
Bora kemudian menemui Agni dan langsung berbisik ke telinga Agni, "Kata Yang Mulia Agha, kita tidak perlu lagi mencari wanita yang sosok ya mirip dengan Nyonya muda"
Saat Bora menarik wajahnya dan menatap Agni, Agni langsung bertanya, "Bagus lah! Itu berarti kamu nggak akan ketemu lagi sama wanita penghibur teman masa kecil kamu itu lagi, cih!"
"Kenapa ada cih?! Saya tidak berharap bertemu dengan dia?" Bora langsung menautkan kedua alisnya dengan kesal.
"Cih! Pria itu selalu saja beda di mulut dan di hari" Agni berjalan melintasi Bora dengan kesal dan Bora sontak mengejar Agni sambil berkata, "Saya tidak seperti itu. Saya pria baik-baik. Saya tipe setia dan tidak suka pergi ke rumah pelesiran. Sumpah!"
Agni mengabaikan Bora dan terus melangkah lebar. Namun, di dalam hatinya Agni tersenyum senang.
Sementara itu, Kiana berhasil menghentikan laju larinya di depan meja kerjanya Agha dengan napas terengah-engah.
Agha langsung bangkit berdiri dan berdeham untuk mengusir tawa senangnya melihat Kiana sudah berdiri di depannya dengan napas terengah-engah, lalu pria tampan itu bertanya dengan wajah polos, "Apa kau berlari ke sini?"
"Iya, Yang Mulia" Sahut Kiana tak kalah polosnya.
Agha hampir saja melompat girang mendengar Kiana berlari menuju ke ruang kerjanya.
Apa dia sangat merindukan aku? Sampai ia berlari ke sini? Ah, kenapa dia sangat menggemaskan. Batin Agha.
"Kenapa kau berlari ke sini?" Agha bertanya sembari melangkah pelan keluar dari balik meja kerjanya
"Hah?! Iya, kenapa saya berlari kemari?" Wajah Kiana langsung bengong dan Agha hampir saja menyemburkan tawa lepas melihat wajah bengong istrinya.
Sial! Kenapa aku bisa seberuntung ini punya Istri selimut dan sepolos ini. Pffttt! Dia juga sangat lucu dan menggemaskan. Batin Agha sembari melangkah pelan mendekati Kiana.
Kiana yang masih bengong tiba-tiba mematung saat ia melihat Agha sudah berdiri tepat di depannya.
Agha melangkah maju dan langsung menggelungkan kedua lengannya di pinggang ramping istrinya. Kiana terlonjak kaget dan langsung kaku badannya.
"Kenapa kamu tegang? Bukankah kamu berlari ke sini karena kamu merindukan aku?"
"Ti.....tidak, Yang Mulia"
__ADS_1
"Tidak?!" Agha menggeram kesal dan melonggarkan pelukannya.
"Ah, iya, emm, tidak, iya, emm..... hmpppttthh" Kiana tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Agha memagut bibirnya.
Agha menarik bibirnya untuk menatap Kiana.
Kiana yang masih membeliak kaget sontak menundukkan kepala dan bergumam lirih, "Kenapa Anda mencium saya, Yang Mulia?"
Iya, kenapa? Kenapa Anda suka banget mencium saya, tapi Anda menikmati kue dari wanita lain, berduaan dengan wanita lain semalaman dan tidak mengejar saya kemarin. Batin Kiana kesal.
Alih-alih menjawab pertanyaannya Kiana, Agha justru mengamati wajah Kiana dari jarak dekat lalu ia melepaskan pelukannya dan mengarahkan pipinya ke Kiana lalu berkata, "Kau belum berikan ciuman selamat pagi
Kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku? Kenapa malah meminta ciuman selamat pagi, sih? Kiana merintih gemas di dalam hatinya.
"Kiana?" Agha mulai menggeram.
"Baik, Yang Mulia" Kiana menyahut cepat.
Saat Kiana mendekatkan bibirnya ke pipinya Agha untuk memberikan ciuman selamat pagi, Agha menoleh cepat dan bibir Kiana berakhir mendarat di bibir Agha alih-alih di pipinya Agha.
Kiana kembali bertanya lirih, "Kenapa Anda mencium saya, Yang Mulia?"
