
Agha turun saat ia mendengar teriakan Bhadra memanggil-manggil namanya.
"Ada apa, Kak?" Tanya Agha masih dalam wujud naga hitam.
"Kenapa kau menemuiku dalam wujud naga hitam? Aku capek mendongak seperti ini" Bhadra mendongak dengan wajah kesal.
Agha mendengus kesal dan tampak ada asap mengepul di kedua lubang hidungnya. Lalu Agha berkata, "Aku habis melawan Naga putih jadi, ya, aku jadi naga juga, Kak dan kalau aku berubah jadi manusia saat ini juga, Kakak akan sakit mata"
"Kenapa sakit mata?" Teriak Bhadra dengan masih mendongak ke atas.
"Kakak mau lihat aku polos tanpa sehelai kain pun?"
"What!!!! Big No!!!!! Benar kata kamu! Aku akan sakit mata! Dasar gila!" Teriak Bhadra.
Agha langsung menggelengkan kepala dan terkekeh geli.
"Kalau gitu anter aku kembali ke rumahku. Kita sudah memenangkan pertempuran, kan?"
"Oke! Naiklah ke punggungku, Kak!" Ayah berucap sambil menekuk kedua kaki depannya.
Bhadra langsung melesat naik ke punggung Agha dan berkata, "Mana pegangannya? Dan.......Aaaaaaa!!!!!! Agha!!!!!! Aku belum menemukan pegangan kenapa kau langsung terbang dan meliuk-liuk nggak jelas begini, hah?! Dasar gila!!!!!"
Agha tertawa senang lalu berteriak, "Kiana saja langsung tahu harus berpegangan di mana kalau dia naik ke punggungku! Kakak kalah pintar, ya, sama Kiana!"
"Sial! Terus saja mengerjai aku, Agha! Aku akan balas nanti!" Teriak Bhadra sambil berpegangan pada kedua pundaknya Agha.
__ADS_1
Agha kembali berteriak, "Aku akan ngebut tenangnya, Kak! Pegangan yang erat!" Lalu dengan kecepatan di atas rata-rata, Agha terbang melesat ke rumahnya Bhadra sambil terus menggemakan tawa renyahnya dan Bhadra terus melancipkan bibir dan mendengus kesal.
Sementara itu Amber di dalam wujudnya Kenzie tengah berguling-guling di atas kasur dan terus tertawa lepas sambil membayangkan momen Kenzie yang masih ada di dalam tubuhnya, berkencan dengan Fandra. "Hahahahaha! Mas Kenzie pasti canggung dan bingung harus ngapain, hahahahahaha!!!!"
Di dalam kamar yang lain, Fandra tengah tersenyum bahagia karena junjungannya mengijinkan dirinya berkencan dengan Ratu Amber. Kencan yang sudah lama Fandra impikan Minggu depan akan terwujud dan dia sudah tidak sabar melihat malam berganti terang dan berharap hari berlalu dengan lebih cepat dari biasanya.
Fandra sontak bangkit berdiri dan tersentak kaget dari lamunan indahnya saat ia mendengar pintu kamarnya diketuk sebanyak tiga kali. Fandra bergegas berlari untuk membuka pintu dan langsung menautkan kedua alisnya, "Rosa? Kenapa kamu ke sini malam-malam begini?"
Rosa sudah terbiasa masuk ke kamarnya Fandra karena mereka sering menjalankan misi bersama-sama di mana pun dan kapan pun, langsung mendorong pintu kamar Fandra sambil berkata, "Tentu saja aku ingin membantu mempertahankan benteng ini. Ternyata pertempurannya sudah selesai" Rosa kemudian duduk santai dan menuangkan arak ke dalam gelas kecil.
Fandra seperti biasanya membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar saat Rosa masuk ke dalam kamarnya. Fandra duduk di depan Rosa dan dengan santainya ia menceritakan kebahagiaannya, "Yang Mulia Raja mengijinkan aku mengajak Ratu Amber kencan Minggu depan. Aku tidak sabar berjalan-jalan dengan Ratu Amber di festival Lampion"
Rosa langsung menggebrak meja, "Apa?! Kenapa Kenzie mengijinkan Amber kencan denganmu? Dia, kan, suaminya Amber?"
"Kenzie memang bodoh sedari dulu. Padahal Selir Agungnya sudah ketahuan berselingkuh, hamil dan anak di dalam kandungannya bukan anaknya Kenzie, dan sekarang Selir Agung sudah dicopot gelarnya lalu dijebloskan ke penjara. Kok, masih saja dia tidak menghargai Amber. Enak aja dia mengijinkan Amber berkencan denganmu. Memangnya Amber itu mainan, pajangan, atau boneka, hah?!" Setelah berkata panjang lebar, Rosa menenggak lima gelas arak.
