
Pangeran Adyaksa bergumam di dalam hatinya, besok aku akan minta Kiana mencari tahu apakah di pantat Agha Caraka ada tanda lahir berbentuk seperti burung merpati. Kalau memang ada, berarti Agha adalah putra mahkota yang sah dan aku harus melindung dan membantunya merebut tahta. Karena Adnan yang manja, licik, dan berhati kejam itu tidak pantas menjadi kaisar menggantikan Kaisar Abinawa. Agha yang pantas. Lagipula aku berhutang budi sama permaisuri yang terdahulu, ibundanya Agha. Semoga saja di pantat Agha ada tanda lahir itu.
Sementara itu di kamarnya yang luas dengan desain interior yang super mewah, pangeran Adnan melemparkan kipas yang selalu ia bawa ke mana-mana dengan kesal dan menggeram, "Dasar Agha sialan! Dia selalu saja selangkah di depanku. Ayahanda pun lebih menyayanginya dan selalu memuji-muji Agha daripada aku anak kandungnya sendiri. Dan sekarang Agha memiliki wanita yang aku cintai. Kenapa Agha selalu mendapatkan apa yang aku mau? Kenapa?!!!!!!!!" Adnan menarik taplak meja dan membuat semua piring dan gelas yang ada di atas meja jatuh berserakan di lantai.
"Aku akan merebut semuanya. Tunggu pembalasanku Agha!" Adnan mengepalkan kedua tangannya erat-erat dengan wajah mengeras.
Sementara itu di kediaman Caraka yang tampak lengang dan damai di malam cerah di bulan Mei, Bora berdiri di depan Kiana dan langsung berkata dengan sikap sopan, "Maaf Nyonya Muda. Saya mau bertanya sebelum Anda kembali ke kamar dan makan malam bersama Yang Mulia"
Kiana yang tengah asyik bercanda dengan seekor jangkrik langsung bangkit berdiri dan bertanya, "Mau tanya apa?"
"Yang Mulia makan apa selain manisan kolang-kaling? Kenapa perutnya bisa sakit dan asam lambungnya meningkat?"
"Yang Mulia hanya makan manisan kolang-kaling"
"Hanya makan manisan kolang-kaling kenapa bisa membuat asam lambungnya meningkat?"
"Karena Yang Mulia makan sembilan tusuk manisan kolang-kaling" Sahut Kiana dengan santainya.
"Sem.....sembilan tusuk manisan kolang-kaling?" Bora tersentak kaget dan langsung menutup mulutnya yang ternganga.
"Iya" Sahut Kiana masih dengan nada santai.
Bora langsung menarik tangan dari mulutnya dan bergegas berkata, "Maafkan saya, Nyonya muda. Lain kali jangan paksa Yang Mulia makan makanan manis dan keras setelah sarapan. Yang Mulia harus menjaga kebugaran tubuh dan kalau makan makanan manis dan keras setelah sarapan, Yang Mulia bisa sakit perut seperti tadi"
"Hah?! Begitu, ya? Tapi, kenapa dia nurut aja pas aku suapi manisan kolang-kaling?"
"Itu karena Anda adalah Istrinya" Sahut Kiana.
Kiana kemudian berkata, "Oh, begitu, ya. Baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi"
"Terima kasih banyak, Nyonya Muda. Sekarang mari saya antarkan ke kamar. Yang Mulia sudah menunggu Anda untuk makan malam bersama"
"Oke" Sahut Kiana sambil melenggang santai mendahului Bora.
Sesampainya di dalam kamar, Kiana melangkah mendekati meja yang sudah penuh dengan aneka hidangan yang menggugah selera dan satu set cangkir teh.
"Duduk!" Perintah Agha dengan ekspresi dingin dan datar.
Kiana duduk di depan Agha dan langsung diam mematung.
"Tuangkan teh!"
Kiana menatap suaminya dengan penuh tanda tanya dan membatin, Eh, bukankah tangannya nggak papa, ya? Kenapa nggak bisa menuangkan teh sendiri?
"Kenapa bengong! Kewajiban Istri, tuh, melayani Suami. Sekarang tuangkan teh!"
"Ba.......baik, Yang Mulia"
Kiana menuangkan teh ke dalam cangkir kecil yang terbuat dari keramik mahal.
