
Di sebuah ruangan yang luas dengan penataan interior bergaya klasik, Bayu berdiri di depan Adyaksa yang tengah menyantap salad sayur dan roti gandum kesukaannya.
"Kau sudah sarapan?" Tanya Adyaksa ke Bayu.
"Sudah, Yang Mulia. Terima kasih sudah bertanya. Emm, ada perintah apa pagi ini, Yang Mulia?" Sahut Bayu.
"Kau suruh anak buah kamu pergi ke kediamannya Agha Caraka untuk menemui Kiana secara diam-diam bagaimana pun caranya. Lalu, cari tahu apakah Kiana sudah berhasil menemukan tanda lahir berbentuk burung merpati di pantatnya Agha!"
"Dari laporan mata-mata yang saya tanam di sekitar kediaman Caraka, Nyonya Kiana Caraka akan pulang bersama tuan muda Kendra pagi ini" Ucap Bayu dengan wajah datar dan serius.
Adyaksa sontak bangkit berdiri dan berkata dengan senyum lebar, "Kalau begitu antarkan aku ke rumahnya tabib Danur sekarang juga"
"Untuk apa Yang Mulia?"
"Aku ingin berkenalan dengan tabib Danur"
"Tapi, kalau ada Jenderal Agha, Anda dan Jendral Agha bisa........"
"Aku yakin Agha tidak akan mengantarkan Kiana pulang. Agha benci basa-basi dan bertamu. Dia orang yang kaku dan tidak bisa bergaul dengan baik. Aku yakin Kiana pulang sendiri. Untuk itulah aku akan main ke rumah KIana dan berkenalan dengan tabib Danur. Siapkan semuanya"
"Baik, Yang Mulia" Sahut Bayu.
Di kediaman Caraka mulai terlihat ada kehidupan karena semua penghuninya sudah bangun dan beraktivitas seperti biasanya, kecuali Agni yang memang terbiasa bangun siang. Tampak lah Bora berlari kecil masuk ke dapur untuk mengisi botol minumnya dengan air minum hangat langsung terperanjat kaget, "Yang Mulia?! Anda beneran masak bubur? Saya kira tadi Anda hanya sambil lalu nanya ke saya cara masak bubur dan cakue"
"Aish! Diam! Aku lagi konsentrasi masak bubur, jangan diganggu!" Agha mendelik ke Bora dan Bora langsung menganggukan kepala sambil berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia"
Bora kemudian mengisi botol minumnya dengan air hangat dan menoleh ke Agha tepat di saat Agha mulai berkutat dengan tepung untuk mulai membuat adonan cakue.
Yang Mulia tampak berbeda saat ini. Yang Mulia yang tidak pernah mau masuk ke dapur karena tidak suka kepanasan dan bau bawang, sekarang malah tampak asyik memasak di dapur. Batin Bora sambil berlalu pergi meninggalkan junjungannya.
Selagi Agha sibuk belajar memasak di dapur salah satu pelayan melipir keluar dari dapur dan bergegas berlari menuju ke paviliun ibundanya Agha untuk memberikan laporan paling update tentang Jenderal Agha dan Istrinya.
Pelayan tersebut terengah-engah di depan ibundanya Agha dan ibundanya Agha langsung bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu tergesa-gesa berlari ke sini?"
Pelayan tersebut langsung berkata disela deru napasnya, "Yang Mulia Pangeran ketujuh Jenderal Agha yang terhormat masuk ke dapur pagi ini, Nyonya besar"
"Apa?!" Ibundanya Agha yang tengah disisir rambutnya sama Bibi Sum langsung bangkit berdiri.
"Apa yang Agha lakukan di dapur? Agha tidak pernah masuk ke dapur karena dia tidak suka panas dan bau bawang, kan?" Ibundanya Agha langsung menautkan kedua alisnya.
"Yang Mulia memasak bubur dan membuat Cakue untuk Nyonya muda" Sahut pelayan itu
"Wah, udah kacau, nih! Dia sudah beneran kena guna-guna gadis liar itu dan hanya Rani yang bisa membuat Agha sadar dan lepas dari guna-guna gadis liar itu. Sum!" Ibundanya Agha langsung menoleh ke belakang.
Bibi Sum langsung melangkah maju dan menundukkan wajah sambil bertanya, "Ada perintah apa, Nyonya besar?"
"Temani aku pergi ke kuil menyusul Rani! sekarang juga siapkan bekal, semua perlengkapan dan kereta kuda!" Ucap ibundanya Agha sembari melangkah lebar menuju ke pintu keluar.
Bibir Sum menyusul langkah junjungannya sambil berkata, "Baik, Nyonya besar"
Kiana tersenyum lebar saat melihat semua perlengkapan dia, Kendra, dan Debi sudah tertata rapi di kereta kuda milik tabib Danur.
Kiana menepuk-nepuk tangannya sambil berkata, "Beres sudah. Ayo kita sarapan dulu habis sarapan kita pamit ke Yang Mulia Agha dan Nyonya besar"
"Oke, Kak" Sahut Kendra.
