
"Kapan dimulainya transfusi darah itu?" Tanya Agha.
"Mulai besok malam. Saya akan memeriksa kesehatan Anda dan Nona Rani malam ini dan saya akan memberikan menu makanan untuk pagi, siang dan sore" Sahut Tabib Gun.
"Baiklah" Sahut Agha.
Sementara itu, setibanya di rumah bibi Sum, Kiana langsung berlari masuk ke kamar putranya bibi Sum dan segera memeriksa kondisi pria malang itu.
"Bagaimana kondisi Zaky, anak saya, Nyonya muda?"
"Dia demam dan mengeluh pening. Saya rasa dia cuma digigit sejenis nyamuk yang bisa menyebabkan lumpuh kayu sementara. Saya sudah berikan obat anti demam dan dia hanya perlu ditusuk jarum karena racun nyamuk itu akan lenyap dengan sendirinya setelah satu bulan terlewati, jadi tidak perlu diobati. Dan kakinya yang lumpuh layu akan saya terapi dengan tusuk jarum. Saya yakin besok pagi Putra Bibi akan sembuh total"
Bener saja, keesokan harinya terdengar suara girang seorang pria, "Lihat semuanya! Aku sudah bisa berjalan kembali!" Suara itu membangunkan bibi Sum, Kiana, dan Agni yang berjaga semalaman di kamar itu.
Kiana dan Agni langung berpelukan dan meloncat kegirangan melihat putranya bibi Sum bisa berjalan kembali sedangkan bibi Sum langsung memeluk putranya dengan derai air mata haru bercampur bahagia.
Beberapa jam kemudian, setelah mandi pagi di rumah Bibi Sum, bibi Sum, Kiana dan Agni pulang kembali ke kediaman Caraka dengan selamat dan riang hati. Karena Kiana telah berhasil menyembuhkan putranya bibi Sum dan membuat putranya Bibi Sum bisa berjalan kembali seperti semula.
Di tengah halaman depan kediaman Caraka, ketiga wanita itu berdiri melingkar berhadapan dan Bibi Sum langsung berkata dengan derai air mata bahagia, "Terima kasih banyak, Nyonya muda. Mulai sekarang saya akan menjadi pengabdi Anda yang paling setia karena Anda sudah menyembuhkan anak saya tanpa meminta bayaran sepeser pun dari dari saya. Terima kasih banyak, Nyonya muda"
Kiana memeluk bibi Sum dan bibi Sum terlonjak kaget. Seorang bangsawan, Istri jenderal besar mau memeluknya.
Agni tersenyum lebar sedari tadi melihat Bibi Sum dan Kiana saling menyayangi. Agni menyukai rasa sayang itu karena rasa sayang itu tidak dibuat-buat.
Kiana kemudian melepaskan pelukannya dan berkata, "Tidak perlu mengabdi kepada siapa pun dengan setia, Bi. Kita cukup berteman baik saja"
Bibi Sum mengusap air matanya kemudian berkata, "Saya mau menjadi teman baik Nyonya muda. Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih"
"Sama-sama, Bi" Kiana tersenyum hangat ke bibi Sum dan bibi Sum membalas senyumannya Kiana dengan senyum penuh kasih sayang yang tulus.
Tiba-tiba Debi muncul di tengah mereka, "Nyonya muda, Anda ke mana saja kemarin? Kenapa meninggalkan kediaman ini tanpa mengajak saya?"
"Maafkan aku Debi. Kemarin situasinya sangat genting. Aku tidak sempat pamit sama.kamu" Kiana menepuk pelan bahu Debi dan Debi hanya bisa merengut kesal.
Agni lalu merangkul bahu Kiana dan bertanya ke Debi, "Di mana Kak Agha sekarang ini?"
"Dari semalam Yang Mulia ada di ruang kerjanya bersama Bora dan Nona yang sangat cantik, emm, namanya saya lupa" Sahut Debi.
"Baiklah, kamu tunggu di kamar Kak Kiana. Aku dan Kak Kiana ada urusan sebentar"
Kiana menganggukkan kepala ke Debi dan Debi langsung melangkah menuju ke kamarnya Kiana.