Agha menatap Kiana lalu menjulurkan kepalanya ke cangkir kecil itu.
Apa? Apa yang ia inginkan kali ini? Kiana menatap Agha dengan menautkan kedua alisnya dan gadis itu mulai kesal.
"Kenapa nggak tanggap? Kau bodoh atau apa, hah?!"
Kiana masih menatap Agha dengan wajah bingung.
Apa sih? Mana aku tahu apa yang ia mau kalau ia hanya menjulur-njukurkan leher macam jerapah. Batin Kiana kesal.
"Anda harus membantu Yang Mulia minum teh itu, Nyonya Muda" Sahut Bora.
Kiana menoleh kaget ke Bora dan sontak berkata sambil menunjukkan jarinya ke Agha, "Tapi, dia bisa minum sendiri. Tangannya, kan, sehat"
Agha menggebrak meja.
Kiana menoleh kaget ke Agha dengan telunjuk yang masih mengarah tajam ke Agha.
Bora langsung menunduk dan bergumam di dalam hati, kenapa Anda bertingkah seperti anak kecil sekarang ini, Yang Mulia?
Agha menggeram, "Kau berani menunjukkan jari kamu ke wajahku? Mau aku gigit sampai putus jari itu, hah?!"
__ADS_1
Kiana langsung menarik jari telunjuknya, menggenggamnya, dan sambil menunduk ia berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia"
"Buruan bantu aku minum tehnya!" Agha berkata dengan suara dalam.
Kiana langsung mengangkat wajah, lalu mengambil cangkir teh dan dia sontak kebingungan. Dia duduk di depan Agha dan terhalang meja bundar yang besar. Dia tidak bisa membantu Agha minum teh. Tangannya tidak bisa sampai ke Agha.
Agha mendengus kesal dan berkata, "Duduk di sampingku, cepat!"
Kiana bangkit berdiri, lalu melangkah pelan dan duduk di sebelah Agha dengan perlahan karena ia takut cangkir berisi teh yang masih ia pegang jatuh dan isinya tumpah mengenai baju sutranya Agha Caraka.
Agha menoleh ke Kiana dan berkata, "Mulai sekarang dan seterusnya kalau makan bersama baik pagi, siang atau malam, kamu harus duduk di sampingku. Di mana pun itu"
Kiana memegang cangkir dengan kedua tangannya dan mengangguk pelan sambil berkata, "Baik, Yang Mulia"
Kiana kemudian membantu Agha meminum tehnya.
Setelah cangkir kosong, Kiana menarik pelan cangkir itu dari bibir Agha dan dia kembali menatap Agha dengan penuh tanda tanya saat Agha mengerucutkan bibir dan menjulur-njulurkan lehernya lagi.
Kali ini apa yang ia mau? Kenapa dia hobi menjulurkan leher? Apa ia itu seekor jerapah di kehidupan sebelumnya?
"Kenapa diam?"
Kiana menoleh pelan ke Bora untuk meminta jawaban dari Bora.
Bora menghela napas panjang dan berkata, "Yang Mulia minta Anda melap bibirnya, Nyonya Muda"
Kiana menoleh ke Agha kembali dan berkata, "Maafkan saya yang tidak tanggap, Yang Mulia" Karena kesal, Kiana melap bibir Agha dengan telapak tangannya alih-alih menggunakan serbet makan yang tersedia di atas meja di samping piring.
Bora tersentak kaget dan langsung memalingkan wajah saat ia melihat wajah junjungannya merona merah
"Bora pergilah!"
"Baik, Yang Mulia" Bora langsung berbalik badan dan melangkah lebar keluar dari dalam kamar pengantin junjungannya.
Saat Kiana hendak menarik telapak tangannya dari bibir Agha, Agha menahan tangan itu, mencium telapak tangan itu, lalu menarik pelan, menggenggam tangan itu tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantik Kiana.
Kiana tersentak kaget dan sontak menarik tangannya. Namun, Agha semakin menggenggam erat tangan itu.
Kiana terus menatap Agha dengan wajah panik dan terus menarik tangannya.
Agha akhirnya melepaskan tangan Kiana karena ia ingin memakai tangannya untuk menyentuh bibir Kiana.
