Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Merindu


__ADS_3

Bhadra terpaksa memapah Agha ke ranjang dan merebahkan Agha di atas ranjang dengan perlahan sambil mendengus kesal.


"Kiana, Kiana, Kiana! Maafkan aku! Aku akan menuruti semua permintaan kamu, Sayang. Oke, jangan ngambek dan marah lagi, oke?" Agha menusuk-nusukan jari telunjuknya ke dada Bhadra.


"Memangnya apa yang sudah terjadi di antara kamu dan Kiana, hah?" Tanya Bhadra sambil memasukkan jari telunjuk Agha ke dalam selimut.


Agha meringkuk lalu berkata dengan isak tangis, "Aku sudah membuat Kiana sedih, hiks,hiks,hiks, aku sudah membuat Kiana marah. Tapi, dia cantik kalau pas ngambek, tapi aku nggak suka dia pas ngambek"


"Jadi gimana? Suka Kiana ngambek atau nggak?" Tanya Bhadra sambil mengulum bibir menahan geli.


"Suka semuanya! Eh! Tidak, tidak! Aku tidak suka pas dia ngambek" Agha menggoyangkan-goyangkan kepalanya lalu pria tampan itu mengaduh, "Aduh! Aku pusing, pusing banget. Hiks, hiks, hiks, aku merindukan Kiana"


"Wah, momen berharga, nih, melihat Jendral Agha yang gagah perkasa mabuk dan menangis seperti ini, hihihihihihi. Kenapa kau lucu banget pas mabuk gini, ya, Agha" Bhadra menahan tawa melihat tingkah lucunya Agha. Lalu, Bhadra berdeham dan kembali bertanya, "Iya, kamu udah bikin Kiana sedih dan marah, tapi karena apa?"


Agha menarik selimut dan menyahut, "Hiks, hiks, hiks, ini semua karena Kak Bhadra brengsek itu!"


Bhadra tersentak kaget mendengar namanya disebut dan kena umpatan. Namun, sebelum Bhadra sempat meluncurkan protes, Agha kembali berkata, "Hiks, hiks, hiks, aku nggak mau punya anak karena aku takut anakku mengalami nasib yang sama seperti aku. Aku juga takut Kiana menderita pas hamil karena kata Kak Bhadra brengsek itu!" Agha mengangkat jari telunjuknya ke atas lalu kembali berkata, "Kata Kak Bhadra hamil dan melahirkan itu sangat berat dan menyakitkan. Aku nggak ingin melihat Kiana menderita"


"Nggak papa kali, ya, aku pukul kepalanya. Dia, kan, lagi mabuk. Habisnya dia berani ngatain aku brengsek, tzk!" Gumam Bhadra dengan wajah geli bercampur kesal.


Lalu, Plak! Bhadra memukul kepala Agha sambil berteriak kesal, "Hei, bodoh!"


Agha mengusap kepalanya lalu mengangguk-angguk dan bergumam, "Iya, aku memang bodoh"


Bhadra hampir saja melepaskan tawa melihat tingkah lucunya Agha, namun ia berhasil menahan tawanya kembali setelah ia menghela napas panjang beberapa kali. Lalu, Bhadra berkata, "Setiap anak membawa keberuntungannya sendiri. Aku yakin anak kamu dan Kiana nanti akan tumbuh di tengah keluarga yang hangat dan damai karena Kiana tidak memiliki musuh dan kamu tidak memiliki selir. Dasar bodoh! Kalau kamu mencintai Kiana, maka kabulkan permintaan Kiana. Lekas bikin anak sama Kiana sana"


Agha langsung bangun lalu melompat dari atas ranjang dan langsung berlari kencang. Dengan sigap Bhadra mengejar Agha dan setelah berhasil menangkap Agha, Bhadra mendekap Agha sambil bertanya dengan nada suara meninggi dan wajah kesal, "Kenapa kau malah lari, bodoh!"


Agha menyahut sambil menggoyangkan jari telunjuknya, "Aku mau bikin anak sama Kiana. Sekarang juga!"


Bhadra memapah Agha sambil berkata, "Tunggu besok! Kamu mabuk saat ini. Kiana nggak suka sama orang mabuk"


Agha naik sendiri ke atas ranjang ambil merangkak lalu ia kembali meringkuk dan berkata, "Iya, kau benar!" Agha menepuk pelan pipi Bhadra kemudian berkata, "Aku akan tunggu besok! Aku harus tidur supaya besok nggak mabuk lagi dan bisa bikin anak sama Kiana!"


