Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Janji


__ADS_3

Di dalam istananya raja Abimantya, di paviliun para tamu undangan, dan di sebuah kamar khusus untuk keluarga tabib Danur, Istrinya tabib Danur dan Tabib Danur tengah merawat putra kesayangan mereka yang tiba-tiba sakit demam.


"Kenapa Kendra bisa demam begini, Mas?"


"Kok, malah nanya aku? Seharusnya aku yang nanya kamu, perut Kendra kembung. Kendra sudah makan belum sebelum kita berangkat tadi?"


"Aku nggak tahu. Aku sibuk menyiapkan barang-barang yang akan kita bawa" Sahut istrinya tabib Danur dengan wajah mendelik kesal.


Tabib Danur hanya bisa menghela napas panjang.


Istrinya tabib Danur kemudian diam seribu bahasa dan mengunci bibirnya rapat-rapat.


Tabib Danur kembali menghela napas panjang dan berkata, "Kendra sudah membaik. Sudah tidak demam. Kamu masak bubur sana! Kalau Kendra bangun, kita bisa langsung kasih Bubur ke Kendra"


"Iya!" Sahut istrinya tabib Danur lalu dengan wajah cemberut istrinya tabib Danur melangkah kesal meninggalkan kamar Kendra.


Tiba-tiba terdengar gumaman lirih Kendra, "Kak Kiana. Kak Kiana di mana? Kendra kangen Kak Kiana"


Tabib Danur mengusap lembut pipi gembul putra tampannya sambil menempelkan keningnya di kening Kendra dan berkata di sana, "Kak Kiana sebentar lagi sampai. Kamu bisa bermain sepuasnya dengan Kak Kiana sebentar lagi, Sayang"


Sementara itu di dalam kereta kuda mewahnya raja Agha, raja muda, tampan, dan gagah itu tengah mengusap kedua pipi Kiana lalu tersenyum lebar dan berkata, 'Kita makan, yuk. Sebelum berangkat aku sempat menyuruh kepala koki menyiapkan makanan kesukaan kamu. Ada manisan mangga, manisan kedondong, manisan salak, kering kentang, kue cokelat Almon. Makan, yuk!"


Kiana tiba-tiba memegang dadanya sambil bergumam, "Kendra kenapa? apa Kendra sakit?"


"Ada apa? Apa yang sakit? Kamu menggumamkan apa? Dada kamu sakit?" Agha mencecar Kiana dengan pertanyaan itu dan memasang wajah panik.


Kiana mengusap dadanya dan langsung berkata, "Aku nggak papa, Mas. Aku hanya tiba-tiba saja mengkhawatirkan Kendra"


"Kita sebentar lagi sampai. Kita akan segera bertemu dengan Kendra. Aku juga sudah kangen banget mencium pipi gembul anak tampan itu, hehehehehe"


"Bisa ketawa, Mas?" Kiana kembali memasang wajah tegas.


Agha menatap Kiana dengan penuh tanda tanya.


Kiana menatap Agha dan berkata, "Mas, nggak merasa bersalah sama sekali, ya?"


"Soal apa? Belati? Sudah beres, kan? Aku udah cerita semuanya ke kamu. Kamu juga nggak marah, kan?" Agha mengulas senyum lebar dengan polosnya.

__ADS_1


"Benarkah begitu? Mas menganggapnya selesai begitu saja? Oke, kalau begitu" Kiana langsung bersedekap dan memalingkan wajahnya.


Agha sontak blingsatan seperti seorang pencuri yang tertangkap basah tengah mencuri. Pria tampan dan gagah itu kemudian mengusap lembut kedua pipi istri kecilnya sambil bertanya, "Kamu marah, ya?"


Kiana hanya menggelengkan kepala.


"Kalau nggak marah kenapa melengos?"


Kiana menarik pelan tangan Agah dari pipinya.


"Tuh, kan, ngambek. Katanya janji nggak akan marah dan ngambek" Agha sontak mengerucutkan bibir.


Kiana kembali menggelengkan kepalanya.


"Kenapa terus menggelengkan kepala? Kamu kenapa ngambek? Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf kalau sudah bikin kamu marah. Tapi, jangan ngambek. Jangan diam kayak begini"


"Mas tahu apa yang membuatku seperti ini?" Tanya Kiana.


"Tahu, dong. Aku Suami ideal jadi pasti tahu apa yang membuatmu ngambek kayak gini" Agha ingin memeluk Kiana, namun Kiana menahan dada Agha dengan dua telapak tangan sambil bertanya dengan sangat lembut, "Apa, Mas? Apa yang sudah membuatku kecewa?"


"Kamu kecewa?" Agha tersentak kaget.


"Aku kasih belati keberuntunganku ke cewek lain. Apa itu yang membuatmu kecewa?" Sahut Agha dengan wajah polos.


"Itu hanya benda, Mas" Sahut Kiana dengan wajah dan nada tegas. Sangat tegas.


