Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Jengkel


__ADS_3

Kiana langsung berdeham lalu berkata, "Ba.....baiklah! Aku ijinkan kamu melihat anak serigala berbulu putih itu. Tapi, kamu tidak usah men......."


Cup! Alaric langsung mendaratkan kecupan di pipi kiri Kiana.


Lalu, bocah itu menatap Kiana dengan wajah ceria. Bocah itu bahagia dirinya diijinkan memelihara anak serigala berbulu putih.


Kiana mematung dan bergumam di dalam hati, apa ciuman di pipi barusan masuk hitungan?


Seolah mengerti apa yang Kiana risaukan, Kakek cermin langsung berkata, "Iya, kIana. Ciuman di pipi masuk hitungan. Tapi, ciuman di punggung tangan tidak masuk hitungan"


Kiana langung tersenyum lega. Dia sudah berhasil mendapatkan satu ciuman. Dia tinggal memikirkan satu ciuman lagi, maka dia dan suaminya. bisa keluar dari dunia cermin.


Alaric menatap Kiana dengan menautkan kedua alisnya. Lalu bertanya, "Kenapa Kakak tersenyum lebar dan wajah Kakak memerah? Kakak memikirkan apa, hayo?"


Kiana langsung menghapus senyum lebarnya lalu berbalik badan dengan cepat sambil berkata, "Aku nggak memikirkan apa-apa. Ayo buruan selesaikan pondoknya bosar malam ini kita bisa tidur dengan aman"


"Baiklah. Tapi, sebentar, Kak, aku akan ikat Bora dulu di pohon ini" Sahut Alaric.


Setelah mengikat anak serigala berbulu putih itu, Alaric berlari ke tumpukan kayu dan ia memotong kayu-kayu itu sesuai dengan ukuran yang ia butuhkan. Setelah semua kayu beres, Alaric berkutat dengan bambu-bambu yang masih berupa selongsongan besar.


Sementara Kiana selonjor di atas rumput dan membuat atap pondok dari jerami.


Setelah semua kayu dan bambu siap, Alaric kemudian terbang ke atas pondok sambil berteriak, "Aku akan membangun bagian atas! Kakak nanti berikan kayu yang aku minta, ya!"


"Hei! Kenapa kau naik ke sana tanpa pengaman? Turun dulu biar aku buatkan pengaman!Teriak Kiana dengan wajah kaget bercampur khawatir saat ia melihat Alaric telah nangkring di atas pondok yang belum beratap.


"Nggak mau! Males aku turun lagi" Teriak Alaric yang masih nangkring di atas salah satu balok kayu.


"Kalau jatuh gimana?" Teriak Kiana dengan wajah khawatir.


"Jangan khawatir! Aku bisa terbang, kan. Aku ini seekor naga hitam!" Teriak Alaric sambil menepuk dadanya dengan bangganya.


"Dasar ngeyel! Pokoknya jaga diri jangan sampai jatuh!" Teriak Kiana.


"Siap!" Teriak Alaric.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian Kiana dan Alaric asyik membangun pondok mereka. Saking asyiknya membangun bagian atas pondok, Alaric menjadi kurang waspada. Bocah laki-laki yang sangat tampan itu tiba-tiba tergelincir dan jatuh.


Kiana berteriak, "Awas!" Sambil berlari untuk menangkap tubuh Alaric.


Mereka berdua bersitatap dalam diam saat Alaric jatuh di atas tubuhnya Kiana.


Dia cantik banget. Dia juga tangguh dan pintar. Sial! Kenapa dadaku berdegup kencang banget saat ini? Batin Alaric sambil terus menatap wajah cantiknya Kiana. Wanita yang umurnya lima tahun lebih tua darinya. Itu perkiraannya Alaric.


Kiana refleks memukul kepala Alaric sambil mendelik.


"Aduh!" Alaric mengaduh dan refleks melotot ke Kiana, "Kenapa Kakak memukul kepalaku? Sakit tahu!"


"Karena kamu ngeyel! Naik ke atas tanpa pengaman. Mana terbang? Katanya bisa terbang?" Kiana mendengus kesal.


"Yeeaaahhh, namanya juga kecelakaan, Kak, kan, nggak disengaja. Lagian karena kaget aku lupa caranya terbang, hehehehehe" Alaric meringis di depan Kiana.


Kiana mendengus kesal dan kembali memukul kepala Alaric sambil berkata, "Cepat berdiri! Badan kamu berat tahu!"


Alaric langsung bangun sambil mengelus-elus kepalanya.


