Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Mengusik Hati


__ADS_3

Agha kemudian keluar sebentar untuk menemui Bora dan berkata, "Apa Kiana ke sini tidak membawa pelayan pribadi dari rumahnya?"


"Pas Nyonya muda ke sini, Nyonya muda bersama pelayan pribadinya. Namun, pelayan pribadinya itu ditarik kembali ke kediaman Tabib Danur" Sahut Bora.


"Jadi, saat ini Kiana tidak punya pelayan pribadi?"


"Tidak punya, Yang Mulia"


Agha menghela napas panjang, lalu bertanya, "Apa Kiana menderita selama ini? Maksudku, emm, apa dia tidak disayangi di keluarganya?"


"Tidak, Yang Mulia. Bahkan ayah kandungnya tega membuat wajah Nyonya muda penuh jerawat tepat di saat Nyonya muda menginjak umur lima belas tahun"


"Jadi, yang membuat wajah Kiana penuh bisul adalah ayahnya sendiri?"


"Benar, Yang Mulia. Dan sejak Nyonya muda menemukan wajahnya penuh bisul, ke mana-mana Nyonya muda selalu memakai penutup wajah"


Agha termenung sejenak. Dia ingat akan perjumpaan pertamanya dengan Kiana di sebuah tebing. Kiana memakai penutup wajah.


Kemudian Agha kembali bertanya, "Lalu, hubungan Kiana dengan ibu tiri dan adik tirinya? Kecuali adik tirinya yang masih berumur lima tahun. Aku tahu Kiana dan adik tirinya yang kecil saling menyayangi"


"Ibu tirinya Nyonya muda sering memukuli Nyonya muda dan Komala nama adik tirinya Nyonya muda, sering mengejek dan menindas Nyonya muda"


"Kalau begitu, besok suruh anak buah kamu ke kediamannya tabib Danur dan bawa pelayan pribadinya Kiana ke sini. Bilang kalau aku yang memintanya"


"Baik, Yang Mulia. Besok saya akan suruh anak buah saya untuk menjemput adiknya Nyonya muda dan pelayan pribadinya Nyonya muda"


Agha kemudian berkata, "Aku sudah meletakkan gulungan kertas di tempat yang mudah untuk ditemukan. Besok, suruh anak buah kamu jangan berjaga di sini! Biarkan pencurinya mengambil gulungan kertas itu dengan leluasa, lalu kita tangkap dia"


"Baik, Yang Mulia. Tapi, jika itu Nyonya muda bagaimana?"


"Aku yang akan menginterogasinya sendiri kalau itu Kiana"


"Baik, Yang Mulia"


Agha kemudian berbalik badan dan masuk kembali ke dalam kamar pribadinya. Agha belum berani tidur sekamar dengan istrinya, karena dia masih memiliki banyak tanggung jawab. Dia takut khilaf kalau tidur sekamar dengan istrinya dan dia takut membuat istrinya hamil. Seorang anak masih menjadi momok yang menakutkan bagi Agha. Dia belum siap memiliki anak di tahun ini karena beban dan tanggung jawab dia masih sangat banyak. Dia juga takut kalau ia memiliki anak di tahun ini dan identitasnya sebagai putra mahkota asli terbongkar sebelum ia berhasil menjadi lebih kuat untuk merebut tahta putra mahkota, anaknya akan menjadi korban. Dia tidak ingin kalau sampai anaknya mengalami nasib dan pengalaman mengerikan yang ia alami dulu.


Namun, Agha tidak bisa tidur malam itu. Bayangan bibir Kiana yang menempel di bibirnya untuk yang pertama kalinya waktu Kiana membantunya minum obat, kembali ia rasakan. Agha mengusap bibirnya dengan pelan sambil bergumam, "Itu adalah ciuman pertamaku"


Agha kemudian terkekeh geli dengan sendirinya saat ia teringat semua sikap konyolnya Kiana. "Kenapa kamu bisa mengusik hatiku yang selama ini aku kunci rapat dan kenapa kau bisa menghangatkan hatiku yang sudah lama dingin? Tapi, kenapa kau harus menjadi mata-matanya Permaisuri? Kenapa? Apa sedikit pun hati kamu tidak bergetar saat kamu berada di dekatku? Padahal hatiku selalu bergetar saat aku berada di dekat kamu, Kiana" Agha bergumam sembari terus mengusap-usap dadanya.

__ADS_1


"Besok aku akan minta tabib Gunadi memeriksa dadaku. Kenapa sejak aku menikah dadaku ini sering berdegup kencang" Gumam Agha sambil terus mengusap-usap dadanya.


Keesokan harinya, Kiana membuka mata sambil menguap selebar-lebarnya dan tidak lupa ngulet. Dengan santainya gadis cantik yang masih berumur dua puluh tahun itu, meregang-regang serta menarik-narik tangan dan badan. Setelah merasa nyaman, Kiana bangun dan duduk di tengah ranjang sambil mengerjap-ngerjapkan mata dan kembali menguap.


Kiana panik saat ia mengedarkan pandangannya dan menemukan dirinya ada di atas ranjang. Lalu, ia menunduk dan semakin panik saat ia menemukan bajunya telah diganti. Kiana langsung membuka selimut untuk mencari bercak darah yang kata orang-orang tua di luar sana setelah malam pertama maka akan ada bercak darah di atas sprei.