"Jadi, kamu nggak marah, kan? Nggak kecewa, kan? Aku akan minta lagi belati itu dan menggantinya dengan benda lain kalau kamu sayang banget sama belati itu, oke?" Agha membeliak senang dan saat ia ingin memeluk istrinya, istrinya kembali menahan dadanya Agha sambil berkata, "Aku tidak marah. Tapi, aku kecewa, Mas"


"Lho, katanya belati itu hanya benda. Jadi, nggak papa,kan, kalau aku kasih ke cewek lain sebagai tanda persahabatan"


"Sekarang aku tanya sama, Mas"


"Hmm. Tanya saja" Agha mengusap lembut rambut Kiana dan Kiana menepis pelan tangan Agha sambil berkata, "Dengarkan aku dulu, Mas"


"Hmm" Agha kembali mengusap lembut rambut istrinya.


Kiana menghela napas panjang dan akhirnya membiarkan suaminya mengusap lembut rambutnya dan memainkan rambutnya sambil sesekali mencium rambut hitam panjangnya. Kiana kemudian berkata dengan suara lembut, "Kalau Mas kasih aku barang yang ada ukiran inisial nama kita, lalu aku kasih barang itu ke pria lain sebagai tanda persahabatan tanpa meminta persetujuan dari Mas terlebih dahulu dan setelah itu aku tidak ceritakan langsung ke Mas. Mas, bakalan kecewa tidak sama aku? Bakalan marah, nggak? Ngambek, nggak?"

__ADS_1


Agha sontak berkata, "Iya, dong. Aku bahkan akan hajar pria itu dan rebut balik benda itu. Enak aja dia ambil barang yang sudah aku kasih ke Istriku dan ada ukiran inisal nama aku dan istriku segala. Bisa aku cincang habis pria itu"


"Nah, itu, Mas, sudah tahu jawabannya" Kiana langsung bangkit berdiri dan melangkah lebar ke depan.


Agha sontak sontak bangkit berdiri lalu berlari menyusul Kiana dan Agha langsung mendekap Kiana dari arah depan lalu menggendong Kiana dalam posisi berdiri lalu merebahkan Kiana di atas ranjang dan setelah menggenggam kedua tangan Kiana, Agha berkata, "Kamu mau pergi?"


Kiana menggelengkan kepalanya.


"Kenapa melangkah ke depan?"


Kiana memalingkan wajahnya lalu tidur miring membelakangi Agha.


Agha menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal, lalu ia merebahkan diri dengan pelan dan langsung memeluk tubuh ramping istrinya dari arah belakang sambil berkata, "Aku minta maaf. Aku nggak langsung cerita ke kamu soal belati itu karena pas pulang kamu langsung ngambek dan bilang nggak suka sama Aisyah. Makanya aku nggak cerita soal belati itu langsung. Aku takut kamu ngambek dan mendiamkan kau lagi. Maafkan aku! Aku akan minta balik belati itu dan........"


Kiana langsung memutar badannya dan menghunuskan tatapan tajamnya ke Agha sambil berkata, "Jangan temui wanita licik itu sendirian! Biarkan saja dia memiliki belati itu meskipun ada ukiran inisial nama kita di belati itu. Jangan diminta lagi dan jangan menemuinya lagi!"


"Iya, baiklah! Aku nggak akan menemui Aisyah dan meminta belati itu. Jangan ngambek lagi, ya" Agha mengusap rambut Kiana dengan sangat lembut dan menatap wajah Kiana dengan sorot mata sendu dan senyum penuh cinta.


Kiana menatap wajah suaminya yang tersenyum polos dan seketika itu juga hatinya merasa tidak tega.


Kiana kemudian menghela napas panjang, lalu berkata, "Mas janji dulu sama aku kalau ke depannya, jangan pernah lagi menunda-nunda persoalan apapun. Kecil atau besar, baik atau buruk, harus langsung cerita ke aku. Jangan ada rahasia sekecil apapun di antara kita! Aku juga akan begitu, Mas"


"Iya, aku janji. Aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi dan nggak akan menyimpan rahasia lagi"


Kiana tersenyum senang lalu menyusupkan wajahnya ke dada suaminya dan Agha langsung memeluk erat tubuh ramping istri tercintanya sambil berkata, "Aku memang bodoh, ya"


Kiana langsung menyahut, "Hmm"


Agha langsung mencium pucuk kepala Kiana dan berkata di sana, "Dan untungnya aku punya Istri yang sangat pintar jadi aku bisa ketularan pintarnya"


Kiana terkekeh geli dan langsung berkata, " Wah, mulai gombal, nih"


Agha terkekeh geli dan langsung berkata, " "Beneran nggak gombal ini"


Kiana lalu mendongak dan berkata, "Aku lapar, Mas"


Agha langsung bangun lalu membopong Kiana dan berkata, "Ayo kita makan"

__ADS_1


Sementara itu, Aisyah tengah menyeringai senang dan mengelus kepala burung elang kesayangannya sambil berkata, "Bagus, kau sudah letakkan kalungku di kereta barangnya raja Agha. Kerja bagus elang Kesayanganku"


__ADS_2