
Agha balas memeluk Kiana dan berkata, "Aku hilang ingatan?"
"Iya, Yang Mulia" Sahut Kiana. "Alvin yang sudah menolong kita"
Agha mendorong pelan kedua bahu Kiana sambil bertanya, "Siapa Alvin?"
"Aku adalah Alvin. Salam kenal Jenderal Agha Caraka" Sahut Alvin.
Agha mengusap pipi Kiana yang penuh air mata lalu menoleh ke asal suara, "Kenapa memakai bahasa santai? Bukankah kita baru saja bertemu?"
"Kita kawan baik selama satu bulan ini. Kita nggak pernah pakai bahasa formal selama ini" Sahut Alvin dengan senyum ramah.
Agha kemudian bangkit berdiri dan Kiana ikutan bangkit berdiri. "Kita berada di negeri Awan. Kita berada di kerajaan naga sekarang ini, Yang Mulia" Sahut Kiana.
Agha menoleh ke Kiana dan wajah Agha tampak semakin kebingungan.
"Jenderal Agha. Biarkan aku yang menjelaskan semuanya" Sahut Alvin.
Agha lalu menoleh pelan ke Alvin.
"Anda terkena racun naga hitam. Tabib jahat yang meracuni Anda sudah saya selidiki di dunia manusia dan ternyata dia sudah meninggal dunia dibunuh oleh permaisurinya kaisar Abinawa. Jadi, bersyukurlah kamu bisa terdampar di sini dan mendapatkan pengobatan di sini. Efek racun itu tidak akan pernah hilang. Cuma sekarang ini kamu tidak akan hilang ingatan lagi saat kamu berubah menjadi naga hitam dan sekarang ini kamu bisa mengendalikan kekuatan naga hitam. Kamu bisa berubah menjadi naga hitam sesuai dengan keinginan kamu. Cobalah!"
"Coba bagaimana?"
"Coba berubahlah menjadi naga hitam sekarang"
"Memang bisa? Bagaimana caranya?"
"Bilang ke diri kamu sendiri untuk berubah menjadi naga hitam, maka kau akan berubah menjadi naga hitam"
Agha mencobanya dan blub! Agha berubah menjadi seekor angsa hitam yang ukurannya lebih besar daripada Alvin saat Alvin berubah menjadi seekor naga hitam.
"Bagus!" Alvin dan Kiana memekik senang secara bersamaan.
"Kau ingat siapa ini?" Alvin menunjuk Kiana.
Agha yang sudah berubah wujud menjadi sosok naga hitam yang sangat besar menunduk dan berkata, "Kiana! Itu Kiana Istri kecilku yang sangat cantik"
Kiana tersenyum senang karena suaminya tidak mengalami hilang ingatan lagi.
Lalu, Alvin berkata, "Sekarang berubahlah kembali menjadi manusia"
__ADS_1
Blub! Agha kembali menjadi manusia.
"Aku tidak telanjang? Kenapa bajuku masih utuh?"
"Yang Mulia kenapa Anda suka sekali menyebut kata telanjang akhir-akhir ini" Bisik Kiana.
Agha menoleh kaget ke Kiana, "Memang aku seperti itu?"
Alvin tersenyum dan berkata, "Kalau jadi manusia lagi setelah kita menjadi naga hitam, kita tidak akan telanjang"
Agha tersenyum senang lalu menjabat tangan Alvin, "Terima kasih banyak, Alvin. Kita teman baik, kan?"
"Iya. Kita teman baik"
"Senang bertemu dengan kamu dan menjadi teman baik kamu, Alvin"
'Alvin adalah seorang tabib"Sahut Kiana.
"Wah, senang berkenalan dengan seorang tabib lagi, hehehehehe" Agha meringis dan Kiana langsung menepuk bahu Agha. Agha menoleh ke Kiana dengan senyum lebar lalu berkata, "Aku beneran senang dapat teman seorang tabib lagi"
Kiana mengerucutkan bibirnya dan Agha langsung melepaskan tawa.
Alvin ikutan tertawa lalu segera berkata, "Tapi, untuk sementara ini jangan jadi Agha dulu! Kamu adalah raja Alaric sekarang ini. Yang tahu kalau kamu adalah Jenderal Agha hanyalah aku dan Kiana"
Alvin kemudian pamit dan pergi meninggalkan Agha dan Kiana.
Agha lalu menarik Kiana ke dalam pelukannya sambil berkata, "Apakah kamu merindukan aku?"
"Tentu saja, Yang Mulia"
"Panggil aku, Mas Agha"
"Mas Agha" Kiana mengucapkannya dengan tersipu malu.
Agha mengusap bibir Kiana dan berkata, "Panggil sekali lagi"
"Mas Agha" Wajah Kiana tampak semakin memerah malu dan tampak menggoda di mata Agha.
Lalu, Agha memagut bibir istrinya sambil berbisik di sana, "Aku sangat merindukanmu, Kiana"
Agha kemudian membopong Kiana ke ranjang, merebahkan kIana dengan perlahan di atas ranjang tanpa melepaskan pagutan bibirnya.
