
Kiana meremas kepala Agha dan berteriak, "Mas Agha........Yang Mulia.......Anda sungguh luar biasa!"
Agha terus bergerak liar. Pria tampan itu masih enggan mengabaikan indahnya sinar bulan yang ia rasakan menerangi hangat cinta di hatinya dan manisnya madu yang ia reguk dari tubuh indah istri kecilnya yang sangat cantik.
Putihnya kulit Kiana membuat Agha lupa diri, lekuk indah tubuh Kiana membuat Agha tersesat semakin jauh, menggodanya lembah kenikmatan membuat Agha semakin frustasi, ranumnya bibir Kiana membuat bibir Agha mendamba lebih, dan lembutnya kulit Kiana membuat jenderal besar itu terbakar gairah.
Agha kemudian merebahkan kepala Kiana dengan penuh kelembutan di atas bantal setelah ia menyelesaikan tiga ronde hasil karyanya yang menurutnya sangat luar biasa. Agha kemudian naik ke atas ranjang, menarik selimut lalu memeluk tubuh polos istrinya.
Kiana masuk ke dalam pelukan Agha dan meletakkan kepalanya di atas dada bidang suaminya. Lalu, dengan mata yang menyipit letih, Kiana bertanya, "Yang Mulia, apakah tidak sakit pas Anda........Anda tahu yang saya maksud"
Agha terkekeh geli, lalu sambil mengusap punggung polos istrinya, Agha mencium kening Kiana dan berkata di sana, "Tidak sakit. Sama sekali tidak sakit. Rasanya sangat liar biasa. Sama seperti yang kau rasakan"
Kiana memainkan jari jemari di atas dada Agha sambil bertanya, "Benarkah?"
Agha mencubit dagu Kiana dan menaikannya lalu ia kecup bibir Kiana setelah itu ia berkata, "Iya. Sangat luar biasa. Kau sangat luar biasa" Agha kembali mengecup lembut bibir Kiana yang masih tampak basah dan bengkak akibat ulahnya.
Agha kemudian merebahkan kembali kepala mungilnya Kiana di atas dada bidangnya secara perlahan dan mendaratkan ciuman di pucuk kepala Kiana sambil memainkan jari jemari Kiana yang menggelepar cantik di atas dadanya.
Kiana menggenggam tangan Agha sambil bertanya dengan suara lemas, "Apa dengan kerja keras semalam dan malam ini, kita akan segera punya bayi, Mas? Aku ingin segera mengandung anak kita. Buah cinta kita dan ........zzzzzzzzzz" Kiana jatuh ke alam mimpi sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.
Agha memeluk erat Kiana dan berbisik lirih, "Aku juga sangat menginginkannya Kiana. Anak perempuan yang cantik dan baik hati seperti kamu. Aku sangat menginginkannya. Tapi tidak dalam waktu dekat ini, ya"
Sinar matahari menyeruak masuk dengan malu-malu karena musim dingin lebih kuat menguasai pagi ini. Namun, tidak demikian dengan Jenderal besar kita, Agha Caraka, ia menatap wajah istrinya yang terlihat lebih cantik di pagi hari tanpa malu-malu.
Agha mengusap kening Kiana, lalu pipi Kiana, kemudian jari telunjuknya tergelitik untuk menyusuri hidung lancip dan mungilnya Kiana, dan ibu jari jenderal tampan itu dengan angkuhnya menguasai bibir ranumnya Kiana. Agha tersenyum penuh cinta memandangi Kiana mulai dari rambut, kening, alis, kelopak mata, buku lentik di kelopak mata berwarna merah jambu itu, hidung yang lancip sempurna, dan bibir merah alami yang menggoda.
Agha kemudian menciumi semua yang ia pandang tadi dan mendaratkan puluhan kecupan di bibir Kiana.
Agha tersenyum senang karena Kiana hanya bergumam lirih dan belum membuka mata. Agha kemudian menyibak selimut dan menyusupkan wajahnya di dada Kiana. Agha memainkan bibirnya di sana dan tangannya bermain asyik di lembah kenikmatan.
__ADS_1
Kiana membeliak kaget saat jari jemari Agha semakin liar bermain di lembah itu dan Agha mendaratkan gigitan kecil di dadanya.
Kiana langsung menarik kepala Agha dan mengajak suaminya untuk berciuman. Tentu saja Agha menyeringai senang. Dia meladeni kemauan Kiana dengan wajah riang gembira dan semangat menggebu-gebu.
Kiana secara tidak sadar membanting Agha di atas ranjang dan gadis itu langsung naik di atas perut Agha. Tentu saja Agha tertawa senang dan langsung bertanya dengan seringai jahil, "Nyonya Agha Caraka? Apa yang akan kau lakukan padaku?"
Wajah Kiana sontak merona merah dan saat Kiana hendak turun dari perut Agha, Agha menarik tengkuk Kiana dan langsung memagut bibir Kiana. Agha berbisik di atas bibir ranum itu, "Lakukan apa yang kau mau! Lakukan apa saja yang ada di benak kamu! Aku nggak akan marah dan aku nggak akan menolaknya"
Mendengar perkataan suaminya, gairah Kiana semakin tersulut dan Kiana mengajak suaminya berciuman lebih dalam. Lalu, terjadilah penyatuan raga dengan posisi Kiana di atas pangkuan Agha. Setelah Kiana melengkingkan kepuasan, Agha merebahkan Kiana di atas ranjang dan pria hebat iru melepaskan kepuasannya di luar.
