayah. Ibunda menyayangi dan memperlakukan kami dengan sama. Ibunda memang seorang wanita yang sangat hebat. Tanpa suami beliau mampu membesarkan, melindungi, dan mendidik kami dengan sangat baik. Paman Bima juga begitu. Paman Bima meninggal dunia saat Agni masih kecil dan Paman Bima meninggal dunia karena melindungiku"
"Kamu tampan, Agha. Wajah kamu mirip sekali dengan Jelita" Raja masih membelai pipi Agha.
"Kata Kiana, cara kita berjalan dan suara kita sama persis, Ayah" Agha tersenyum lebar saking bahagianya.
"Benarkah? Papa sangat senang kalau ada yang menilai seperti itu. Papa senang ada mirip-miripnya sama kamu, Agha. Sampaikan ke Kiana, Ayah berterima kasih padanya karena sudah berkata seperti itu"
"Pasti akan saya sampaikan Ayah dan Kiana pasti sangat senang mendengarnya" Agha melebarkan senyumannya.
"Ayah senang kamu bisa bahagia dengan Istri pilihan Ayah. Ayah senang melihat kamu dan Kiana saling mencintai"
"Agha sangat berterima kasih karena Ayah memilihkan Istri yang sangat tepat buat Agha"
"Hanya itu yang bisa Ayah lakukan selama ini. Maafkan Ayah" Ucap raja Abinawa sambil memakaikan kembali Kalung bayi giok ke pergelangan tangan kiri Agha.
"Tidak! Tanpa Ayah sadari, Ayah sudah melakukan banyak hal untuk Agha dan Agha sangat berterima kasih untuk itu" Sahut Agha sambil mengusap punggung tangan Ayahnya.
"Besok kita kunjungi makam Ibu kamu, Paman kamu dan kita kunjungi Intan Bibi kamu, lalu, Uhuk-uhuk, Uhuk-uhuk!"
__ADS_1
Agha langsung mengusap punggung ayahandanya sambil berkata, "Ayah fokus pada.kesehatan Ayah dulu. Kalau sudah benar-benar sehat, kita akan mengunjungi makam Ibunda, Jenderal Bima, dan kita temui Ibunda Intan"
Ayahandanya Agha yang masih terbatuk-batuk menganggukkan kepalanya.
"Kiana semalam mengutak-atik resep untuk menawarkan racun langka di tubuh Ayahanda dan racikan ini paling mendekati diagnosisnya Kiana. Kalau belum berhasil menawarkan racun langka itu paling nggak bisa memperpanjang umur Ayah. Agha akan merebusnya untuk Ayah"
"Baiklah" Sahut Raja Abinawa dengan senyum lebar.
Agha langsung merebus satu bungkus racikan obat buatannya Kiana.
Beberapa menit kemudian, Agha bertanya setelah Ayahandanya meminum habis ramuan obat dari Kiana, "Bagaimana Ayah? Apa yang Ayah rasakan?"
"Badanku terasa enakan tapi aku rasa racunnya tidak akan hilang secepat ini" Sahut Raja Abinawa.
"Kalau begitu, Agha akan menginap di sini untuk menjaga Ayahanda dan berangkat dinas dari sini. Agha akan menjaga Ayahanda sampai kesehatan Ayahanda membaik"
"Iya, terima kasih Agha" Raja mengulas senyum bahagia. Sangat bahagia.
Keesokan harinya, Agha berangkat bekerja dari ruang rahasia ayahandanya setelah ia merebuskan obat untuk ayahandanya.
"Bagiamana Yang Mulia Raja, Mas?" Tanya Kiana sambil membantu suaminya berganti baju.
Agha mengetuk bibirnya sebagai kode kalau dia minta ciuman selamat pagi sebanyak yang ia mau.
Kiana tersenyum penuh cinta lalu mendaratkan ciuman selamat pagi sebanyak yang suaminya mau.