Kiana tersentak kaget dan refleks menarik wajahnya ke belakang. Namun, Agha menjadi condong ke depan dan tangannya terus terjulur ke depan dan saat tangan itu kembali mendarat ke bibir Kiana, Agha mengusap lembut bibir mungil, berwarna merah muda alami, dan tampak ranum itu.
Kiana kembali menarik wajahnya ke belakang dengan degup jantung tak beraturan dan tubuh kaku yang gemetaran.
Saat Kiana hampir jatuh ke belakang, dengan sigap Agha menahan punggung Kiana dan langsung menegakkan tubuh istrinya. Gerakan Agha itu membuat wajah Kiana mendarat manis di dada Agha.
Kiana mematung di sana dan kedua tangannya meremas bajunya saat wajahnya merasakan hangat dan empuknya dada Agha Caraka.
Agha mendekap Kiana dan sambil mengusap lembut rambut panjang Kiana yang tergerai indah di punggung kIana, Agha berkata, "Apa senyaman itu dadaku? Kenapa kau tidak bergerak? Apa kau mau melakukan malam pertama kita saat ini juga?"
Kiana langsung mendorong dada Agha dan menundukkan kepala sambil berkata, "Ma......maafkan saya, Yang Mulia. Sa......saya belum siap melakukan itu"
Agha mengulum bibir menahan tawa, lalu setelah berdeham, Jenderal gagah perkasa itu berkata, "Perutku juga masih terluka. Tenanglah! Aku nggak akan meminta kamu melakukannya malam ini"
Mendengar kata luka, Kiana langsung mengangkat wajahnya untuk bertanya, "Perbannya apa sudah diganti? Maafkan saya, saya lupa mengganti perbannya"
"Aku sudah menggantinya sendiri. Tenanglah. Sekarang kita makan. Suapi aku!"
"Baik, Yang Mulia" Kiana mengambil nasi dan semua lauk secukupnya, lalu menyuapi Agha dengan penuh kelembutan.
Agha kemudian berkata sambil mengunyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya, "Sekarang kamu yang makan"
Apa sih? Kalau aku makan sekarang, kan, kita makan dengan sendok yang sama lagi?
"Saya bisa makan nanti saja, Yang Mulia?"
"Kau jijik makan pakai piring dan sendok yang sama denganku?"
Iya. Karena, kita bukan saudara kandung. Lagian ini sama saja dengan kita melakukan ciuman secara tidak langsung, kan? Batin Kiana kesal.
__ADS_1
Namun, Kiana berkata dengan senyum yang terpaksa ia lukis di wajah cantiknya, "Tidak Yang Mulia"
"Kalau begitu cepat makan!"
Kiana dengan terpaksa makan dari sendok yang baru saja masuk ke mulutnya Agha Caraka.
Setelah Kiana mengunyah makanan, Agha berkata dengan wajah santai, "Aku juga mau mulai sekarang, saat kita makan bersama baik itu pagi, siang atau malam, kita makan pakai piring dan sendok yang sama"
Kiana sontak berteriak, "Apa?!" Dan makanan yang ada di dalam mulutnya tersembur ke wajah Agha.
Agha terkejut bukan main dan pria tampan itu menatap Kiana dengan sorot mata mematikan.
Kiana lebih terkejut lagi. Gadis itu langsung bangkit berdiri dan sambil mengusap wajah tampan Agha dengan kedua telapak tangannya ia berkata berulang kali, "Maafkan Saya, Yang Mulia"
Agha menghela napas panjang. Seumur hidupnya ia belum pernah disembur makanan. Namun, anehnya dia tidak merasa kesal ataupun marah. Terkejut, iya, dia terkejut. Tapi, dia bisa menolerir Kiana menyemburkan makanan ke wajahnya dan kini Kiana mengobok-obok wajahnya.
Setelah melihat wajah Agha sudah bersih, Kiana hendak bersimpuh dan Agha langsung menarik Kiana sampai gadis itu jatuh di atas pangkuannya Agha.
Kiana tesentak kaget dan sata gadis itu hendak bangkit berdiri, Agha menahan paha Kiana dan berkata, "Aku akan menghukum kamu karena kamu sudah lancang menyemburkan makanan ke wajahku dan mengobok-obok wajahku"
"Maafkan saya Yang Mulia" Kiana sontak menutup matanya rapat-rapat saat ia melihat tangan Agha terangkat ke atas.