"Siap, Nyonya muda. Saya langsung ke dapur saja kalau begitu sekalian minta bekal ke bagian dapur untuk makan kita di jalan nanti" Sahut Debi.
"Hmm" Sahut Kiana sambil tersenyum hangat dan menganggukan kepala ke Debi. Kiana lalu menggandeng Kendra dan melangkah kembali ke kamarnya Agha.
Di halaman depan kamar pribadinya Agha, Kiana menghentikan langkahnya dan membuka telapak tangannya. Ada bongkahan kecil salju mendarat di telapak tangannya dan dengan cepat bongkahan es sekecil kerikil itu meleleh.
"Yeaaahhh, kok, meleleh" Kiana tampak kecewa.
__ADS_1
Kendra menoleh ke kakaknya tepat di saat Agha berdiri di depan pintu kamar. Kendra bertanya ke Kakak perempuannya yang cantik, "Kakak suka salju, ya?" dan Agha bisa mendengar pertanyaan itu.
Agha menunggu jawabannya Kiana. Kiana dan Kendra masih berdiri membelakangi Agha saat Kiana menyahut, "Iya. Kakak suka sama salju karena salju itu putih bersih dan menyejukkan hati. Sayangnya Kakak tidak bisa menggenggamnya terlalu lama karena saljunya cepat sekali meleleh di tangan Kakak"
"Aku akan coba pakai telapak tanganku" Kendra langsung membuka telapak tangannya dan tidak begitu lama terdengar teriakan kecewanya Kendra, "Yeaaaah, kok, leleh cepet banget"
Kiana terkekeh geli dan berkata, "Lupakan saja! Ayo kita masuk. Kau bisa kedinginan kalau terlalu lama berdiri di luar seperti ini"
Saat Kiana hendak berputar badan, terdengar suara yang sangat dalam, "Salju di tanganku tidak meleleh. Kau mau aku menyimpannya untuk kamu?"
Kiana sontak mematung di depan Agha dan menunduk melihat telapak tangannya Agha. Ada satu salju kecil mendarat di telapak tangannya Agha dan salju kecil itu tidak meleleh untuk waktu yang cukup lama.
"Kenapa saljunya tidak meleleh?" Tanya Kiana secara spontan dengan sorot mata takjub bercampur heran.
"Karena aku memiliki hati yang dingin. Tidak seperti kamu yang memiliki hati yang hangat" Sahut Agha dengan nada suara dan wajah datar.
Kiana sontak mengangkat wajahnya dan menatap kedua bola mata Agha di dalam kebekuannya.
Agha menatap lekat kedua bola mata Kiana dan berkata, "Kau memiliki bola mata yang jernih dan indah"
Kiana semakin mematung. Bahkan untuk bernapas dan mengerjapkan mata sedetik pun, Kiana lupa.
Tiba-tiba terdengar teriakan Kendra yang sudah masuk ke dalam kamar, "Cepat masuk dan makan! Aku lapar banget, Kak!"
Kiana mengerjap kaget dan seketika terbebas dari kebekuannya. Gadis itu kemudian berputar badan dan berlari kecil meninggalkan. Agha sambil berteriak, "Baiklah Kendra, Kakak datang!"
Agha menutup telapak tangannya dan tersenyum saat ia melangkah mengikuti Kiana yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
Agha duduk di depan Kiana dan Kendra yang masih berdiri. Agha kemudian berkata, "Duduklah!"
Kiana dan Kendra langung duduk secara bersamaan.
"Cicipi lah masakanku" Agha merasa bangga di dalam hatinya tapi tetap saja ia memasang wajah datar di depan Kiana dan Kendra.
Kiana tersentak kaget, "Bubur dan Cakue ini masakan Anda, Yang Mulia?"
Kendra langsung berbisik ke Kiana, "Cakue-nya gosong. Aku nggak mau memakannya"
Kiana sontak menoleh ke Kendra dan tersenyum geli sambil menganggukkan kepalanya.
"Apa yang Kendra bisikan ke kamu?" Tanya Agha.
Kiana menoleh kaget ke Agha dan langsung berkata dengan senyum canggung, "Kendra sudah laper banget karena wangi masakan Anda sungguh mengundang selera, Yang Mulia"
Sedangkan Kendra hanya meringis di depan Agha sambil mengangguk-anggukkan kepala mungilnya.
"Benarkah?" Agha mengusap kepala Kendra dan berkata, "Makan yang banyak kalau begitu"
"Kendra suka buburnya. Enak banget" Sahut Kendra dengan senyum tulus.
"Iya, buburnya enak banget" Sahut Kiana.
"Benarkah?" Kedua bola mata Agha tampak berbinar cerah.
"Aku belum mencicipinya Aku akan cicipi sekarang" Agha kemudian mencicipi bubur bikinannya dan langsung membeliak kaget, "Wah, benar! Buburnya enak"
Agha Kemudian meraih cakue dan Kiana dengan sigap menarik piring berisi cakue lalu mendekap piring itu.