Beri saya jawabannya Yang Mulia, agar saya tahu seperti apa posisi saya di hati Anda. Kalau Anda hanya menganggap saya sebagai mainan untuk bersenang-senang saja dan Anda lebih memilih Non Maharani atau Putri Kesya, maka saya akan pergi dari sisi Anda secepatnya sebelum rasa suka yang mulai saya miliki ini berkembang lebih besar dan berubah menjadi cinta, Yang Mulia. Batin Kiana.
Agha membelai rambut Kiana alih-alih menjawab pertanyaan dari istri kecilnya. Agha masih belum mau menjawab pertanyaan itu. Dia belum siap menerima konsekuensi dari jawabannya sendiri. Agha memilih untuk melepaskan Kiana sambil bertanya, "Bukankah kau ingin belanja bahan obat hari ini dan meminta aku untuk menemani kamu?"
Kiana seketika membeliak senang dan berkata, "Iya! Kenapa saya bisa lupa soal itu. Apa Anda mau menemani saya, Yang Mulia?"
"Hmm" Agha menjawab singkat pertanyaan itu sambil terus membelai rambut Kiana.
Kiana refleks menggenggam tangan kiri Agha dan mengayun tangan itu sambil bertanya, "Anda tidak pergi bekerja?"
"Aku bisa masuk siang. Aku bisa pergi kerja setelah mengantar kamu belanja dan mengantarmu pulang" Sahut Agha sambil melirik tangan kirinya yang digenggam dan diayun-ayun oleh Kiana.
__ADS_1
"Baiklah. Ayo kita berangkat" Kiana langsung menarik tangan suaminya dengan senyum cerah ceria.
Agha ikutan tersenyum cerah dan dia langsung menggenggam tangan Kiana, mengayun pelan tangan dia dan tangan Kiana yang saling bertaut lalu berkata, "Kita naik Red Hair saja biar cepat"
"Red hair?" Kiana menoleh kaget ke Agha.
Agha tersenyum dan membelai rambut Kiana dengan tangan kanannya lalu berkata, "Red Hair itu nama kuda kesayanganku"
"Oh, lalu saya duduk di mana?"
"Tentu saja di depanku" Sahut Agha.
Membayangkan dirinya duduk di depan Agha dan Agha memegang pinggangnya di sepanjang perjalanan membuat Kiana refleks menggoyangkan kepalanya.
"Tidak mau? Kalau gitu nggak usah pergi" Agha mulai menggeram kesal dan Kiana langsung menyahut, "Mau saya mau, Yang Mulia"
Agha tersenyum lebar dan hatinya melompat kegirangan di saat ia membayangkan dirinya bisa memegang perut Kiana cukup lama.
Rani yang melihat Agha dan Kiana pergi menuju ke gerbang depan sambil berpegangan tangan langsung berlari dan berteriak, "Kak Agha! Tunggu! Kakak tidak boleh pergi dan.......aduh!" Maharani jatuh terduduk di lantai saat dadanya membentur dada seseorang.
Maharani segera bangkit berdiri dan mendelik kaget ke bibi Sum, "Kenapa kau tiba-tiba muncul di depanku, hah?! Dasar pelayan nggak guna. Minggir!"
Bibi Sum menyeringai lebar lalu berkata, "Ternyata seperti ini watak asli Anda, Nona Rani"
"Minggir! Aku akan mengejar Kak Agha. Aku nggak ingin Kak Agha pergi berduaan dengan gadis liar itu. Minggir!" Maharani mendorong tubuh bibi Sum.
Bibi Sum yang lebih kuat dari Maharani tidak bergeming dan membuat Maharani semakin kesal dan berteriak, "Minggirrrr dasar tua Bangka bodoh!!!!!"
Namun, bibi Sum tetap bergeming sambil berkata, "Saya tidak akan membiarkan Anda mengganggu rumah tangga Yang Mulia Agha dan Nyonya muda Kiana"
Maharani hanya bisa melotot dan bersedekap di depan bibi Sum dengan gemuruh napas penuh amarah.
Agha menaikkan Kiana ke punggung Red Hair lalu ia melompat naik ke punggung Red Hair. Lalu, kedua tangan Agha menyusup di pinggang Kiana menimbulkan gesekan lembut yang membuat hati keduanya berdesir hangat.
__ADS_1
Di saat Agha memegang tali kekang dan menghentak badan Red Hair, Kiana membelai lembut surai berwarna merah milik kuda kesayangannya Agha sambil berkata, "Aku Kiana, Red Hair. Salam kenal, ya"
Red Hair meringkuk menyahut dan Agha tersenyum senang.