__ADS_1
Kemudian sepasang suami istri yang sudah menahan kerinduan begitu lama melepas kerinduan mereka dengan penuh gairah di malam itu. Agha tidak pernah melepaskan ciumannya hingga membuat bibir Kiana bengkak dan Agha mendaratkan tanda kepemilikan di leher putihnya Kiana. Keduanya lupa diri dan terus terlena akan kenikmatan yang saling mereka berikan dan rasakan di malam itu.
Hingga pada keesokan harinya, Kiana tersentak kaget saat ia berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi. "Hah?! Kenapa ada tanda merah kebiruan sebesar ini di leherku? Ah, Mas Agha kenapa bikin tanda sebesar ini di leherku. Kalau ada yang lihat dan nanya tanda apa ini, aku harus jawab apa coba?"
Agha tertawa lirih mendengar gumamannya Kiana di depan cermin, lalu ia memeluk Kiana dari arah belakang. Ia menyibak rambut Kiana ke depan lalu ia mengusap tanda merah kebiruan yang dia buat semalam. "Dari buku novel yang pernah aku baca, ini adalah tanda kepemilikan. Kalau ada yang nanya bilang aja kalau tanda ini adalah tanda kepemilikan" Agha lalu mengecup tanda itu dan mengecup pipi Kiana dengan gemas.
"Mas! Lepaskan! Aku harus segera ke depan mendandani Mas. Kalau nggak, maka semua dayang akan bertanya-tanya"
Agha dengan terpaksa melepaskan Kiana dan mengandeng tangan Kiana. Lalu, mereka berdua berjalan ke ruang ganti baju. Kiana mendandani Agha di sana dengan menghela napas panjang karena Agha terus saja usil. Agha mencium pipi, kening, pipi, pucuk kepala Kiana dan bahkan sempat mengajak Kiana untuk berciuman.
Kiana mendorong dada suaminya sambil berkata, "Mas! Jangan begini! Kalau ada yang lihat gimana?"
Agha langsung mengerucutkan bibirnya, "Nasib, nasib! Punya Istri tapi nggak bisa leluasa menciuminya"
Kiana sontak terkekeh geli dan berkata, "Yang sabar, Mas. Tiap malam, kan, kita masih bisa......"
"Tiap malam?!" Agha langsung membeliak senang. "Jadi, tiap malam aku bisa menciumi kamu sepuasnya dan aku bisa melakukan apa yang aku suka?"
Kiana mencebikkan bibir dan berlari meninggalkan Agha dengan tawa renyah.
Agha sontak mengejar Kiana sambil berteriak, "Hei! Kiana! Kenapa lari?!"
Kiana menghentikan laju larinya di depan putri Sofie. "Selamat pagi, Putri" Kiana menekuk kedua lututnya di depan Sofie.
Agha menghentikan langkahnya di samping Kiana dan langsung berbisik ke Kiana, "Siapa wanita ini?"
"Ah, Putri Sofie, Anda ingin bertemu dengan Suami Anda raja Alaric, ya?"
"Hah?!" Agha sontak menoleh ke wanita di depannya dan mengerjap tak percaya.
Suami? Jadi, wanita di depanku ini adalah istrinya Alaric? Sial! Kenapa Kiana dan Alvin nggak bilang soal ini semalam. Batin Agha kesal.
"Iya. Aku ingin mendandani suamiku dengan baju baru yang semalam aku ambil dari penjahit langgananku. Raja pasti akan tampak gagah dan tampan dengan warna ungu pilihanku" Sahut Sofie sambil melangkah mendekati Alaric, namun Alaric yang juga adalah Agha justru melangkah di belakangnya Kiana dan langsung berkata ke Sofie, "Jangan dekati aku!"
Melihat suaminya bersembunyi di balik punggung Kiana, maka dengan sorot mata kecemburuan, Sofie menyemburkan, "Minggir kamu!" Sofie menarik tangan Kiana sampai Kiana terjatuh di lantai dan seketika itu juga Agha naik pitam, "Berani benar kau tarik Kiana sampai dia terjatuh seperti itu, hah?!" Agha langsung membantu Kiana bangun dan melotot tajam ke wanita yang bernama Sofie itu.
"Kenapa raja membela pelayan rendahan seperti dia?! Saya adalah Istri Anda, raja. Kenapa Anda malah membela dia?! Apa Anda berselingkuh dengan pelayan rendahan ini?" Sofie mendelik ke Alaric yang juga adalah Agha.
"Hei! Kiana bukan pelayan rendahan, dia.........." Agha tampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan wanita di depannya dan Kiana langsung menyahut, "Raja sedang tidak enak badan. Semalam flu dan raja butuh istirahat saat ini. Tolong Anda datang di lain waktu, putri Sofie"
Agha langsung batuk-batuk dan berlari ke bangku menjauhi Sofie. Lalu, ia memegang keningnya dan berkata, "Iya! Keluarlah kamu! Datang lagi lain waktu"
__ADS_1
Putri Sofie mendengus kesal dan dengan sangat terpaksa akhirnya dia berkata, "Baiklah, raja. Selamat beristirahat dan semoga lekas sembuh"