Kiana menyibak pelan-pelan selimut dan fokus mencari bercak darah sambil bergumam lirih, "Kok, tidak ada? Apa aku tidak perawan? Tapi, kenapa bisa tidak perawan? Aku belum pernah menikah? Ah, kok, tidak ada bercaknya?


"Kau mencari apa?"


Kiana terlonjak kaget dan langsung menoleh ke belakang. "Yang Mulia?!" Kiana berteriak dengan wajah panik dan sontak menarik selimut sampai ke leher.


"Ke.....kenapa Anda kemari, Yang Mulia?" Kiana menatap Agha dengan wajah panik dan tubuh bergetar ketakutan.


Agha menunduk dan mendekatkan pipinya ke Kiana, "Aku mau minta ciuman selamat pagi Cium pipiku!"


Kiana dengan cepat mencium pipi Agha dan saat Agha menegakkan wajahnya, Kiana kembali bertanya, "Se.....selain ciuman selamat pagi? Ke......kenapa Anda masuk kemari, Yang Mulia?"


"Kenapa? Ini kamar pengantin kita, kan, kenapa aku tidak boleh kemari?"


Apa Yang Mulia akan membunuhku kalau dia tidak menemukan bercak darah? Karena itu tandanya aku sudah tidak perawan, kan? Apa benar dia akan membunuhku kalau dia tahu aku ini sudah tidak perawan. Aaaaaaa!!!!! Aku takut. Kalau begitu, dia tidak boleh melihat sprei. Tidak boleh! Kiana mencengkeram kedua ujung selimut.


Kiana yang masih tegang dengan pikiran-pikiran anehnya hanya bisa menganggukkan kepala dengan pelan dan menatap wajah Agha dengan penuh selidik.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"A.....apa?! Ah, maafkan saya!" Kiana langsung menurunkan tatapan matanya.


"Apa kau malu hanya memakai baju tidur di depanku? Makanya kau terus mencengkeram ujung selimut dengan sangat erat seperti itu?"


"Ke.....kenapa Anda melakukannya, Yang Mulia? Sa......saya, kan, bilang kalau saya be.....belum siap" Kiana memberanikan diri untuk protes walaupun dengan suara yang sangat lirih.


"Melakukan apa?" Agha mendelik kaget.


"Ma ....malam pertama. Ma.....makanya Anda mengganti baju saya, kan?" Kiana berucap dengan masih menatap ke bawah dia sama sekali tidak berani beradu pandang dengan Agha.


Agha hampir saja meledakkan tawanya, tapi dia masih bisa menguasai diri dengan baik. Jenderal gagah dan tampan itu, kemudian berdeham, lalu berkata, "Bukan aku yang mengganti baju kamu"


Kiana sontak mengangkat wajahnya, menatap Agha dengan mulut ternganga, dan menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


Agha mendengus kesal, "Aku memang yang membaringkan kamu di ranjang, tapi aku menyuruh pelayan yang mengganti baju kamu. Aku bukan laki-laki kurang ajar yang suka mengambil kesempatan. Kita akan lakukan malam pertama kita kalau kita berdua saling menginginkannya. Kalau kamu sudah siap, katakan padaku!"


Kiana langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan langsung menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merona merah.


Agha kembali berdeham lalu segera berteriak, "Bawa mereka masuk!"


Kiana sontak menoleh ke pintu kamar dan langsung melompat turun dari atas ranjang untuk menyambut Debi dan Kendra dengan pekik tawa riang.


Bora yang mengantarkan Debi dan Kendra tersenyum senang melihat keceriaan yang tampak di depan matanya.


Dia lupa kalau dia hanya memakai baju tidur saat ini. Bisa-bisanya dia melompat turun dari atas ranjang dan berlari seperti itu. Sial! Pakaian dalamnya terlihat. Batin Agha.


Agha langsung berteriak ke Bora dengan mata melotot, "Bora cepat keluar dan tutup pintunya!"


Bora yang masih polos dan belum pernah berpacaran itu tersentak kaget dan segera berbalik badan lalu berlari keluar dan tak lupa menutup pintu rapat-rapat.


Ada apa, ya? Kenapa Yang Mulia berteriak sepanik itu? Apa aku melakukan kesalahan? Batin Bora dengan napas terengah-engah.


Kiana yang tengah asyik berteriak kegirangan dan melompat-lompat bersama Debi dan Kendra tidak menyadari teriakannya Agha.


Sial! Dengan baju setipis itu pakaian dalamnya kelihatan dan di balik tubuh kurusnya ternyata dia memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus. Eh! Apa yang aku pikirkan? Agha menepuk keningnya lalu ia bergegas keluar kamar.


Agha berdiri di sebelahnya Bora dengan napas terengah-engah.


Bora dan Agha kemudian bersitatap.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Agha mendelik kesal.


"Kenapa Anda berlari keluar, Yang Mulia? Lalu, kenapa wajah Anda merah sekali? Anda demam? Untuk itulah Anda menyuruh saya keluar untuk mengambil obat demam? Sebentar Yang Mulia, akan saya ambilkan obatnya"


Agha langsung menahan lengan Bora dan berkata, "Aku tidak apa-apa dan tidak butuh obat. Kita langsung ke kantor penyidik saja"


"Tapi, wajah Anda merah sekali saat ini, Yang Mulia"


"Jangan perhatikan wajahku. Ayo kita pergi!"


"Anda sudah sarapan?"


"Sudah. Aku sudah makan bakpao dan minum air putih. Ayo kita berangkat ke kantor penyidik sekarang"

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia"


__ADS_2