Setelah puas melepas kerinduan dengan istri kecilnya yang sangat cantik, Agha berkata, "Setelah minum racikan obat dari kamu, Raja tidak batuk-batuk lagi dan tubuhnya ridak lemas, pening di kepalanya juga hilang, tapi Ayah kamu yang memeriksa kondisi Raja tadi pagi berkata ke Raja kalau racun langka di tubuh Raja belum hilang"
"Apa Ayahku tahu kalau Mas ada di sana?"
"Tentu saja tidak. Aku menguping dari balik tak buku tadi. Kata Ayah kamu kondisi Raja membaik dan aku rasa itu berkat obat racikan kamu. Terima kasih, Sayang"
"Iya, Mas. Kalau belum hilang racunnya berarti aku harus mengutak-atik resep lagi"
Agha mengusap pucuk kepala Kiana dan berkata, "Iya, tapi jangan lupa istirahat"
__ADS_1
"Iya, Mas" Sahut Kiana dengan senyum cantiknya.
Agha lalu mencium kening Kiana dan berkata,
"Setelah sarapan tolong kemas beberapa baju untukku, emm, enam potong baju karena aku ingin tinggal di ruang rahasia Raja sampai kondisi Raja membaik. Aku rasa enam hari ke depan kondisi Ayah akan terus membaik. Lagian obat dari kamu cuma untuk satu Minggu, kan, setelah obat habis aku akan pulang dan menemani kamu membuat obat lagi untuk Raja"
"Baik, Mas"
"Aku akan berangkat kerja dari istana. Kalau sempat aku akan pulang dulu seperti pagi ini. Kalau nggak sempat, aku nggak pulang dulu nggak papa, kan?"
"Nggak papa, Mas, asal jangan mengobrol sama Putri Kesya kalau bertemu dengan Putri Kesya di istana, Mas harus menghindar"
"Hahahaha, iya, Sayang, lagian mana mungkin aku bertemu dengan Kesya kalau aku tinggal di ruang rahasianya Raja"
"Ah, iya, juga, ya, hehehehehe"
Agha langsung memagut bibir Kiana dan bergumam, "Aku senang kalau kamu cemburu. Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk menyatu dulu dengan kamu"
Kiana langsung menepuk pelan dada suaminya dan berkata, "Dasar mesum" Dan Agha langsung terbahak-bahak.
Sementara itu, Maharani yang sudah membaik harus berpuas diri hanya dirawat oleh para pelayan di kediaman Caraka karena Kiana sibuk dan Maharani harus mengubur cintanya karena Agha tidak pernah sekali pun menengok dirinya setelah ia sadar.
Setelah tiga hari berkutat di kliniknya dan tidur di kliniknya karena Agha tidak pulang ke kediaman Caraka, Kiana akhirnya menemukan tanaman herbal yang bisa menawarkan racun langka itu yakni, teratai jingga yang tumbuh di danau beku dan danau beku itu letaknya di tengah hutan siluman. Kiana langsung menatap Agni yang selalu menemani Kiana di klinik atas perintah Agha.
"Ada apa, Kak?"
"Lihatlah! Hanya teratai jingga ini yang bisa menawarkan racun langka. Apa kau mau menemaniku pergi ke hutan siluman?" Kiana memperlihatkan halaman buku medis yang ia baca.
Agni langsung tersentak kaget, "Hah?! Hutan siluman?! Hutan itu sangat berbahaya, Kak. Siapa yang masuk ke sana tidak akan bisa keluar lagi dalam keadaan hidup. Itulah kenapa hutan itu dinamakan hutan siluman"
"Aku tahu caranya bisa masuk dan keluar dari sana dengan mudah"
"Bagaimana caranya?"
"Pakai peluit ini" Kiana mengeluarkan peluit pemberiannya Kakek cermin.
__ADS_1
"Hah?! Peluit?" Agni sontak ternganga lebar.