Fandra sontak berkata, "Kenapa kamu kesal? Kamu tidak senang kalau aku dan Amber saling mencintai dan......"
Brak! Rosa menggebrak meja dan langsung menenggak teko berisi arak sampai habis.
"Hei! Jangan minum lagi, Sa! Kalau mabuk kau itu merepotkan. Sangat merepotkan" Teriak Fandra.
Rosa langung menunjuk wajah Fandra dan berkata dengan kepala bergoyang-goyang karena ia sudah mulai mabuk, "Kau yang merepotkan, cih!"
"Aku nggak pernah mabuk. Kenapa aku yang merepotkan? Kau yang selalu mabuk dan selalu merepotkan aku. Aku harus menggendongmu di punggung dan menemanimu ngelantur nggak jelas sampai kau tertidur pulas" Ucap Fandra dengan wajah kesal.
__ADS_1
Rosa kemudian bangkit berdiri lalu ia duduk di pangkuannya Fandra. Gadis berwajah cantik itu kemudian duduk di atas pangkuan Fandra lalu ia menangkup wajah Fandra.
Saat Rosa menatap lekat kedua bola matanya, Fandra langsung berkata, "Kau mau apa? Jangan seperti ini, Sa!"
Rosa berkata, "Kau merepotkan karena kau selalu membuatku sesak napas setiap kali kau menceritakan cinta kamu pada Amber. Kau merepotkan karena kau selalu membuatku menangis di dalam hati di saat kau bergembira menceritakan pertemuan kamu dengan Amber. Aku mencintaimu Fandra! Aku mencintaimu!" Setelah mengatakan semua itu, Rosa jatuh tertidur dengan kepala dagu berada di atas pundak Fandra.
Fandra langsung mematung dan dia tidak bisa berkata-kata karena sahabatnya, Rosa, yang juga adalah sahabatnya Amber, menyatakan cinta padanya. Fandra benar-benar tidak pernah menyangka kalau Rosa selama ini mencintainya dalam diam. Setelah sadar dari kebekuannya, Fandra lalu membopong Rosa dengan hati-hati dan melangkah menuju kamar yang masih kosong dan sudah dibersihkan Fandra membaringkan Rosa dengan perlahan di atas ranjang lalu menyelimuti Rosa dan bergegas keluar dari dalam kamar itu.
Keesokan harinya, Rosa yang sudah segar setelah mandi, langsung berlari ke kamarnya Kenzie. Dia ingin melabrak Kenzie karena Kenzie telah tega membuat Amber menjadi taruhan dan Kenzie memberikan ijin kepada Fandra berkencan dengan Amber tanpa meminta pendapat Amber terlebih dahulu.
Di tengah taman, Rosa berpapasan dengan Fandra. Rosa melambaikan tangan dengan wajah semringah lalu berjalan mendekati Fandra. Namun, Fandra langsung berbalik badan dan berlari kencang meninggalkan Rosa.
"Kenapa dia lari? Dia takut sama aku? Tapi kenapa dia takut sama aku?" Rosa sontak menautkan keningnya lalu gadis cantik yang tomboy itu meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya Kenzie dengan bergumam, "Aish! Bodo amat! Fandra, kan, suka aneh"
Fandra mengusap dadanya lalu bersandar di tembok sambil bergumam, "Sial! Kenapa Rosa harus menyatakan cintanya semalam? Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana sama dia? Aku nggak bisa lagi bersikap santai sama dia. Arrgghhh!!!! Dasar gadis gila!" Fandra menjambak rambutnya.
Tiba-tiba muncul sosok Kenzie di depan Fandra.
Fandra tersentak kaget dan langsung menegakkan badan, menundukkan kepala, lalu berkata, "Selamat pagi Yang Mulia Raja"
"Siapa gadis gila yang kau teriakan tadi?" Tanya Amber dalam wujud Kenzie.
Fandra langsung menegakkan wajahnya dan berkata, "Ah! Itu, emm, kucing saya, Yang Mulia Raja. Kucing saja saya kasih nama Gadis dan kucing gila itu suka membuat saya pusing, hehehehehe. Sa.....saya permisi Yang Mulia Raja. Saya akan menjenguk Jenderal Bora dulu" Fandra kemudian berlari meninggalkan sosok Kenzie.
Amber yang berada di dalam wujud Kenzie, sontak bergumam, "Kenapa Fandra tampak aneh banget pagi ini? Dia salah makan apa atau kesambet, ya?"
__ADS_1