Agha sontak menautkan alisnya dan berkata, "Aku juga ingin mencicipi cakue bikinanku. Aku juga belum mencicipi cakuenya"
Kiana mendekap piring berisi cakue dan sambil meringis, Kiana berkata, "Saya akan habiskan semua cakue ini, boleh, kan, Yang Mulia?"
"Bo.....boleh saja" Agha terkejut mendengar permintaan Kiana.
__ADS_1
"Saya lapar banget di cuaca sedingin ini" Sahut Kiana.
Hiks,hiks, hiks, maafkan saya, Tuhan, saya kembali berbohong demi kebaikan bersama. Batin Kiana.
"Oke, habiskan saja. Tapi, kau tidak ingin membaginya dengan Kendra?"
"Saya tidak suka cakue" Pekik Kendra dengan cepat.
"Oh, begitu, ya. Oke, biar Kak Kiana kamu yang habiskan cakuenya. Aku masak juga untuk Kak Kiana kamu, kok" Sahut Agha dengan rona merah di wajahnya.
"Kenapa wajah Anda tiba-tiba memerah, Yang Mulia?"
Agha langsung menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sambalnya terlalu pedas" Agha kemudian berdeham dan menenggak habis teh hangatnya..
Agha menatap Kiana dengan senyum bangga saat Kiana memakan cakue bikinannya dengan lahap.
Dengan terus menahan rasa pahit di cakue yang gosong, Kiana berhasil mengabiskan sepiring cakue gosong itu tak bersisa dan membuat Agha tersenyum senang. Ia senang melihat Kiana menyukai masakannya.
Kendra menunjuk Agha, "Kak, lihat lah! Kak Agha kalau tersenyum tampan sekali"
Sebelum Kiana menatapnya, Agah buru-buru menghapus senyuman di wajah tampannya sambil bangkit berdiri dan berkata, "Aku akan bantu kamu membawa barang-barang kamu"
Kiana menatap Agha dan berkata, "Terima kasih masakannya, Yang Mulia. Semuanya enak dan Anda tidak perlu membantu membawakan barang-barang saya karena semuanya sudah tertata rapi di kereta kuda"
"Oh" Sahut Agha.
"Saya dan Kendra pamit. Terima kasih atas keramahan dan kebaikan hati Anda selama Kendra menginap di sini"
"Terima kasih Kak Agha" Kendra memeluk Agha.
Agha mengusap kepala Kendra dan berkata, "Kalau mau menginap lagi di sini bilang aja! Kak Bora akan menjemput kamu"
"Hmm" Sahut Kendra.
Agha berkata ke Kiana, "Aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku memiliki banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan secepatnya"
Walaupun merasa kecewa, Kiana berkata, "Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya mau ke kamar saya untuk mengambil koper saya"
"Hmm" Sahut Agha sambil menggandeng Kendra dan mengekor langkahnya Kiana.
Beberapa menit kemudian, Kiana muncul dari dalam kamarnya dan tampak kesulitan menarik koper yang cukup besar.
Agha menghampiri Kiana dan berkata, "Apa kau butuh bantuan?"
Kiana menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak perlu dibantu, Yang Mulia. Saya bisa menarik sendiri koper ini sendiri, Yang Mulia"
"Oh, baiklah" Sahut Agha dengan santainya.
Aku bilang tidak perlu dibantu bukan berarti aku tidak butuh bantuan. Dasar pria gunung es, nggak peka, nggak punya perasaan. Dia malah benar-benar tidak membantu aku membawa tas seberat ini, huh! Dasar menyebalkan. Batin Kiana kesal sambil terus menyeret kotak koper yang berisi bahan herbal dan tanaman obat.
Melihat kelakuan Agha dari.kejauhan, Agni mendengus kesal dan langsung berlari mendekati kakak laki-lakinya dan saat ia sudah berhenti di samping kanan kakak laki-lakinya, Agni tanpa ragu menepuk keras punggung Agha.
Agha mengaduh kencang sambil menoleh tajam ke Agni, "Kenapa kau pukul punggung Kakak keras banget, hah?!"
"Itu karena Kakak nggak peka dan bodoh" Sahut Agni dengan santainya.
Memang hanya Agni yang berani mengatai Agha seenaknya.
"Kau?! Berani kau mengatai Kakak kamu, hah?!"
Pletak! Agha menyentil cukup keras kening Agni dan Agni sontak mengelus keningnya sambil berteriak kesal, "Itu karena Kakak nggak bantuin Kak Kiana bawa koper"
"Dia bilang nggak butuh bantuan, ya, sudah Kakak nggak bantu dia" Sahut Agha dengan santainya.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Perempuan bilang begitu bukan berarti dia tidak butuh bantuan, tapi dia menguji kepekaan pria" Sahut Agni sambil menutup keningnya dengan dua telapak tangan. Dia takut Agha menyentil keningnya lagi.
Agha langsung berlari meninggalkan Agni untuk menyusul Kiana. Namun, kereta kuda yang Kiana naiki sudah menghilang. Agha kembali masuk ke dalam dengan wajah menyesal.