Tidak begitu lama terdengar suara dengkuran halusnya Agha. Bhadra sontak melepas tawanya lalu bergumam sambil meraup kasar wajah tampannya, "Dasar gila! Kau memang gila, Agha!"

__ADS_1


Bhadra kemudian melangkah ke bangku yang ada di depan ranjangnya Agha. Dia memutuskan untuk tidur di kamarnya Agha untuk menjaga Agha dari godaan wanita cantik dan seksi yang tadi ia temui dan berjaga-jaga kalau tiba-tiba Agha berlari keluar seperti tadi. "Kau harus mentraktirku makan besar nanti, Kiana. Aku sudah jaga mati-matian suami gila kamu ini dari segala gangguan, godaan, ancaman, dan mara bahaya. Tzk! Sungguh merepotkan!"


Aisyah berdiri di depan pintu kamarnya Agha dan mematung di sana sambil mendekap air hangat yang sudah dicampur dengan madu. "Aku ingin menemani raja Agha malam ini dan merawatnya saat ia mabuk berat. Tapi, kakaknya Raja Agha selalu menjaga Raja Agha. Huffftttt! Ya, sudahlah. Aku dan Raja Agha memang tidak berjodoh. Mau dipaksa dan mau berusaha seperti apa juga kalau tidak jodoh, ya, nggak akan pernah kesampaian" Aisyah kemudian berjalan kembali ke kamarnya dan menyiramkan air hangat bercampur mau murni ke tanaman bunga yang ia lewati.


Sementara itu, Kiana masih termenung di dalam kamar pribadinya. Kemudian wanita cantik berwajah tirus dan berkulit putih seperti salju itu, memasukkan semua surat dari suami tampannya ke dalam laci. Kemudian Kiana merebahkan kepalanya dengan perlahan di atas meja dan bergumam sambil menarikan jari telunjuknya di atas meja, "Aku menjalankan kewajibanku sebagai Ratu di sini menggantikan kamu. Aku berurusan dengan debatnya para menteri dan pejabat tinggi kerajaan, aku mengurusi dan mempelajari semua petisi setiap malam sampai lembur, dan malah memuji-muji wanita lain, Mas. Aku tahu ratu Aisyah sangat cantik dari lukisan yang diperlihatkan oleh Agni. Apa kamu akan membawa pulang ratu Aisyah dan memilikinya menjadi selir kamu, Mas?" Karena lelah dan kesal, Kiana ketiduran di meja. Kiana terbangun dengan badan pegal dan kepala pening karena ia tidur di atas meja sepanjang malam.


Kiana bangun lalu bangkit berdiri dengan pelan karena seluruh badannya kaku-kaku. Kemudian wanita cantik yang sedang merindu berat itu berjalan lunglai ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Kiana sudah disambut oleh para dayang yang sudah bersiap untuk memandikan Kiana.


Kiana iseng bertanya ke para dayang yang tengah menjadikannya, "Apakah kalian pernah bertemu dengan dari Aisyah dari kerajaan kecil yang ada di perbatasan Padang pasir?"


Salah satu dayang langsung menyahut, "Saya pernah bekerja di sana, Ratu. Tapi, karena kedua orangtua saya pindah ke sini, maka saya ikut pindah ke sini"


"Kamu melayani Ratu Aisyah di sana?" Tanya Kiana.


"Iya, Ratu"


"Bagaimana penilaian kamu terhadap ratu Aisyah?"


"Ratu Aisyah sangat lugu dan tidak pernah berprasangka buruk sama siapa pun. Untuk itulah saya rasa dia bisa diculik oleh orang terdekatnya. Ratu Aisyah itu sangat cantik, perawakannya sangat bagus, ramping, tapi kuat. Ratu Aisyah ramah, baik hati, suka bercerita, pandai memanah, pandai mengasuh dan melatih binatang, dan Ratu Aisyah juga sangat pandai bela diri. Dia digandrungi banyak raja-raja di sekitar kerjaan kecil, tapi Ratu Aisyah yang masih berumur dua puluh satu tahun merasa belum siap untuk menikah"


Semua penggambaran dayang tadi sama persis dengan penggambarannya Mas Agha akan Ratu Aisyah. Berarti dia memang wanita yang sangat cantik dan hebat. Apa Mas Agha akan memilihnya menjadi selir? Batin Kiana.


