
Kiana masuk ke dalam divisi medis dan langsung dicegah oleh tabib Danur, "Kiana jangan masuk ke sini! Kamu sedang hamil. Kalau terkena bahan herbal yang beracun bagaimana?"
"Tapi, Ayah, kalau aku tidak masuk ke dalam bagaimana caranya aku meracik ramuan obatnya?" Sahut Kiana.
"Kamu masuk ke kantornya Ayah saja! Kamu tulis ramuannya dan biar Ayah yang meraciknya" Ucap tabib Danur sambil menarik pelan tangan putrinya.
Kiana terpaksa menuruti permintaan ayahandanya. Setelah membuat Kiana duduk di depan meja kerjanya, tabib Danur berdiri tegak di sebelah Kiana sambil berkata, "Ayah akan menunggu kamu sampai kamu selesai menulis resep ramuannya"
Kiana menghela napas panjang lalu berkata, "Baik, Ayah"
"Kenapa kamu tulis setengah Mili? Kenapa nggak satu mili untuk cairan getah kaktus emasnya?" Tanya Tabib Danur.
"Itu resep untuk Debi. Debi sedang hamil jadi kita coba kasih dia setengah mili dulu. Untuk para penduduk di pinggir kota yang tidak hamil dan bukan anak-anak, ayah bisa kasih satu mili" Sahut Kiana.
"Baiklah. Ayah akan mulai meracik dan meramunya lalu Ayah akan bergegas memberikannya ke Debi"
"Kalau begitu, aku menunggu di kamarnya Debi saja, ya, Ayah"
"Iya, ide bagus itu. Buruan ke sana" Sahut Tabib danur.
Kiana lalu keluar dari dalam ruang kerja ayahandanya kemudian bergegas melangkah ke paviliunnya Adyaksa.
Kiana sontak berputar badan untuk melihat apa yang terjadi di belakangnya saat ia mendengar suara Seekor burung beo yang kesakitan. Kiana langsung berlari mendekati burung beo yang tengah diinjak sayapnya oleh Bora si burung pemangsa peliharaannya Agah sewaktu Agha dan Kiana masih tinggal di kerajaan Langit.
"Bora, lepaskan!" Kiana mengusap pelan kepala Bora dan Bora langsung melepaskan burung beo itu.
Kiana langsung berjongkok untuk memeriksa burung beo yang terluka cukup parah.
Bora langsung membuka paruhnya dan berteriak-teriak. Ia bercerita ke Kiana kalau burung beo itu ingin mencelakai Kiana. Tapi, Kiana tidak bisa memahami teriakannya Bora.
Kiana lalu mengusap kepala Bora dan justru bertanya, "Kamu datang ke sini dengan siapa?"
"Denganku" Alvin tiba-tiba berdiri di sebelah Kiana.
"Alvin! Senang bertemu denganmu!" Kiana sontak tertawa senang melihat Alvin.
"Kenapa kamu tertawa selebar itu? Kamu rindu padaku, ya?"
"Tentu saja rindu" Kiana tersenyum lebar.
Alvin sontak terkekeh geli.
Bora kembali membuka paruhnya dan berteriak-teriak lalu Alvin berkata, "Burung Beo itu jahat. Kata Bora dia tadi ingin mencelakai kamu. Lihat di kaki burung beo itu, ada Jalu buatan yang terbuat dari mata pedang yang sangat tajam. Kalau nadi di leher kamu tergores, kamu bisa mati kehabisan darah. Burung itu berbahaya"
Kiana tersentak kaget dan menoleh ke burung Beo yang masih tergeletak di atas lantai dalam keadaan pingsan,"Astaga! Kenapa burung secantik ini ingin mencelakai aku?"
"Kita akan tahu nanti setelah kita obati burung beo itu. Dia bisa bicara bahasa manusia, dia akan bercerita nanti siapa yang sudah menyuruhnya mencelakai kamu"
Kiana langsung memeluk Bora, "Terima kasih, Bora. Kamu sudah menyelamatkan aku"
__ADS_1
Bora langsung membuka paruhnya dan berteriak-teriak. Alvin langsung menyahut, "Dia berkata sama-sama"
Kiana mencium paruh Bora lalu ia menoleh ke Alvin, "Kenapa kamu ke sini? Ini sudah malam"
Alvin menjawab sembari merengkuh burung beo itu ke dalam pelukannya, "Aku ingin membahas ramuan obat sama kamu. Kerajaan langit diserang lebah kecil yang ........."
"Apakah lebahnya seperti ini?" Kiana memperlihatkan buku catatan pribadinya"
"Iya, benar"
"Kerajaan Pusat juga diserang lebah ini. Tapi, kenapa lebah itu bisa menyerang kerajaan Langit?" Tanya Kiana.
"Entahlah. Apa kau sudah tahu ramuan obatnya?"
"Sudah. Aku mau memberikannya ke Debi. Aku akan minta dayang mengantarmu ke kamar tamu. Kamu berisitirahat dulu di sana. Aku akan ke kamarnya Debi dan ......."
"Aku ikut kamu dulu ke sana untuk melihat reaksi dari ramuan kamu"
"Baiklah. Serahkan burung beo itu ke dayang itu biar dibawa ke sangkar burung. Kita obati burung beo itu besok pagi"
Alvin menyerahkan burung beo ke dayang yang ditunjuk oleh Kiana lalu ia mengekor langkah kIana saat Bora naik ke atas pundaknya.
Beberapa jam kemudian, Alvin, Kiana, dan tabib Danur, tersenyum lega saya ia melihat Debi sembuh total.
