
Saat tangan Alaric kembali mendarat tanpa ijin di titik terlarang, Kiana langsung mendelik dan mendorong dada Alaric sambil berkata, "Saya masih belum mengijinkan Anda berbuat lebih dari ciuman, Yang Mulia. Lagipula sekarang kita harus bermeditasi sebelum waktu kita habis"
Alaric langsung merengut dan menyipitkan matanya.
Kiana menunduk untuk melihat pot yang ia bawa dan wanita cantik itu langsung berkata, "Hei! Lihat Yang Mulia!"
"Apa?" Alaric yang masih sedikit kecewa tidak diijinkan Kiana menyentuh Kiana lebih intim bertanya dengan wajah acuh tak acuh.
"Ganoderma hitamnya sudah tumbuh separuh. Ini pasti kita berciuman. Jadi, dayanya lebih besar dan........"
Alaric sontak membeliak senang dan menarik tengkuk Kiana sambil berkata, "Kalau begitu, kita harus berciuman lagi biar Ganoderma hitamnya menjadi penuh"
Kiana mendorong dada Alaric, lalu wanita cantik itu bangkit berdiri sambil membawa pot bunga yang berbentuk bulan sambil dan melangkah pelan di dalam air sambil berkata, "Waktu satu jam sudah habis, Yang Mulia. Kita lakukan lagi besok"
Alaric langsung bangkit berdiri dan mengangkat tubuh Kiana untuk ia panggul di atas pundak seperti karung beras.
"Kyaaaaa!!!! Kenapa Anda memanggul saya, Yang Mulia?! Turunkan saya!!!!"
"Aku takut kamu kabur. Kamu janji mulai malam ini dan sampai selamanya kamu akan tidur di kamarku" Sahut Alaric sambil melesat terbang menuju ke paviliunnya. Alaric masuk ke kamar pribadinya lewat atap. Burung peliharannya Alaric yang menutup atap setelah Alaric melesat masuk ke dalam kamar pribadinya.
Alaric menurunkan Kiana di depan ranjangnya dan langsung menyentuh lipatan kain di dada Kiana.
__ADS_1
Kiana refelks menahan lipatan kainnya sambil bertanya, "Anda mau apa?"
"Membantu kamu membuka kain basah ini lalu merebahkan kamu di ranjang dan menyelimuti kamu setelah itu aku akan ambilkan baju ganti untukmu"
Kiana sontak mendelik dan berteriak, "Balik badan!"
Alaric yang kaget refleks berbalik badan sambil bertanya, "Kenapa aku harus berbalik badan?"
"Karena Anda saat ini adalah raja Alaric dan bukan Mas Agha. Walupun secara fisik Anda adalah Mas Agha tapi pikiran dan hati Anda sekarang ini adalah raja Alaric. Keluar! Saya akan ganti lepas kain basah ini dan memakai selimut sebagai gantinya"
Alaric menghela napas panjang lalu berkata, "Aku akan ganti baju di luar dan bawakan kamu baju ganti sebentar lagi" Pria tampan itu kemudian melangkah keluar setelah melintasi meja kerjanya ia melangkah lebar dengan sedikit berlari kecil menuju ke kamar ganti. Alaric berganti baju di sana. Alaric berganti baju secepat kilat karena ia ingin segera membawakan baju ganti untuk Kiana.
Kiana dibangunkan dengan teriakan keras, "Jangan mendekat!!!!! Jangan suntik aku lagi!!!!! Jangannnnn!!!!!"
Kiana langung bangun dan berlari ke bangku untuk menenangkan raja Alaric. Kiana mengusap keringat di kening Alaric sambil berkata, "Jangan takut, Yang Mulia! Saya ada di sini. Saya akan lawan siapa saja yang ingin menyakiti Anda, Yang Mulia. Sssttttt! Tidurlah lagi, Yang Mulia"
Kiana terkejut saat Alaric menariknya dan saat kepala Kiana rebah di atas lengannya Alaric, pria itu langsung memeluk erat perutnya Kiana.
Kiana seketika mematung. Dia tidak berani bergerak karena ia takut, kalau ia bergerak raja akan bangun dan akan melakukan hal-hal aneh nantinya. Dia belum siap melayani suaminya yang masih mengalami hilang ingatan.
Keesokan harinya, seperti biasanya Alvin masuk ke kamar pribadinya Alaric untuk memeriksa kesehatan raja naga itu dan memberikan minuman tonic. Alvin sekalian ingin menanyakan keberadaannya Kiana karena di pagi hari ini, Alvin tidak menemukan Kiana di kamarnya Kiana.
__ADS_1
Namun, Alvin dikejutkan dengan pemandangan tak biasa. Alvin sontak ternganga saat ia melihat Kiana dengan balutan selimut lapis dua tidur di atas bangku dan dipeluk erat oleh raja Alaric dengan posisi kening Kiana dan kening raja Alaric menempel lekat.
Alvin langsung berbalik badan, keluar dari ruang ranjangnya Alaric, lalu menuju ke meja kerjanya Alaric dan meletakkan tonic di sana. Setelah itu Alvin bergegas keluar dari kamar pribadinya junjungannya untuk segera berkata ke kelima dayang yang sudah berdiri di depan pintu, "Jangan masuk sampai raja memanggil kalian masuk!"
"Baik" Kelima dayang yang sudah siap untuk masuk ke dalam dan mendandani junjungan mereka, menyahut secara serempak.
Setelah mendapatkan sahutan dari kelima dayang itu, Alvin kembali masuk ke dalam kamar junjungannya dan langsung mengunci pintunya. Alvin kemudian duduk di bangku yang ada di tengah ruangan dan makan kacang goreng sambil menunggu Alaric dan Kiana bangun.
"Dia memang suaminya Kiana. Nggak papa kali, ya, kalau mereka tidur bersama semalam. Entahlah. Yang penting aku akan berjaga di sini untuk mencegah Sofie menerobos masuk" Gumam Alvin sambil terus mengunyah kacang goreng yang selalu ia bawa di dalam kantong bajunya.
Cukup lama Alvin menunggu Kiana dan Alaric bangun. Sampai pria tampan itu kembali bergumam, "Memangnya mereka melakukan apa selain meditasi? Kenapa sampai jam segini mereka belum bangun juga? Apa perlu aku bangunkan?"
Alaric membuka mata dan tersenyum senang saat ia menemukan kening Kiana menempel di keningnya. Raja Alaric nekat mencium kening Kiana, kedua pipi, dan menyusuri hidung Kiana sampai ke bibir Kiana.
Saat bibir Alaric menyentuh bibirnya, Kiana membuka kedua matanya dan wanita cantik itu sontak membeliak kaget lalu mendorong dadanya Alaric.
Alaric tersenyum dan berkata dengan wajah tak berdosa, "Salah sendiri kenapa kau naik ke bangku ini. Jangan salahkan aku kalau aku ........."
"Selamat pagi Raja, Kiana" Ucap Alvin dengan cepat.
Alaric dan Kiana langsung bangun dan dengan wajah terkejut mereka menoleh ke Alvin secara bersamaan.
__ADS_1