Kiana duduk dan menatap tingkah Agha. Agha mencium kening Kiana dan pria itu tersenyum dan sebelum Kiana bertanya soal anak, Agha langsung merosot turun dari atas ranjang, memakai semua bajunya sambil berkata, "Aku harus segera bersiap. Aku harus segera pergi ke kamp hari ini dan besok lusa aku harus ke pantai untuk menghadang bajak laut yang nekat ingin masuk ke tanah kelahiran kita ini tanpa ijin dan para bajak laut ingin menyelundupkan obat bius, obat terlarang, dan senjata ilegal" Agha mengecup bibir Kiana kemudian berkata, "Aku akan mandi sendiri. Kalau kamu bantu, aku takut lupa diri dan terlambat datang ke kamp" Setelah berkata seperti itu, Agha berlari ke kamar mandi.
Kiana langsung memakai semua bajunya dan duduk di tepi ranjang menunggu Agha.
Begitu Agha muncul di depan Kiana, Kiana bangkit berdiri dan merapikan baju dinasnya Agha sambil berkata, "Mas, aku ingin pergi ke kamp bersama Mas"
"Nggak boleh. Di kamp itu berbahaya dan aku akan pergi berperang"
"Kamu wanita dan......."
"Agni juga wanita"
"Tapi, Agni itu beda sama kamu"
"Apanya yang beda? Lagipula aku tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Aku akan mati merindukan kamu di sini kalau tidak bisa melakukan apa-apa"
"Katanya kau mau bikin obat dan krim lalu berjualan. Aku sudah siapkan kios untuk kamu. Bi Sum akan mengantarkanmu ke kios itu" Agha mengusap pipi istri kecilnya.
"Tapi, masak obatnya di mana, Mas? Asapnya akan mengepul di kediaman ini dan bisa bikin orang sesak napas"
__ADS_1
"Oh, iya, aku belum bikin tempa khusua untuk kamu meracik obat. Emm, oke lah, sambil menunggu tempat untuk kamu meracik obat selesai dibangun, kamu bisa ikut aku ke kamp"
Kiana langsung memeluk suaminya dan memekik riang sambil berkata, "Terima kasih, Mas"
Agha tertawa pelan dan setelah mendaratkan ciuman di pucuk kepala Kiana ia melepaskan Kiana sambil berucap, "Cepat mandi! Aku menunggumu di sini"
"Iya"
Dan apa yang terjadi pada Bora setelah semalaman memeluk Agni di dalam kereta kuda? Bora tidak seberuntung Agha yang bisa mereguk manisnya senyum cantik dari gadis yang Agha sukai. Bora membuka mata dan langsung mendapatkan tamparan cukup keras di pipi.
Bora membeliak kaget dan mengelus pipinya sambil bertanya, "Kenapa kau gampar aku?"
Agni membeliak kaget dan langsung menarik diri dari pelukannya Bora sambil menunduk untuk melihat bajunya. Melihat bajunya masih utuh dan dia baik-baik saja, Agni mencium pipi Bora yang dia tampar tadi, lalu bergegas tutur dari kereta kuda dan segera berlari kencang meninggalkan Bora.
Bora terkekeh geli melihat tingkah Agni dan pria tampan itu kemudian melompat turun dari kereta kuda lalu berjalan pelan menuju ke gerbang depan kediaman Caraka.
Maharani diharuskan kembali menelan pil kekecewaan saat ia menemukan kamar Agha telah kosong dan pelayan yang tengah membersihkan kamar Agha mengatakan ke Maharani kalau junjungan mereka dan istrinya pergi keluar rumah di jam enam pagi.
Maharani balik badan sambil mencengkeram erat kedua kuping nampan. Dia menatap kue bulan bikinannya untuk Agha dengan wajah kesal dan kecewa.
Bibi Sum berdiri di depan Maharani dan berkata, "Yang Mulia Agha dan Nyonya muda pergi untuk waktu yang cukup lama. Kalau Anda tidak betah di sini, Anda bisa balik ke kediaman Ayahanda Anda, Nona Rani"
Maharani sontak mengangkat kepalanya dan menatap bibi Sum dengan tatapan penuh kebencian. Lalu, Maharani bertanya, "Berapa lama Kak Agha dan Kiana pergi?"
"Kurang lebih satu Minggu. Yang Mulia dan Nyonya muda pamit ke Nyonya besar tadi begitu. Mereka akan pergi selama satu Minggu"
"Kenapa Tante mengijinkan mereka pergi?" Maharani mendengus kesal sambil menjejakkan kakinya ke tanah.
"Kenapa tidak boleh? Mereka suami istri dan siapa pun tidak berhak melarang mereka berpergian berdua termasuk Nyonya besar" Sahut Bibi Sum.
__ADS_1
Maharani langsung balik badan dan pergi meninggalkan bibi Sum dengan langkah penuh amarah.