"Kita da urusan apa pagi, ini?" Kiana menoleh ke Agni dengan senyum lebar.
"Kita akan bikin bika pisang kukus pagi ini. Aku akan ajari Kak Kiana. Aku pernah diajari sama Rani dan aku juga pernah mempraktekannya. Aku akan ajari Kak Kiana caranya" Tanpa melepaskan rangkulannya di bahu Kiana.
__ADS_1
"Makasih Agni" Sahut Kiana.
"Untuk apa berterima kasih. Kita ini saudara dan teman baik, kan?" Agni tersenyum lebar ke Kiana.
Kiana menganggukkan kepala dan tersenyum lebar.
Bibi Sum yang mengekor langkah dua gadis cantik itu tersenyum lebar dan bergumam lirih, "Bibi juga akan membantu Anda, Nyonya muda"
Setelah mengalami keseruan memasak buka pisang kukus di dapur bersama Agni dan bibi Sum, Kiana didorong oleh Agni, "Kakak harus kasih kue bikinan Kakak ini ke Kak Agha sendiri Aku tidak mau menganggu kemesraan kalian nanti"
Kiana langung menepuk bahu Agni dan berkata, "Kemesraan apa?" Dengan rona malu di wajah.
"Cieee! Kakak malu-malu meong, nih, hihihi" Agni terkekeh geli dan Kiana kembali menepuk pelan bahu Agni dengan wajah yang semakin memerah malu.
Bibi Sum tersenyum lebar dan menyahut, "Nyonya muda berhasil membuat kue Bika pisang kukus dan rasanya enak sekali. Bibi yakin banget kalau Yang Mulia akan menyukainya"
"Terima kasih Bi, Terima kasih Agni, berkat kalian aku bisa bikin kue ini" Sahut Kiana dengan senyum haru.
"Cepetan bawa ke ruang kerjanya Kak Agha, keburu dingin nanti kuenya" Agni kembali mendorong punggung Kiana.
Kiana menoleh ke belakang untuk tersenyum penuh semangat lalu ia melangkah dengan wajah riang menuju ke ruang kerjanya Agha.
Namun, sesampainya di rumah kerjanya Agha , Kiana harus memasang wajah kecewa saat Bora berkata, "Yang Mulia baru diperiksa sama.Tabub Gun. Ada Nyonya besar dan Nona Rani di dalam. Maafkan saya, Nyonya besar, Anda tidak diijinkan masuk"
Kiana menghela napas kecewa bercampur sedih karena dia tidak bisa bertemu Agha pagi itu dan dia juga tidak bisa menyerahkan secara langsung kue bikinannya ke Agha.
"Emm, tolong kasih kue Bika pisang kukus bikinan saya ini ke Yang Mulia Agha dan tolong kasih tahu ke saya nanti apakah Yang Mulia makan kue ini dan apakah Yang Mulia menyukainya?" Kiana menyerahkan piring yang ditutupi tudung makanan.
"Baiklah" Sahut Bora sambil.jenrrima piring bertudung kecil itu.
"Kalau begitu, aku kembali ke kamarku dan terima kasih Bora"
"Sama-sama, Nyonya muda"
Bora terus memegang piring yang berisi kue Bika pisang kukus bikinannya Kiana dan begitu melihat Nyonya besar, Nona Rani, dan tabib Gun keluar dari dalam ruang kerjanya Agha, Bora langsung masuk ke dalam sambil terus memegang erat piring pemberian dari Kiana.
Bora meletakkan piring pemberiannya Kiana atas meja saat Agha masih berganti baju. Agha kemudian muncul dari ruang ganti baju lalu melangkah ke meja kerjanya dan duduk di depan meja itu.
"Kenapa ada dua piring di sini? Yang satu dari Rani. Rani masak kue Bika pisang kukus untukku cuma aku nggak perhatikan yang mana yang dari Rani? Lalu, piring yang satunya dari siapa?"
"Dari Nyonya muda"Sahut Bora.
"Kiana sudah pulang? Di mana dia sekarang? Kenapa dia tidak masuk ke sini?"
"Tadi Nyonya besar berpesan Nyonya muda tidak boleh masuk ke sini. Nyonya muda cuma nitip kue bikinannya untuk Anda lalu Nyonya muda kembali ke kamarnya"
__ADS_1
Agha menghela napas kecewa. Lalu, ia bertanya, "Yang mana kue bikinannya Kiana?"
