
Di dunia manusia, Bora akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Agni berkencan. Dia ingin menyatakan perasaannya ke Agni karena dia takut mengalami hal seperti Agha yang tiba-tiba menghilang. Dia takut tiba-tiba menghilang seperti Agha Caraka sebelum ia menyatakan perasaannya pada Agni. Dia takut menyesal.
Bora mengajak Agni ke kedai mie yang buka dari jam delapan malam sampai subuh. Bora ingin menyatakan perasaannya pada Agni di kedai mie itu. Namun, di saat Bora ingin membuka suara untuk memulai menyatakan perasaannya, putri Arfa adiknya putra mahkota melintasi kedai mie itu dan putri Arfa langsung turun dari kereta kudanya dan berlari ke kedai Mie.
"Bora! Aku senang bisa melihatmu di sini. Untung aku tadi menoleh ke sini jadi aku bisa melihat kamu"
Bora menoleh kaget dan refleks bertanya, "Kenapa Anda ada di sini di saat seperti ini, Putri?"
"Apa maksud kamu, Bora?"
Sial! Aku ingin menyatakan perasaanku ke Agni,kok, malah muncul wanita pengganggu ini? Kalau dia menyatakan perasaannya padaku lagi, saat ini, di depan Agni, aku bisa mati kutu, nih, hiks, hik, hiks. Batin Bora dan tanpa Bora sadari ia mewek di depan Puti Arfa.
Bora lalu menoleh pelan ke Agni dan pria tampan itu seketika menggaruk kepalanya dengan wajah frustasi saat ia melihat Agni menatap Arfa dengan wajah kesal dan bibir mengerucut lancip.
Wah, bakal rame, nih. Batin Bora sambil terus menggaruk kepalanya.
"Bora, kenapa kamu mewek? Ayo kita pergi ke restoran langgananku saja" Putri Arfa dengan santainya menggenggam tangan Bora dan Bora sontak mengangkat kedua bahunya karena kaget dan pria tampan itu langsung menarik tangannya sambil menatap Agni.
"Bora! Kenapa kau tarik tangan kamu? Kamu, kan, tahu kalau aku mencintai kamu dan mumpung aku bertemu denganmu di sini, aku pengen mengobrol berdua dengan kamu. Kita, kan, jarang bisa bertemu dan mengobrol berdua. Ayo, kita ke restoran langgananku saja!" Putri Arfa memegang tangan Bora kembali dan Bora langsung menarik tangannya sambil bangkit berdiri.
Bora terus menatap Agni dan berkata, "Saya tidak mau ikut Anda, Putri. Maafkan saya"
"Kenapa tidak mau? Kau berani menolak aku dan ....."
Brak! Agni langsung menggebrak meja.
Bora langaung mundur satu langkah ke belakang sambil bergumam di dalam hatinya, wah, mulai rame beneran, nih. Kenapa Puti Arfa harus muncul di saat seperti ini, sih? Hadeeeehhh!
Putri Arfa yang terkejut mendengar meja digebrak, langsung menoleh ke kanan. Barulah ia sadar kalau Bora ternyata ridak datang ke kedai mie itu sendirian. Bora datang bersama seorang wanita. Wanita cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya karena Agni memang selama ini belajar ilmu beladiri dan pengobatan di pondok seorang guru besar yang ada di pegunungan.
"Siapa kamu? Berani benar kamu menggebrak meja di depanku? Kau tidak tahu siapa aku?!" Puti Arfa mendelik ke Agni.
__ADS_1
"Tahu. Saya tahu siapa Anda karena kita dulu teman masa kecil. Anda Putri Arfa, kan? Adiknya Putra Mahkota. Cuma saya nggak nyangka saja Anda tumbuh menjadi seorang putri yang tidak tahu sopan santun" Sahut Agni.
Hadeeehhh! Kenapa Agni berani banget ngomong seperti itu ke putri Arfa? Batin Bora sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Kau! Kenapa aku tidak tahu sopan santun?"
Putri Arfa bersedekap dan mendelik ke wanita cantik di depannya.
"Anda menggenggam tangan pacar saya dan mengajak pergi pacar saya padahal saya ada di sini. Anda bahkan tidak menyadari kehadiran saya. Bukankah itu tidak tahu sopan santun namanya" Agni bersedekap dan tersenyum mengejek.
'Kau! Apa?! Kau bilang pacar? Pacar siapa? Bora?!" Putri Arfa mundur ke belakang saking kagetnya.
Bora langsung berlari mendekati Agni lalu merangkul bahu Agni dan berkata, "Iya, Putri Arfa. Maafkan saya. Saya harus membuat Anda kecewa karena saya tidak bisa membalas perasaan Anda kepada saya. Saya tidak mencintai Anda. Saya hanya menganggap Anda sebagai junjungan saya selama ini. Saya hanya mencintai Agni. Dari dulu sampai sekaran dan sampai tua nanti, saya hanya mencintai Agni"
Agni menoleh kaget ke Bora dan seketika ia mematung mendengar ucapannya Bora.