Beberapa menit kemudian Kiana dan Alaric bekerja sama membangun sebuah pondok sederhana. Setelah bekerja keras bersama-sama selama tiga jam lebih, akhirnya pondok minimalis yang tampak kokoh dan indah berdiri di depan Kiana dan Alaric.


Kiana dan Alaric bersitatap dengan tawa ceria mereka meski badan mereka lelah. Lalu, Alaric dan Kiana melakukan tos.


"Akhirnya selesai" Ujar Alaric dengan tawa puas.


"Iya, akhirnya selesai" Sahut Kiana dengan tawa bahagia.


Alaric sejenak tertegun melihat tawa Kiana, sial! Kak Kiana seribu persen lebih cantik kalau dia tertawa.


Kiana menatap Alaric dengan heran, "Kenapa? Apa di wajahku ada kotoran atau debu?"


Alaric berdeham dan langsung memutar badan ke kanan dan berjalan sambil berkata, "Nggak ada apa-apa di wajah Kakak. Aku akan cari ikan untuk makan malam kita. Bora sepertinya juga sudah lapar"


"Baiklah. Aku akan cari buah lalu mempersiapkan perapian"

__ADS_1


"Oke!" Teriak Alaric sambil terus melangkah ke depan tanpa menoleh ke belakang.


Setelah memetik beberapa buah yang bisa dimakan, Kiana kembali ke pondok dan berjongkok di halaman depan pondok untuk menatap kayu lalu membuat api unggun untuk memasak ikan yang berhasil ditangkap oleh Alaric nanti.


Kiana terkantuk-kantuk di depan api unggun setelah menunggu Alaric selama empat puluh lima menit lebih tidak balik-balik. Akhirnya Kiana bangkit berdiri sambil mendengus kesal dan setelah memadamkan api unggun, dia berlari ke arah sungai untuk menyusul Alaric.


Sesampainya di pinggir sungai, Kiana melihat Alaric tengah berjongkok di tepian dengan wajah cemberut.


Kiana langsung berlari dan berjongkok di samping Alaric untuk bertanya, "Kenapa malah jongkok di sini? Mana ikannya?"


Alaric menggelengkan kepala dan tanpa menoleh ke Kiana ia berkata dengan bibir cemberut, "Aku sudah berenang dan mencoba menangkap ikan dengan kedua tanganku dan.......gagal. Lalu, aku pakai bambu runcing yang aku bikin sendiri ini untuk menusuk ikan tapi tidak berhasil juga. Aku capek lalu aku jongkok sebentar di sini sambil memikirkan cara apalagi yang bisa aku pakai untuk menangkap ikan"


Kiana terkekeh geli lalu ia bangkit berdiri, mengorek-ngorek tanah gembur untuk mencari cacing.


Alaric melihat Kiana dan langsung bertanya, "Apa yang Kakak lakukan?"


"Aku cari makanan ikan untuk memancing ikan. Makanan ikan, kan, cacing" Sahut Kiana.


Alaric lalu bangkit berdiri dengan wajah ceria dan berkata penuh antusias, "Ah, benar banget! Aku akan bantu Kakak mencari cacing kalau gitu"


Beberapa menit kemudian Kiana sudah berhasil menangkap lima ekor ikan air tawar yang berukuran besar dan aman untuk dikonsumsi.


Alaric langsung memeluk Kiana dan berkata, "Kakak hebat banget!"


Kiana tersentak kaget dan seketika mematung di dalam pelukannya Alaric.


Kiana merasa risih dan canggung dipeluk oleh bocah yang umurnya lima tahun lebih muda darinya dan bocah itu masih remaja. Meskipun bocah itu adalah suaminya sendiri. Tapi, tetap saja Kiana merasa risih dipeluk oleh seorang bocah yang masih remaja.


Aduh! Kenapa tiba-tiba main peluk kayak gini? Batin Kiana.


Kiana lalu mendorong keras dada Alaric sambil berkata, "Lain kali jangan main peluk! Kita beda jenis. Kamu pria dan aku wanita"


"Ah, maafkan aku, Kak" Sahut Alaric dengan tersipu malu dan bocah laki-laki itu langsung berlari melintasi Kiana sambil membawa Ikan tangkapannya Kiana. Alaric berlari untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Kak Kiana wangi banget dan aku merasa sangat nyaman memeluknya. Aku bahkan enggan melepaskannya. Aku bahkan sangat ingin memeluknya lagi saat ini. Apa aku udah gila saat ini? Dia, kan, lebih tua dariku. Batin Alaric.

__ADS_1


__ADS_2