"Yang berbentuk bintang, Yang Mulia" Sahut Bora.
Agha mengangkat piring berisi kue berbentuk kotak biasa dan berkata, "Berarti ini punya Rani"
"Iya, Yang Mulia" Sahut Bora.
"Nih, untuk kamu" Agha menyerahkan kue bikinannya Maharani ke Bora.
Bora menerima piring yang berisi kue berbentuk kotak biasa, namun pandangannya terus menatap kue berbentuk bintang yang tampak lebih menggoda selera.
Agha menatap Bora dan bertanya, "Kenapa nggak kamu makan kue bikinannya Rani itu?"
"Sa......saya akan memakannya nanti, Yang Mulia. Emm, sa....saya ingin mencicipi kue berbentuk bintang bikinannya Nyonya muda, boleh? Kue itu lebih menggoda selera, bentuknya bagus dan warnanya sangat cantik, Yang Mulia"
"Iya, kamu benar. Kue ini sangat cantik seperti yang bikin" Sahut Agha sambil mengangkat piring dan memandangi kue bikinannya Kiana dari jarak dekat.
"A.....apakah saya boleh mencicipinya? Satu aja, Yang Mulia?" Tangan Bora terkilir ke depan untuk mengambil satu kue bikinannya Kiana dan Agha langsung menepis tangan Bora dengan keras sambil menggeram sepeti seekor kucing yang tengah mempertahankan makanan kesukaannya, "Aku tidak akan bagi kue bikinannya Kiana ini sama siapapun termasuk kamu. Makan aja, tuh, kuenya Rani, cih! Ganggu aja!"
Agha kemudian mengambil satu kue bikinannya Kiana dan saat ia menggigitnya mata Agha langsung berbinar cerah dan sambil mengunyah kue itu Agha berkata, "Ini enak banget. Kue ini bahkan lebih enak dari kuenya Rani. Kiana memang sangat pandai melakukan apapun"
Bora mengunyah kuenya Maharani dan berkata, "Apa benar seenak itu, Yang Mulia?"
"Kamu pengen mencicipinya?"
Bora menganggukan kepala penuh semangat sambil menjulurkan tangannya dan Agha langsung mendekap piring dan berkata, "Enak aja! Ini kue bikinan Istriku maka aku akan habiskan dan tidak akan bagikan ke siapapun"
Bora menarik kembali tangannya dan merengut kecewa lalu berkata, "Sejak kapan Anda pelit seperti ini, Yang Mulia?"
"Sejak aku punya Istri yang pandai memasak" Sahut Agha dengan santainya sambil terus memakan kue bikinan istri tercintanya.
Bora hanya bisa menghela napas panjang dan meneruskan makan kue bikinan Anya Maharani yang menurut dia biasa saja rasanya.
Saat mengembalikan dua piring yang telah kosong ke dapur, Bora berpapasan dengan Kiana dan Kiana langsung bertanya, "Apa yang Mulia makan semua kuenya?"
"Iya, Nyonya muda. Saya ingin mencicipinya tapi tidak dikasih" Sahut Bora dengan mengerucutkan bibir.
Kiana tersenyum geli dan kembali bertanya, "Apa kata Yang Mulia"
"Katanya kue Anda jauh lebih enak dari kuenya Nona Rani dan Yang Mulia menunggu Anda di ruang kerjanya saat ini"
Benarkah?!" Kiana memekik senang dan sebelum ia berlari ke ruang kerjanya Agha, Kiana berkata ke Bora, "Aku bikin banyak kuenya. Masih ada di meja dapur kalau kamu ingin mencicipi kue bikinanku"
Wajah Bora langsung cerah ceria dan menyahut, "Terima kasih, Nyonya muda!"
__ADS_1
"Sama-sama" Sahut Kiana sambil berlari menuju ke ruang kerjanya Agha.
Bora membeliak kaget saat ia mengunyah kue bikinannya Kiana dan Bora langsung bergumam, "Memang enak banget kue ini. Jauh lebih enak dari kuenya Nona Rani"