
Alaric bersandar ke pohon besar sambil mencengkeram dada, memejamkan mata rapat-rapat dan mengerang lirih saat ia merasakan seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar dan degup jantungnya semakin kencang.
Alaric membayangkan dirinya mandi bersama Kiana di sungai dan dia membayangkan tangannya yang memegang batu dengan permukaan licin dia pakai untuk menggosok punggungnya Kiana. Fantasi liar yang menari-nari indah di benaknya itu membuat sekujur tubuh Alaric semakin panas dan fantasi yang sangat hebat itu membuat lutut Alaric lemas.
"Kyaaaaaaaa!!!!!" Tiba-tiba terdengar suara teriakannya Kiana.
Alaric sontak melompat keluar dari persembunyiannya dan saat bocah tampan itu berlari ke arah sungai, dirinya bertabrakan dengan Kiana.
Alaric sontak mematung saat ia melihat tubuh Kiana yang hanya dibalut kain jatuh di di atas tubuhnya.
Air di rambut Kiana yang masih basah menetes di kening Alaric dan sontak membuat bocah itu menunduk. Lalu, Alaric mengumpat di dalam hatinya saat ia melihat belahan indah dan tonjolan seksi. Dengan cepat Alaric langsung mengarahkan pandangannya ke langit sambil berkata, "Kiana bangunlah dulu!"
Alih-alih bangun, Kiana justru bertanya, "Kenapa? Kau mau bilang kalau aku gemuk dan berat, ya?!" Kiana mendelik kesal.
Alaric menurunkan pandangannya dan seketika mengarahkan pandangannya kembali ke langit saat pandangannya bertubrukan lagi dengan tonjolan seksi.
"Bangunlah! Bukan karena kamu berat dan gemuk tapi karena kamu masih basah. Airnya menetes terus di keningku, nih, lama-lama keningku bisa berlubang" Sahut Alaric sambil terus mengarahkan pandangannya ke langit. Alaric sama sekali tidak berani menunduk. Dia takut kepanasan lagi dan takut tidak bisa menahan diri.
Kiana langsung bangun dan berkata, "Maafkan aku"
Alaric bangun dan langsung bangkit berdiri untuk membantu Kiana bangkit berdiri.
Kiana menyambut uluran tangan Alaric dan bangkit berdiri sambil berkata, "Mana ada kening berlubang kena tetesan air"
Alaric melepaskan tangan Kiana sambil meringis santai.
__ADS_1
Kiana lalu berbalik badan sambil berkata, "Naga tadi ke mana?"
"Naga? Ada naga selain aku di hutan ini?" Tanya Alaric kaget dan langsung melompat di samping Kiana lalu memandang ke langit.
Kiana menoleh ke Alaric lalu menganggukkan kepala.
"Naga hitam?" Tanya Alaric.
"Bukan. Tapi, naga putih dan dia hampir menangkapku tadi. Lalu, aku masuk ke dalam air dan menahan napas cukup lama di dalam air sampai bayangan naga itu hilang. Kemudian aku bergegas berenang ke tepian dan berlari.
"Sial! Naga putih itu berarti bukan naga yang baik"
"Iya. Ternyata warna putih tidak selalu identik dengan hal baik" Sahut Kiana.
"Kalau begitu, kita harus segera balik ke pondok" Sahut Alaric sambil melepas bajunya dan dia pakaikan bajunya ke tubuh Kiana yang masih dibalut selembar kain.
Tiba-tiba langkah mereka berdua dihadang oleh seekor naga berwarna putih yang ukurannya cukup besar.
Naga putih itu kemudian menggemakan suaranya, "Alaric! Atau aku harus memanggil kamu Jenderal Agha Caraka, hahahahahaha! Aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu di dunia cermin dan menemukan kamu dalam wujud bocah remaja. Aku akan membunuh kamu di dunia cermin ini dengan mudahnya lalu aku akan membawa wanita kamu yang cerdas dan sangat cantik itu untuk aku peristri, hahahahaha"
Kakek cermin langsung menyahut saat Kiana menautkan kedua alisnya, "Dia adalah naga putih yang pernah dikalahkan oleh suami kamu. Entah kenapa Sofie menempatkan naga putih itu di sini"
"Sial!" Kiana langung mengumpat dan Alaric langsung menoleh ke Kiana, "Bersembunyi lah di tempat yang aman! Aku akan melawan naga putih ini"
Kiana langsung menarik lengan Alaric dan mengajak Alaric berlari kencang menuju ke semak-semak setelah ia menaburkan bubuk obat bius.
__ADS_1
Bubuk obat bius itu hanya membuat naga putih itu bersin-bersin cukup lama.
Kiana akhirnya berhasil membawa Alaric masuk ke dalam sebuah goa dan Alaric langsung mendelik, "Kenapa kau malah mengajakku berlari dan bersembunyi di sini?"
"Karena naga putih itu bukan tandingan kamu"
"Sial! Kalau dia menemukan kita di sini kita bisa terdesak dan kalau aku kalah kamu akan dibawa pergi dan diperistri olehnya. Aku nggak rela" Alaric nyerocos terus tanpa ia sadari karena ia terbakar rasa cemburu.
Kiana mengerjap kaget lalu menyemburkan, "Kenapa kau tidak rela aku dibawa pergi olehnya?"
"Karena aku menyukaimu" Teriak Alaric secara spontan karena hatinya masih dikuasai rasa cemburu. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun membawamu pergi"
"Kau serius berkata seperti itu?"
"Tentu saja serius. Aku sangat menyukaimu, Kiana"
Kiana langsung berkata ke Alaric, "Sekarang cium aku!"
Alaric menautkan kedua alisnya.
Kiana mendengus kesal, "Kalau kamu tidak ingin aku dibawa pergi oleh naga itu maka ciumlah aku sekarang juga!"
"Tapi, itu, emm, apa kaitannya dengan ciuman?"
"Buruan lakukan dan jangan banyak nanya! Cepat lakukan sebelum naga putih itu menemukan kita di sini! Cepat!"
__ADS_1
Karena terus didesak oleh Kiana, maka Alaric menangkup wajah cantik Kiana dan mencium bibir kiana dengan sangat lembut.
Lalu, nampaklah cahaya biru yang sangat terang dan terdengar suara wibawanya kakek cermin, "Selamat Kiana! Sebentar lagi kamu dan suami kamu akan keluar dari dunia cermin ini"