Dia pasti akan menamparku. Aaaaaaaa! Pasti sakit banget tamparannya. Kiana semakin menunduk dengan tubuh gemetaran.
Kiana sontak membuka matanya saat ia merasakan bukan tamparan yang keras di pipi melainkan ciuman yang lembut dan hangat di keningnya.
Agha kemudian menarik bibirnya dari kening Kiana dan menatap wajah Kiana dari jarak yang begitu dekat, "Barusan adalah hukuman untuk kesalahan kecil. Untuk kesalahan besar hukumannya lebih mengerikan. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan besar!"
"Baik. Saya hanya akan melakukan kesalahan kecil" Sahut Kiana dengan impulsif.
Agha tersenyum tipis dan berkata dengan sorot mata menggoda, "Oh, kamu ingin melakukan kesalahan kecil terus menerus karena kamu ingin aku mencium kening kamu terus menerus? Apa kamu udah ketagihan dengan ciumanku?"
Kiana langsung bangkit berdiri dan menundukkan wajahnya, lalu berkata, "Mak......maksud saya bukan begitu, Yang Mulia"
Agha hampir saja meledakkan tawanya, namun ia masih bisa menahan diri dengan sangat baik. Setelah berdeham, Agha berkata, "Duduklah! Kita lanjutkan makan malam kita"
"Baik, Yang Mulia" Kiana kembali duduk di samping Agha dan kembali menyuapi Agha dan makan sendiri dengan sendok yang sama.
Tiba-tiba Bora masuk kembali ke dalam kamar, berlari kencang, dan langsung berbisik ke telinganya Agha.
Kiana melihat Agha langsung bangkit berdiri dengan ekspresi kaget dan sontak membuat Kiana ikutan kaget dan bangkit berdiri.
Agha menoleh ke Kiana, "Aku ada kerjaan dan harus ke kantor penyidik. Pulangnya bisa sampai larut malam. Lanjutkan makannya dan tidurlah! Jangan tunggu aku pulang!"
"Baik, Yang Mulia"
Kiana memundurkan wajahnya dan mengernyit kaget saat Agha tiba-tiba menunduk.
"A......apa yang Anda inginkan Yang Mulia"
"Cium pipiku!" Sahut Agha dengan santainya dan Bora langsung berkata, "Saya akan menunggu Anda di depan, Yang Mulia" Bora bergegas keluar.
Alih-alih mencium pipi Agha, Kiana justru bertanya, "Ta, tapi, untuk apa?"
"Aku butuh tenaga tambahan malam ini. Buruan cium pipiku! Aku ini Suami kamu. Aku berhak dapat ciuman di pipi dari kamu"
Kiana menghela napas panjang dan mencium pipi Agha dengan hati dongkol.
Setelah mendapatkan ciuman di pipi dari istri kecilnya yang sangat cantik, Agha menegakkan badan dengan wajah semringah. Lalu, ia menopangkan tangan di atas kepala Kiana sambil berkata, "Kalau udah selesai makan langsung tidur! Jangan berkeliaran di luar!"
"Baik, Yang Mulia"
"Aku pergi dan nggak usah mengantar aku sampai di depan. Kamu lanjutkan makan!"
"Baik, Yang Mulia. Hati-hati" Sahut Kiana.
Agha kemudian berbalik badan dengan sangat terpaksa dan bergegas keluar kamar dengan berat hati. Sejujurnya dia masih ingin berlama-lama berduaan dengan istrinya, namun apa daya tugas negara memanggilnya.
Di Medan perang Agha adalah seorang jenderal. Namun, di kota ia adalah kepala penyidik yang ditakuti dan disegani banyak orang.
Sepeninggalnya Agha, Kiana langsung duduk di bangku dan mengelus-elus dadanya sambil bergumam, "Kenapa dia sangat suka membuat diriku sesak napas dan terlonjak kaget. Dia mengerikan. Tapi, kenapa tadi dia berpamitan dengan sangat lembur. Bahkan dia menopangkan tangannya di atas kepalaku? Ah! Kenapa jantungku jadi berdebar-debar begini?" Kiana terus mengelus-elus dadanya dengan wajah heran bercampur kesal.
__ADS_1