Alvin lalu berkata, "Kiana, aku minta resep dan bahan obatnya"
Tabib Danur langsung berkata, "Mari ikut saya"
"Iya, setelah ini beristirahatlah, Vin!" Kiana melambaikan tangannya ke Alvin laku Kiana duduk di tepi ranjang untuk memeluk Debi dengan wajah riang dan berkata, "Syukurlah kamu udah sembuh total, Debi"
"Terima kasih banyak Yang Mulia Ratu sudah menyembuhkan saya" Debi memeluk erat tubuh Kiana.
Keesokan paginya, Agha bangun dan langsung mencium perut Kiana lalu berkata di sana, "Selamat pagi, Nak. Jangan berisik, ya? Ibu kamu masih tidur, ssstttt! Ayah akan pergi berlatih pedang di luar sama Paman Bora. Kamu ingin dibelikan apa, hah?!"
Agha mengusap-usap lembut perut Kiana lalu ia mencium kembali perut itu.
Agha tersentak kaget saat Kiana berkata, "Aku tidak ingin apa-apa, Ayah"
Agha langsung duduk bersila di samping Kiana untuk bertanya, "Apa yang kamu rasakan? Pusing? Pegal?"
Kiana bangun dan duduk bersila berhadapan dengan suaminya lalu ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Agha menggenggam tangan Kiana lalu bertanya, "Pengen muntah?"
Kiana memperlebar senyumannya dan berkata, "Aku baik-baik saja saat ini, Mas. Aku nggak pusing, nggak pegal, nggak pengen muntah"
"Kok, aneh? Kata Paman Adyaksa, Debi tiap pagi kalau bangun tidur merasa pusing, pegal, terus muntah-muntah. Apa kamu beneran baik-baik saja? Lalu, Si Entun gimana?" Agha menautkan kedua alisnya.
Kiana terkekeh geli, "Siapa Si Entun?"
__ADS_1
"Calon anak kita. Kita belum tahu dia cewek atau cowok, makanya aku panggil aja Si Entun, hehehehe" Agha meringis di depan Kiana.
Kiana menangkup wajah tampan suaminya lalu mengecup tiga kali bibir suaminya kemudian berkata, "Orang hamil itu beda-beda, Mas. Aku beneran baik-baik saja saat ini"
Agha langsung menarik Kiana ke dalam Pelukannya dan berkata sambil mengusap perut Kiana, "Kalau merasa aneh sedikit saja, misalnya kaki kamu pegal sedikit saja, langsung bilang ke aku, ya?!"
"Kalau, Mas, ada rapat dengan para menteri gimana?"
"Pokoknya langsung bilang ke aku" Agha mempertegas ucapannya.
Kiana mencium pipi suaminya dan berkata, "Iya, Mas. Aku akan langsung bilang"
Agha mencium bibir Kiana lalu ia membopong Kiana sambil berkata, "Mulai sekarang tiap pergi ke kamar mandi, kamu harus aku bopong. Aku nggak mau kalau kamu terpeleset di kamar mandi"
"Tapi, itu tidak perlu, Mas. Aku bisa......."
"Jangan ngeyel!" Agha mendelik ke Kiana
"Iya, Mas, baiklah" Kiana mengulas senyum lebar di wajahnya.
Setelah mandi, Kiana berkata ke Agha sambil membantu Agha memakai baju kebesaran, "Mas, ada kejutan semalam"
"Kejutan apa?"
"Bora dan Alvin datang ke sini. Kerajaan Langit diserang lebah yang sama dan saat ini Kerjaan Langit terserang wabah yang sama"
"Benarkah?! Di mana mereka sekarang?"
"Ada di kamar tamu. Mas, hadiri rapat Akbar dulu. Aku akan mengobati burung Beo"
"Burung Beo?" Tanya Agha.
"Iya, aku akan cerita nanti. Mas hadiri rapat dulu" Kiana mencium pipi Agha dan setelah mencium kening istrinya, Agha melangkah lebar ke aula pertemuan.
Beberapa menit berikutnya, Agha asyik memimpin rapat, namun di sepuluh menit berikutnya, Agha tiba-tiba mengangkat tangannya dan semua menteri dan pejabat tinggi kerajaan Pusat sontak menghentikan debat mereka dan Sang Penasihat Agung sontak bertanya, "Ada apa, Yang Mulia Raja"
"Aku permisi ke belakang sebentar. Aku pengen hmppthhh!" Agha langsung berlari turun dari singgasana sambil menutup mulutnya.
Kasim dan para dayang yang mengikuti Agha terkejut saat mereka melihat raja mereka muntah-muntah.
Para dayang sontak saling melempar pandang dan berbisik, "Apa Raja salah makan? Padahal menu hari ini sama seperti kemarin lusa"
Setelah selesai muntah-muntah, Agha kemudian mengusap bibirnya lalu membetulkan letak mahkotanya lalu melangkah kembali ke dalam aula pertemuan. Kasim dan para dayang sontak mengekor langkah lebar raja mereka.
Adyaksa sang Penasihat Agung sontak bertanya saat ia melihat wajah keponakannya tampak pucat, "Apa Yang Mulia Raja sakit? Apa kita hentikan saja rapat hari ini?"
"Jangan! Lanjutkan saja! Aku tidak apa-apa" Sahut Agha.
Namun, belum ada lima menit rapat kembali berlangsung, Agha kembali mengangkat tangan dan berlari ke toilet. Agah kembali muntah-muntah. Raja tampan dan gagah itu sontak mewek dan bergumam, "Ada apa ini? Kenapa aku mual terus, hiks,hiks, hiks"
__ADS_1
Sementara itu, Kiana dan Alvin tengah saling melempar pandang saat mereka berdua mendengar cerita burung Beo yang berhasil mereka sembuhkan. Burung Beo itu menceritakan semuanya tanpa henti sampai membuat Kiana dan Alvin ternganga lebar.