Melihat junjungannya tampak murung dan melamun, dayang yang pernah melayani ratu Aisyah segera berkata kembali, "Tapi, Anda juga tidak kalah hebat, Ratu. Anda juga cantik, baik hati, pandai ilmu pengobatan. Anda juga ramah dan suka bercerita, bukan? Anda juga menyukai binatang"


"Terima kasih" Kiana tersenyum ke dayang tersebut. Tapi hatinya masih terasa perih berdenyut karena cemburu.


Dan Agha terbangun di kamarnya yang ada di dalam kerajaan kecil dengan meringis dan mencengkeram kepalanya.


"Bagus, udah bangun!" Gumam Bhadra sambil menyilangkan kaki dan menyesap teh hijau.


Agha terkesiap kaget dan langsung bangkit berdiri, "Kak Bhadra?! Kapan Kakak sampai di sini.......aish! Sial! Kepalaku sakit banget"


"Duduk sini dan minum tehnya untuk meredakan pengar kamu" Sahut Bhadra.


Agha duduk di depan Bhadra lalu menyesap teh pereda pengar. Kemudian pria tampan itu berlari melesat ke kamar mandi sambil berteriak, "Aku harus segera mandi dan menghajar para bandit itu. Aku akan menyapa Kak Bhadra dengan benar nanti!"

__ADS_1


"Ya, ya, ya, terserah kamu saja" Sahut Bhadra sambil melanjutkan aktivitasnya minum teh dengan santai.


Agha muncul kembali di depan Bhadra lima menit kemudian.


"Kok, cepat mandinya?" Tanya Bhadra.


Agha langsung berkata, "Aku akan ke hutan untuk menumpas habis para bandit hari ini juga agar aku bisa segera pulang menemui Kiana lalu Kak Bhadra ........."


"Tentu saja aku ikut. Aku sudah lama tidak berolahraga" Bhadra bangkit lalu meraih pedangnya.


"Bagus! Kita tumpas habis para bandit itu hari ini juga" Agha menggeram penuh semangat.


Bhadra mengulum bibir menahan geli dan bergumam, Agha yang semalam mabuk beda banget dengan Agha di pagi hari ini.


Agha melompat naik ke punggung Red Hair lalu menoleh ke Bhadra sambil mengusap kepalanya, "Apa Kak Bhadra memukul kepalaku semalam?"


"Nggak!" Sahut Bhadra tanpa menatap Agha.


"Tapi, kenapa kepalaku masih terasa pening banget"


Bhadra menoleh kesal ke Agha, lalu berkata, "Itu karena kamu mabuk berat. Jangan kamu ulangi lagi! Kalau aku nggak datang tepat waktu semalam, kamu sudah didekap wanita lain selain Kiana"


"Hah?! Siapa? Tapi, tidak terjadi apa-apa,kan, Kak?" Tanya Agha dengan bergidik ngeri.


"Pikir saja sendiri" Sahut Bhadra sambil melajukan kudanya.


"Siapa? Apa mungkin Aisyah? Ah! Nggak mungkin. Aku dan Aisyah, kan, bersahabat. Ia nggak mungkin mengambil keuntungan dariku" Agha lalu menghentak perut Red Hair dan saat Red Hair melesat berlari, Agha berteriak, "Kak Bhadra! Siapa yang Kakak maksud?! Wanita mana yang mendekap aku, hah?! Tidak terjadi apa-apa, kan, Kak?!"


Bhadra menoleh ke belakang dan berteriak, "Tidak terjadi apa-apa! Tapi kalau aku tidak datang, entahlah apa yang akan terjadi!"


"Sial! Oke! Aku janji mulai detik ini aku nggak akan mabuk lagi! Kakak dan Padang pasir ini saksinya!!!!!!" Teriak Agha.


"Terserah kamu! Kenapa aku harus jadi saksi, dasar gila!" Teriak Bhadra kesal dan Agha langsung melepas tawa renyahnya.


Sementara itu Bora dan Aisyah menghela napas panjang dan langsung melajukan kuda mereka dengan wajah kesal karena Agha melupakan mereka berdua. Sementara itu semua pasukan pilihannya Bora langung mengekor laju kuda pimpinan mereka.

__ADS_1


Aku bahkan belum sempat meminta maaf dan menyapa raja Agha sekalian menanyakan soal mabuknya, eh, beliau malah sudah pergi meninggalkan aku. Aku memang hanya seorang teman bagi beliau. Lho, emangnya kamu mau mengharapkan apa, Asiyah? Batin Aisyah di atas laju kudanya.


__ADS_2