Apa dia serius dengan ucapannya? Apa ucapannya hanya untuk mengusir putri Arfa dari sini? Batin Agni.
Setelah kereta kudanya putri Agni dan rombongannya menghilang, Bora menoleh ke Agni dan tersentak kaget, "Kenapa kau mendelik ke aku seperti itu? Kau kerasukan roh halus, ya?"
Agni menepuk bahu Bora dan langsung bertanya, "Apa maksud ucapan kamu tadi? Kau serius atau hanya ingin mengusir putri Arfa dari sini agar aku tidak terpancing dan menghajar Puti Arfa habis-habisan? Kau hanya ingin aku terhindar dari masalah serius atau pernyataan cinta kamu tadi benar-benar serius untuk aku dan hmmmmmmpt!"
Agni membeliak kaget saat Bora tiba-tiba memagut bibirnya.
Bora kemudian melepaskan ciumannya dan bergegas berkata, "Kau pikir sendiri aku serius tidak dengan pernyataan cintaku tadi"
Agni membeliak kaget dan langsung memeluk Bora. Wanita cantik itu menyusupkan wajahnya di dada bidangnya Bora dan berkata, "Terima kasih Bora. Kau pilih aku daripada Putri Arfa"
Bora memeluk Agni dan berkata, "Karena hanya kamu yang bisa memahami aku. Karena hanya kamu yang bisa aku ajak bertengkar dan karena hanya kamu yang bisa membanting aku"
Agni langsung terkekeh geli sambil memukul dadanya Bora.
__ADS_1
Bora mempererat pelukannya sambil ikutan terkekeh geli.
Sial! Aku tidak bisa menolak ciumannya. Dia adalah Alaric tapi ciumannya tetap berasa Mas Agha. Batin Kiana sambil merekahkan bibirnya untuk mengundang masuk lidahnya Alaric.
Alaric mengerang frustasi dan berbisik di tengah-tengah ciuman panasnya, "Kiana, aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi dan........"
Dhuaarrrr!!!!! Tiba-tiba terdengar ledakan. Kiana dan Alaric langsung dipisahkan cahaya berwarna hitam yang timbul dari dalam pot yang berisi bibit Ganoderma hitam dan air yang ada di sekitar pot itu naik ke atas.
"Kiana! Kamu baik-baik saja?!" Teriak Alaric sambil meraup kasar wajahnya yang terus terciprat air.
"Saya baik-baik saja, Yang Mulia!" Teriak Kiana sambil meraup wajah cantiknya yang juga terus terciprat air.
"Airnya indah banget, Yang Mulia! Mirip seperti kembang api!" Teriak Kiana.
"Kamu suka kembang api, Kiana?!" Teriak Alaric dari tempatnya berdiri.
"Iya! Saya sangat menyukai kembang api, Yang Mulia!" Teriak Kiana.
Di saat Alaric ingin membuka suaranya, tiba-tiba air turun kembali dan cahaya hitam meredup, Alaric dan Kiana kemudian bergegas mendekati pot yang berisi bibir Ganoderma hitam.
"Ah! Akhirnya berhasil! Tidak perlu menunggu satu Minggu" Kiana menjerit senang dan Alaric mengerjap bingung saat ia menatap tanaman berbentuk bulan sabit dan berwarna hitam legam yang ada di depannya.
Ganoderma hitam telah berwujud sempurna. Kiana terus membeliak senang dan langsung mencabut Ganoderma hitam dari potnya lalu memberikan Ganoderma hitam itu ke Alaric, "Silakan dimakan, Yang Mulia"
"Kamu yakin tanaman itu bisa dimakan langsung? Nggak dimasak dulu atau dibikin minuman yang manis?" Alaric menautkan kedua alisnya.
"Kata Alvin harus dimakan langsung"
"Apakah akan ada efek sampingnya sebelum aku mendapatkan ingatanku kembali?" Tanya Alaric dengan masih menautkan kedua alisnya.
"Entahlah, Yang Mulia. Saya belum pernah mencobanya. Apa tidak usah saja? Saya juga jadi ragu kalau Anda kenapa-kenapa gimana? Tapi, kalau nggak jadi dimakan Anda akan selamanya hilang ingatan dan kita nggak bisa bersama lagi secara utuh seperti dulu " Sahut Kiana dengan wajah bingung bercampur sedih.
__ADS_1
"Oke lah, demi kamu, maka aku akan makan Ganoderma hitam itu. Aaaaaa!!!!!" Alaric langsung memejamkan mata dan membuka mulutnya lebar-lebar.